Namora

Namora
Rudi ditumbangkan


__ADS_3

"Ternyata kau hebat juga dalam bertarung, Jol?!"


"Sial. Apa kau menyepelekan aku? Jika tidak dicurangi dan malas mengikuti turnamen, kemungkinan tiket mu ke turnamen itu adalah milikku. Tapi ya sudahlah! Kau lihat itu di pintu Dojo sana! Sepertinya ada yang datang," Jol memonyongkan bibirnya sebagai isyarat.


Namora memperhatikan ke arah puluhan orang yang berjalan ke arah mereka dengan masing-masing diantara mereka membawa senjata berupa tongkat kayu. Dan rata-rata mereka ini mengenakan sabuk hijau yang merupakan tingkat pertengahan dalam seni beladiri karate.


Namora melihat seorang lelaki berumur sekitar 25 tahun berjalan paling depan. Hanya dia satu-satunya orang yang tidak mengenakkan sabuk. Hanya saja, dia mengenakan pakaian hitam. Namora tidak terlalu memusingkan atribut ini. Yang pasti baginya adalah, lelaki itu lah dulu yang mengusir dirinya dari Dojo ini ketika ingin mendaftar menjadi murid. Sedangkan dua pemuda yang berada sedikit di belakang lelaki itu adalah Rudi dan Diaz. Keduanya mengenakan sabuk hitam. Tidak kelihatan dimana Dudul dan Ruben.


Tatapan lelaki berusia 25 tahun itu menyipit ketika melihat ada dua puluh orang murid-muridnya yang terbaring di tanah sambil mengerang kesakitan. Bahkan, ada yang kepalanya pecah. Dan dia lah yang pertama kali terjatuh akibat hantaman keras dari helmet yang dikenakan oleh Jol.


Lelaki itu mendesis menahan geram, kemudian menatap dengan tatapan dingin ke arah Jol dan Namora. Jelas terlihat bahwa dirinya saat ini sedang sekuat tenaga menahan ledakan amarahnya.


Namora tau bahwa lelaki yang sering disebut oleh mereka dengan sebutan kakak pertama itu sedang menahan kemarahan. Oleh karena itu, Namora segera berdiri lurus, kemudian memberikan penghormatan ala murid-murid Dojo.


"Tidak ada angin, tidak ada hujan, akan tetapi dua puluh orang adik-adik ku terkapar di tanah. Aku ingin tau, apa penyebab dari semua ini. Betapa punya nyali besar," kata kakak pertama membuka ucapannya.


"Bangsat kau, Jol. Kau membuat keributan di Dojo tempat kami belajar. Nyari mati kau ya?"


Melihat Rudi sudah melabrak, Diaz juga tidak tinggal diam. Dia segera maju beberapa langkah, kemudian menunjuk ke arah Jol.


"Jol. Kau sudah bosan hidup ya? Ada masalah apa sampai-sampai kau membuat kerusuhan. Jika kau sakit, aku akan mengirim mu ke rumah sakit!"


Diaz sama sekali tidak menganggap kehadiran Namora. Karena, baginya adalah, tidak mungkin ini perbuatan Namora. Makanya dia langsung melabrak Jol.


Jol nyengir sebelum menjawab dengan meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. "Sssst.., sebagai adik yang baik, tidak seharusnya kau memotong ucapan kakak seperguruan mu kan? Adik celaka itu namanya!"


"Kau..?!" Diaz menggeram. Dia ingin menonjok muka Jol yang tengil. Akan tetapi kakak pertama keburu melarang.


"Diaz! Tetap di tempat mu!"


Diaz segera mundur lagi dari tempatnya berdiri tadi. Namun, tatapannya penuh bara api permusuhan.


"Sekarang kau jelaskan mengapa kau menjatuhkan adik-adik ku! Jika tidak, jangan salahkan aku jika kalian berdua tidak akan keluar dari tempat ini dengan selamat!" Nada ancaman jelas terasa dari ucapan kakak pertama.

__ADS_1


"Hahaha..," Jol tertawa. Tawanya ini benar-benar membuat Diaz dan Rudi ingin segera menerkamnya.


"Pertanyaan yang lucu. Begini bang! Kedatangan kami ke sini adalah untuk bertemu dengan kedua anjing itu!" Jol menunjuk ke arah Diaz dan Rudi. Kemudian melanjutkan, "tapi, sebelum kami mengatakan apa-apa, salah satu dari adik mu malah ingin mengajak ribut. Apakah begini cara mu, sebagai kakak pertama mendidik adik-adiknya?"


Merah padam wajah kakak pertama itu mendengar jawaban dari Jol. Yang lebih siap nya lagi, sedikitpun tidak ada rasa bersalah dari wajah Jol. Bahkan terkesan sungguh sangat menantang.


Lain halnya bagi Rudi dan Diaz. Mendengar bahwa dirinya dikatakan anjing tepat di depan batang hidungnya sendiri, membuat darahnya mendidih.


Selama ini, belum ada yang pernah berani mengatakan anjing dihadapannya. Karena, sebagai murid yang pertama ketika Dojo ini berdiri, murid-murid yang lain, bahkan orang lain yang seusia dengan dirinya tidak ada yang berani begitu lancang.


Sekali lagi kakak pertama menahan kemarahannya, kemudian bertanya. "Untuk apa kau mencari kedua adik ku ini?"


"Hahaha. Pertanyaan yang bagus. Tentu saja ingin mengajak salah satu dari mereka untuk bertarung. Aku tau bahwa ada dua wakil dari Dojo ini yang akan mengikuti turnamen antara sekolah. Aku tidak setuju itu. Jadi, hanya ada satu saja diantara mereka yang boleh ikut!"


"Bangsat! Hak apa yang kau miliki untuk mengatur kami hah?" Kali ini kemarahan yang sejak tadi di tahan akhirnya meledak juga.


Jol tetap tenang. Sedikitpun dia tidak menunjukkan ketakutan atas kemarahan kakak pertama ini. Dia sudah memperhitungkan semuanya. Kepalang tanggung, jika kakak pertama ini macam-macam, dia sudah nekat untuk beradu jurus dengannya.


Kali ini harga dirinya sebagai kakak pertama benar-benar tercabik-cabik oleh kedua anak muda yang ada di hadapannya ini.


Namora terlihat tidak sabaran. Kini, giliran dirinya menyela. "Apakah kita hanya bicara omong kosong saja? Jika begini terus, bagaimana jika aku mencari kafe. Silaturahmi kan?" Nada kata-katanya tanpa notasi. Hal ini semakin membuat lelaki yang disebut dengan sebutan kakak pertama itu menjadi semakin marah.


"Kakak. Biar aku saja yang membungkam mulut anak sombong itu!" Sebelum Kakak pertama membuka mulut, Rudi sudah menawarkan diri untuk membungkam mulut Jol. Namun, ketika dia maju untuk menghadapi Jol, Jol malah mundur di belakang Namora.


"Jangan lari kau bangsat!" Rudi mencibir penuh ejekan ketika dia melihat Jol mundur kebelakang Namora.


"Aku lawan mu!" Namora maju satu langkah dan kini jarak mereka hanya tinggal dua langkah saja.


"Siapapun itu, harus masuk rumah sakit karena berani mengacau di Dojo ini!"


Rudi tidak mau banyak bicara lagi. Dia justru langsung menerkam ke arah Namora. Dan serangan yang tidak menggunakan perhitungan ini benar-benar akan disesali oleh Rudi.


Tepat ketika tangannya akan sampai ke wajah Namora, Namora segera menangkap pergelangan tangannya, kemudian memelintir tangan tersebut hingga terdengar suara tulang patah.

__ADS_1


Tidak cukup sampai di situ, Namora menarik tangan tersebut hingga Rudi pun ikut tertarik.


Bugh..!


Namora memukul tulang rusuk Rudi dengan telapak tangannya. Beruntung itu telapak tangan, jika itu tinjuan, dapat dipastikan bahwa tulang rusuk itu akan patah.


"Aaaa...," Rudi berteriak kesakitan. Memang sakit, tapi ada yang lebih mengerikan lagi dari hanya sekedar rasa sakit. Yaitu, keterkejutan.


Selama ini dia tidak pernah menganggap Namora. Bahkan, baginya Namora hanyalah sampah yang tak berharga. Tapi hari ini, sampah itu telah membuat tangan dan tulang rusuknya cedera. Dan sialnya, Namora tidak berhenti sampai di situ saja. Namora bahkan menginjak betisnya hingga memaksanya untuk berlutut dengan satu kaki bengkok.


Melihat ini, Diaz langsung mengamuk. Dia ingin menerkam Namora. Akan tetapi, satu tendangan keras dari Namora menghantam dada nya membuat dia jatuh terduduk.


"Aku hanya menginginkan salah satu dari kalian. Dan satunya lagi, akan aku bereskan di arena, dihari pertarungan," dingin nada bicara Namora. Bahkan, kakak pertama pun bergidik mendengarnya.


"Siapa kau ini sebenarnya? Jika kau tidak dapat menjawab dengan baik, maka aku yang akan menghajar mu!"


Namora tidak menunjukkan ekspresi apapun. Tapi dia tetap menjawab. "Ketahuilah wahai kakak pertama. Aku adalah anak yang dulu kau usir dari Dojo ini karena termakan fitnahan dari empat ekor anjing. Aku tidak melihat Dudul dan Ruben. Jika tidak, dia bisa menemani Rudi di rumah sakit,"


Kini, kakak pertama itu tau siapa Namora. Dan mungkin, karena alasan inilah Namora sampai membuat keributan. Karena, menurut pikirannya, pasti Namora ingin membalas dendam karena telah diusirnya dari Dojo ini sekitar lima tahun yang lalu.


"Baik. Mungkin kau ingin membalas dendam atas pengusiran yang kau terima, beberapa tahun yang lalu. Sekarang kau mau apa?"


"Sudah kami katakan dari awal. Hanya ada satu orang yang boleh mengikuti turnamen itu. Dan tujuan ku sudah tercapai karena telah menumbangkan Rudi. Sebagai orang yang punya otak, seharusnya kau dapat mengukur seberapa mampu aku untuk menghajar Diaz ini. Tapi tidak sekarang. Aku ingin dia terkapar di arena, besok!"


Selesai bicara seperti itu, Namora mengajak Jol untuk kembali ke kota Batu. Tapi, sebelum dia sempat, kakak pertama sudah menghalangi.


Namora menahan geram, kemudian berkata. "Kau terlalu memaksakan diri. Kemampuan yang kau miliki itu masih tidak cukup. Bagiku, kau hanya setetes air di dalam ember,"


"Kurang ajar! Apa kau menganggap bahwa ini adalah Dojo tanpa tuan, yang bisa kau datangi kapan kau suka, kemudian pergi sesukanya? Jika aku tidak dapat mematahkan kaki mu, aku tidak akan bisa mengembalikan harga diri ku sebagai kakak pertama di Dojo ini,"


"Sialan. Kau akan menyesal," desis Namora sembari menggulung lengan baju kemeja yang dia kenakan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2