Namora

Namora
Janji berkumpul di rumah James


__ADS_3

Delapan orang anak-anak remaja yang tidak lain adalah Jol, Jericho, Juned, Jaiz, James, Julio, Jufran dan Namora tampak keluar dari rerimbunan pohon pisang secara teratur.


Sepintas, terlihat dari cara mereka berjalan, persis seperti itik yang akan pulang ke kandang.


Beberapa orang tua penduduk kampung yang melihat gerombolan anak-anak remaja ini terpaksa harus mengernyitkan dahi mereka dan mau tak mau sudah berfikir yang tidak-tidak terhadap Jol, Namora dan yang lainnya.


Di jaman seperti sekarang ini, wajar jika mereka berfikiran yang bukan-bukan. Ini karena, keadaan sudah tidak seperti waktu mereka remaja dulu. Remaja sekarang sering terlibat dengan hal-hal yang merugikan bagi diri mereka sendiri. Ditambah lagi dengan maraknya pengedar narkoba. Jika dulu hanya berpusat di kota-kota saja, sekarang ini, bahkan di setiap gang tikus selalu ada saja yang menawarkan barang haram tersebut. Hal ini lah yang membuat mereka yang melihat gerombolan anak muda keluar dari rerimbunan pohon pisang itu merasa curiga.


Kecurigaan orang-orang tua yang melihat rombongan anak-anak remaja tadi berangsur hilang begitu mereka melintas fi depan mereka. Ini karena, penampilan anak-anak muda ini begitu mengenaskan. Bagaimana tidak? Mulai dari pakaian yang mereka kenakan, persis seperti kain lusuh yang kaku. Mungkin tadi pas menjemur pakaian yang basah tersebut, tidak diperah terlebih dahulu sehingga baju yang kekeringan itu persis seperti kerupuk.


Sedangkan di tangan masing-masing dari mereka, terlihat memegang joran pancing dari bambu kecil yang menandakan bahwa mereka baru saja habis memancing ikan dan mungkin mandi di sungai.


Apapun itu, setidaknya orang-orang tua yang melihat keadaan mereka, berubah prasangka dari yang tadinya buruk menjadi tidak semakin memburuk.


Jol, Namora, Jericho dan yang lainnya tidak terlalu menghiraukan tatapan heran dari penduduk kampung tersebut. Sebaliknya, mereka lewat di depan mereka dengan cara merundukkan sedikit badan mereka sebagai tanda bahwa mereka masih memiliki adab jika berpapasan atau lewat di depan orang yang lebih tua dari mereka.


"Permisi pak. Orang Batak mau lewat!" Kata Jol dengan sangat hormat. Dia segera merundukkan tubuhnya.

__ADS_1


Namora dan yang lainnya merasa lucu dengan guyonan ala Jol ini. Namun, untuk tertawa, tentu saja mereka tidak berani. Nanti malah dikira sebagai anak yang tidak sopan.


"Oh. Silahkan Nak! Dari mana anak-anak ini? Mengapa keluar dari semak-semak sana?" Tanya Pak tua yang kebetulan mereka lewati sambil menunjuk ke arah rerimbunan pohon pisang.


Setelah menceritakan semua musibah yang mereka hadapi ketika jatuh secara berjamaah ke dalam sungai, baru lah orang tua itu manggut-manggut.


"Mari, Pak!" Kembali Jol memberi hormat.


Setelah mendapat anggukan dari lelaki tua tadi, mereka pun tanpa membuang-buang waktu lagi segera berlalu.


"Ayo cepat woy! Perut ku lapar," ajak Juned yang tiba-tiba saja mendahului di depan.


"Eh. Sore ini apa rencana kalian?" Tanya Jufran.


"Kau Namora? Kemana kau sore ini? Apa kau ada waktu? Biasanya kau selalu sulit ditemui ketika sore," kata Jol pula bertanya kepada sahabatnya itu.


Tadinya Namora akan berbohong mengatakan bahwa dia akan membantu ibunya. Namun, setelah dia sadar bahwa dia sudah selesai belajar ilmu beladiri kepada Pak Harianto, maka dia segera menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku tidak ada kegiatan sore ini. Apa rencana kalian?" Tanya Namora.


"Apa?" Jol balik bertanya sambil menatap ke arah Jufran.


"Begini. Kita pulang dulu untuk makan dan berganti pakaian. Setelah itu, kita berkumpul fi rumah James. Kita akan pergi melihat-lihat sekitar gedung sekolah SMA negeri Tunas Bangsa. Yah.., hitung-hitung sebagai perkenalan lah dengan lingkungan sekolah yang tidak akan lama lagi kita tempati untuk menuntut ilmu,"


"Bagaimana dengan kalian?" Tanya Jol kepada yang lainnya.


"Aku sih YESS!"


"Kalau begitu, kita berpisah di sini. Jangan lupa sebelum pukul empat sore, kalian sudah berada di rumah James. Biar nanti tidak kemalaman pas pulang ke rumah!" Kata Jufran mengingatkan.


"Ok. Ayo bubar!"


Kini, delapan orang anak-anak remaja itu pun mulai mengambil haluan mereka masing-masing untuk kembali ke rumah masing-masing pula.


Bermacam perasaan berkecamuk di dalam hati masing-masing dari mereka. Namun, perasaan yang paling kuat adalah, mereka takut dimarahi oleh orang tua mereka karena pakaian yang mereka pakai saat ini sudah tidak karuan bentuk.

__ADS_1


Dapat dibayangkan seperti apa nanti mereka kena marah. Pergi rapi, pulang berantakan.


Bersambung...


__ADS_2