Namora

Namora
Namora dihukum


__ADS_3

Suasana di ruangan kelas yang semula memang tidak pernah tenang sebelum guru tiba menjadi semakin tidak terkendali manakala Namora, sang selebriti yang beberapa hari yang lalu telah memenangkan turnamen kejuaraan pencak silat.


Jol, yang terkenal sangat rapat dengan Namora pun kecipratan popularitas. Walau bagaimanapun, ketika di Dolok ginjang, dia lah yang seolah-olah menjadi juru latih bagi Namora. Dia tidak henti-hentinya memberikan instruksi dan meneriakkan kata-kata penyemangat kepada Namora walaupun dia tau bahwa Namora sama sekali tidak membutuhkannya.


Dengan gayanya yang bagaikan jagoan, dia melenggang-lenggok berjalan diantara lorong antara kursi siswa, kemudian menghampiri Namora. "Bro. Bagaimanapun keadaanmu?" Tanya nya. Dia ingin menepuk pundak Namora. Akan tetapi, dia ingat ketika itu bahwa dia membuat Namora kesakitan akibat ulahnya. Maka dia segera membatalkan niatnya.


Namora, yang terkenal tanpa ekspresi menatap kearahnya dengan tatapan kosong. Kemudian dia menjawab, "harusnya aku sembuh lebih cepat. Tapi kau membuat proses penyembuhan ku tertunda sehari,"


Jol tersenyum kecut. Dia tau Namora hanya bercanda, jadi dia tidak mengambil pusing atas perkataan Namora barusan. Kemudian dia mendorong tubuh Namora ke samping, lalu duduk.


"Mora..,"


"Sssst...!" Namora meletakkan jari telunjuknya ke depan bibirnya ketika melihat seorang wanita paruh baya memasuki kelas.


Wanita itu adalah Bu Maudy. Guru wanita yang terkenal sangat galak dan mengutamakan kedisiplinan tinggi. Dia tidak pernah perduli apakah kau anak pejabat, anak polisi, anak preman, ataupun anak tukang becak, jika tidak kau disiplin, maka silahkan keluar dari kelasnya.


Tepat ketika wanita mengerikan yang mampu memberikan bencana kepada siswa itu masuk, suasana berubah menjadi sunyi senyap. Tidak ada yang berani berkutik. Bahkan Rendra, Jol, anak-anak J7 dan Namora sang juara pun tidak berani berkutik.


Namora merasakan jantungnya berdegup kencang ketika tatapan Bu Maudy mengarah kepadanya.


Sudah hampir seminggu dia tidak masuk ke sekolah. Dan tatapan mata yang tajam itu jelas menyiratkan bahwa dirinya akan mendapatkan hukuman. Dan benar saja, jantung Namora seketika terhenti ketika Bu Maudy memanggil namanya.


"Namora...!"


Namora terlonjak kaget, kemudian segera berdiri, "hadir Bu,"


"Maju ke depan!" Pinta Bu Maudy sembari memegang rol penggaris yang terbuat dari papan tipis.


Namora menatap ke sekeliling, kemudian menyeret langkahnya menuju ke arah depan dimana Bu Maudy sudah menunggu.


"Saya, Bu!" Kata Namora sambil tertunduk.

__ADS_1


"Namora. Kau tau apa kesalahan mu?"


Namora menggelengkan kepalanya berpura-pura bodoh. Akan tetapi dia kaget ketika rol ditangan Bu Maudy melesat melibas betisnya.


"Seminggu penuh tidak masuk sekolah. Mau jadi apa kau? Apa kau kira setelah memenangkan pertandingan itu, kau menjadi besar kepala dan bertindak sesuka hati mu?"


"Namora meminta maaf Bu!" Kata Namora memelas. Dia tidak berani beralasan. Karena, jika dia mengatakan bahwa dirinya menjadi incaran pembunuhan, teman-temannya yang lain akan mewaspadai dirinya dan menjadi ketakutan. Jadi, dia hanya bisa menerima apapun hukuman yang diberikan kepadanya dan akan pasrah menjalaninya.


"Maaf akan diberikan. Akan tetapi, hukuman juga harus diberikan," kata Bu Maudy dengan tegas.


"Baik, Bu!"


"Sekarang, kau akan berdiri di samping papan tulis selama kelas ku. Kau tidak boleh duduk. Jika berani melanggar hukuman, ibu akan menambah hukuman mu dengan berdiri menghormat di tiang bendera selama jam belajar. Mengerti?"


Namora buru-buru mengangguk. Kemudian dia melangkah ke samping papan tulis, lalu berdiri di sana sepanjang jam belajar.


*********


Namora, yang berdiri sepanjang jam belajar tadi mengurut betisnya yang terasa pindah ke paha.


Beberapa sorot mata menatap kearahnya dengan berbagai ekspresi.


Namora merasa masa bodoh. Dia melangkah menuju ke depan, kemudian berkata dengan suara mengancam. "Jika kalian berani membuka mulut dan mengatakan bahwa aku dihukum, kalian akan merasakan seperti apa pukulan dari juara ini! Jadi, tutup mulut kalian!" Kata Namora sambil mengacungkan tinjunya.


Tidak ada lagi yang berani menatap dengan tatapan mencemooh ke arah Namora. Dia telah mengeluarkan temperamen sang juara dihadapan teman sekelasnya. Siapa yang berani untuk melawannya? Rendra adalah contoh nyata setelah diinjak oleh Namora tadi pagi.


Namora merasakan seperti apa rasanya ditakuti setelah sekian lama selalu diintimidasi oleh orang lain.


Jika dulu Namora selalu menerima perlakuan yang kurang baik dan terus digertak oleh orang-orang yang memandang rendah kepadanya, kini dia mulai menunjukkan taringnya. Dia tidak mau lagi di bully. Setidaknya, walau dia tidak bisa memiliki karisma seperti Kenza, namun dia tetap tidak ingin orang lain menatapnya serendah dulu.


Namora sudah tidak tertarik lagi untuk melanjutkan sisa waktu pelajaran. Karena dia tau pasti akan terus berdiri di samping papan tulis. Jadi, dia segera mengeluarkan handphone miliknya, kemudian mengirim pesan kepada Rio. Dia ingin mengunjungi ayahnya. Ada banyak sekali hal yang harus dia tanyakan kepada ayahnya seputar perusahaan, dan langkah apa yang harus dia ambil.

__ADS_1


Dia tau bahwa dia tidak bisa lagi hanya menjadi pasif dan menunggu orang lain untuk menyerangnya. Kali ini dia juga ingin melakukan serangan balik dan membuat kekeruhan didalam kolam milik lawannya.


Jhonroy di kota L dan Dojo kampung baru adalah mereka yang jelas-jelas memusuhi dirinya. Dan dia harus menghabisi orang-orang ini. Jika tidak, dia tidak akan pernah merasakan yang namanya kenyamanan.


Handphonenya berbunyi menandakan pesan telah masuk.


Dia kemudian membaca pesan teks yang dikirimkan oleh Rio. Kemudian senyum yang sangat kaku tergambar di bibirnya.


Dia melangkah menuju mejanya, meraih tas miliknya kemudian melemparkan tas tersebut ke atas lemari di kelasnya.


"Jika seinci saja tas ku bergeser dari tempatnya, aku akan menghancurkan kelas ini!" Ancam Namora, kemudian dia segera berjalan meninggalkan ruangan belajar itu untuk menuju ke tempat parkir. Entah mengapa, sejak kembali dari koma, Namora merasakan bahwa ada yang salah dalam dirinya. Dia menjadi cepat marah, ada dorongan untuk membuat keributan, dan juga tidak merasakan perasaan takut. Tadi, jika bukan karena menghormati guru, sudah lama Bu Maudy dia lemparkan keluar kelas seperti sekarung kapas.


"Mora. Kau akan kemana? Masa iya kau akan bolos setelah baru saja masuk sekolah?" Tanya Jol berjalan menghampirinya.


"Aku ada sedikit urusan. Kau tau lah kalau aku ini adalah tuan muda. Aku kaya, aku berpengaruh, aku selebriti, aku juara, aku menjadi incaran pembunuhan, apa lagi yang tidak melekat padaku?" Jawab Namora sombong. Tapi dia bisa sombong karena apa yang dia katakan adalah fakta.


"Kentut ku. Kepada orang lain bisa lah kau seperti itu. Dengan ku, jangan menyombongkan diri. Aku adalah pelatih mu," cibir Jol sembari merangkul pundak Namora.


"Sialan. Aku banyak berhutang kepadamu Jol. Ternyata aku tidak pernah ada peningkatan di depan mu," ujar Namora seperti kehilangan semangat.


"Aku hanya sekali memperlakukan orang. Jika pada pandangan pertama dia baik kepadaku, selamanya aku akan seperti itu. Persetan dengan identitas mu. Tapi sebaliknya, jika orang itu seperti Dhani, Rendra dan Marcus, walaupun dia berubah menjadi lebih baik, aku akan tetap memperlakukannya sebagai musuh. Jadi, aku menilai orang lain dengan caraku dan orang lain bebas menilai ku dengan cara mereka," kata Jol pula.


"Jol. Aku akan pergi dulu untuk menemui ayah ku di lapas kota Batu. Sebaiknya kau sedikit menjaga jarak dengan ku. Atau kau akan terkena tempiasnya. Aku sekarang ini banyak musuh. Ada puluhan orang yang menginginkan kematian ku. Walaupun aku tidak pernah takut, akan tetapi aku tidak ingin orang lain ikut menderita karena ku. Aku bahkan memutuskan untuk tidak pulang ke rumah agar ibu dan Paman ku tidak terkena dampaknya. Aku tidak boleh memiliki kelemahan. Karena, jika musuhku memegang kelemahan ku, akan sangat sulit bagiku untuk membalikkan keadaan,"


"Kau meragukan kesetiakawanan ku?" Tanya Jol sedikit mengernyitkan dahinya.


"Bukan. Bukan itu maksud ku. Akan sangat disayangkan jika kau menjadi target mereka untuk mengancam ku. Tolonglah mengerti!"


"Tenang saja. Kita sudah berteman sejak sekolah menengah pertama. Aku tau seperti apa kau, dan kau tau dengan jelas seperti apa aku. Baiklah. Aku akan menjaga jarak dengan mu. Semoga kau tidak terbunuh. Karena, aku akan sangat kasihan melihat sahabat ku mati,"


"Jol. Sialan kau. Doa mu terlalu jelek. Aku memiliki dua belas nyawa. Kau tenang saja. Aku baru kehilangan satu dan masih tersisa sebelas," Namora tidak menunggu Jol menanggapi perkataannya. Dia segera berlari menuju area parkir. Dan tak lama kemudian, suara auman mesin motor Yamaha R1 memekakkan telinga disusul dengan melesatnya bayangan biru menuju gerbang sekolah.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2