Namora

Namora
Undangan dari Merisda


__ADS_3

Di rumah milik Rendra, tampak Willi sedang mondar-mandir dengan perasaan gelisah. Dia saat ini sedang menunggu berita dari dua orang suruhannya yang diberikan olehnya tugas untuk mengurus Namora. Namun, sampai lama seperti ini, masih juga belum ada kabar.


"Kemana perginya begundal ini. Disuruh mengurus anak kecil saja lama sekali," Willi terus mondar-mandir seperti setrika rongsok.


Di ruangan yang sama, tampak Dhani, Marcus, Diaz, Ruben, Dudul, Rudi dan Rendra yang saat ini tampak menderita hanya memperhatikan saja dengan pikiran masing-masing.


"Ren. Bagaimana menurut mu?" Tanya Diaz kepada Rendra.


Sebagai jawaban, Rendra hanya menggelengkan kepalanya. Sedangkan raut wajahnya, sangat sulit dimengerti.


"Jika mau membalas dalam waktu dekat, kau harus meminta kepada Merisda untuk mengundang Namora ke acara ulang tahunnya. Kita bisa mempermalukan Namora di sana. Kalau dia melawan, baru kita bantai!" Dhani memberikan saran kepada Rendra agar dia segera meminta kepada Merisda untuk mengundang Namora. Karena yang dia ketahui adalah, Merisda yang akan merayakan hari ulang tahunnya tidak lama lagi, sama sekali tidak mengundang Namora ke acara tersebut.


"Ya. Sepertinya memang begitu!" Kata Rendra menyetujui apa yang diusulkan oleh Dhani barusan.


Dia segera mengeluarkan ponselnya, kemudian akan menghubungi Merisda supaya membantu dalam rencananya.


Di waktu yang sama, Namora telah tiba kembali di sekolah. Ketika dia sampai, para siswa sudah bersiap-siap untuk pulang karena waktu belajar memang telah habis. Dengan ini, Namora menghela nafas panjang. Dia sudah ketinggalan satu mata pelajaran gara-gara kejadian tadi.


Di area parkir, dia melihat Jol dan yang lainnya sudah berada di sana. Namun, mereka sepertinya belum berniat untuk pulang. Mereka masih nongkrong di sana sambil sesekali tertawa.


Namora berniat untuk menghampiri mereka. Dan kebetulan Jol dan yang lainnya juga melambaikan tangan ke arah dirinya.


"Mora!" Jol berteriak melambaikan tangannya.


Namora tersenyum, lalu segera melangkah. Tapi, perhatiannya kini terfokus pada tiga anak gadis yang sedang menuju ke area parkir dimana satu unit mobil Toyota Avanza sedang terparkir.


"Mer!" Namora memanggil nama salah satu dari ketiga gadis itu.


Merisda menoleh, lalu mencibirkan bibirnya. Dia sama sekali tidak perduli kepada Namora. Baginya, Namora bagaikan seekor kucing kurap yang tidak harus diperhatikan.

__ADS_1


Namora tidak menyerah. Dia segera menuju ke arah gadis itu, lalu berkata," aku dengar dari Jol kalau kau akan mengadakan acara ulang tahun ya? Mengapa tidak mengundang ku?"


Mendengar ini, Merisda dan kedua sahabatnya langsung tertawa menghina. "Apakah menurut mu kau layak? Lihat dirimu! Kau hanya akan menjadi perusak suasana," menghina sekali kata-kata yang keluar dari mulut Merisda ini.


"Mer. Aku tidak akan lama. Aku hanya ingin memberikan sesuatu kepadamu pas di hari ulang tahun mu nanti. Setelah itu, aku akan pulang. Tidak menunggu lama!" Namora berusaha meyakinkan kepada Merisda bahwa dia sama sekali tidak akan menjadi pengganggu acara. Baginya, asalkan sudah memberikan hadiah yang memang telah dia siapkan untuk Merisda, maka dia akan segera pergi.


"Hadiah apa? Sudahlah Namora! Kamu ini benar-benar tidak faham ya. Jadi orang itu harus tau diri. Lihat penampilan mu, dan berkaca lah. Kau berharap sesuatu yang sama sekali tidak dapat kau gapai. Level mu bukan aku. Sebaiknya, kau cari cewe dari kasta yang sama dengan dirimu. Baru sepadan!" Merisda terus menghina sehingga Namora hanya bisa tertunduk.


Sambil tertunduk menatap ujung sepatunya, Namora bergumam. "Ya. Kau memang tidak pantas untuk ku,"


Namora segera berpaling untuk menghampiri Jol dan yang lainnya yang juga menjadi penonton budiman dalam adegan barusan.


"Siapa yang tidak pantas untuk mu hah? Bukan aku yang tidak pantas untukmu, tapi kau yang tidak pantas untuk ku. Sebaiknya..," ocehan Merisda berhenti ketika handphone digenggaman tangannya bergetar. Dia menoleh, kemudian melihat bahwa Rendra telah meneleponnya.


"Mau apa lagi Rendra ini," gerutu Merisda. Tapi dia segera mengusap layar untuk menjawab panggilan itu.


Selesai melakukan panggilan telepon tadi, Merisda segera menuju ke arah mobil, kemudian kembali dengan membawa sesuatu di tangannya.


Perubahan mendadak ini mau tidak mau membuat kedua sahabatnya bertanya. "Mer. Untuk siapa undangan itu?"


"Kalian lihat saja. Aku mendapat pesanan dari Rendra,"


Merisda segera menghampiri tempat Namora dan yang lainnya nongkrong.


Beberapa orang memberi semangat kepada Namora. Tapi segera terdiam ketika Merisda mendadak berdiri dihadapan mereka semua.


"Mora. Maafkan aku. Kau boleh datang ke acara perayaan ulang tahun ku. Ini undangannya!" Merisda menyodorkan kartu undangan kepada Namora yang langsung diterima oleh Namora dengan ketidakpercayaan.


Setelah memberikan kartu undangan tadi, Merisda segera berlalu, ke arah mobilnya. Tak lama kemudian mobilnya segera berlalu meninggalkan area parkir sekolah tersebut.

__ADS_1


"Wah, Mora. Kau diundang olehnya. Ini kesempatan nih," James terlihat sangat antusias melihat Namora ternyata diundang juga oleh Merisda.


"Ini tidak benar. Pasti ada sesuatu yang telah dia rencanakan untuk ku. Pasti! Aku merasakan sesuatu yang tidak beres," gumam Namora. Bagaimana mungkin Merisda yang tadinya begitu ketus, tiba-tiba berubah 180° dan berinisiatif untuk mengundang dirinya. Pasti ada sesuatu yang tidak beres. Dan juga, bukan sekali dua kali Namora ini dipermainkan seperti ini.


Melihat ini, Jol segera memberikan pandangannya. "Aku curiga sama Merisda ini. Perubahan sikapnya menjadi sangat ramah setelah dia menjawab telepon tadi. Saran ku, jika kau tidak mau sakit hati, maka kau jangan sampai datang ke acara tersebut!"


"Ya. Aku juga merasa bahwa ada niat buruk dari mereka," Namora juga berpikiran yang sama dengan apa yang dikatakan oleh Jol tadi. Namun, nada yang berbeda justru dikatakan oleh Jericho, dan diperkuat oleh yang lainnya.


"Apa itu rencana jahat? Andai jahat pun, ini adalah tantangan. Kalau aku jadi kau, jelas aku akan memenuhi undangan itu. Kita kan masih belum tau apa yang akan terjadi. Kali aja Merisda benar-benar tulus,"


James juga mengangguk dan berkata. "Sebagai lelaki, apa iya harus menjadi pengecut?"


"Masalahnya, bukan pengecut atau pemberani. Aku tidak ingin Namora nantinya akan dihina lagi. Bagaimanapun, Namora kan teman kita. Kalau dia di hina, aku juga merasa kasihan,"


"Alah Jol..! Kau terlalu berlebihan. Kalau itu aku, aku akan pergi! Pasti aku akan menghadiri acara itu. Justru dari sini lah Namora bisa menunjukkan bahwa dia benar-benar sayang sama Merisda. Andai dia tidak datang, bermacam-macam persepsi akan dikatakan oleh mereka agar Merisda semakin membenci Namora,"


"Jer. Kau?!"


"Ada kalian. Aku tidak akan takut. Percayalah bahwa aku akan menghadiri acara itu," Namora buru-buru mengatakan itu agar mereka tidak lagi saling beradu argument.


"Baiklah. Seperti katamu tadi, berikan hadiah, kemudian pulang. Aku telah mengatakan kepadamu bahwa aku tidak bisa lama. Aku akan ikut keluarga ku untuk piknik pasca kenaikan jabatan ayahku. Sebaiknya, ketika aku pulang, kau juga harus sudah pulang,"


Namora mengangguk. Dia tau bahwa Jol tidak akan lama berada di acara itu, maka dia tau bahwa sebenarnya Jol sangat khawatir tentang dirinya.


"Ayo pulang, dan persiapkan kado yang terbaik untuk pujaan hatimu!" Kata Jericho berdiri.


Tidak lama setelah itu, tujuh unit sepeda motor menderu meninggalkan area parkir di sekolah SMA negeri Tunas Bangsa.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2