Namora

Namora
Rio mendapat tekanan


__ADS_3

Jhonroy kembali tersenyum manakala mendengar nada ketidaksabaran Rio. Dia memang pandai memancing kemarahan lawan bicaranya. Terbukti bahwa Rio yang segera menginterupsi perkataannya tadi adalah bukti bahwa Rio sudah tersulut kemarahan. Namun, sebelum Jhonroy lebih jauh memprovokasi, tiba-tiba terdengar suara pintu ruangan diketuk dari luar.


Tok tok tok...!


"Masuk!" Ujar Rio kasar.


Pintu perlahan terbuka, dan dari luar muncul satu sosok lelaki tua mengenakan pakaian seragam.


"Oh. Ada tuan Jhonroy di sini. Kantor kepolisian kota Batu akan sangat diberkati dengan kedatangan Tuan di sini," begitu orang yang mengetuk pintu tadi memasuki ruangan, suara pujian penuh makna menjilat langsung terlontar dari mulut lelaki tua itu.


Rio, yang sudah geram sejak tadi menjadi bertambah geram mendengar kata-kata sanjungan dari lelaki tua itu.


Mata Rio jelas berkilat-kilat menatap ke arah wajah lelaki yang baru saja tiba itu.


Seperti mengabaikan tatapan mata Rio, lelaki tua itu langsung menghampiri Jhonroy, sedikit membungkuk kemudian meraih tangan lelaki itu seolah-olah ingin mengambil berkah darinya. Barulah setelah itu, dia menghadap ke arah Rio sambil berkata. "Komandan. Ini adalah Tuan Jhonroy yang agung. Dia adalah legenda dari kota L. Anda harus bisa mengambil hati Tuan Jhonroy ini. Masa depan yang sangat cerah menanti," katanya tetap dengan nada penjilat penuh sanjungan.


"Pak Ferdi!" Tegur Rio semakin tidak senang.


Pegawai kepolisian tua itu sedikitpun tidak menghiraukan teguran dari Rio. Sebaliknya, dia semakin menyanjung Jhonroy.


"Komandan. Mengapa tamu tidak diberikan minum? Kalau begitu, saya akan meminta staf wanita kita untuk membuatkan kopi untuk tamu kita,"


"Pak Ferdi. Ini kantor polisi. Bukan hotel!" Rio semakin geram dengan tingkah polisi senior tersebut. Namun, telinga Ferdi sepertinya telah dimasuki kapal selam sehingga tidak mendengar apapun yang dikatakan oleh Rio. Sebaliknya, dia segera berbalik keluar dari ruang kerja Rio untuk meminta staf wanita menyediakan minuman.


Jhonroy tersenyum mengejek ke arah Rio. Seolah-olah, tatapannya itu adalah tatapan penghinaan.


"Tuan Jhonroy. Katakan apa maksud dari kedatangan mu ke kantor polisi ini?!" Rio semakin muak dengan lelaki tua ini.


"Hahaha. Ternyata komandan pertama di kepolisian kabupaten kota Batu ini sama sekali tidak dihormati oleh bawahannya. Sungguh sangat mencengangkan. Baik. Saya akan langsung saja ke intinya," kata Jhonroy menatap main-main ke arah Rio.

__ADS_1


"AKBP Rio Habonaran. Anda telah menangkap anak saya atas tuduhan yang tidak berdasar. Oleh karena itu, saya tidak senang dan ingin meminta anak saya untuk dibebaskan tanpa syarat. Atau, masalah ini akan saya bawa ke pengadilan sebagai kasus pencemaran nama baik. Anda mungkin tau siapa saya. Jika ada sepuluh orang, sembilan dari sepuluh orang tersebut akan mempercayai perkataan saya dibandingkan anda yang hanya seorang polisi berpangkat rendah. Terlebih lagi, citra polisi di mata masyarakat tidaklah terlalu baik. Jadi, saya menawarkan perdamaian dengan anda, dan saya akan melupakan masalah ini. Jika tidak..,"


"Jika tidak apa? Apakah menurutmu aku, sebagai komandan kepolisian kota Batu ini telah menggunakan jabatan ku untuk bertindak sewenang-wenang? Ada banyak saksi mata, juga ada rekaman cctv di jalan yang dapat membuktikan bahwa putra mu bersalah,"


"Saya tetap menyarankan anda untuk melepaskan putra saya, AKBP Rio Habonaran yang terhormat. Anda hanya perlu menutup mata dalam kasus ini. Kasus putra saya belum naik ke mahkamah. Dan kasus tersebut masih bisa ditutupi. Itu perkara yang mudah kan?"


Prak!


Rio spontan bangkit dari duduknya, kemudian menggebrak meja karena terlalu marah dengan tindakan Jhonroy yang main-main dan menyepelekan hukum.


Sebagai anggota kepolisian yang jujur dan mendapatkan predikat baik di kesatuan, Rio jelas sangat marah ketika institusinya dilecehkan sedemikian rupa.


"Tuan Jhonroy. Aku meminta agar anda pergi meninggalkan kantor polisi ini dengan segera, sebelum aku menjebloskan mu ke dalam penjara dengan tuduhan melecehkan hukum dan anggota kepolisian yang sedang bertugas. Aku mampu melakukan hal itu. Bahkan tanpa saksi sekalipun!"


"Anda tidak akan melakukan hal itu walaupun anda mampu, AKBP Rio Habonaran. Anda pasti sedang bercanda kan?" Ejek Jhonroy dengan wajah tetap tenang.


"Baik. Beri aku waktu lima menit. Aku akan menunjukkan sesuatu kepadamu. Setelah itu, aku akan keluar," kata Jhonroy sembari mengeluarkan handphone miliknya, kemudian melakukan panggilan video.


"Hallo, Tuan Jhonroy yang agung," sapa seorang lelaki di seberang sana.


"Kau sudah melakukannya?" Tanya Jhonroy.


"Seperti yang anda perintahkan," jawab lelaki itu sembari mengarahkan kamera handphone kearah seorang anak lelaki yang saat ini sedang asyik memakan ice cream.


Melihat ini, Jhonroy tersenyum dengan kemenangan. Kemudian, dia segera menyerahkan handphone ditangannya kepada Rio.


"AKBP Rio. Silahkan berbicara dengan anak ini!" Katanya.


Perasaan Rio langsung tidak enak ketika menerima Handphone yang disodorkan oleh Jhonroy. Akan tetapi, dia tetap menerima handphone tersebut, lalu menatap ke arah layar.

__ADS_1


Begitu melihat seorang anak kecil dengan didampingi oleh seorang lelaki paruh baya, tangan Rio bergetar. Bagaimanapun, anak yang berada di video call ini adalah putranya.


"Ayah. Aku sedang bersama Paman ini. Dia sangat baik. Dia membelikan ku es krim di sekolah," kata anak itu dengan sangat riang.


"Jhonroy... Kau?!" Rio menatap Jhonroy dengan perasaan campur aduk antara khawatir dan kemarahan.


Jhonroy mengambil handphone di tangan Rio, kemudian menekan tombol akhiri panggilan sembari berkata. "keputusan ada di tangan mu. Kau boleh memenjarakan anak ku, tapi kemungkinan besar adalah, anak mu akan pulang tanpa nyawa,"


"Pengecut. Kau mengancam ku.


"Tidak. Saya mana berani mengancam seorang komandan kepolisian yang terhormat. Hanya saja, pikirkan dengan baik-baik. Aku akan segera pergi. Jika dalam waktu satu jam, putra ku tidak dibebaskan, anda bisa mempersiapkan acara pemakaman untuk putra anda," selesai berkata seperti itu, Jhonroy segera akan bangkit berdiri.


"Tuan Jhonroy. Apakah anda akan pergi? Kopi baru saja selesai dibuatkan untuk anda. Mengapa terburu-buru?" Tanya Ferdi yang baru saja memasuki ruangan itu kembali dengan tiga cangkir kopi hangat yang masih mengepulkan asap.


"Terima kasih pak Ferdi. Anda cukup masuk akal. Sayangnya anda akan segera pensiun. Jika tidak, mungkin saya akan meminta kepada Kapolda untuk mempromosikan jabatan anda. Tapi tidak mengapa. Anda bisa menasehati junior anda ini. Walaupun pangkatnya lebih tinggi dari anda, namun, anda telah cukup lama bekerja sebagai anggota kepolisian. Ajarkan kepadanya agar dapat membedakan mana ular lidi, dan mana naga yang sesungguhnya!" Kata Jhonroy sembari keluar meninggalkan ruangan itu. Namun, kata-katanya jelas mengisyaratkan sesuatu.


"Pak Ferdi. Berapa kali bapak mengkhianati ku?" Tanya Rio menatap Ferdi tajam sambil menumpukan kedua tangannya di atas meja.


"Apa maksud mu, Rio?" Tanya Ferdi berpura-pura linglung.


"Tidak banyak yang mengetahui bahwa aku memiliki istri dan anak. Terlebih lagi, orang-orang dari kota L. Apakah bapak berkomplot dengan orang dari kota L itu untuk menjebak ku?"


"Rio. Kau bebaskan saja si Teja itu. Aku akan menutup mata dalam kasus ini. Ikuti saran ku. Sebelum terlambat. Kau harus tau siapa lawan mu. Mereka tidak takut melanggar hukum. Apa lagi hanya kau seorang diri. Mereka bahkan tidak akan melirik mu,"


"Aku memang tidak mampu mendisiplinkan penjilat seperti dirimu, Pak Ferdi. Akan tetapi, cepat atau lambat bapak akan menuai apa yang bapak tanam," kata Rio sembari melangkah meninggalkan ruangan.


Begitu tiba di luar, dia segera memberikan perintah agar Teja segera dibebaskan dengan jaminan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2