
Saat ini, di kota batu, Namora bersama dengan anak-anak J7 baru saja tiba di rumah milik orang tua Jericho.
Kedatangan ketujuh anak muda plus Jericho yang tadi menjemput Namora disambut dengan sangat hangat oleh orang tua Jericho.
Sebenarnya, mereka enggan untuk datang ke rumah Jericho ini. Apa lagi diantara mereka, orang tua Jericho ini lah yang paling kaya. Bukan apa-apa. Mereka takut dikatakan memanfaatkan hubungan persahabatan mereka karena Jericho adalah anak orang berada.
Akan tetapi, karena koneksi yang dimiliki oleh Jeremiah ini, maka tidak ada salahnya jika mereka mencoba untuk meminta bantuan supaya pendaftaran mereka nantinya di SMA negeri Tunas Bangsa tidak terlalu dipersulit.
Bagi Jeremiah sendiri, ini adalah kali pertama rumahnya kedatangan tamu dari sahabat Jericho.
Memang dia tau bahwa anaknya itu memiliki tujuh orang sahabat yang sangat dekat. Tapi, baru kali ini lah mereka bertamu. Itupun karena ada maunya. Bagi Jeremiah sendiri, itu tidak mengapa. Dia maklum bahwa mungkin sahabat-sahabat anaknya itu memiliki sifat pemalu.
Jol, sebagai ketua dari kelompok anak-anak muda ini berinisiatif untuk menyapa sang Tuan rumah. Dia meraih tangan Jeremiah, lalu menciumnya seraya berkata, "salam Om!"
"Hmmm... Silahkan duduk anak-anak ku!" Kata Jeremiah mempersilahkan.
Baru saja anak-anak muda itu duduk, tiba-tiba...,
Kriing...!
Kriiing...!
"Sebentar ya! Om menjawab panggilan dulu!" Kata Jeremiah sembari berdiri dan berjalan menuju ke arah meja dimana di sana terdapat pesawat telepon.
"Hallo!" Kata Jeremiah ketika menjawab panggilan tadi.
"Jeremiah. Ini aku Ameng!"
"Oh. Iya bang. Ada apa?" Tanya Jeremiah antusias.
"Jere.., apakah rumah mu saat ini kedatangan tamu anak-anak muda?" Tanya Ameng di seberang sana.
"Benar. Dari mana Abang tau?" Tanya Jeremiah terheran-heran.
"Rio yang memberitahukan kepada bang Tigor bahwa rumah mu didatangi oleh anaknya. Dan bang Tigor langsung menghubungi aku," jawab Ameng.
Sebenarnya, begitu Rio mengetahui dari Mirna bahwa tadi Jericho menjemput Namora untuk datang kerumahnya, Rio yang tidak ingin Jeremiah terlepas bicara, segera menghubungi sipir penjara agar menyerahkan ponselnya kepada Rio. Berkat telepon dari Rio ini, Tigor langsung menghubungi Ameng agar segera mencegah Jeremiah terlepas bicara.
Memang, semuanya masih samar. Apakah Jeremiah mengenal Namora atau tidak. Namun, lebih baik mencegah daripada nantinya serba terlambat.
__ADS_1
"Bang.., bang Ti.., bang Tigor?" Terlihat Jelas bahwa Jeremiah saat ini dilanda keterkejutan.
"Dengarkan kata-kata ku, Jeremiah!" Potong Ameng cepat sebelum Jeremiah menguasai keterkejutannya.
"Iya bang. Aku mendengarkan!"
"Salah satu dari ketujuh anak-anak itu, adalah anak majikan kita. Namanya Namora. Kau berpura-pura saja tidak tau. Perlakukan dia seperti biasa. Ingat! Jangan kau ungkit tentang ayahnya! Bang Tigor tidak ingin anaknya menjadi pribadi yang manja. Biasa-biasa saja. Jika kau ingin membantu, maka bantulah semuanya tanpa membeda-bedakan. Bisa?" Ameng saat ini berkata tegas kepada Jeremiah.
"Oh... Eh. Iya bang. Aku akan menuruti kata-kata mu!" Jawab Jeremiah singkat.
"Baiklah. Sudah dulu. Kau bisa melanjutkan dengan mereka. Aku masih ada pekerjaan," kata Ameng yang langsung mengakhiri panggilan.
Jeremiah tampak mengusap dadanya. Dia sangat kaget ketika Ameng tadi menyebutkan bahwa salah satu dari ketujuh tamunya itu adalah anak majikannya. Berarti dia adalah Tuan muda dari keluarga Habonaran.
Jeremiah mengatur ekspresi wajahnya sebelum dia kembali melangkah menghampiri sofa dimana Namora dan kawan-kawannya duduk.
"Anak-anak ku.., maaf telah membuat kalian menunggu!" Kata Jeremiah dengan senyum yang sedikit dipaksakan.
"Ayah. Siapa yang menelepon?" Tanya Jericho.
"Sahabat lama!" Jawabannya singkat. Dia lalu duduk di sofa yang tadi dia duduki, dan kembali berkata. "Kalian belum memperkenalkan diri. Siapa-siapa saja nama anak-anak ini?" Tanya nya. Dia jelas ingin tau, yang mana anak bernama Namora yang baru saja membuat jantungnya nyaris pindah ke ginjal.
"Saya James, Om," kata James pula.
Setelah mereka memperkenalkan diri masing-masing, barulah giliran Namora bangkit berdiri. Dia tampak gugup dan malu-malu.
"Na.., nama sa.., saya adalah Namora, Om!" Kata Namora. Sejak tadi, dialah yang kelihatan sangat malu. Bahkan terbilang cukup minder.
"Om sudah tau tujuan kalian kemari. Kalian ingin meminta bantuan dari Om kan, agar kalian bisa melanjutkan pendidikan di SMA negeri Tunas Bangsa?" Tanya Jeremiah yang sebenarnya sudah tau apa maksud dari kedatangan anak-anak muda sahabat anak lelakinya itu.
"Benar, Om. Tujuan kedatangan kami kemari memang seperti yang Om katakan tadi," jawab Jol dengan raut wajah malu-malu. Berulang kali dia mengusap telapak tangannya.
"Kalau hanya itu, Om setuju. Sore ini juga Om akan menemui kepala sekolah. Kebetulan kepala sekolah SMA negeri Tunas Bangsa adalah teman Om. Jadi, kalian pulang lah, persiapkan segala sesuatunya, dan besok kalian langsung saja datang ke sekolah SMA Tunas Bangsa!"
Kata-kata dari Jeremiah ini membuat anak muda itu sumringah. Tidak terkecuali Jericho pun terlihat sangat antusias mendengar bahwa ayahnya akan membantu mereka semua.
"Kalau begitu, kami permisi, Om!" Kata Jol yang tampak sangat berseri-seri.
"Hmmm. Kalian hati-hati di jalan! Jangan ngebut!" Pesan Jeremiah kepada ketujuh anak-anak tamunya itu. Dia khawatir. Maklumlah, jiwa muda terkadang memiliki pemikiran yang pendek. Masih belum memiliki rasa takut. Bisa saja karena merasa bangga, mereka akan kebut-kebutan di jalan raya.
__ADS_1
"Iya Om. Kami akan mendengarkan kata-kata Om!" Jawab Jol.
Mereka lalu bangkit dari tempat duduk masing-masing, lalu bergiliran menyalami tangan ayah Jericho.
"Aku tidak ikut kalian ya! Tolong antar Namora kembali kerumahnya!" Pinta Jericho. Dia tidak bisa ikut karena akan mempersiapkan segala sesuatunya untuk besok.
"Mora. Ayo! Aku akan mengantarmu pulang!" Ajak Jol sambil melemparkan kunci motornya kepada Namora yang langsung ditangkap oleh Namora dengan sigap.
Ngeeeeeeng!
"Jangan balapan!" Kata Jeremiah kembali mengingatkan. Dari cara Namora menarik gas tadi saja dia tau bahwa ketujuh anak-anak ini pasti akan saling balap.
"Hehehe. Maaf Om. Kami janji tidak akan balapan," kata Namora. Malu betul hatinya mendapat teguran.
"Ayo kita berangkat!" Ajak Jol. Dia buru-buru naik.
Satu persatu dari mereka meninggalkan halaman rumah Jericho menuju ke jalan raya.
Sesuai dengan janji, kali ini tidak ada diantara mereka yang ugal-ugalan dijalan raya.
"Kita akan menjadi murid di SMA negeri Tunas Bangsa!" Kata Jol dengan sangat bersemangat.
"Iya. Hahaha. Tidak terasa kalau kita saat ini sudah lajang!" Teriak Jaiz yang kebetulan dekat dengan Jol dan Namora.
"Aku mulai berpikir untuk mencari pacar!" Giliran James pula yang berucap dengan suara keras.
"Ok. Kita akan bersaing. Siapa diantara kita yang punya pacar yang paling cantik," tantang Jufran yang tidak mau kalah.
"Sialan. Pacaran hanya menambah beban saja. Aku tidak tertarik. Sebaiknya fokus saja ke pelajaran. Kita mau sekolah. Bukan pacaran!" Jol tampak tidak setuju dengan niat dari teman-temannya.
"Hahaha. Sesekali boleh lah,"
"Tancaaaaaap!" Kata Julio yang langsung menggeber motornya.
"Jangan woy. Kita kan udah janji untuk tidak ngebut,"
"Upst. Maaf. Ane lupa!"
Ketujuh anak-anak remaja itu lalu tertawa terbahak-bahak seperti kurang waras. Hal ini membuat mereka menjadi pusat perhatian orang-orang yang mereka lewati.
__ADS_1
Bersambung...