
Suara riuh terdengar dari SMA negeri Tunas Bangsa. Sudah seperti biasa. Ketika seluruh siswa menyelesaikan jam belajar, rasanya seperti terbebas dari penjara.
Para siswa saling berebut untuk menuruni tangga. Ada yang sekedar ingin cepat-cepat pergi meninggalkan sekolah, ada yang langsung menuju ke kantin. Mungkin mereka sangat kehausan karena cuaca yang panas, bahkan ramai juga yang nongkrong di area parkir sambil memperhatikan sepeda motor super keren itu.
Memang, kehadiran sepeda motor Yamaha R1 ini bagaikan kembang mekar di antara bunga-bunga yang lain. Bahkan, beberapa motor yang lain sedikit menjauh. Mungkin khawatir kalah pamor. Tapi, hal ini sekali lagi membuat Namora merasa tertekan. Bagaimana dia bisa pulang, jika sepeda motor miliknya sekali lagi dikerumuni oleh orang-orang.
Namora ingin mengeluh. Hanya saja dia tidak bisa. Kemudian wajahnya sedikit cerah ketika melihat Jol berjalan dari arah belakang, lalu menghampiri dirinya.
"Woy Mora! Ngapain di sini kayak kambing congek?" Jol menahan tawa melihat ekspresi datar di wajah Namora. Dia tau bahwa Namora ingin cepat-cepat pulang. Tapi bagaimana? Motornya kini dikelilingi oleh orang-orang.
"Itu. Lihat saja sendiri!" Namora menunjuk ke arah kerumunan. Kemudian, tanpa daya dia melangkah ke arah area parkir.
Belum lagi Namora sampai di area parkir, kini terllihat rombongan Jericho dan yang lainnya berjalan menghampiri Jol yang berada di belakang Namora.
Jericho menghampiri Jol, lalu menggandeng bahu sahabatnya itu. "Kau sudah pulang, tapi tidak memberiku kabar. Sialan!" Jericho mendorong tubuh Jol hingga terhuyung. Namun, ekspresi wajahnya berubah ketika dia melihat Jol sepertinya tidak senang.
"Ada apa Jol?" Tanya Jericho heran.
"Aku ingin bertanya kepada kalian. Apa yang kalian lakukan kepada Namora ketika aku meninggalkan acara ulang tahun Merisda kemarin?"
Jericho menatap ke arah Jaiz dan yang lainnya, lalu menghembuskan nafasnya.
"Ya. Aku tau aku salah. Hanya saja, waktu itu kami baru saja berkenalan dengan cewe cantik. Tapi kau tenang saja Jol. Aku akan meminta maaf kepada Namora!"
"Aku kecewa kepada kalian. Tapi mau gimana lagi," Jol tidak tau harus berkata apa lagi. Toh semuanya sudah terjadi. Tapi dia tau bahwa Namora tidak akan pernah melupakan begitu saja apa yang telah mereka lakukan kepadanya.
"Ayo kita hampiri Namora! Kemudian, kita meminta maaf kepadanya!" Ajak Jufran.
Semuanya setuju dengan usulan dari Jufran. Kemudian, keenamnya langsung bergegas menghampiri Namora.
Melihat anak-anak J7 akan menghampiri dirinya, Namora ingin menghindar. Hanya saja, dia tidak tau bagaimana caranya.
Tepat ketika Jericho dan yang lainnya tiba di depan Namora, dan ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba handphone Namora berdering.
Namora buru-buru merogoh sakunya untuk mengeluarkan handphone miliknya. Sehingga Jericho batal mengulurkan tangannya untuk bersalaman dan meminta maaf.
Namora tidak menggubris Jericho. Dia hanya fokus menatap ke layar telepon.
"Zack?" Katanya dalam hati, kemudian langsung menjawab panggilan tadi.
"Hallo!"
"Tuan muda. Apakah saya mengganggu waktu anda?"
__ADS_1
"Tidak. Aku sudah diluar jam belajar. Ada apa?" Tanya Namora.
"Tuan muda. Seperti yang anda perintahkan. Saya telah menyelidiki identitas Arda ini. Apakah nyaman untuk anda membicarakan hal ini di telepon?"
"Aku akan ke danau buatan temple park. Temui aku di sana dalam 15 menit!"
Selesai mengucapkan kata-kata itu, Namora segera mengakhiri panggilan, kemudian menyeruak ke kerumunan, lalu menunggangi sepeda motornya.
Beberapa mata melotot tidak percaya melihat Namora ternyata adalah pemilik sepeda motor tersebut.
Jika tidak melihat dengan mata kepala sendiri, sumpah demi hantu pun mereka tidak akan mempercayainya. Tapi apa mau dikata. Namora bahkan mengeluarkan kunci, lalu menyalakan mesin sepeda motor tersebut.
Selain Jol, semua orang termasuk Jericho dan anak-anak J7 lainnya juga terkejut.
Brum...!
Suara mesin menderu membuat orang-orang segera menyingkir.
Namora segera memundurkan sepeda motornya, kemudian menatap ke arah Jol. "Aku duluan Jol! Ada keperluan mendadak!" Ucap Namora. Kemudian, ketika dia menarik gas, sepeda motor itu langsung melesat meninggalkan suara deru mesin yang sangat gurih ditelinga.
"Jol. Itu.., kau lihat itu kan?" Juned membelalakkan matanya menatap ke arah Jol. Tapi jari telunjuknya menunjuk ke arah Namora yang sudah menghilang dari pandangan.
Jol hanya tersenyum, lalu berkata. "Sudahlah. Dia bukan Namora yang dulu!"
Jelas terngiang di telinga mereka kata-kata dari Namora yang mengatakan kepada mereka bahwa setelah malam ini, Namora telah mati.
"Berarti..?" Jericho dan yang lainnya masih seperti orang goblok. Masih belum mampu mencerna pergantian peristiwa yang ada dihadapan mereka.
"Kau bisa menjelaskan kepada kami, Jol?!"
"Gila kalian ini. Bagaimana aku mau menjelaskan. Apa kalian pikir Namora itu anak ku?" Jol mulai sewot. Dia tidak mau bicara panjang lebar. Baginya, semakin banyak omongan, tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik. Berpikir seperti itu, Jol segera menghampiri Motornya, lalu bergegas meninggalkan mereka.
Ketika ini, Namora telah tiba di danau buatan temple park. Menanggalkan helmnya, lalu menatap ke arah air danau yang tampak menghijau.
Sembari menunggu Zack, dia kembali memikirkan seperti apa shock nya orang-orang tadi ketika melihat dirinya mengendarai sepeda motor yang super keren ini. Itu benar-benar sensasi yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
Lamunan Namora terhenti ketika mendengar dari arah jalan, satu unit mobil Mercedes Benz S-class berhenti, kemudian segera berbelok dimana dirinya duduk.
"Apakah anda sudah lama menunggu, tuan muda?" Tanya Zack buru-buru menghampiri Namora.
"Tidak. Aku juga baru sampai," jawab Namora, kemudian langsung pada intinya. "Apa yang telah kau ketahui tentang Arda ini?"
"Begini Tuan muda. Menurut informasi yang anda berikan kepada saya. Memang benar bahwa Arda yang anda maksudkan itu adalah Arda Elliot. Dia adalah wakil presiden di perusahaan Agro chemical. Karir orang ini memang lumayan pesat. Baru beberapa tahun bekerja di perusahaan Agro chemical, dia dapat memenangkan beberapa tender besar yang berhasil mendongkrak pertumbuhan perusahaan. Maka tidak heran jika dia segera mendapatkan promosi ke jabatan sekarang. Hanya saja, dia tidak berjuang sendiri. Ada perusahaan keluarga yang mereka bangun bersama guna menyokong Arda ini untuk terus mulus dalam usahanya,"
__ADS_1
"Hmmm. Sepertinya ini sangat menarik. Lanjutkan!"
"Arda ini, bukan hanya memegang jabatan wakil presiden di perusahaan Agro chemical. Tapi dia juga orang yang bertanggung jawab dan menduduki posisi sebagai pelaksana lapangan juga. Setiap proyek yang dia menangkan, maka setiap kerja-kerja di area tersebut menjadi tanggung jawabnya. Termasuk memilih sendiri dengan pemborong mana dia bekerja, menyeleksi sendiri pasokan bahan material, kemudian dia juga berhak menentukan dengan jasa perusahaan rental mana yang akan mereka gunakan guna memenuhi kebutuhan armada. Misalnya alat berat, kendaraan pengangkut dan macam-macam lagi. Jadi, karena itu semua adalah perusahaan keluarga, maka Arda ini adalah prioritas. Tidak heran jika setiap proyek yang dia tangani, akan selesai tepat waktu, bahkan sebelum tenggat waktu yang ditetapkan. Bahkan, ongkos tenaga kerja juga lebih murah 3 sampai 4% dari harga pasaran. Makanya dia cukup merajalela dalam bidangnya,"
"Hmmm. Apa kau tau apa nama perusahaan yang menopang seluruh kegiatan yang dilakukan oleh Arda ini?"
"Ya. Saya cukup mengetahui. Perusahaan keluarga mereka bernama Pilar Mandiri,"
"Selain proyek yang dikerjakan oleh Arda, apakah perusahaan Pilar Mandiri ini juga memasok tenaga kerja ke perusahaan lain?"
"Benar. Ada beberapa perusahaan yang mereka kerjakan secara bersamaan. Yaitu, pembangunan hotel bintang lima milik Tower sole propier di perbatasan kota Batu ke kota Tasik Putri. Juga di perusahaan yang sama yang berlokasi di kota Kemuning. Selain itu, ada pembangunan pusat hiburan di Tanjung Karang. Tapi kabarnya, Martins Group telah berinvestasi di proyek ini dengan nilai seratus miliar rupiah. Hanya saja, orang yang memegang kendali di sana adalah Bang Andra yang dibantu oleh Bang Monang,"
"Apa nama perusahaan itu?"
Zack merenung sejenak. Kemudian dia mengeluarkan ponselnya, baru kemudian dia menjawab pertanyaan dari Namora.
"Gergasi insfratruktur!" Jawabannya dengan mantap.
"Ok. Aku sudah mengetahuinya. Dan aku tau apa yang harus aku lakukan. Keluarga Eliot akan hancur dalam waktu satu bulan!"
"Apa rencana anda, Tuan muda?"
"Zack. Kau lulusan apa?"
"Bisnis dan Manajemen. Mengapa, Tuan muda?"
"Sekarang apa jabatan mu?"
"Kacungnya bang Ameng," jawab Zack dengan malu-malu.
"Aku akan meminta mu secara pribadi kepada Paman Ameng. Setelah itu, kau akan berada di sampingku sebagai penasehat. Mau?" Tanya Namora serius.
"Mau mau mau. Sumpah mati saya tidak menolak," jawab Zack tergesa-gesa.
"Pulang!"
Namora bangkit, kemudian dia melangkah menuju ke arah sepeda motornya, lalu meninggalkan Zack yang masih berdiri mematung.
Berulang kali Zack menampar pipinya berusaha meyakinkan bahwa ini bukan mimpi.
Plak!
"Aaaw. Sialan. Ini menyakitkan. Bukan mimpi," katanya. Lalu dia melangkah menuju ke arah mobil. Mobil mewah ini bukan miliknya pribadi. Melainkan milik Ameng yang boleh dia pergunakan untuk mempermudah dirinya jika sewaktu-waktu Namora membutuhkannya.
__ADS_1
Bersambung...