Namora

Namora
Namora kencing di celana


__ADS_3

Ketika Namora sampai di rumah, Rio adalah orang pertama yang melihat keadaan compang camping dari Namora ini.


Dia tau bahwa Namora pasti terlibat perkelahian. Tapi, untuk memastikan, Rio segera menghampiri anak itu untuk menanyakan kepadanya apa sebenarnya yang telah terjadi ketika keponakannya itu berada di sekolah.


Namora, yang tidak bisa lagi mengelak dari cecaran pertanyaan yang dilontarkan oleh Paman nya itu hanya bisa menjawab seadanya bahwa dia telah dikeroyok oleh teman-teman sekolahnya. Namun, ketika Rio menanyakan siapa orang itu, Namora enggan untuk memberitahu. Baginya, tidak ada gunanya dia memberitahu. Toh dia juga telah dikeroyok.


"Cepat ke kamar mu, ambil handuk lalu mandi. Jangan ke dapur dulu! Atau ibu mu akan tau bahwa kau tadi berkelahi," kata Rio.


Namora menurut dan langsung memasuki kamarnya. Setelah itu, dia pun bergegas ke belakang menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


"Kau sudah pulang nak?" Tanya Mirna yang sedang memasak dibantu oleh istri Rio.


"Iya Bu. Namora mau mandi dulu!"


"Cepat mandi supaya kita bisa makan siang bersama!" Pesan sang ibu.


Namora mengangguk dan memaksakan diri untuk tersenyum.


***


Selesai makan siang pada hari itu, Namora yang termenung di teras depan rumah merasakan ada seseorang yang duduk di sampingnya.


Setelah dia tau bahwa itu adalah Rio, dia pun tersenyum.


"Apa yang sedang kau renungkan, Namora?" Tanya Rio. Dia dengan lembut mengusap kepala keponakannya itu.


"Paman. Coba saja andai Namora ini bisa beladiri. Tentu Namora tidak akan terus-menerus dihina, dikeroyok, dan diremehkan seperti ini," kata anak itu mengeluh. Dia ingin seperti orang lain yang bebas berteman tanpa di beda-bedakan. Dia juga ingin sesuatu yang bisa membela dirinya andai terjadi lagi pengeroyokan seperti tadi ketika ditikungan dekat pohon rambutan.


"Apakah kau dendam kepada mereka?" Tanya Rio.


Mendengar pertanyaan itu, spontan Namora mengangguk. Dan ini membuat Rio tidak senang.


"Jika kau mau berlatih hanya karena dendam, maka paman tidak mau ikut campur, apa lagi membantumu. Tapi, jika kau ingin belajar ilmu beladiri demi mempertahankan diri, paman akan berusaha mencarikan seorang Master yang akan mendidik mu," tegas Rio. Wajar saja dia tidak mau lagi berurusan dengan yang namanya dendam. Karena, lebih separuh dari hidupnya diselimuti oleh rasa dendam atas kematian kedua orang tuanya, dan juga keluarga pamannya. Dan puncak dari dendam itu, kini saudara satu-satunya yang dia miliki mendekam di dalam penjara. Dan yang lebih sakit adalah, dia sendiri yang memenjarakan saudaranya itu. Sungguh tidak lucu.

__ADS_1


"Kalau begitu, Namora berjanji tidak akan dendam," kata anak itu. Dia tampak bersemangat sekali karena merasakan ada angin harapan yang segar dari perkataan pamannya barusan. Tidak mungkin Rio berkata seperti itu jika dia tidak memiliki seorang kenalan yang bisa mengajarkan dirinya tentang ilmu beladiri.


"Paman masih punya waktu satu jam lagi untuk kembali ke kantor. Sekarang, kau ambil sepatu mu, dan ikut dengan Paman! Paman akan menunggumu di mobil," kata Rio yang sudah melangkah menuju ke mobil Toyota hardtop tua miliknya.


"Asiiik!" Kata Namora dalam hati. Dia segera melompat dan berlari memasuki rumah, kemudian langsung menuju ke kamar untuk mengambil sepatu karet tanpa tali miliknya.


Setelah dia memakai sepatu tadi, dia kembali berlari sembari berujar, "Bu. Namora pergi dulu ya. Mau ikut Paman ke kantor polisi," katanya tanpa mengurangi laju larinya.


Belum sempat ibunya menjawab, dia sudah berjingkat menaiki mobil lalu masuk ke dalamnya dan duduk di samping Rio.


"Ayo Paman. Ibu sudah memberi izin," kata Namora berbohong.


"Kau berbohong kan?" Goda Rio sambil mencubit pipinya.


"Hehehe. Sudah minta izin. Alah sama saja lah itu, Paman!" Namora tampak tak mau disalahkan.


"Ya sudah. Kita berangkat sekarang!" Kata Rio pula. Dia lalu menyalakan mesin kendaran. Setelah itu, mobil itu pun melaju perlahan menuju ke kantor polisi Kota Batu.


*********


Ketika dia turun dari mobil bersama dengan Namora, beberapa orang tamtama tampak memberikan hormat kepadanya.


"Selamat siang komandan!" Kata mereka serentak.


"Selamat siang. Apakah pak Harianto ada di dalam?" Tanya Rio.


"Siap komandan. Bapak Harianto menunggu Komandan sejak tadi!" Jawab mereka.


"Ah aku terlambat lagi," kata Rio berucap dalam hatinya.


"Terimakasih. Kalian lanjutkan pekerjaan kalian. Saya akan ke dalam dulu!" Kata Rio yang langsung membalas hormat mereka ala hormat anggota kepolisian.


Ketika Rio tiba di dalam, dia melihat seorang lelaki berusia sekitar 50-an sedang duduk sambil mengisap rokok. Sesekali lelaki itu terbatuk-batuk karena asap rokoknya tadi.

__ADS_1


"Selamat siang, Pelatih!" Kata Rio memberi salam. Dia lalu memberikan hormat, kemudian menyalami lelaki 50-an tadi.


"Aku telah lama menunggu mu. Mana anak itu?" Tanya lelaki tua itu.


Namora yang ketakutan melihat tampang lelaki tua itu sejak tadi hanya bersembunyi di balik punggung Rio. Dia takut melihat kumis dua warna yang menghiasi bibir lelaki itu dengan panjang dan melintang. Sekilas, seperti sakera. Dia juga takut melihat mata besar lelaki itu yang berwarna merah. Apa lagi wajahnya, persis seperti perampok. Hal ini membuat Namora nyaris terkencing di celana.


"Ada, Pak Har. Ini dia," kata Rio yang langsung menggapaikan tangannya ke arah belakang. Kebetulan tangannya berhasil menggapai kuping Namora. Maka kuping itulah yang dia tarik membuat Namora meringis dan mau tak mau mengikuti arah tarikan tangan Pamannya itu.


"Kemari mendekat!" Kata lelaki itu membuat Namora gemetar ketakutan.


"Paman!" Rengek Namora yang sudah merasa kering di tenggorokannya.


"Kenapa? Kau takut? Katanya mau belajar," ejek Rio kepada ponakannya itu.


Sebenarnya wajar saja jika Namora ketakutan. Jangankan Namora yang motifnya belajar hanya karena tidak mau disepelekan oleh orang-orang disekitarnya. Dirinya saja yang termotivasi karena dendam atas kematian orang tuanya saja pernah terkencing di dalam celana ketika dilatih oleh lelaki tua itu. Apa lagi hanya Namora yang baru berumur hampir 13 tahun. Dia dulu bahkan sudah berumur 18 tahun ketika lelaki tua itu mendidiknya dengan berbagai latihan fisik yang sangat berat dan menyiksa.


"Namora takut. Pulang saja yuk!" Ajak Namora yang sudah hampir menangis.


"Pulang? Apakah kau tidak mau belajar beladiri?" Tanya Rio berusaha menguatkan tekad anak itu.


"Tapi..?"


"Tidak ada tapi-tapian! Kesini kau!" Kata orang tua itu dengan menarik tangan Namora secara paksa.


"Aku sudah sampai di sini. Jika tidak ada yang bisa aku siksa, ku hancurkan kantor polisi Kota Batu ini!" Kata lelaki tua itu dengan galak.


Seeeerrrr...!


Benar saja. Namora kini terkencing di celana. Beruntung dia masih anak-anak. Jadi, aroma dari air yang menetes dari celana anak itu tidaklah sebegitu pesing.


"Berdiri yang benar! Atau ku sunat kau sekali lagi!" Sekali lagi Namora di bentak.


Kini, pecahlah tangisan anak itu. Tangisan karena rasa takut yang teramat sangat.

__ADS_1


Sebenarnya, siapa lelaki tua yang berusia sekitar 50 tahun itu. Nantikan bab selanjutnya!


Bersambung...


__ADS_2