
Mobil Mercedes Benz S-class hitam terlihat baru saja keluar dari bengkel dan dikendarai oleh Ameng bersama dengan seorang pemuda dengan wajah keheranan. Sementara itu, wajah Ameng yang berada disampingnya tampak tenang-tenang saja dan sangat fokus mengemudikan mobilnya.
Kelihatannya Ameng sangat happy hari ini. Itu terlihat dari ekspresi wajahnya. Bahkan, sesekali terdengar dia bersiul-siul riang. Namora sangat terganggu dengan siulan yang fals dan entah lagu apa namanya. Kadang bernada Batak, kemudian nadanya berubah menjadi keroncong, lalu berganti menjadi nada lagu China.
Namora sangat menyesal mengapa tadi dia tidak membawa earphone agar telinganya bisa terbebas dari penderitaan ini.
"Paman. Kita akan kemana? Ini kan jalan menuju ke kota Kemuning. Ibuku akan memarahiku kalau dia tau bahwa aku ke kota Kemuning," walah Namora terlihat sangat tertekan. Selama ini Mirna selalu melarang dirinya ke kota Kemuning. Ketika Namora bertanya, Mirna selalu mengatakan bahwa kota itu sangat jauh, dan banyak orang jahat di sana.
Ameng melirik Namora dengan ekor matanya, kemudian menjawab. "apakah kau mau sepeda motor?"
"Ya. Namora mau. Tapi uang tabungan ku sudah habis," jawab anak itu polos.
Ameng tertawa ringan. "apa kau mau uang tabungan mu berlimpah?"
Namora mengernyitkan alisnya. Melimpah? Bagaimana bisa. "Tabungan apa yang berlimpah, Paman? Setahu Namora, air sungai saja yang bisa melimpah,"
Kali ini tawa Ameng begitu keras, sampai-sampai air matanya keluar.
"Namora. Kau tidak kekurangan satu apapun. Semua yang kau inginkan, selagi itu ada dijual, pasti bisa kau dapatkan,"
"Apa iya?" Namora tidak begitu saja percaya. Selama ini, dia bahkan tidak bisa membeli sepeda motor. Kemudian, dia terima tentang boneka dolphin yang di pinta oleh Merisda. Harganya dua ratus lima puluh juta rupiah. Mungkin dia harus bekerja separuh hidupnya di restoran baru bisa mendapatkan boneka dolphin itu. Itupun kalau dia tidak sakit dan makan. Berapa sih gaji pekerja restoran. Apa lagi hanya kerja sampingan.
__ADS_1
Memang, Namora berencana untuk bekerja sebagai pekerja restoran paruh waktu untuk mengisi kekosongan tabungannya yang telah habis dikikis oleh Merisda. Beruntung Mirna tidak mengetahui tentang tabungannya ini. Dia mengumpulkan uang jajan, uang pemberian Rio. Bahkan ketika Ameng, Acong dan Timbul memberikannya uang, dia sama sekali tidak menggunakan uang tersebut. Dia memilih untuk menabungnya di Tabanas.
"Hahaha. Iya lah. Apa kau tidak percaya? Lihat saja nanti!" Ameng tampak sangat bersemangat. Dia kemudian mempercepat laju kendaraannya, lalu kembali bersiul.
Namora ingin marah karena dia merasa Ameng tidak menghormati selera telinganya. Tapi bagaimana caranya untuk marah. Bisa-bisa nanti kepalanya yang dijitak oleh Ameng. Dan itu pasti tidak enak. Maka dari itu, Namora hanya pasrah saja pada waktu. Pada akhirnya, Ameng akan lelah dan berhenti bersiul dengan sendirinya.
Perlahan namun pasti, gerbang selamat datang ke kota Kemuning terlihat. Dan kini mereka sudah semakin dekat, dekat dan dekat.
Ketika Namora melihat gerbang ini, terlintas kembali kenangan hampir sepuluh tahun yang lalu, ketika dimana dia dan Mirna meninggalkan kota Kemuning ini. Ketika itu, sesuatu yang terakhir dia lihat adalah gerbang selamat datang ini.
Memasuki Kota Kemuning, Ameng sama sekali tidak memperlambat laju kendaraannya. Kini mereka tiba di traffic light dan Ameng membelokkan mobilnya melewati sebuah bangunan megah yang diatasnya tertulis, 'Martins Hotel'. Tidak ada perasaan apa-apa. Karena memang Namora tidak tau bahwa Hotel itu adalah miliknya.
Sedikit melewati hotel, ada jalan ke kiri. Dan Ameng mengarahkan mobilnya ke arah jalan tersebut.
Namora tercengang melihat rumah-rumah dikawasan itu tidak ada sekutu hitam rumah yang dia tempati bersama dengan ibunya. Bahkan, untuk rumah terkecil di kawasan ini adalah tiga lantai.
Namora tidak tau bahwa ketika dia lahir sampai dia berusia dua tahun, dia dulu pernah tinggal di komunitas ini. Tapi, setelah nenek dari ibunya meninggal, Mirna secara terang-terangan menjauhkan diri dari orang-orang yang dekat dengan Tigor, sampailah Namora kelas satu SD. Ketika itu Mirna tidak tahan dan langsung pindah ke kota Batu dengan harapan agar Namora terus dijauhkan dari dunia yang dibangun oleh Tigor. Setelah itu, sudah bertahun-tahun, barulah kali ini Namora menginjakkan kakinya kembali ketempat kelahirannya ini.
"Paman. Ini mau kemana?" Namora sibuk memandangi kawasan sekitarnya dengan tatapan takjub. Setelah dia puas, barulah dia bertanya.
"Kita akan ke rumahmu!" Jawab Ameng singkat.
__ADS_1
"Rumah Namora kan di kota batu!" Ujar anak itu dengan polos.
"Siapa bilang itu rumah mu? Itu rumah milik pemerintah!"
Namora tidak menjawab. Memang benar bahwa rumah itu adalah rumah dinas. Mungkin ketika Rio pensiun, dia sudah tidak mempunyai hak lagi untuk tinggal di sana.
"Kita akan ke rumah paman dulu. Setelah itu, baru kita akan ke rumah milik mu. Penampilan mu ini terlalu biasa. Biarkan Paman mengubah penampilanmu ini!" Ameng segera membelokkan mobilnya memasuki pekarangan rumah. Di sana, Namora melihat dua orang lelaki paruh baya mengenakan seragam security membukakan pagar.
Ketika ini, puluhan orang berdatangan menyambut kedatangan Ameng bersama Namora. Hal ini membuat Namora menjadi sangat kaget. Dia tidak menyangka bahwa Ameng sangat agung dan dihormati oleh semua orang. Dia memang tau kalau Ameng berpengaruh. Tapi dia tidak tau kalau itu melebihi ekspektasinya sendiri.
"Masuk!" Ajak Ameng membuat Namora yang tadi melongo menjadi gelagapan.
"I.., iya, Paman!" Kata Namora yang baru kembali tersadar. Dia langsung mengikuti punggung Ameng dan setengah berlari mengejarnya.
Sampai di dalam rumah, beberapa orang pembantu langsung menyambut mereka. Di sini, sekali lagi Namora terkejut. Kalau hanya Ameng yang dihormati, itu mungkin saja. Karena memang Ameng adalah pemilik rumah. Tapi ketika dia juga sangat dihormati dan mereka menyebut dirinya sebagai Tuan muda, Namora kaget tiga perempat mati. Bahkan, ini sangat mengejutkan. Sepertinya dia tidak siap menerima perlakuan yang sangat hormat seperti ini.
"Apa ini?" Namora masih belum mengerti dan masih belum dapat mencerna semuanya. Dia merasa seperti melihat sinetron di televisi yang tidak ada ujungnya dan ngalor-ngidul.
"Tuan muda. Silahkan!" Kata seorang pembantu. Dia masih sangat muda dan cantik. Andai bertemu di jalan, Namora pasti tidak akan percaya kalau wanita ini adalah pembantu.
Menatap ke arah Ameng, dan Ameng mengangguk, Namora menyeret kakinya dengan kaku mengikuti wanita tadi.
__ADS_1
Dia mengikuti punggung wanita itu, dan ketika sampai di satu ruangan, ternyata di sana sudah ada lebih dari lima orang yang menunggu.
Namora dipersilahkan untuk duduk di satu kursi dimana dihadapan kursi tersebut terdapat kaca cermin yang ukurannya hampir sebesar pintu.