
Bus besar jurusan Riau-Medan baru saja tiba di terminal kota Batu.
Ketika pak Harianto menjejakkan kakinya di terminal tersebut, seorang lelaki yang terlihat masih muda dan tampan segera menghampiri lelaki tua itu.
Setelah memberikan penghormatan ala kepolisian, lelaki muda yang tidak lain adalah Rio itu segera mengajak pak Harianto untuk segera memasuki mobil Toyota hardtop tua miliknya, dan langsung saja berangkat ke rumah sakit rakyat kota Batu.
Di sepanjang perjalanan, Rio menceritakan secara ringkas apa yang dia ketahui tentang Namora. Di mulai dari dirinya dan Ameng yang diserang oleh segerombolan bawahan Jhonroy dari kota L, sampai kepada penangkapan Teja sebagai tersangka pengeroyokan, sampailah pada Namora yang menziarahi makam Zack. Dan dari sinilah Namora diserang oleh seseorang yang Rio sendiri sebenarnya tidak mengetahui ceritanya secara detail.
Rio, yang mendapat informasi dari Tigor yang ketika itu berhubungan dengan Jerry atas pemberitahuan dari Black Eagle dan Black shadow hanya diberitahu secara kasar tentang kejadian yang menimpa Namora.
Pak Harianto sendiri mendengar seluruh penuturan Rio tentang kejadian yang menimpa Namora tanpa menyela sedikitpun. Namun, dia seperti berpikir sejenak.
"Rio. Jika Namora menjadi target utama pembunuhan, mengapa dia bisa selamat? Walaupun tidak bisa dikatakan menguntungkan, namun, jika di kaji balik, tentunya Namora sudah tidak selamat kan? Apa kau tau mengapa Namora tidak dihabisi langsung oleh penyerangnya?"
Rio tau bahwa pertanyaan ini pasti akan terlontar juga dari bibir pak Harianto. Walaupun dia tidak tau pasti, namun, bocoran dari Tigor dimana Jerry William mengutus dua orang pengawal bayangan untuk Namora cukup baginya menjadi alasan mengapa Namora tidak terbunuh.
"Sebenarnya begini pak. Bang Tigor, telah menghubungi majikannya meminta agar Namora terjamin keselamatannya. Sang majikan menuruti keinginan Abang ku dengan mengirimkan dua orang tentara bayaran untuk melindungi Namora. Dan itu terbukti dari beberapa kali Namora di serang, dia selalu selamat. Hanya saja, kali ini ceritanya berbeda. karena musuh menggunakan racun pada senjata yang dia gunakan untuk menyerang Namora. Ketika aku melihat keadaan Namora, tidak kurang dari sepuluh bekas sayatan dan bacokan pada tubuhnya. Beruntung fisik anak itu sangat kuat, ditambah dengan alat di rumah sakit yang memadai, hingga Namora masih mampu bertahan. Tapi, untuk serum anti racun yang diderita Namora, pihak kedokteran masih menyelidiki dan melakukan pengembangan. Ini karena, mereka tidak dapat mengidentifikasi jenis racun yang digunakan oleh pembunuh tersebut," jawab Rio.
Pak Harianto mendesah berat. Wajahnya tampak marah, seolah-olah ketenangan dari wajah lelaki tua itu tidak mampu menutupi rasa marah dan kekhawatirannya.
"Aku tidak tau bagaimana cara mengobati orang yang terkena racun. Akan tetapi, aku pasti akan berusaha untuk mencari penawar racun tersebut. Sekarang percepat laju mobil mu ini. Hatiku tidak tenang sebelum melihat Namora dengan mataku sendiri. Setelah itu, barulah aku akan memutuskan untuk meminta tolong kepada seseorang. Walaupun berat, apapun itu, aku harus bisa menyelamatkan murid ku itu," kata Pak Harianto dengan tekad yang bulat. Sebagai guru, mana mungkin dia tega melihat satu-satunya murid yang dia warisi seluruh ilmu yang ada padanya mati. Jika Namora mati, maka seluruh ilmu beladiri miliknya akan ikut terkubur bersama jasad anak itu. Hal ini bukan karena dia tidak bisa mencari murid yang lain dan mengajarkan ilmunya kepada murid tersebut. Akan tetapi, Namora adalah keturunan langsung dari gurunya. Dan sesuai dengan amanat, hanya keturunan dari gurunya lah yang bisa menerima warisan dari ilmu tersebut.
__ADS_1
Rio mengangguk, kemudian menginjak pedal gas sehingga mobil Hardtop tua itu melesat meninggalkan suara auman mesin yang memekakkan telinga.
*********
Pak Harianto duduk di sisi pembaringan Namora sambil memeriksa denyut nadi anak itu.
Setelah memeriksa keadaan anak itu, keningnya semakin berkerut.
"Semuanya normal," katanya dalam hati.
Di sini, Pak Harianto jelas heran. Ini karena, denyut nadi Namora sangat normal dan stabil. Sama sekali tidak terlihat bahwa Namora seperti tidak keracunan. Dia hanya terlihat seperti orang yang sedang tidur, sama sekali tidak terlihat mengalami keracunan.
"Racun yang sangat jahat," katanya bergumam. Namun, gumamannya itu menarik perhatian Rio.
"Ya. Racun ini sangat ganas. Melihat cara kerja racun ini, aku teringat ketika jaman perang dahulu kala, ketika suku pedalaman melawan Belanda, mereka akan menggunakan racun jenis ini untuk diletakkan di ujung jarum yang akan ditiup dengan menggunakan bambu. Andai jarum itu tertancap ke tubuh yang dituju, orang itu akan segera mati di tempat. Racun ini sangat ganas. Hanya saja, mungkin kadarnya yang tidak terlalu besar, atau memang orang itu tidak mengerti tentang cara pembuatan racun ini, makanya Namora masih bisa bertahan. Racun ini adalah racun dari suku pedalaman. Aku sama sekali tidak memiliki pengetahuan untuk membuat penawar nya," kata pak Harianto mengeluhkan ketidakmampuannya.
Mendengar perkataan dari pak Harianto, tubuh Rio langsung merosot ke lantai seperti orang yang tidak memiliki tulang.
Jika pak Harianto saja sudah menyerah, bagaimana dengan dirinya yang sangat awam tentang racun mematikan tersebut.
Rio jelas sangat menyayangi Namora. Bahkan, dia tidak pernah membeda-bedakan mana anak kandung, dan mana keponakan. jauh sebelum Rio memiliki anak, Namora lah anak sering dia gendong, dia suapi makan, dia mandikan, bahkan terkadang ketika dia memiliki tugas di luar, dia akan sangat merindukan Namora. Hanya saja, mungkin sebagian seorang lelaki yang ingin terlihat tegas, dia tidak terlalu memanjakan Namora dan memendam kasih sayangnya di dalam hati. Makanya, ketika dia melihat keadaan Namora seperti ini, seperti hatinya sedang diremas-remas.
__ADS_1
"Pak. Tolong pikirkan cara. Bukannya aku meragukan kemampuan rumah sakit. Yang aku khawatirkan adalah, sebelum mereka mampu membuat obat penawar, tubuh Namora tidak akan mampu lagi bertahan,"
"Saat ini hanya ada satu orang yang aku pikirkan untuk meminta pertolongan. Entah orang ini mampu atau tidak, tapi aku harus mencobanya. Namun, dengan sikap angin-anginan yang dimiliki oleh orang ini, aku khawatir jangankan untuk meminta bantuan, menginjak halaman rumah nya saja aku akan diserang terlebih dahulu dengan kulit kerang,"
Mendengar ini, Rio menjadi sangat antusias. Dia segera bangkit dari duduknya dilantai tadi, kemudian segera bertanya. "Siapa orang itu pak? Mari secepatnya kita ke sana. Aku akan mengantar bapak walaupun ke ujung pulau Sumatera ini sekalipun," kata Rio dengan penuh semangat. Namun, semangat sertakan raut wajahnya segera berubah ketika mendengar jawaban dari pak Harianto.
"Orang itu adalah kakek mu, Maha guru Tengku Mahmud Badaruddin perkasa Alam,"
Menggigil gemetar sekujur tubuh Rio ketika mendengar nama itu. Seperti dia mendengar nama malaikat maut saja. Wajahnya yang tadi bersemangat jelas terlihat berubah muram.
"Lebih mudah mengorek daging dari mulut harimau daripada meminta bantuan dari kakek ku yang setengah waras itu," gumam Rio pada dirinya sendiri.
"Kurang ajar! Jangan durhaka kamu, Rio! Kalau dia tau kau bicara seperti itu, lehermu sudah dipelintir 480 derajat!"
Rio meneguk ludah mendengar teguran dari pak Harianto. Seolah-olah melihat Tengku Mahmud ada di sana, dia segera mundur beberapa langkah hingga kandas ke dinding.
"Tidak ada cara lain. Walaupun harus nyawa ditukar nyawa, aku tidak akan membiarkan murid ku mati. Mari antar aku ke Kuala Nipah!"
Mendengar ini, Rio pun langsung menyetujui. Sekejam-kejamnya singa, dia tidak akan memangsa anaknya sendiri.
Walaupun Tengku Mahmud terkesan angin-anginan, dia pasti tidak akan benar-benar mencelakai Rio. Walaupun hanya cucu angkat, tetap saja Rio adalah cucunya. Dan Parulian Habonaran adalah sahabatnya. Bagaimana dia akan mencelakai Pak Harianto secara serius. Secara, Pak Harianto adalah murid langsung dari Parulian Habonaran.
__ADS_1
Dengan bermodalkan keyakinan seperti ini, kedua orang beda usia ini pun segera meninggalkan rumah sakit dan langsung berangkat menuju ke kampung Kuala Nipah untuk menemui Tengku Mahmud guna meminta pertolongan.
Bersambung...