
"Tuan Jhonroy yang agung. Teja gagal lagi membunuh Namora. Bahkan kini dia tertangkap oleh polisi dan sudah dibawa ke kantor polisi kota Batu," seorang lelaki melaporkan kepada Jhonroy tentang kejadian menjelang siang tadi.
Prak!
Meja kerja yang berada di kantor Jhonroy ditendang oleh lelaki tua itu sehingga terbalik dan beberapa barang di atas meja tersebut berhamburan ke segala arah.
"Bodoh sungguh si Teja ini. Pekerjaan seperti itu pun tidak mampu dia selesaikan. Apa lagi yang bisa diharapkan dari anak satu ini?"
Jhonroy berdiri dari kursi kerjanya. Dia melangkah ke arah jendela dan memandang ke arah kejauhan sambil mengepalkan tinjunya. Sementara itu, lelaki yang melaporkan tadi hanya bisa tertunduk. Dia tau bahwa dia hanya bisa menunggu perintah tanpa banyak bicara. Bagaimanapun, suasana hati Jhonroy saat ini sedang panas. Mencari penyakit namanya jika dia banyak bersuara.
Setelah merenung beberapa saat, tiba-tiba Jhonroy berbalik menghadap ke arah lelaki pelapor tadi, kemudian dia memerintahkan. "Zamri. Kau tau apa yang harus kau lakukan untuk menekan kepala polisi kota Batu itu kan?"
Lelaki yang melaporkan bernama Zamri itu mengangguk pelan. Dia tau apa yang harus dia lakukan. Sebenarnya, di juga ingin menyarankan hal itu. Akan tetapi karena suasana hati Jhonroy sedang tidak baik, maka dia hanya bisa menunggu saja.
"Saya tau, Tuan. Saya akan pergi sekarang. Tuan bisa menunggu kabar dari saya dengan tenang," kata Zamri, lalu dia berbalik untuk meninggalkan ruangan kerja Jhonroy ini.
Di waktu yang sama, Namora yang baru saja menjalani interogasi di kantor polisi kota Batu akhirnya keluar juga setelah memberikan keterangan kepada pihak penyidik. Sedangkan Ameng, sejak tadi sudah keluar terlebih dahulu dan langsung melaporkan kejadian kepada Tigor bahwa keberangkatan mereka ke kota Kemuning terganggu dan terpaksa dibatalkan dengan alasan keselamatan Namora sendiri.
Tigor juga menyetujui bahwa keberangkatan Namora ke kota Kemuning ditunda sampai hari kebebasannya. Harapannya adalah, semoga nanti dihari kebebasannya, akan ramai koneksi yang menghadiri acara kebebasannya. Syukur-syukur Jerry William akan berkunjung dan dengan ini, dia bisa meminta saran dari Tuan nya tersebut bagaimana cara menangani Jhonroy bersama dengan Agro finansial Group miliknya. Karena, walau bagaimanapun, banyak pihak memiliki kepentingan dalam perselisihan ini.
Di lain sisi, Tigor kini tidak terlalu mengkhawatirkan keselamatan anaknya. Karena, menurut penuturan dari Ameng, bahwa lelaki tak dikenali tiba-tiba datang entah dari mana, kemudian membantu mereka menghajar para pengeroyok. Hal ini sedikit banyak membuat Tigor merasa bahwa Black Eagle dan Black shadow lah yang telah menyelamatkan mereka atas perintah dari Jerry William.
__ADS_1
"Meng. Kau harus kembali ke kota Kemuning sesegera mungkin! Temui Miss Aline, atur segala sesuatu tentang persiapan kita melakukan peperangan dengan Jhonroy. Bagaimanapun, langkah cepat harus diambil. Setelah dipikir-pikir, memang tidak tepat melakukan peperangan secara setengah-setengah. Kekuatan penuh harusnya sangat dibutuhkan. Dan kekuatan itu baru bisa diaktifkan setelah aku bebas. Langkah pertama adalah, melakukan hal-hal pemindahan seluruh aset ke tangan Namora. Firasat ku mengatakan, tenaga muda yang dibutuhkan dalam hal ini. Karena Tuan Jerry William ingin memancing ikan yang lebih besar ke dalam kolam yang dangkal, maka kita hanya bisa mengeruk kolam tersebut agar lebih dalam dan menarik perhatian ikan besar tersebut,"
"Dimengerti bang," jawab Ameng singkat.
"Tidak perlu mengambil jalan memotong dari Indra Sakti. Langsung saja melalui jalan raya. Sugeng dan anggota yang dia bawa seharusnya masih berada di perbatasan!"
Ameng mengangguk tanda mengerti, kemudian berbalik untuk meninggalkan ruangan besuk itu. Kini dia tau bahwa dia harus segera mengurus segala sesuatunya. Berhubung dia buta huruf, hanya Miss Aline lah yang bisa dia jadikan rujukan dan membantu wanita yang menjabat sebagai General manager di Tower sole propier tersebut untuk membantu mengatur segala sesuatu yang perlu untuk dipersiapkan.
*********
Setelah meninggalkan kantor polisi kota Batu, Namora yang saat ini tidak tau harus berbuat apa hanya bisa linglung sejenak. Dia tidak tau sudah berapa ratus meter dia berjalan setelah meninggalkan kantor polisi. Dia tidak memiliki kendaraan karena tadinya dia bersama dengan Ameng, dan Ameng entah kemana perginya.
Namora saat ini tidak ingin kembali ke rumah. Dia ingin berjalan untuk melonggarkan sedikit ketegangan di otaknya. Namun entah mengapa perasaan rindu terhadap Zack mengusik hatinya. Karena itu, Namora merogoh sakunya dan menghitung beberapa lembar uang yang ada dalam saku bajunya. Setelah dirasa bahwa uang itu cukup, dia segera melambaikan tangannya ke arah taksi yang lewat dan meminta kepada sopir untuk mengantarnya ke area pemakaman umum kota Batu.
Setelah membayar ongkos, Namora perlahan melangkah. Mengucapkan salam dan berdoa, barulah dia memasuki area pemakaman umum tersebut, lalu melangkah pasti ke arah empat gundukan tanah yang masih basah.
"Zack. Aku datang. Semoga kau senang dengan kedatangan ku," sapa Namora sembari mengelus batu nisan di salah satu gundukan tanah tersebut.
Namora duduk menjelepok di tanah, mengangkat kedua tangannya, kemudian memanjatkan doa kepada Tuhan yang maha esa.
Setelah selesai memanjat Doa, dengan sorot mata berapi-api, Namora berkata perlahan. "Zack. Aku tau kalau seandainya aku tidak bersikeras agar kau bekerja dengan ku, dan membiarkan kau tetap berada di sisi Paman Ameng, semua ini tentu tidak akan terjadi. Akan tetapi, ini juga diluar dugaan ku. Kau tenang saja Zack! Aku jamin bahwa keluarga mu tidak akan mengalami kesulitan hidup. Dan satu hal lagi. Aku berjanji bahwa Jhonroy, yang telah melakukan perbuatan keji ini akan berlutut di depan makam mu. Pegang janji ku ini!" Kata Namora sambil mengepalkan tangannya. Lalu..,
__ADS_1
Bugh...! Tanpa sadar Namora meninju ke arah bawah hingga pukulan tersebut menghantam tanah, lalu meninggalkan lubang beberapa sentimeter.
"Jika aku tidak bisa membuat Jhonroy berlutut di depan makam mu, aku.., Namora, berhenti jadi laki-laki!" Ujar Namora penuh kemarahan.
"Hahahaha. Anak ingusan berlagak sok jagoan. Kau tidak mengukur kemampuan mu. Beraninya kau berkata bahwa kau mampu membuat Jhonroy berlutut di hadapan orang yang sudah mati,"
"Heh...?!" Namora tersentak mendengar kalimat itu. Kalimat itu datang dari arah belakang. Menurut cara penuturannya, tentunya pemilik suara itu bukanlah berasal dari negara ini. Karena cara pelafalan bahasa Indonesia nya sangat kaku. Bahkan terasa seperti orang cadel.
Entah karena terlalu marah, sampai-sampai Namora tidak menyadari bahwa orang lain sebenarnya telah berada dibelakangnya sejak tadi. Dan ini menandakan bahwa orang ini bukanlah sembarang orang.
Namora spontan berbalik, kemudian membuat gerakan antisipasi secara naluriah.
"Siapa kau?" Tanya Namora sembari mengernyitkan dahinya. Dia tidak tau siapa orang gemuk pendek berpakaian serba hitam tersebut. Terlihat di pinggang lelaki gemuk itu terdapat dua bilah pedang berbeda ukuran.
"Samurai?" Pikir Namora dalam hati.
"Hahaha. Aku akan memberitahukan kepada mu siapa aku. Agar kau tidak mati penasaran. Namaku adalah Takimura. Aku datang dari negara Jepang atas undangan dari Sensei Dojo kampung baru. Kau pasti ingat perselisihan antara kau dan pemilik Dojo bukan?"
Mendengar pengakuan dari lelaki pendek itu, Namora tanpa banyak tanya lagi segera mengetahui bahwa orang ini pastilah diutus untuk mencelakakannya.
"Katakan! Apakah kau juga yang telah membunuh keempat sahabatku ini?"
__ADS_1
"Hahaha. Aku harus jujur kepada calon bangkai. Ya. Aku membunuh mereka atas perintah dari Sensei dan Jhonroy. Harusnya kau juga berada di sana untuk mati. Akan tetapi, sepertinya malaikat maut menunda kematian mu. Dan sekarang, bersiaplah untuk mati!" Kata Takimura. Dan dia segera memindahkan tangannya ke arah gagang katana, lalu bersiap untuk melakukan serangan.
Bersambung...