Namora

Namora
Berpisah dengan pak Harianto


__ADS_3

Sore itu, seperti biasa. Setelah kembali dari sekolah, mandi, makan dan berganti pakaian, Namora pun segera bergegas berjalan menuju ke rumah pak Harianto.


Sebenarnya dia sudah bosan berlatih. Karena, sudah tidak ada lagi sesuatu yang baru yang akan dia pelajari.


Selama tiga tahun ini, sepertinya ilmu yang dimiliki oleh pak Harianto sudah diajarkan seluruhnya kepadanya. Dan diapun sudah sangat hafal dengan semuanya.


Hal yang membuat Namora sangat bosan adalah, kini bukan pelajaran silat lagi. Melainkan, dia kini menjadi sasaran nasehat. Banyak pesan dan wejangan yang diberikan kepadanya. Tapi dasar Namora. Tidak satupun yang nyangkut di otaknya.


"Namora. Kakek sudah mengajarkan semua yang kakek punya kepadamu. Tapi ada satu hal yang harus kau ingat. Jangan ringan tangan terhadap orang lain. Ringan tangan dalam membantu, itu tidak masalah. Tapi, jika kau ringan tangan untuk menyakiti teman, itu tidak boleh!"


"Namora mengerti Kek!"


"Sahabat yang baik itu bukan untuk membuat sahabatnya takut kepada dirinya. Tapi, sahabat yang baik itu adalah, sahabat yang bisa membuat sahabatnya merasa nyaman ketika bersama dengannya. Jangan tunjukkan Taji mu di depan sahabat-sahabat mu! Keluarkan jika diperlukan. Ada perbedaan antara takut dan sungkan.


Seorang sahabat yang baik itu tidak perlu menunjukkan kekuatannya agar orang lain menghormati kita. Ada kalanya otak lebih penting dari otot,"


"Namora mengerti Kek!"


"Kakek merasa, sudah tidak ada lagi yang bisa kakek ajarkan. Jadi, besok kau tidak perlu lagi datang kemari. Ilmu ku sudah habis. Kata-kata nasehat pun sudah habis juga. Sekarang, tergantung seperti apa kepintaran otak mu dalam mencerna dan menalar apa yang kakek sampaikan. Sekarang, kau boleh pulang!"


"Segitu saja kek?"


"Ya. Kakek juga sudah letih. Sekarang, kau pulanglah. Tapi ingat! Aku memberikan ilmu mu kepadamu. Jika kau berbuat sesuka hatimu, aku bisa melumpuhkan pusat Meridian mu dan membuat apa yang kau pelajari akan menjadi sia-sia.


Aku tau kau pasti tidak senang ketika aku melarang mu untuk mengikuti turnamen itu. Kau ingin membalas perlakuan seseorang kepadamu kan?"


"Tid-tidak.., sama sekali tidak kek!" Bantah Namora tergagap.

__ADS_1


"Yang namanya dendam, tidak akan mendatangkan kebaikan. Baik itu kepada orang yang didendami, maupun kepada orang yang berdendam. Maka dari itu, jangan simpan rasa dendam dihatimu walau hanya sebesar biji sawi sekalipun!"


"Namora mengerti. Tidak akan dendam lagi!"


"Bagus! Ingat! Di atas langit masih ada langit. Setelah langit yang teratas sekalipun, masih ada yang lebih tinggi pula. Jangan terlalu congkak sehingga berjalan pun harus mendongak. Usahakan untuk menundukkan pandangan mu! Perbanyak melihat ke bawah agar kau tau apa itu rasa syukur. Karena, hati yang diliputi oleh rasa iri itu akan jauh dari kata syukur. Iri dengan yang dimiliki oleh orang lain. Jangan mengukur dirimu dengan orang lain yang memiliki nasib lebih baik darimu. Ingat! Betapapun menderitanya dirimu, ada yang lebih menderita lagi,"


"Udah selesai kek?" Tanya Namora. Lama kelamaan, bosan juga dirinya dinasehati terus-terusan.


"Sudah. Sudah tidak ada lagi yang bisa aku sampaikan. Selebihnya, terserah seperti apa kau menjalaninya. Orang yang benar-benar ingin menjadi baik itu akan melakukan perbuatan-perbuatan baik berdasarkan dorongan hatinya. Sejuta nasehat tidak akan berguna jika hati kecil mu tidak tersentuh. Sekarang, kau boleh pergi!" Suruh Pak Harianto sembari bangkit berdiri, lalu meninggalkan Namora yang masih terduduk dengan kaki bersila di atas tanah.


Tak lama setelah itu, pak Harianto kembali keluar dengan menenteng tas kumuh yang terbuat dari anyaman daun pandan.


Heran juga hati Namora melihat lelaki tua itu keluar sambil menenteng tas kuno jaman kuda makan besi tersebut. Namun, untuk bertanya, dia masih ragu.


"Hutang kakek kepada kakek Uyut mu sudah lunas. Kau sudah menguasai semuanya. Namun, satu saran dari kakek. Kau jangan mencoba untuk menjadi serakah dengan mencari guru yang lain. Kau tidak akan mampu mencerna terlalu banyak ilmu. Otak mu itu sedikit bebal. Untuk ilmu yang sedikit saja, kau butuh tiga tahun agar bisa menguasainya. Hindari Tengku Mahmud! Jangan belajar kepadanya jika kau tidak ingin semua tulang yang ada di tubuhmu remuk. Aku dan Ayah mu saja tidak berani berguru kepadanya. Apa lagi kau ini. Bisa muntah darah kau kalau nekad belajar dengan maha guru Tengku Mahmud," pesan Pak Harianto kepada Namora.


Namora hanya mengangguk saja. Dia memang seringkali diperingatkan agar jangan belajar kepada maha guru Tengku Mahmud. Alasannya adalah, Namora ini memiliki otak yang sedikit lamban. Khawatir jika Tengku Mahmud Badaruddin tidak memiliki kesabaran, maka sudah jelas Namora akan disiksa oleh orang tua aneh itu.


"Kakek sudah pensiun sebagai pelatih di akademi kepolisian. Kakek juga sudah selesai menurunkan seluruh ilmu yang kakek dapat dari mendiang kakek Uyut mu. Sekarang, kakek ingin menikmati hari tua sebagai petani. Di Tapanuli Selatan, ada satu perkampungan Transmigrasi. Di sana ada ramai orang dari pulau Jawa membuka lahan pertanian. Kakek ingin pergi ke sana, dan ingin bertani sambil berternak. Apa lagi yang bisa dilakukan oleh orang tua yang sudah dekat dengan tanah seperti aku ini?"


"Ikut kek,"


"Goblok! Kau harus sekolah. Lagipula, orang tua mu pasti tidak mengizinkan,"


"Hehehe. Kakek harus beternak lembu atau kerbau. Nanti, jika Namora libur sekolah, Namora akan ke sana untuk naik kerbau," kata Namora sambil nyengir.


"Pantas saja otak mu itu seperti kerbau," maki orang tua itu seraya mengunci pintu rumahnya.

__ADS_1


"Ingat Namora! Kendalikan emosi mu. Jika tidak, kau pasti akan menjadi seorang pembunuh berdarah dingin. Jangan kau campur-adukkan setiap masalah yang kau dapat!"


"Mengerti kek,"


"Hmmm. Kakek harus pergi dulu. Kau segeralah kembali. Paman Rio mu yang akan mengantarkan kakek ke Tapanuli Selatan,"


"Jauh ya kek?" Tanya Namora ingin tahu.


"Empat belas jam perjalanan dari sini!" Jawab Pak Harianto.


"Haaaaaa??? Jauh sekali. Bisa memakan waktu seminggu jika naik onta,"


Pak Harianto ingin mendamprat. Namun tidak jadi karena dari arah jalan, telah tiba satu unit mobil Toyota hardtop, dan tepat berhenti di depan halaman rumah tersebut.


"Hanya ini saja yang bapak bawa?" Tanya lelaki muda yang baru turun dari mobil Hardtop tadi. Dia memperhatikan saja tas pandan lusuh yang ada dalam jepitan ketiak lelaki tua itu.


"Ketika diantar ke liang lahat, bahkan hanya selembar kain putih yang paling murah membungkus bangkai yang sudah tak berharga," jawab lelaki tua itu sembari melangkah mendekati mobil.


Rio dan Namora hanya bisa saling pandang dan garu-garu kepala.


"Namora! Kau cepat pulang! Jangan kemana-mana. Tidak ada laki-laki di rumah. Kau jaga Emak dan Inang Uda mu. Paman pergi dulu!" Kata Rio berpesan.


"Iya Paman!"


Namora masih berdiri di tempat itu sampai mobil yang dikendarai oleh Rio dan Pak Harianto benar-benar menghilang dari pandangan.


Campur aduk perasaan Namora saat ini. Ada rasa sedih, merdeka dan seperti terlepas dari beban.

__ADS_1


Dia merasa sedih karena tidak lagi bisa belajar dan bertemu dengan orang tua yang selama ini telah mengajarkan ilmu beladiri kepadanya. Di sisi lain, dia merasa merdeka karena terlepas dari jajahan lelaki tua itu. Dia merasa terlepas dari beban latihan yang seolah-olah menjadi kewajiban mutlak baginya. Kini, tinggallah dirinya yang harus pandai-pandai akan membawa ke jalan mana semua yang dia pelajari dari gurunya itu.


Bersambung...


__ADS_2