
Berita tentang Namora yang akan mengikuti turnamen kejuaraan pencak silat semakin merebak. Bahkan, berita ini bukan hanya bersiur di sekitar sekolah SMA negeri Tunas Bangsa saja. Tetapi merebak ke beberapa sekolah.
Entah magnet apa yang ada pada diri Namora ini, sehingga semua orang sepertinya sangat tertarik untuk membahasnya. Padahal, Namora sendiri tidak tau menahu tentang ini. Baginya, biarkan saja. Karena, ketika tiba pada waktunya, maka dia akan menunjukkan kepada semua orang bahwa dia lebih daripada mampu untuk mengikuti bahkan menjuarai turnamen tahunan antar sekolah ini.
Di kafe milik Dhani tepat di kota batu, Diaz dan teman-temannya sengaja berkunjung untuk membahas siapa-siapa saja yang akan mengikuti turnamen ini. Ditangannya, ada selembar kertas berisi daftar orang-orang yang akan berpartisipasi dalam kejuaraan tersebut.
Untuk saat ini, ada SMA tunas kelapa, SMA harapan bangsa, SMA teladan, SMA negeri Tunas Bangsa.
Tepat ketika dia melihat ada nama Namora yang mewakili SMA negeri Tunas Bangsa, sudut bibirnya mencibir. Bayangannya saat ini hanya satu. Yaitu, menggebuk Namora.
"Aku merasa bahwa turnamen kali ini adalah turnamen yang konyol. Bagaimana bisa SMA negeri Tunas Bangsa mengesampingkan Jol dan Jericho, tapi malah mendorong Namora untuk maju. Apakah karena dia bisa mengasari Rendra, maka dia merasa bahwa dia sudah terlalu kuat? Benar-benar lelah hidup," cibir Diaz dengan seringai menyepelekan.
"Aku justru sebaliknya. Kalian tidak boleh menyepelekan lawan. Jika digigit semut saja kau masih kesakitan, apa lagi manusia. Aku pernah meminta kepada Kenza untuk menghajar anak ini. Tapi Kenza menolak. Pasti ada alasan mengapa Kenza menolaknya," kata-kata dari Dhani ini mau tak mau membuat Diaz harus mengernyitkan dahi.
"Mengapa kalian terlalu memikirkan Namora. Kan lebih baik bagi kalian. Dia adalah lumbung poin mudah untuk kalian. Dan juga, setidaknya aku bisa meminjam tangan kalian untuk membalas dendam. Kepala ku ini masih belum sembuh. Aku ingin membalasnya. Aku ingin melihat Namora itu berdarah-darah. Jika salah satu diantara kalian mampu melakukannya untukku, aku rela membayar sepuluh juta rupiah untuk mu!" Rendra yang kepalanya masih diperban juga ada di tempat itu, dan mengiming-imingi Diaz, Ruben, Dudul dan Rudi dengan sejumlah uang.
"Kau bicara apa, Rendra? Kita adalah sahabat. Tanpa uang pun, aku memang akan membalaskan dendam mu kepada Namora itu. Jangan khawatir!" Diaz tampak bersungguh-sungguh untuk membalaskan dendam Rendra. Tapi itu hanya di mulutnya saja. Siapa yang tidak suka uang.
"Aku akan tetap memberikan imbalan. Kalian tenang saja!" Rendra tau bahwa apa yang dikatakan oleh Diaz itu hanyalah manis mulut belaka. Orang waras pasti suka uang.
"Ren. Apa kau masih tetap mengincar Namora ini?" Tanya Dhani kemudian.
"Ya. Aku masih mengincar Namora ini. Aku sudah habis banyak. Sebelum aku bisa membalas, apapun caranya akan aku lakukan. Sekali saja Namora keluar, maka dia akan aku selesaikan!" Tatapan mata Rendra jelas mengandung bara api. Dia tidak mungkin melepaskan Namora begitu saja.
"Kalau begitu, aku tau caranya!" Kata Dhani. Wajahnya penuh dengan senyuman culas.
"Bagaimana caranya bang?" Rendra tampak sangat tidak sabar. Dia ingin mengetahui metode apa yang akan dilakukan oleh Dhani untuk memancing Namora agar keluar. Karena, jika Namora tidak keluar, mana bisa dia melakukan tindakan balas dendam.
__ADS_1
"Aku hanya memberitahu kata kuncinya saja. Sisanya kau atur sendiri!"
Rendra mengangguk dan sangat serius menantikan apa yang akan dikatakan oleh Dhani.
"Kartu truf mu adalah Merisda!"
Begitu mendengar perkataan dari Dhani ini, Rendra segera menepuk jidatnya sendiri. Mungkin karena terlalu bersemangat sampai dia lupa bahwa kepalanya masih sakit.
Rendra segera menunduk menahan kesakitan. Tapi dia tidak perduli. Karena, kini dia sudah tau apa yang harus dilakukan olehnya.
*********
Sementara itu, di rumah, Namora sedang terbaring dengan bola matanya menatap di langit-langit kamar. Dia masih memikirkan pertemuan antara dirinya dan Merisda di sekolah. Tak habis memikirkan mengapa Merisda begitu angkuh kepada dirinya.
Namora kini terus memutar-mutar handphone yang sengaja dia letakkan di atas dadanya. Pikirannya menerawang jauh. Dalam hatinya, dia merasa pasti itu karena boneka dolphin yang tidak mampu dia beli.
Namora segera duduk di pinggir ranjang, dan bergumam dalam hati. "Apa iya aku tuan muda. Jika benar, maka aku harus mengujinya,"
Namora segera mencari nomor telepon Ameng, lalu segera melakukan panggilan.
Tidak lama berselang, panggilan pun terhubung, dan terdengar suara Ameng di seberang sana.
"Mora. Ada apa kau menelepon ku?"
"Paman. Apa iya aku ini benar-benar tuan muda? Lalu, apa iya kalau ayah ku orang yang sangat berkuasa di kota Kemuning? Paman juga pernah bilang kalau tabungan ku bisa melimpah. Kalau memang iya, coba mana buktinya?!" Namora memberondong Ameng dengan pertanyaan.
"Banyak sungguh pertanyaan mu ini. Kau mau bukti apa hah?" Nada suara Ameng mulai sombong. Seolah-olah, tidak ada sesuatu yang tidak dapat dia berikan kepada Namora.
__ADS_1
"Hehehe.... Hehehehe... Kalau begitu, aku mau membeli boneka dolphin di Suzuya Mall kota Batu. Tapi harganya tidak murah. Kalau memang ayah ku orang kaya, tentunya tidak sulit memberiku uang dia ratus lima puluh juta rupiah kan?"
"Hanya dua ratus lima puluh juta? Kenapa kau tidak meminta dua ratus lima puluh miliar rupiah sekalian? Jangan membuat malu! Walaupun ayah mu berada di dalam penjara, gaji dari Tower sole propier milik Future of Company, laba bersih dari Martins Group, dan pembagian dari Dragon Empire pun jika di total bisa mencapai dua triliun pertahun. Dua ratus lima puluh juta rupiah itu hanya setetes air di dalam ember. Apa kau kira sudah berapa tahun Martins Group berdiri?" Ameng sama sekali tidak bermaksud untuk menyombongkan diri. Tapi, walaupun begitu, mereka ini memang memiliki kemampuan untuk sombong, walaupun sebenarnya kesombongan itu tidak boleh.
Terbelalak mata Namora mendengar perkataan dari Ameng ini. "Dua triliun pertahun? Berarti berapa banyak angka nol nya?"
"Namora. Apa kau mengerti menggunakan kartu kredit?" Tanya Ameng kemudian.
"Kan ada Mbah Google. Mengapa Namora tidak tau?" Tanya Namora yang mulai tidak sabar. Dia ingin segera membeli boneka dolphin itu sebelum hari ulang tahun Merisda. Walaupun dia tidak di undang ke acara itu, tapi setidaknya dia akan menitipkan boneka tersebut kepada Jol. Bagaimanapun, Jol adalah sahabatnya yang paling dia percaya.
"Kau tunggu! Paman akan mengirim seseorang untuk memberikan kartu kredit kepada mu. Terserah kau bisa mengunakan atau tidak. Mau kau rendam, kau rebus, kau jadikan tempe, itu urusan mu. Yang jelas, setiap uang yang kau gunakan akan dipotong dari saldo tabungan mu!"
"Tabungan? Kan Namora udah bilang kalau tabungan Namora sudah habis!" Namora mau menangis ketika mengucapkan perkataan ini. Dia merasa kalau dia sedang dipermainkan oleh Ameng.
"Ayah mu telah meminta kepada Pak Burhan untuk diam-diam membuka tabungan untuk mu. Dan itu sudah ada sejak sepuluh tahun yang lalu. Sudah lah. Kau jangan banyak omong lagi. Paman sedang sibuk!"
Tut Tut Tut....
"Hallo..!"
"Ah. Main matiin aja."
Namora melemparkan handphonenya di atas tempat tidur. Lalu dia kembali berbaring menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya jelas menerawang jauh.
"Andai aku orang kaya. Hahahaha..!" Namora meninju bantal seperti orang gila. Perasaannya saat ini tidak menentu.
Bersambung...
__ADS_1