
Kriiing..!
Kriiing..!
Namora baru saja akan melangkah memasuki pintu lift bawah tanah Tower Mall ketika telepon miliknya berdering.
Spontan Namora mengeluarkan handphone miliknya, kemudian memperhatikan nomor penelepon yang ternyata adalah Lalah.
Tau bahwa Lalah berinisiatif menelepon dirinya, dia pun langsung menjawab panggilan itu. Dan kini terdengar lah suara berat dari ujung sana.
"Mora,"
"Ya kek. Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam. Dimana kau sekarang?"
"Mora ada di Tower Mall. Mengapa kek?"
"Mobil Bugatti Veyron mu sudah tiba hari ini di kota Kemuning. Saat ini berada di rumah ayah mu. Lihat sendiri. Jika tidak puas, beritahu kakek!"
"Puas kek. Pasti puas. Mora akan menyuruh pak Karim untuk menjemput mobil ku itu. Eh itu kan pinjaman. Maaf kek. Mora terlalu bersemangat," kata anak itu tersipu sendiri.
"Hahaha. Anak ini. Baiklah. Yang terpenting, mobil mu sudah sampai. Dan itu akan menjadi hadiah untuk mu andai kau bisa menyingkirkan persaingan dengan Agro finansial Group yang akan menginvasi kota Rantau. Jangan biarkan dia masuk ke kota ini. Jika tidak, kemana wajah Martins Group akan diletakkan? Dan satu lagi. Ini adalah informasi penting. Kau harus menjaga sikap dan selalu rendah hati! Karena, orang-orang ku mengatakan bahwa wali kota Rantau baru saja berangkat dari Rantau menuju ke kota Kemuning. Tujuannya adalah, mencarikan hadiah untuk pertunangan putranya. Konon, barang yang ingin dia dapatkan itu berada di kota Kemuning dan hanya itu satu-satunya yang tersisa. Jika kau mampu mendapatkan dan memberikannya kepada walikota, maka jalan mu untuk mendapatkan kontrak kerjasama untuk pembangunan pabrik kelapa sawit akan semakin terbuka. Ingat! Orang besar selalu aneh. Mereka bisa saja menyamar menjadi gelandangan atau apa saja. Oleh karena itu, jaga sikapmu!"
"Wah. Ini berita bagus. Hanya saja, apa benda yang ingin dia dapatkan itu kek?"
"Itu aku tidak pasti. Jika nasib mu cukup beruntung, kau akan mendapatkannya. Namun, yang terpenting adalah, kau harus menjaga sikap. Jika tanpa disengaja, kau malah menyinggung orang besar ini, mungkin kedepannya akan semakin sulit,"
"Tapi kek. Bisakah kakek mengirim foto orang besar itu? Kirim saja di WhatsApp. Mora akan mencari orang ini. Dan juga, Mora akan menginstruksikan kepada orang-orang agar memperlakukan orang ini dengan baik,"
__ADS_1
"Tidak. Kau harus berjuang sendiri. Orang ini memang tidak suka terlalu menonjol. Sangat jarang ada pemberitaan tentang dirinya. Jangan sesekali kau mencari foto lelaki ini di internet. Karena, kau butuh tantangan. Jika mau senangnya saja, berhenti lah mencari tantangan. Jika hal sepele saja tidak mampu kau selesaikan, bagaimana dengan hal-hal besar yang akan datang?"
"Baik kek. Mora mengerti!"
"Hmmm..," jawab Lalah kemudian mengakhiri panggilan.
"Tuan muda. Kita harus bergegas. Jika tidak, kita tidak akan punya waktu banyak lagi untuk membuat persiapan. Manalah tau ada hal-hal yang mendadak. Sebaliknya kita segera mencari apa yang anda inginkan!" Ajak pak Karim mengingatkan.
Namora mengangguk, kemudian segera melangkah menuju lift untuk segera ke lantai atas dimana di atas sana, banyak toko yang menjual berbagai jenis pakaian bermerek internasional dan berbagai perhiasan mewah.
Pak Karim sendiri segera mengikuti dari belakang layaknya seorang bodyguard merangkap penasehat sekaligus supir. Banyak benar jabatan pak Karim ini. Dan satu lagi. Pak Karim juga adalah guru mengemudi oleh Namora.
*********
Beberapa staf dan pramuniaga di Tower Mall tampak berbaris dan sibuk menyambut kedatangan Namora yang diketahui akan berbelanja di sana. Sepanjang kerjasama antara Future of Company yang dimiliki oleh Jerry William dengan Martins Group cabang kota Kemuning yang di pimpin oleh Tigor, belum pernah Namora menginjakkan kakinya ke pusat perbelanjaan yang memiliki tujuh lantai ini. Tapi, sepertinya hari ini adalah pengecualian. Namora sepertinya memiliki waktu untuk datang dan berbelanja. Tentu saja ini ada hubungannya dengan kebebasan Ayahnya dari penjara pada hari esok.
Penyambutan yang dilakukan oleh para staf di Tower Mall sendiri sempat membuat Namora kaget. Sejujurnya, dia tidak pernah disambut dengan sangat hormat seperti itu. Bahkan, Miss Aline sendiri menyempatkan untuk mengundangnya minum teh di ruangan kerjanya yang seperti presiden suite itu.
Namora memaksakan tersenyum walau senyuman itu persis seperti cengiran kuda. Baginya, itu adalah senyum terindah yang pernah dia miliki.
Melihat Namora yang berusaha untuk menyenangkan hatinya, Miss Aline tersenyum, kemudian mempersilahkan Namora untuk meminum tehnya. "Silahkan diminum. Ini bukan sembarangan teh. Sayang sekali jika dingin,"
"Terimakasih, Miss Aline," Namora segera mengangkat cawannya, kemudian meminum keseluruhan isi cawan tersebut. Hal ini tentu saja membuat Miss Aline tersenyum lucu. Bagaimana tidak, orang yang menghargai teh akan menikmati aromanya, baru menyesapnya secara perlahan. Tapi Namora tidak. Dia langsung menenggak seperti orang minum air putih. Benar-benar pemborosan untuk teh yang langka dan mahal.
"Mora. Apa tujuanmu untuk datang ke sini. Apakah hanya sekedar berbelanja, atau ada nasehat yang kau butuhkan dari ku?" Tanya Miss Aline sambil memainkan jari lentiknya di atas cawan giok.
"Hanya untuk berbelanja. Karena, ayah saya akan bebas besok. Saya ingin berpenampilan baik untuk menyambutnya," jawab Namora apa adanya.
"Hmmm. Baiklah. Di sini, kita punya beberapa koleksi blazer dan jas buatan tangan dari Armani. mengingat bahwa ayahmu adalah bawahan sekaligus sahabat bagi Tuan besar Jerry William, dan juga kerjasama yang sebentar lagi akan dilakukan oleh perusahaan, maka saya akan memberikan potongan harga yang fantastis untuk mu. Bagaimana?"
__ADS_1
Namora mengangguk samar dan tetap dengan wajah kaku seperti manusia kayu.
Melihat ini, Miss Aline segera melakukan panggilan ke salah satu staf pelayan nya yang sangat berpengalaman untuk mengajak Namora melihat-lihat koleksi pakaian di Tower Mall tersebut. Sekaligus menjelaskan kepada Namora tentang pakaian tersebut.
Tak lama kemudian, Namora pun meninggalkan ruangan kerja Miss Aline. Dan setelah membuka pintu, seorang gadis cantik tampak berdiri menunggu dirinya di depan pintu dengan senyum ramah dan gesture tubuh yang memberikan penghormatan.
"Melanie, bawa Tuan muda Habonaran untuk melihat-lihat!"
"Baik Boss!" Jawab gadis itu. Lalu, dengan senyum hangat gadis bernama Melanie itu mempersilahkan Namora untuk mengikutinya.
Walaupun tubuhnya gemetaran ketika melihat tingkah gadis itu, tapi mau bagaimana lagi? Namora tetap mengikutinya dengan langkah kaku dan tampak salah tingkah.
Tepat ketika Namora baru turun dari eskalator, dia sudah dikejutkan dengan penampilan pak Karim yang sudah berubah dari yang tadinya hanya memakai kaos oblong, kini berganti mengenakan stelan jas kantoran dengan sepatu kulit mengkilap terpasang dikakinya.
"Bagaimana, Tua muda? Apakah saya tampak keren?" Tanya Pak Karim sembari berjalan menghampiri Namora. Ditangannya juga tampak menenteng beberapa tas berisi barang.
Untuk pertama kalinya Namora hampir tertawa melihat ulah pak Karim yang lupa usia. Dia segera memperhatikan orang tua itu dari ujung rambut hingga ujung kaki, kemudian mengangguk dan mengacungkan jempolnya.
"Mantap pak Karim!" Puji Namora. Memang tadi dia telah menginstruksikan kepada salah satu pramuniaga untuk membawa pak Karim memilih pakaian. Dan hasilnya, pak Karim kini tampil beda dan terlihat lima tahun lebih muda.
"Begini baru mantap. Aku tidak ingin orang yang bekerja untukku berpenampilan biasa-biasa saja. Jika ingin menimbulkan kesan pertama kepada orang lain, maka penampilan harus yang paling utama," ujar Namora sambil menyentuh beberapa permukaan pada pakaian pak Karim. Kemudian, dia berpaling ke arah pramuniaga dan bertanya. "Apakah pakaian ini berharga mahal? Jangan berikan pakaian dengan kualitas menengah kepada orang-orang ku. Bila perlu, kelasnya sama dengan pakaian yang dipakai oleh Boss-Boss besar,"
Setelah memastikan bahwa pakaian yang dikenakan oleh pak Karim adalah pakaian dari brand ternama, barulah Namora menganggukkan kepalanya, kemudian berlalu. Hanya saja, sebelum dia pergi, dia meminta kepada pak Karim agar mengirim mobil Bentley miliknya kembali, kemudian datang lagi dengan mobil Bugatti Veyron yang baru dikirim oleh Lalah.
"Saya siap melakukan perintah!" Kata Pak Karim dengan bersungguh-sungguh.
"Cepat datang ya pak. Aku sudah tidak sabar! Nanti ajari aku ya!"
"Siap!" Sekali lagi pak Karim berdiri tegak, lalu memutar tubuhnya seperti tentara, kemudian berjalan menuju lift dengan tangannya dipenuhi oleh tali tas yang berisi berbagai pakaian. Tentunya Namora tidak lupa meminta pak Karim untuk memilihkan pakaian untuk istrinya, ibu almarhum Zack, beserta kedua wanita yakni Nila dan Tiur.
__ADS_1
Bersambung...