
Pusat tahanan kota Batu
Pagi-pagi benar, Rio telah bersiap untuk berangkat ke kantor polisi.
Hari ini, dia berencana untuk mengunjungi Tigor untuk menyampaikan keinginan dari Namora dan juga segala uneg-uneg Mirna yang tidak senang melihat Namora selalu disepelekan oleh orang-orang yang berada disekitarnya.
Sebenarnya, Rio faham betul apa yang dirasakan oleh keponakannya itu. Karena, jauh sebelum Namora, dia terlebih dahulu mengalami hal itu. Bahkan, lebih parah dari yang Namora alami saat ini. Oleh karena itu, dia arif betul rasanya berada di posisi Namora.
Begitu sampai di kantor dan selesai melaksanakan apel pagi, Rio pun bergegas menuju ke pusat tahanan kota Batu.
Sesampainya di sana, dia segera disambut oleh sipir penjara dan langsung dipertemukan dengan Tigor begitu Rio mengatakan maksud dari kedatangannya kali ini.
"Ada apa, Rio?" Tanya Tigor begitu dia tiba dihadapan Ajudan komisaris tersebut.
"Duduk dulu bang!" Kata Rio mempersilahkan.
Tigor segera menarik kursi, lalu duduk saling berhadapan dengan Rio.
"Tentang Namora!" Kata Rio sembari menghela nafas.
"Namora? Ada apa dengan anak itu?"
Rio heran dengan sikap Tigor yang seolah-olah merasa tidak terjadi apa-apa. Padahal dia tau bahwa Namora saat ini sudah akan memasuki sekolah menengah keatas. Tentu banyak sekali kebutuhan anak itu. Dan itu jelas berbeda ketika dia berada di bangku sekolah menengah pertama dulu.
__ADS_1
Melihat Rio hanya menatapnya dengan tatapan kekecewaan, Tigor pun kembali bertanya. "Ada apa dengan Namora, Rio?"
"Bang. Namora sekarang sudah tumbuh menjadi anak remaja. Hanya tinggal besok saja dia akan mendaftar menjadi siswa di sekolah menengah atas. Banyak kebutuhan anak itu saat ini," jawab Rio.
"Kan setiap kebutuhan kakak ipar dan keponakan mu sudah ada yang mengurus. Mengapa kau seperti ingin menekan ku?" Tanya Tigor tidak mengerti.
"Aku langsung saja ke intinya, Bang. Namora itu saat ini sudah remaja. Tidak sama lagi seperti dulu. Dia juga ingin seperti teman-temannya,"
"Maksud mu?"
"Namora ingin dibelikan sepeda motor. Dia ingin sepeda motor jenis sport. Walaupun tidak mahal dan kelasnya rendah, tetap saja yang namanya sport itu mahal. Aku tidak sanggup membelikan. Makanya aku menemui Abang.
Aku heran. Abang tenang-tenang saja seolah-olah Namora itu tidak punya keperluan. Kau kaya bang. Tapi mengapa Namora diperlakukan seperti itu? Kak ipar juga sudah merajuk tuh!" Kata Rio, lalu dia menceritakan semua yang dikatakan oleh Mirna kemarin siang.
"Namora bisa berontak bang!" Kata Rio lagi yang tidak puas dengan jawaban Tigor.
"Berontak jika dia tau bahwa dia anak orang kaya. Namun, dia akan dapat menerima kenyataan jika kalian tidak membongkar siapa diriku. Ini juga tidak akan lama. Setelah Pak Burhan selesai dengan mengatur ulang perusahaan, dia akan segera diperkenalkan sebagai pewaris dari Martins Hotel, Yayasan Martins, dan lain sebagainya. Sebaiknya kalian tidak memperkeruh keadaan. Jika sudah waktunya, Ameng yang akan menjemput Namora untuk diperkenalkan sebagai pewaris di kota Kemuning,"
Rio hanya mengangkat pundaknya tanda tidak puas dengan apa yang dikatakan oleh Tigor.
Dengan perasaan kecewa, dia bangkit dari duduknya, lalu memutar badan dan meninggalkan Tigor tanpa sepatah katapun.
Tigor tau kekecewaan adiknya itu. Tapi, sebagai seorang ayah, dia memiliki pandangan sendiri dan sudah menjadi ciri khasnya Tigor bahwa keputusan yang dia buat, tidak bisa diganggu gugat.
__ADS_1
Sementara itu, Rio terus melajukan mobilnya untuk kembali ke rumah.
Sesampainya di rumah, dia langsung disambut oleh Mirna dengan berbagai pertanyaan.
Rio pun menceritakan semua yang dikatakan oleh Tigor kepada kakak iparnya itu.
Begitu Rio selesai bicara, langsung terlihat raut wajah kecewa dari Mirna. Namun, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tau betul watak Tigor. Jika dia sudah mengatakan hitam, maka hitam. Jika putih, maka putih lah.
"Namora kemana kak?" Tanya Rio kepada Mirna.
"Dia tidak di rumah. Tadi teman-temannya menjemput dia ke sini. Katanya mau bertemu dengan ayahnya Jericho,"
"Ayahnya Jericho? Si Jeremiah maksud kakak?" Tanya Rio. Dia tidak tau apakah Jeremiah mengenal Namora anak Tigor atau tidak. Jika iya, maka bisa terbongkar semuanya tentang Tigor.
"Iya. Ada apa?" Tanya Mirna setelah menjawab pertanyaan dari Rio tadi.
"Jeremiah itu kan anak buahnya bang Tigor. Kalau dia nanti bercerita tentang bang Tigor kepada Namora, bagaimana?" Rio jelas merasa khawatir saat ini. Baru saja tadi Tigor sudah mewanti-wanti agar tidak bercerita kepada Namora tentang siapa dirinya sebenarnya.
"Aku rasa, dia tidak kenal. Karena, Namora juga tidak pernah bertemu dengan ayahnya Jericho ini,"
"Ya. Mudah-mudahan begitu. Ya sudah kak. Aku mau istirahat dulu," kata Rio berpamitan.
Bersambung...
__ADS_1