Namora

Namora
Arda dan Ardi terkepung


__ADS_3

Namora baru saja kembali dari mengantar Jol kerumahnya. Namun, dia tidak segera pulang ke rumahnya, alasannya adalah, dia khawatir bahwa Ameng akan segera ke sana untuk memarahinya.


Sudah tidak terhitung berapa banyak masalah yang telah dia ciptakan akhir-akhir ini. Hal ini mau tidak mau membuat Ameng menjadi kelimpungan sendiri.


Bagi Ameng, Namora masih terlalu muda untuk berhadapan dengan kekerasan. Darah muda yang masih panas terkadang dapat menjerumuskan orang tersebut. Dia berpikiran seperti itu karena memang pernah mengalami masa muda. Bahkan, dulu dia tidak pernah merasa takut kepada siapapun. Akan tetapi, dia berbeda dengan Namora. Mereka dulu walaupun bandel, namun jumlah mereka ada sepuluh orang. Berbeda dengan Namora yang hanya sendirian. Hal ini yang membuat Ameng tidak bisa tenang. Bagaimanapun, Namora adalah tanggung jawabnya.


Sementara itu, Namora yang tidak berani pulang ke rumahnya hanya bisa berkeliaran di jalanan sambil menunggu informasi dari Zack yang dia tugaskan untuk memata-matai pergerakan Jhonroy.


Tepat ketika Namora sedang asyik mengendarai sepeda motornya sambil mengkhayal bisa mengendarai mobil, telepon seluler yang berada di sakunya segera bergetar menandakan ada yang menelepon dirinya.


Namora meminggirkan sepeda motornya di bahu jalan, kemudian menjawab panggilan tersebut.


"Hallo Zack. Bagaimana?" Tanya Namora setelah panggilan itu terhubung.


"Seperti yang telah anda perkirakan," jawab Zack singkat.


"Bagus. Segera kembali ke kota Batu! Kemungkinan aku tidak akan sanggup menghadapi mereka sendirian,"


"Segera, Tuan muda!"


Panggilan itu berakhir dengan senyum sinis terukir di bibir Namora.


Setelah selesai dengan panggilan tadi, dia pun kembali memacu sepeda motornya melintasi jalan kota batu mengarah ke gang kumuh.


"Jangan sampai Paman Ameng tau. Kalau dia tau, pasti aku akan dimarahi lagi sama dia," pikir Namora dalam hati.


Dia hanya berkeliling saja di jalanan menunggu waktu malam. Karena, bagaimanapun, dia telah menempatkan orang-orangnya di tempat-tempat yang memang telah dia targetkan.


Setelah lelah berkeliling, Namora pun akhirnya sampai di sebuah kafe. Kafe ini namanya adalah Kafe Melodi. Kafe yang memiliki sejuta kenangan bagi Tigor dan semua orang yang dekat dengannya. Akan tetapi, Namora mana tau cerita tentang ayahnya. Walaupun dia tau, itu hanya sedikit. Makanya, ketika dia memasuki kafe tersebut, tidak ada ekspresi apapun pada wajahnya.


"Maaf dik. Mau minum apa?" Tanya pelayan begitu Namora menemukan kursi, dan duduk di sana.


"Coklat panas bang!" Jawab Namora.


Pelayan tadi mengangguk, kemudian berlalu meninggalkan tempat duduk Namora tadi untuk menyediakan pesanan tamu tersebut.


Namora mengeluarkan handphone miliknya, kemudian melihat bahwa jam saat ini menunjukkan pukul enam sore.


"Gila. Lama banget waktu berjalan," gumamnya dalam hati.

__ADS_1


Merasa tidak sabaran, Namora segera mengirim pesan suara ke salah satu orang yang dia tempatkan di kota batu.


"Lan. Bagaimana perkembangannya?"


"Tuan muda. Saat ini mereka sedang bersiap-siap untuk berangkat. Kemungkinan besar saat ini adalah, mereka menunggu gelap,"


"Terus pantau dan laporkan kepadaku jika mereka sudah berangkat!"


"Dimengerti, Tuan muda!"


Namora meletakkan handphonenya di atas meja, lalu memaksakan bibirnya tersenyum kepada pelayan yang membawakan pesanannya tadi. Tidak mengapa senyuman itu jelek. Yang penting dia sudah berusaha untuk tersenyum.


*********


Jam menunjukkan tepat pukul delapan malam takkala satu unit mobil Nissan Almera melaju meninggalkan salah satu rumah di komunitas perumnas guru di kota batu.


Setelah mobil itu tiba di jalan raya, kemudian mobil itu berbelok ke kiri menuju ke kota Tasik Putri.


Tidak sampai dari lima menit mobil tadi pergi, dari arah salah satu kafe yang berada di pinggiran jalan raya itu, kini keluar puluhan lelaki yang langsung bergerak ke area parkir. Dan tak lama setelah itu, lebih dari sepuluh unit sepeda motor melaju menyusul ke arah mobil yang tadi telah berada di depan.


Awalnya, mereka terlihat hanya segerombolan penunggang sepeda motor biasa yang hanya konvoi untuk bersenang-senang. Akan tetapi, keadaan menjadi berubah ketika mobil di depan akan memasuki area perbatasan antara kabupaten kota Batu ke kabupaten kota Tasik Putri, tepatnya gang Kumuh. Baru dari sinilah rombongan sepeda motor itu menjadi galak dan brutal.


Sementara itu, orang-orang yang berada di dalam mobil, yang tadinya tidak menduga bahwa gerombolan penunggang sepeda motor itu akan mengganggu perjalanan mereka langsung mengerti bahwa keberangkatan mereka sebenarnya telah diketahui.


Di dalam, dua orang lelaki muda tampak mengeluarkan pisau dan bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Sedangkan seorang lagi adalah gadis remaja, terlihat sangat ketakutan begitu melihat kedua kakaknya mengeluarkan senjata tajam.


"Bang. Ada apa?" Tanya gadis itu berusaha untuk tetap tenang.


"Keberangkatan kita sudah diketahui. Mer.., kalau terjadi apa-apa, kau segeralah lari. Selamatkan dirimu, dan jangan pedulikan apapun! Mengerti?"


Gadis remaja itu mengangguk setuju. Andai dia tidak setuju pun, hanya ada satu pilihan baginya. Lari menyelamatkan diri, atau pasrah menjadi boneka Jhonroy.


Sementara itu di luar, beberapa penunggang sepeda motor telah berhasil mendahului mobil tadi. Beberapa diantaranya ada di tengah, dan juga di bagian belakang sehingga mobil Nissan Almera itu benar-benar telah terkepung.


Ngeng... Ngeng... Ngeng...


Praaaak...!


Begitu sepeda motor tadi sejajar dengan mobil, salah satu lelaki yang berada di boncengan memukulkan tongkat kayu ke arah kaca samping mobil, yang membuat kaca mobil tadi hancur berderai disertai jeritan terkejut seorang gadis.

__ADS_1


"Minggir, atau mati!" Ancam lelaki yang memukul kaca tadi sambil mengacungkan tongkat kayu ke arah sopir.


"Kau sudah siap, Ardi?" Tanya lelaki yang mengemudikan mobil itu.


"Tidak ada pilihan. Mungkin inilah takdir kita. Aku tidak menyesal andai mati. Asalkan kehormatan adik perempuan ku tidak ternodai oleh bandot tua itu," jawab pemuda bernama Ardi tadi. Pancaran sinar matanya menunjukkan bahwa tekadnya sudah bulat.


Begitu mendengar jawaban yang keluar dari mulut Ardi, tiba-tiba lelaki yang mengemudikan mobil tadi menginjak pedal gas secara spontan. Akibatnya...,


Gubrak...


Mobil itu langsung menabrak sepeda motor yang berada di depannya hingga jatuh. Tapi malangnya, setang sepeda motor itu malah masuk ke bawah bagian bumper depan sehingga terus terseret ke depan, membuat mobil tadi langsung berhenti.


Ceceran darah bercampur isi kepala berserakan di jalan aspal itu. Sedangkan beberapa pengendara motor lainnya tampak sangat terkejut dengan kejadian yang baru saja terjadi.


"Mer.., lari!" Teriak Ardi setelah membuka pintu mobilnya.


Puluhan lelaki yang mengendarai sepeda motor itu langsung tersadar setelah tadi sempat terkejut melihat adegan tabrakan maut tadi. Mereka langsung berbagi tugas mengelilingi Ardi dan Arda, kemudian beberapa orang langsung mengejar ke arah Merisda yang telah lari beberapa meter dari tempat kejadian.


"Mau lari kemana kau hah, bocil?"


Merisda menjerit melengking ketika salah satu dari pengejar, berhasil menjambak rambutnya. Lalu, dirinya seperti melayang terbang kembali ke arah mobil, kemudian terbanting tepat di dekat kaki kedua abangnya.


"Lepaskan adikku! Dia tidak tau apa-apa. Jika kalian mengganggu adikku, akan ku bunuh kalian!" Ancam Arda sambil mengacungkan pisau ke arah lawan.


"Arda.., Arda! Bodoh sekali kau ini. Sudah diberi kesempatan, tapi tidak dipergunakan dengan baik. Kau malah berniat untuk mengirim adik mu pergi. Apa kau mengira bahwa Jhonroy dan orang-orangnya sama seperti segerombolan badut yang terlihat bodoh? Kau ini sungguh naif!"


"Aku tidak naif. Aku hanya berusaha untuk membela keluarga ku. Apapun yang terjadi, sebagai seorang Abang, pantang menjerumuskan adiknya hanya untuk bisa bertahan hidup. Apa kau pikir bahwa Jhonroy akan melepaskan aku setelah adikku berada ditangannya? Hahaha. Aku mungkin tidak lebih dari seekor anjing dihadapannya," balas Arda tak mau kalah.


"Baiklah. Sudahi omong kosong ini. Kalian berdua akan mati, lalu adik perempuan mu akan segera menjadi budak mainan Jhonroy. Kau akan tersenyum dari neraka ketika melihat adik mu diperkaos oleh Jhonroy,"


"Hahaha. Benar, Teman. Setelah Jhonroy puas, mungkin kita akan kebagian sisanya. Lumayan makan daging mentah. Jangan janda terus,"


"Baiklah. Ayo kita berbagi pahala. Mungkin ganjarannya akan besar setelah kita berhasil membawa gadis itu, plus kepala kedua pengkhianat ini,"


Mereka beramai-ramai kini mulai mengepung Ardi dan Arda yang langsung terpojok ke arah mobil.


"Kau siap?" Tanya Arda kepada adiknya.


"Lebih baik mati, daripada hidup menanggung hinaan," jawab Ardi ketus. Dia sudah tidak mengharapkan bahwa dirinya bisa melihat matahari besok. Mungkin setelah malam ini, dia tidak ada ada lagi di permukaan bumi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2