Namora

Namora
Angga menyalahkan Teja


__ADS_3

Pusat tahanan kota Batu


Wajah Tigor merah padam ketika dirinya menerima laporan dari Ameng bahwa anak buah Namora, yaitu Zack dan ketiga temannya mengalami pembantaian di tikungan Pitu.


Sebagai orang yang pernah menjadi raja dan sangat ditakuti di lima kota, tentu saja reputasi dan harga dirinya saat ini benar-benar tertantang.


Dua puluh tahun lebih dia menggeluti dunia hitam, ini kali pertama dirinya merasa tidak dihormati oleh orang lain.


Dulu, semua orang tidak akan berani mengusik anak buahnya. Apa lagi jika mengetahui bahwa mereka telah menjadi bagian dari organisasi Dragon Empire. Siapa yang berani menggali kuburan dengan memprovokasi mereka. Makanya saat ini, dia benar-benar marah begitu mengetahui bahwa empat orang anak buahnya telah dibantai.


Kematian keempat orang ini telah dikonfirmasi oleh pihak rumah sakit yang langsung menelepon Ameng bahwa Zack, tidak bisa lagi diselamatkan.


"Bang. Rencana yang kita susun kalah satu langkah dengan Jhonroy," kata Ameng melaporkan.


"Aku tau. Mereka terlalu berani," dengus Tigor dengan dingin. "Bagaimana dengan Rio?" Tanya nya kemudian.


"Rio tetap profesional, Bang. Dia tetap menjalankan prosedur sebagai anggota kepolisian. Kita memang tidak perlu bukti. Akan tetapi Rio tetap akan melakukan penyelidikan. Bagaimanapun, lawan memang sengaja mengirim tantangan kepada kita dengan tidak membersihkan tempat kejadian. Ada begitu banyak barang bukti di sana. Jhonroy pasti sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk melawan kita," kata Ameng lagi.


"Aku saat ini justru mengkhawatirkan Rio daripada Namora. Hanya saja, yang perlu kau perhatikan adalah pergerakan Namora. Melihat temperamen anak itu, dia pasti akan pergi ke kota L untuk menantang Jhonroy. Jika ini sampai terjadi, rencana tuan besar Jerry William akan sedikit bergeser,"


"Abang tidak perlu khawatir tentang itu. Aku sudah mendapat kabar bahwa kamar hotel yang dipesan oleh Tuan besar Jerry William telah dihuni. Ini menandakan bahwa mereka telah tiba di kota Kemuning. Hanya saja, kami tidak berani untuk menemui mereka," kata Ameng memberitahu bahwa dua orang yang dijanjikan oleh Jerry telah tiba di Martins Hotel subuh tadi.


"Jangan! Walau apapun yang terjadi, kalian tidak diizinkan untuk menemui mereka. Sebarkan perintah ku secara diam-diam! Jika berani menemui kedua orang itu, berarti nyawa mereka hanya tersisa dua minggu saja. Ketika aku keluar dari penjara, tangan ku ini yang akan membunuh mereka. Black shadow dan Black Eagle memiliki tugas khusus, tidak boleh diganggu!" peringatan keras langsung ditekankan oleh Tigor. Jelas dia tidak ingin mengacaukan rencana Jerry. Baginya, kedua orang itu hanya bertugas dibawah perintah Jerry. Dia sendiri bahkan tidak memiliki hak untuk bertemu dengan Black shadow dan Black Eagle.


"Aku mengerti, bang!" Jawab Ameng bersungguh-sungguh.


"Meng. Apakah Namora sudah mengetahui bahwa Zack telah terbunuh?"

__ADS_1


Ameng menggelengkan kepalanya. "Belum bang. Saat ini, dia masih ditemani oleh Pak Lalah untuk memberikan keterangan di kantor polisi Dolok ginjang. Nanti setelah dia selesai dan tiba di kota batu, barulah aku yang akan langsung memberitahukan kepadanya,"


"Bawa dia menemui ku di sini. Kita harus menjalankan rencana yang telah diatur oleh tuan besar Jerry William. Bagi dua anak buah mu. Sebagian untuk mengawal Namora kembali ke kota Batu, sebagian lagi bergerak dengan diam-diam untuk mengawasi keselamatan Rio. Jangan sampai Jhonroy malah menargetkan adik ku itu. Ketentraman kota L tergantung pada keselamatan keluarga ku. Jika keluarga ku sedikit saja terluka, aku akan menghancurkan kota L,"


"Baiklah. Kalau begitu, aku pergi dulu," ucap Ameng yang langsung meninggalkan ruangan tersebut.


*********


Kota L


Terbunuhnya Zack bersama dengan ketiga temannya bukan hanya menjadi bahan perbincangan diantara Tigor beserta anak buahnya. Akan tetapi, hal ini turut menjadi perhatian bagi Angga.


Angga tau apa yang akan dilakukan oleh abangnya, sehingga setelah kejadian, dia langsung menuju ke tempat terjadinya pembantaian itu. Dan benar saja. Dia dapat menangkap maksud dari permainan kasar abangnya itu. Pesannya jelas. Dia ingin menantang Dragon Empire. Maka dari itu, dia berinisiatif untuk berangkat langsung ke rumah ayahnya guna membahas masalah ini. Kalau perlu, dia ingin memojokkan Teja agar namanya sedikit memiliki tempat di hati ayahnya.


Tepat ketika Angga tiba di rumah besar milik Jhonroy, dia langsung masuk sambil berteriak. "Ayah. Apakah Abang ada di sini?"


Teriakan Angga ini langsung membuyarkan keseriusan Jhonroy bersama Teja. Entah apa yang mereka bahas, akan tetapi, sepertinya itu sangat serius.


"Huh. Kau masih bisa marah. Mengapa kau melakukan itu bang?" Tanya Angga begitu dia tiba dihadapan Teja.


"Hah? Sejak kapan kau mendikte apa yang aku kerjakan?" Cibir Teja tidak senang.


"Ayah. Apakah ayah juga terlibat dalam pembunuhan ini?" Tanya Angga kepada Jhonroy.


"Apa maksud anak sialan ini? Bisakah kau jangan mengungkit masalah ini lagi?" Teriak Teja sembari menarik kerah baju Angga.


"Ayah. Mengapa bermain kasar seperti itu? Tindakan dari bang Teja ini bukan hanya membuat kita melawan anggota Dragon Empire. Tapi juga pihak kepolisian. Ada banyak sekali barang bukti yang dia tinggalkan di tempat kejadian. Aku baru saja mengamati bahwa AKBP Rio Habonaran dari kota Batu sedang mengumpulkan bukti serta rekaman cctv di jalan. Jika dia menemukan bukti tersebut, matilah kau!" Angga menunjuk tepat ke arah batang hidung Teja.

__ADS_1


"Diam!" Bentak Jhonroy kepada Angga.


Mendapat bentakan tadi, Angga langsung membungkam mulutnya rapat-rapat. Dia tidak tau rencana apa yang sedang diatur oleh ayahnya. Hanya saja, rencana apapun itu, ayahnya jelas sudah memukul genderang perang dengan Dragon Empire.


"Kau lihat saja, Teja! Jika kau merasa bisa menargetkan mereka, mereka juga bisa menargetkan dirimu. Aku tidak mau terseret dalam masalah mu. Sialan," hilang sudah rasa hormat dihatinya kepada Teja. Karena dia tau bahwa Teja saat ini hanya menunggu waktu saja untuk mati. Dia pun mulai akan mengatur jarak agar tidak terkena tempias dari kemelut diantara Teja dan Namora. Biarkan Teja menjadi target. Dengan begitu, tidak akan ada lagi pesaing baginya untuk mewarisi kekayaan milik Jhonroy dikemudian hari.


"Kau berani mengatakan aku sialan?" Teja mendelik melihat ke arah Angga. Kesabarannya sudah habis. Dia pun langsung mengirimkan tinju ke arah wajah Angga. Akan tetapi dia mendadak mengernyit kesakitan manakala Angga langsung memblokir pukulannya dengan pukulan pula.


"Apa kau mengira bahwa aku sama dengan mu? Jangan berharap bisa memukul ku. Aku tidak pernah dimanjakan seperti dirimu. Jadi, ketika aku melawan, maka dengan mudah aku bisa mematahkan tangan mu!"


"Kalian. Sampai kapan berhenti membuat keributan didepan ku? Kau, Angga! Minta maaf kepada Abang mu!"


"Ayah. Daripada ayah memusingkan permintaan maaf ku kepada Teja, lebih baik ayah mengatur rencana bagaimana menghindari kejaran Rio Habonaran. Kita tau seperti apa hubungan antara Rio dengan Tigor. Jika Rio datang ke sini menangkap Teja, nama baik keluarga kita akan tercemar. Pikirkan itu baik-baik! Mungkin Taja ini akan dihukum seumur hidup karena melakukan pembunuhan berencana,"


Jhonroy merenung sejenak. Bagaimanapun, apa yang dikatakan oleh Angga ada benarnya. Walaupun dia memang menginginkan untuk berhadapan langsung dengan Dragon Empire, akan tetapi jika pihak kepolisian juga menargetkan mereka, ini tentu akan sangat merepotkan.


Lain pula bagi Angga. Dia memang ingin mewarisi kekayaan ayahnya. Namun, dia tidak ingin mewarisi sesuatu yang sudah rusak. Apalagi nama baik sudah tercoreng. Bukan hanya dia tidak dapat mempertahankan keluarga, bisa jadi dirinya akan menanggung beban warisan kejahatan yang ditinggalkan oleh Jhonroy dan Teja. Kalau sudah begitu, mana mau dia menjadi pewaris.


"Perkataan adik mu ada benarnya juga. Kita akan membahas ini sekali lagi. Bagaimanapun, aku masih memiliki beberapa orang dalam kepolisian yang memiliki pangkat yang tidak rendah. Kalau hanya untuk Rio Habonaran, tentunya bukan Maslaah besar,"


Mendengar perkataan Jhonroy ini, Angga merasa tidak nyaman dihatinya. Memang Jhonroy memuji dirinya. Akan tetapi, Jhonroy sama sekali tidak memarahi Teja. Padahal, dia ingin melihat sendiri Teja dimarahi karena dirinya.


"Angga. Kau pergilah! Aku akan mengurus masalah ini dengan Teja,"


"Tapi ayah?" Angga ingin menolak. Akan tetapi, dia tidak bisa berbuat apa-apa ketika Jhonroy memelototkan matanya kearahnya.


Geram betul hati Angga harus pergi dari rumah itu karena kehadirannya tidak diinginkan. Apalagi dia melihat tatapan mengejek dari Teja. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain membalikkan tubuhnya, lalu pergi meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


"Sialan. Kau tunggu saja seperti apa aku akan bertindak," katanya dalam hati.


Bersambung...


__ADS_2