
Setelah pak Harianto dan Rio meninggalkan halaman rumahnya, Tengku Mahmud menatap ke arah Joe, kemudian dia bertanya, "Anak jin. Obat apa yang kau berikan kepada Harianto itu? Apakah kau tidak salah memberi obat? Aku tidak pernah melihat mu meracik obat,"
"Hehehe..., Kakek. Itu bukan obat, tapi racun. Tumbuhan herbal itu lah yang sebenarnya obat," jawab Joe sambil cengengesan.
"Kau..?!"
Tengku Mahmud membelalakkan matanya menatap ke arah pemuda yang berada dihadapannya saat ini. Wajahnya terlihat sangat gusar. Kemudian, beberapa helaan nafas setelah itu, dia mulai membentak. "Apa yang kau lakukan hah? Apakah kau ingin membunuh orang?"
Kali ini Joe memasang wajah serius. Dia tau bahwa jika dia tidak menjelaskan, maka Tengku Mahmud akan salah faham terhadap dirinya. Oleh karena itu, Joe segera duduk bersila, kemudian mulai menuturkan. "Kek. Aku telah bolak balik membaca buku pengobatan yang ditinggalkan kakek uyut Malik Arvan. Bahkan, kakek Tengku juga ikut membimbing. Ada jenis-jenis racun yang bisa ditawar dengan penawar, tapi ada jenis racun yang hanya bisa dilawan. Cara melawan dengan menawar sangat berbeda. Jika itu adalah obat, maka jelas obat tersebut digunakan untuk menawar racun. Akan tetapi, jika itu menggunakan racun, metode ini jelas untuk melawan. Melawan racun dengan racun juga ada dalam praktek pengobatan. Sekali pandang, aku dapat memastikan bahwa racun yang diidap oleh Namora itu adalah racun yang sangat ganas. Jika tidak, mustahil dokter tidak dapat mengidentifikasi jenis racun tersebut.
Metode melawan racun dengan racun adalah, ketika racun yang telah mengendap dalam tubuh dipaksa melawan racun yang baru masuk, maka akan terjadi saling mengalahkan. Pil yang aku berikan itu mengandung racun yang lebih ganas lagi. Makanya aku menyuruh mereka meminumkan pil terlebih dahulu kepada Namora itu. Setelah racun tadi dijinakkan dengan racun yang terkandung di dalam pil, maka penawar nya adalah tumbuhan herbal. Aku tidak berharap Namora akan memuntahkan racun tersebut, akan tetapi, mengeluarkan racun itu dari setiap pori-porinya. Makanya aku mengatakan bahwa Namora hanya bisa selesai berendam ketika air rendaman berubah warna menjadi kehitaman," Joe menjelaskan secara panjang lebar untuk menguraikan metode melawan racun dengan racun kepada Tengku Mahmud.
"Jika demikian, tentunya cukup hanya sebutir pil saja. Mengapa kau memberikan dua sekaligus?" Tanya Tengku Mahmud.
"Secara kasar memang kita akan berpikir bahwa cukup hanya satu pil. Karena racun yang terkandung di dalam pil itu cukup ganas. Namun, setelah berendam di air ramuan, maka pil ke dua tidak akan berdampak lagi. Namun, itu tergantung kepada daya tahan tubuh Namora. Jika dia tidak cukup kuat, kemungkinan beberapa urat syarafnya akan putus. Setidaknya, dampak dari itu bisa menyebabkan otaknya bermasalah dengan tidak merasakan perasaan takut. Atau, dia akan berubah menjadi orang yang sangat kejam. Tapi itu mungkin sangat dibutuhkan oleh orang-orang yang berkecimpung di dunia bisnis legal dan ilegal yang kejam ini. Harus kejam dan tidak mengenal rasa takut. Karena sekilas tadi aku mendengar pembicaraan kakek dan orang itu yang mengatakan bahwa Namora ini menjadi target pembunuhan dan alasannya. Jadi, aku memberikannya dua butir pil untuk melemahkan beberapa urat syaraf yang mengirim perintah ke otak agar tidak memberikan sensasi rasa takut dan toleransi. Tetapi, itu tergantung seberapa kebal tubuhnya terhadap pengaruh racun itu," jawab Joe yang lagi-lagi panjang kali lebar.
Tengku Mahmud merenung. Bahkan dia semakin merenung sehingga Joe hanya bisa menemani disisinya.
Bagaimanapun, dirinya pernah merasakan seperti apa perasaan takut sekaligus kasihan.
__ADS_1
Dirinya pernah bertarung dan menahan pukulannya atas alasan kasihan. Tapi, harga yang harus dia bayar terlalu mahal untuk itu. Karena, ketika dia tidak melanjutkan serangan karena lawannya sudah babak belur, sang lawan pun memiliki kesempatan dan menikam pinggangnya dengan pisau. Dari situlah Tengku Mahmud berpikir bahwa 'kasihan terhadap lawan adalah penganiayaan terhadap diri sendiri.'
*********
...Pantai cermin....
Seorang pemuda berusia sekitar 25 tahun sedang duduk di kab mobil sembari menatap lurus ke arah gulungan ombak yang tanpa lelah menghantam pantai. Pemuda itu mengenakan pakaian pantai, topi putih dan kacamata hitam. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang.
Benar saja. Tidak berapa lama, seorang lelaki berbadan tegap menghampiri pemuda itu, kemudian menyapa. "Boss,"
Pemuda itu memalingkan wajahnya ke arah datangnya suara, kemudian melepas kacamata hitam yang dia kenakan.
"Bagaimana dengan tugas yang aku berikan?"
Pemuda yang tidak lain adalah Angga adik satu ayah lain ibu Teja itu mendengus pelan. Dia seperti sudah mengetahui bahwa Kapolres kota Batu akan kalah gertak oleh ayahnya. Tapi, kesempatannya untuk menjadi tuan muda pertama mungkin sedikit berliku ketika Abang nya terus menerus mendapat perlindungan dari ayahnya. Padahal dia sudah berharap agar Teja mendekam di penjara agar dia dapat mengambil alih posisi Teja sebagai pangeran di keluarga itu.
"Teja ini. Sejak dulu perlakuan yang aku terima selalu berbeda dengan yang dia terima. Aku tidak dapat menerima ketidakadilan ini," Angga kembali menatap ke arah anak buahnya tadi, kemudian kembali bertanya. "Apakah ada berita lain yang kau ketahui?"
"Ada Boss. Sampai saat ini, Namora belum sadarkan diri. Bahkan, keadaannya semakin kritis,"
__ADS_1
"Apa? Apakah orang-orang Dragon Empire ini sampah? Masalah seperti itu saja tidak bisa mereka atasi?" Geram Angga. Saking kesalnya, dia sampai meninju body mobilnya sekuat tenaga.
"Ini kemungkinan diluar kemampuan mereka, Boss. Orang Jepang itu menyerang Namora dengan senjata yang sudah dilumuri dengan racun. Sampai saat ini dokter belum menemukan penawar untuk racun tersebut,"
"Sampah....! Sampah semuanya. Jika begini terus, kapan aku bisa membuat mereka berperang. Aku telah melakukan banyak hal untuk membuat mereka bertarung. Termasuk menghasut agar Teja mengejar Namora. Tapi apa? Dia memang masuk penjara. Tapi ayah membebaskannya. Namora bahkan koma. Siapa lagi yang bisa aku gunakan untuk membunuh Teja ini?"
"Sebenarnya mudah saja Boss. Tapi, apakah boss tega?"
"Apa maksudmu?" Tanya Angga penuh dengan tanda tanya.
"Tuan besar Jhonroy telah melayangkan ancaman bahwa jika sesuatu terjadi kepada Teja, maka dia akan membunuh anak kepala polisi kota Batu itu. Kita sudah sama-sama tau hubungan apa antara kepala kepolisian kota Batu dengan ayahnya Namora. Mereka adalah Abang adik. Berarti, anak yang diancam oleh Tuan besar Jhonroy adalah sepupu kandung Namora. Jika sesuatu terjadi kepadanya, Namora pasti akan mengamuk. Setidaknya, jika Namora tidak selamat, akan ada Tigor dan Rio yang akan membalas. Tapi, untuk mencapai tujuan itu, apakah boss tega membunuh Teja agar kesalahan ini dilimpahkan kepada AKBP Rio?"
"Hmmm.., aku memang sangat menginginkan posisi Teja. Tapi aku tidak bodoh untuk melakukannya dengan tangan ku sendiri. Lagipula, walau bagaimanapun, Teja tetap Abang ku. Tunggu dan lihat. Jika ada kesempatan, aku tetap ingin menggunakan tangan orang lain. Aku masih berharap agar Namora segera sembuh untuk melanjutkan peperangan ini. Dengan begitu, aku memiliki kesempatan untuk melihat Teja mati ditangannya.
Saat ini kau dengar perintah! Sebarkan desas desus bahwa Zack dan ketiga teman-temannya dibunuh oleh orang Jepang itu atas permintaan dari Teja. Dengan begitu, Namora akan semakin membulatkan tekadnya untuk memburu Teja. Jika Teja mati, aku akan menjadi pangeran. Dan aku pasti tidak akan melupakan mu,"
"Baik boss. Aku pergi dulu," kata lelaki itu berpamitan.
Setelah lelaki itu pergi, senyum licik terpampang di wajah Angga.
__ADS_1
"Hahaha. Dua ekor domba berkelahi, siapa yang diuntungkan? Aku adalah singa itu!" Katanya dalam hati.
Bersambung...