Namora

Namora
Namora masih belum siuman


__ADS_3

Mahato. Daerah Kampar Riau


Seorang lelaki tua tampak sedang memasukkan beberapa helai pakaian yang sudah usang ke dalam tas yang terbuat dari anyaman pandan. Sesekali, tampak lelaki tua itu mengomel dengan raut wajah antara geram dan khawatir.


Lelaki tua itu adalah Pak Harianto, guru silat Namora.


Kemarin, dia mendapat kabar bahwa Namora mengalami cedera. Dia juga mengetahui dari sang pemberi kabar, yaitu Rio, bahwa Namora menjadi target pembunuhan. Oleh karena itu, sebagai seorang guru yang mendidik Namora, dia jelas sangat mengkhawatirkan keselamatan anak didiknya itu. Terlebih lagi, kabar yang dia terima adalah, bahwa Namora saat ini sedang koma di rumah sakit akibat terlalu banyak mengeluarkan darah dan ada racun yang sangat ganas pada bekas luka yang dideritanya. Hal ini lah yang membuat pak Harianto merasa sangat khawatir dan beranggapan bahwa dia harus segera kembali ke kota Batu untuk melihat sendiri seperti apa keadaan Namora.


Pak Harianto, walaupun sangat garang dan selalu menekan Namora ketika sedang berlatih dulu, akan tetapi, dia sangat menyayangi anak itu. Hanya setelah dia selesai menurunkan ilmu beladiri yang dia miliki, barulah dia meninggalkan kota Batu untuk berpetualang ke berbagai perkampungan. Di mulai dari gunung tua Tapanuli Selatan, sampai ke Sidempuan, kemudian terus berpetualang hingga dia mendapatkan tempat yang dia rasa nyaman. Dan tempat itu bernama Mahato yang terletak di Kampar Riau.


Di Mahato ini, dengan uang pensiunnya sebagai pelatih di kamp pendidikan calon polisi, dia membeli sebidang tanah, kemudian mulai bertani. Hanya saja, baru beberapa bulan dia menetap di kampung tersebut, kabar buruk pun datang dari muridnya yang paling dia sayang.


"Anak ini. Mengapa begitu mudah ditumbangkan oleh lawan?" Pikirnya dalam hati. Akan tetapi, dia kembali merenung sejenak sebelum menghela nafas. "Pasti lawannya sangat tangguh. Atau mungkin, pengalaman bertempur anak itu yang masih seujung kuku," katanya lagi.


Sambil mengepit tas pandan disela ketiaknya, lelaki itu melangkah keluar meninggalkan gubuknya, kemudian meminta kepada tetangga untuk mengantarkan dirinya ke loket bus jurusan Medan. Diperkirakan, dia akan tiba di kota batu setelah menempuh perjalanan selama dua puluh tiga jam jika tidak ada halangan.


Di waktu yang sama, satu persatu mobil yang datang dari arah kota Kemuning mulai terparkir di depan rumah sakit rakyat kota Batu.


Ketika ini, Ameng dan bersama tiga orang lainnya keluar dari mobil. Mereka adalah Andra, Acong dan Timbul.


Tak lama kemudian, dua mobil lagi tiba di sana. Masing-masing dari kedua mobil itu diisi oleh Monang, Bejo, Sugeng, Ucok, Thomas dan Jabat.


Sepuluh orang lelaki paruh baya itu segera memasuki pintu rumah sakit dan langsung menemui resepsionis untuk menanyakan pasien yang bernama Namora.

__ADS_1


Setelah mendapat jawaban dimana Namora di rawat, kesepuluh orang itu segera berbaris bagai itik masuk kandang menelusuri koridor rumah sakit menuju ke arah kamar yang dikatakan oleh resepsionis tadi.


Sebelum tiba di kamar tempat Namora di rawat, mereka sempat berpapasan dengan seorang lelaki yang tampaknya seperti warga negara asing. Ini terlihat baik dari warna rambut, kulit, bola mata bahkan sampai posturnya. Hanya saja, mereka tidak mau ambil pusing dengan tatapan dingin penuh selidik dari lelaki itu. Sebaliknya, mereka terus melangkah menuju ke kamar.


Setelah mengetuk pintu, seorang perawat tampak membukakan pintu untuk melihat siapa yang datang.


Entah siapa yang mengaturnya, sepertinya Namora saat ini mendapat perawatan khusus. Hal ini jelas terlihat dari kamar VIP yang dia tempati. Bahkan, seorang juru rawat secara khusus ditempatkan untuk menjaga Namora.


"Maaf, Pak. Ada keperluan apa ya?" Tanya perawat tadi dengan sopan.


"Nona perawat. Maaf mengganggu. Apakah pasien yang di rawat di dalam bernama Namora?" Tanya Ameng yang langsung tanpa membuang-buang waktu. Bagaimanapun, dia bukanlah Acong yang langsung berbinar ketika melihat jidat licin perawat tersebut.


Mendengar pertanyaan dari Ameng, perawat tadi tidak langsung menjawab. Sebaliknya, dia menatap ke arah sepuluh orang itu dengan tatapan penuh selidik. Maklumlah, dia mendapat tau bahwa Namora yang terbaring di ranjang adalah korban target pembunuhan. Oleh karena itu, saat ini dia tampak sangat menyelidik ketika menatap rombongan lelaki paruh baya yang sedang berdiri di depan pintu kamar.


Melihat bahwa tatapan mata dari perawat ini penuh dengan selidik, Ameng segera membuka mulutnya untuk menjelaskan. "Nona perawat. Kami ini adalah Paman Namora. Nama saya adalah Ameng. Dan mereka ini adalah teman-teman saya. Kami sengaja datang dari kota Kemuning begitu mendengar bahwa keponakan kami sedang dirawat di rumah sakit rakyat ini," kata Ameng meyakinkan.


Sementara perawat itu pergi untuk mengkonfirmasi identitas Ameng dan yang lainnya, tiba-tiba lelaki asing yang sempat berpapasan dengan mereka tadi segera berbalik dan berdiri bagai karang di depan pintu. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Terlihat noda darah dari pakaian yang dia kenakan. Hal ini membuat Ameng bertanya-tanya siapa gerangan lelaki asing yang memblokir jalan tersebut.


Sekitar sepuluh menit yang penuh dengan kekakuan, perawat tadi kembali dengan tergesa-gesa sembari berkata, "maaf pak Ameng. Saya tidak bermaksud mempersulit bapak. Akan tetapi, ini adalah tugas yang dipercayakan kepada saya untuk mengkonfirmasi terlebih dahulu siapa orang yang akan membesuk pasien,"


"Lalu?" Tanya Ameng singkat. Akan tetapi, tidak ada sorot tidak senang pada pandangan matanya.


"Silahkan Pak. Saya sudah bertanya tentang identitas bapak. Maafkan saya!" Kembali perawat tadi meminta maaf dengan tulus sebelum mempersilakan sepuluh orang itu untuk masuk.

__ADS_1


Setelah lelaki asing tadi memberi jalan, sang juru rawat itu segera memimpin jalan. Dan suasana yang sangat mengejutkan jelas terlihat ketika mereka tiba di dalam. Bagaimana tidak? Saat ini, kondisi Namora sama sekali jauh dari kata baik. Ada selang infus dan entah selang apa lagi yang tertanam di tubuhnya. Sementara itu, ada banyak perban pada beberapa bagian pada anggota tubuhnya.


"Oh Tuhan. Keponakan ku. Apa yang terjadi?" Tanya Acong langsung mendekati ke sisi pembaringan Namora.


"Pak. Harap perlahan sedikit suaranya. Pasien saat ini sedang dalam keadaan koma. Beruntung fisiknya sangat kuat. Jika tidak, kemungkinan besar dia sudah tidak bernyawa lagi,", ujar sang juru rawat penuh keprihatinan..


Setelah mendengar teguran dari perawat yang khusus ditugaskan untuk menjaga Namora, Acong segera menutup mulutnya, kemudian berbisik kepada yang lain.


.


"Sepertinya kita tidak bisa berbuat apa-apa. Apa yang bisa kita lakukan untuk membuat Namora bangun?" Tanya Acong.


Ameng dan yang lainnya tidak tau harus menjawab apa.


"Nona perawat, bagaimana cara rumah sakit menangani ini?" Tanya Ameng.


"Maaf pak. Saat ini rumah sakit juga sedang buntu untuk mengidentifikasi jenis racun yang ada pada luka pasien. Bagaimanapun, racun ini sangat aneh. Sama sekali tidak bisa dipastikan. Beruntung alat-alat di rumah sakit ini cukup lengkap. Sehingga bisa mengukur waktu sebelum kami dapat melakukan penelitian untuk membuat anti terhadap racun ini," jawab perawat menjelaskan.


Mendengar jawaban dari perawat ini, mereka semua mendadak lemas.


Jika pihak rumah sakit saja sudah berkata demikian, bagaimana dengan mereka yang rata-rata hanya pandai berkelahi.


"Nona perawat. Kami mempercayakan keponakan kami ini kepada anda. Lakukan yang terbaik. Masalah uang, anda tidak perlu khawatir. Kami bahkan akan sangat berterimakasih kepada kalian jika dapat menyembuhkan penyakit keponakan kami ini,"

__ADS_1


"Itu sudah menjadi tugas kami, pak. Menyelamatkan orang memang prioritas utama kami," jawab perawat sambil memaksakan untuk tersenyum.


Bersambung...


__ADS_2