
Mendengar ancaman serius dari Ameng ini, tentu saja Willi merasa sangat heran. Biasanya, walaupun Ameng pernah memarahi dirinya, tapi tidak pernah seserius ini. Tidak mungkin hanya karena tadi dia salah bicara, sampai-sampai Ameng berniat untuk menghancurkannya.
Masih ingin memperbaiki keadaan, Willi segera ingin meminta penjelasan kepada Ameng, mengapa tiba-tiba dia bisa marah besar seperti ini.
"Bang. Sebenarnya apa kesalahan yang telah aku lakukan kepadamu? Tidak mungkin kan hanya gara-gara kata-kata ku yang tadi, sampai-sampai Abang tidak mau memaafkan aku,*
Ameng segera mengalihkan pandangannya kepada Willi. "Kau mau tau apa kesalahan mu? Baiklah. Mungkin setelah melihat orang ini, kau baru akan mengetahui apa kesalahan yang telah kau lakukan,"
Ameng segera melambaikan tangannya.
Tepat setelah itu, kini seorang pemuda berjalan dengan tenang, langsung menghampiri sofa dimana Willi dan Ameng sedang duduk.
Gaya pemuda itu sungguh sangat aneh. Tanpa ekspresi. Tatapannya kosong dan dingin. Persis seperti robot.
"Kau mengenalku? Jangan katakan kalau kau akan menyangkalnya!"
Melihat ini, Willi langsung teringat seorang pemuda yang beberapa hari yang lalu ditunjukkan fotonya oleh Rendra.
Dia ingat sekarang mengapa kedua orang yang dia kirim sama sekali tidak pernah kembali. Kemungkinan terbesar adalah, bahwa orang-orang suruhannya pasti telah ditangkap oleh Ameng.
"Ini. Siapa bang?"
Ameng tidak menjawab. Sebaliknya, Namora sedikit membungkukkan badannya ke arah Willi. Nyaris berbisik, dia berkata. "Willi. Aku adalah Namora. Orang yang kau targetkan untuk dibunuh,"
"Apa? Apa maksudnya ini? Kalian jelas mencari gara-gara dengan cara memfitnah ku," Willi masih tetap berpura-pura tidak mengenal Namora.
"Acting mu cukup bagus, Willi. Tapi aku hanya ingin memberitahukan kepada mu bahwa kau salah orang. Yang kau targetkan itu adalah putra dari Bang Tigor. Kali ini kau akan tamat!" Kata Ameng.
Willi membelalakkan matanya. Seolah-olah perkataan dari Ameng tadi menampar kesadarannya.
"Putra bang Tigor?" Willi merosot dari sofa, sehingga kini dia terduduk di lantai.
Jelas dia tau siapa Tigor. Sosok hitam dengan topeng kucing yang sempat membuat hati setiap orang ketakutan ketika berurusan dengan orang ini. Dan kini dia telah menggali kuburannya sendiri karena mengusik putra dari orang yang paling berkuasa.
Tigor boleh saja berada di dalam penjara. Tapi mata, kaki, tangan dan telinganya berada di luar. Kali ini dia sudah ingin mati saja.
"Aku.., aku.., aku tidak melakukan itu. Tolonglah percaya. Mana mungkin aku berani melakukannya. Aku kenal siapa bang Tigor," Willi berusaha keras untuk tidak mengakui perbuatannya.
__ADS_1
"Tadinya aku akan memaafkan mu andai kau jujur. Tapi ternyata kau cukup pengecut untuk mengakui perbuatan mu,"
Namora menatap ke arah tangga, lalu berteriak. "Bawa masuk orang itu!"
Begitu gema suara Namora hilang, kini dari arah atas, turun empat orang berpakaian serba hitam sambil menyeret dua orang lelaki yang bagian wajahnya sudah babak belur.
Brugh!
Sosok kedua lelaki yang diseret tadi dilempar begitu saja, dan jatuh tepat di depan Willi.
"Kau pasti kenal dengan orang ini kan?" Namora mendengus dan menunjuk tepat ke arah kedua orang itu.
"Tuan Willi. Tolong selamatkan kami. Kami tidak mengharapkan bayaran. Hanya saja, tolong selamatkan nyawa kami!" Pinta kedua orang itu sambil meratap.
Mendengar ratapan ini, Willi langsung membentak. "Diam! Aku tidak kenal kalian,"
"Tuan Willi. Bukankah kau yang memerintahkan kepada kami berdua agar membunuh anak itu?"
"Brengsek kalian. Aku tidak mengenal kalian!" Willi benar-benar ketakutan saat ini. Dia ingin lari, tapi dia tidak mungkin bisa melarikan diri. Saat ini yang ada di dalam pikirannya hanyalah menunggu anak buahnya datang. Ketika anak buahnya datang, dia akan melawan habis-habisan. Menurutnya, tidak mungkin orang-orang yang dibawa oleh Ameng ini akan mampu melawan anak buahnya yang berjumlah banyak. Hanya saja, Willi tidak tau bahwa ada ratusan orang yang berada di luar dan siap menunggu perintah untuk menghancurkannya.
Benar saja. Setelah Willi berpikir seperti itu, kini di luar terdengar suara perkelahian, dengan jerit dan teriakan kesakitan terdengar dimana-mana.
Ketika tiba di luar, jantung Willi benar-benar sudah pindah ke tenggorokan.
Kini dia melihat sekitar dua puluh orang anak buahnya tergeletak di tanah bermandikan darah.
Jelas terlihat perbandingan kekuatannya dengan kekuatan Ameng adalah satu orang melawan tujuh atau delapan orang. Apa lagi orang-orang yang dibawa oleh Ameng adalah orang-orang yang sangat terlatih untuk berkelahi. Sehingga tampak jelas bahwa para anak buahnya seperti bola ditendang dan dioper, digelindingkan ke sana dan kemari.
"Bagaimana, Willi? Apakah kau masih memiliki perlawanan?"
"Maafkan aku bang. Tolong ampuni selembar nyawaku ini. Tolong bang. Aku ini kurus kering. Ampuni aku bang!" Willi meratap sambil menjatuhkan tubuhnya. Dia berharap agar Ameng mau memaafkan dirinya dan membiarkannya pergi.
"Aku tidak memiliki hak untuk memberikan maaf," Ameng memalingkan wajahnya tidak ingin menatap wajah Willi yang memelas meminta belas kasih.
Melihat ini, Willi masih belum putus asa. Dia merangkak menuju ke arah Namora. Berlutut, lalu memohon maaf.
"Dik. Tolong maafkan aku dik!" Pinta Willi terus meratap.
__ADS_1
"Aku ingin bertanya kepadamu. Kalau kau menjawab pertanyaan ku ini dengan jujur, maka aku akan memaafkan mu!" Kata Namora yang masih tanpa ekspresi.
"Katakan! Katakan apa yang ingin adik tanyakan?" Willi sangat bersemangat saat ini. Dia menangkap secercah harapan. Jika dia bisa menjawab, jangankan satu pertanyaan. Seribu pertanyaan pun akan dia jawab.
"Yakin kau akan menjawabnya?" Tanya Namora lagi.
Willi buru-buru mengangguk. Dia tidak boleh melepaskan peluang ini.
"Baiklah. Sekarang aku ingin menanyakan kepada mu. Kalau seandainya aku yang berada di posisimu saat ini, dan aku memohon agar kau mengampuni selembar nyawaku, apakah kau akan melepaskan ku?"
"Iya. Aku akan melepaskan dan tidak akan mempersulit dirimu!" Dengan lancar Willi menjawab pertanyaan dari Namora barusan.
"Kau tidak jujur," Namora mendengus kesal. Jelas dua orang lelaki suruhan Willi kemarin sengaja membawa dia ke area bangunan dan mengeluarkan pisau dengan niat untuk membunuh dirinya.
"Aku... Aku sudah menjawab pertanyaan mu dengan jujur. Tolong biarkan aku pergi,"
"Kau mau pergi? Aku akan dengan sangat senang hati akan mengantarkan!" Kata Namora dengan pelan. Nyaris suaranya ini antara kedengaran dan tidak.
"Zack!" Namora memanggil salah satu dari empat orang bawahannya sembari menadahkan tangannya.
Zack tersenyum, kemudian meletakkan sebilah pisau di atas telapak tangan Namora.
"Karena kau mau pergi, aku hanya bisa mengantar mu sampai di sini saja,"
"Apa. Apa yang akan kau lakukan? Jangan..! Jang...,"
Set.. set.., set!
Tiga tusukan tepat menusuk di ulu hati Willi, membuat kata-kata yang tadi hendak dia ucapkan terputus begitu saja diikuti dengan tubuhnya yang ambruk ke lantai.
"Bersihkan!"
Selesai mengucapkan kata-kata itu, seperti tidak ada kejadian, Namora segera melemparkan pisau ke lantai, menatap ke arah tubuh Willi yang telah tak bernyawa, tersenyum dingin, lalu melangkah menuju ke arah mobil dengan diikuti oleh Ameng.
"Antar aku pulang!"
"Baik Tuan muda!" Sang sopir langsung mengangguk hormat, kemudian mobil itu mulai bergerak meninggalkan bangunan Aula Fighter Club' menuju ke arah perumahan dinas kepolisian kota Batu.
__ADS_1
Bersambung...