Namora

Namora
Kenza


__ADS_3

"Dhani. Apa yang sedang mau fikirkan?"


"Hah? Oh. Tidak apa-apa. Aku hanya sedang berpikir bagaimana caranya untuk memuluskan rencana Rendra ini," jawab Dhani berbohong. Memang sejak bentrokan antara dirinya dan Jol kemarin, dia sedikit merasa stres karena tidak bisa mempercayai bahwa dia berada di posisi yang kalah.


Setelah menjawab pertanyaan dari Rudi tadi, dia kembali merenung, sebelum dia merogoh saku celananya untuk mengeluarkan handphone miliknya.


"Aku akan menghubungi seseorang. Dia adalah senior kalian di SMA negeri Tunas Bangsa. Jaga sikap kalian ketika bertemu dengannya! Orang ini tidak suka terlibat dengan kelompok manapun. Tapi jangan bikin dia marah. Atau kalian akan pulang dengan cara ditandu," kata Dhani yang mulai mencari nomor telepon di handphone miliknya. Setelah ketemu, diapun langsung membuat panggilan.


"Hallo..," terdengar suara seseorang di seberang sana.


"Bro. Gue ngundang loe untuk minum kopi di kafe gue. Punya waktu ga loe?"


"Punya. Loe tunggu. Gue otewe sekarang!" Jawab yang ditelepon tadi.


Sekitar tiga puluh menit menunggu, kini di depan kafe milik Dhani telah tiba satu unit sepeda motor sport dan langsung parkir di depan teras kafe tersebut.


Penampilan pemuda itu cukup gagah dengan wajah terkesan sangat cuek.


Setelah meletakkan helm dan membuka sarung tangannya, pemuda itupun langsung memasuki kafe. Sejenak dia mengitari kafe tersebut dengan tatapan matanya yang tajam, kemudian barulah dia sedikit tersenyum ketika sorot matanya menatap Dhani dan beberapa orang sahabatnya yang duduk di salah satu meja yang terletak di sudut ruangan.


"Ken. Gue di sini!" Kata Dhani sembari melambaikan tangannya.


Pemuda yang dipanggil dengan sebutan Ken tadi langsung mengangguk, kemudian berjalan menuju ke arah meja Dhani.


"Apa kabar Brother?" Tanya Dhani sembari menyalami pemuda bernama Ken itu.


"Baik gua. Loe gimana?" Tanya Ken sembari memperhatikan beberapa orang yang duduk di kursi itu.


"Marcus! Tarik meja itu dan jadikan satu. Kita duduk di sini sama-sama!" Pinta Dhani.


Marcus pun langsung menarik meja di sebelah meja mereka, lalu menyatukan dengan meja tersebut sehingga menjadi panjang.


"Perkenalkan! Ini teman-teman gue bro. Mereka dari kampung baru.

__ADS_1


Yang ini Rendra dan Marcus. Calon junior loe di SMA negeri Tunas Bangsa," kata Dhani memperkenalkan Diaz, Ruben, Dudul dan Rudi kepada Ken.


"Oh. Ya. Gua pernah lihat nih bocah. Loe kan yang kemaren jadi juara karate itu?" Tanya Ken kepada Diaz.


"Iya bang. Aku lah orangnya!" Jawab Diaz dengan bangga.


"Itu permainan lama. Loe pernah dengar nama Kenza ga?"


Diaz terdiam. Tapi dia segera menatap ke arah Dhani untuk meminta penjelasan.


"Brother Kenza ini adalah juara lima edisi dari SMP, sampai SMA. Dia adalah petarung jalanan. Kalau hanya kalian saja, jangan mimpi untuk mengalahkan nya,"


"Tapi gua salut sama loe bro. Loe punya kemampuan, loe punya skill, tapi kenapa pas gua ajak, loe nolak terus?"


"Sorry Dhan! Gue dengan cara gue. Gue lebih bebas dengan diri gue sendiri. Gue ga mau menjadi ketua, ataupun anak buah. Bagi gue, apa yang gue lakuin itu semua atas kesenangan semata. Bukan karena tanggungjawab,"


"Ya udah deh. Gua nyerah. Tapi, kali ini gua butuh bantuan loe. Dan loe ga boleh nolak!"


"Loe maksa gue?"


"Ya udah. Ceritain dah!"


"Gini, Ken. Loe sebagai senior di SMA negeri Tunas Bangsa, juga sebagai ketua ospek, dan entah ketua apa lagi yang loe sandang, gue minta bantuan kepada loe untuk memuluskan rencana teman gue. Gue ga merasa ngasih loe upah. Tapi yah.., ini sekedar buat ngisi bensin loe!" Kata Dhani sambil menyodorkan sebuah amplop kepada Ken.


"Gile. Tapi kali ini aja ya!?"


"Berarti loe setuju?"


"Gini Ken!" Dhani lalu membisikkan sesuatu ke telinga Kenza.


"Loe ga harus mengusik mereka. Loe cuma membuka jalan, kemudian, sisanya biarin mereka yang ngerjain. Tergantung sepandai apa mereka," kata Dhani lagi dengan senyum licik.


"Siapa target kalian?" Tanya Ken ingin tau.

__ADS_1


"Namora!" Jawab Rendra dengan tegas.


"Ok!" Katanya singkat.


"Gua cabut dulu. Satu hal! Selagi gua masih menjadi senior loe di sekolah, loe pada jangan ngelunjak sama gue. Atau, gue ga ada kompromi buat loe pada!"


"Ngeri kali orang itu Dhan. Siapa dia itu sebenarnya?" Tanya Rendra begitu sepeda motor yang ditunggangi oleh Ken tadi berlalu.


"Kenza. Dia itu siswa pindahan dari Jakarta. Entah masalah apa yang dia timbulkan sampai-sampai dia dikeluarkan dari sekolah. Ayahnya orang sini, ibunya orang Bandung, Ayahnya sudah lama meninggal. Ibunya kawin lagi. Dia di sini ikut neneknya," jawab Dhani.


"Mengapa kami tidak pernah mengenal orang itu? Setidaknya, kalau memang dia senior di SMA negeri Tunas Bangsa, pasti lah kami pernah melihatnya," bantah Rendra lagi. Tentu saja dia heran. Sama-sama di kota batu, tapi mengapa baru kali ini dia melihat dan bertemu dengan senior di SMA negeri Tunas Bangsa ini.


"Dia itu memang misterius. Suka menyendiri. Kalau diibaratkan dengan game yang lagi ngetrend sekarang ini, dia itu ibarat solo player lah. Kau tau lah kalau udah bermain solo. Kalau bukan pro, pasti mampus!" Ujar Dhani sembari tersenyum kecut.


"Mungkin kalau Namora bertemu dengan Abang Ken ini, udah kencing di celana duluan," kata Rendra pula.


"Aku saja yang biasa sombong, ketika melihat Ken tadi, langsung ciut," ujar Diaz pula. Dia merasa kejuaraan karate yang dimenangi olehnya, menjadi tidak ada harganya begitu melihat senyum Ken yang sangat menyepelekan.


"Aku sudah membantu kalian. Selanjutnya, tergantung kepada kalian bagaimana caranya agar kalian bisa menjalankan rencana kalian. Sekarang kalian boleh pulang. Aku masih ada pekerjaan," kata Dhani. Dia langsung berdiri, kemudian menyambar kunci sepeda motor miliknya, lalu bergegas meninggalkan tempat itu diikuti oleh beberapa orang anak buahnya.


"Ya sudah. Aku mau pulang juga ke kampung baru. Kita bisa terus berhubungan. Jika perlu sesuatu, jangan sungkan menghubungi aku!" Kata Rudi sambil menepuk pundak Rendra.


"Kami juga akan pulang. Mari Marcus!" Ajak Rendra.


Mereka semua kini meninggalkan kafe milik Dhani dan langsung menuju ke tempat dimana sepeda motor mereka diparkir.


"Ketemu lagi lain waktu!" Kata Diaz sembari berpamitan.


"Siap! Kalian juga sama. Jika ada sesuatu, jangan segan-segan untuk menghubungi aku!"


Ngeeeeeeng!


Terdengar suara auman mesin sepeda motor. Lalu, tidak lama setelah itu, beberapa unit sepeda motor yang ditunggangi oleh anak-anak muda tadi, langsung menapaki jalan raya, kemudian saling berpencar membelah jalan raya kota Batu untuk kembali ke tempat mereka masing-masing.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2