
Pertengkaran antara Udin dan Hendro yang disaksikan oleh Jericho akhirnya berhenti dengan sendirinya ketika saat ini panitia penyelenggara acara mulai berjalan menuju ke arah microphone dan akan segera memberikan kata-kata sambutan.
Bisik-bisik diantara para guru yang saling mengejek dan anak-anak murid yang mencemooh Namora segera usai dan ruangan tersebut mulai senyap.
Panitia penyelenggara turnamen pun maju, memberi hormat kepada para dewan juri dan para guru, kemudian mulai memegang microphone dan mulai berkata. "Cek.., cek.., cek!"
"Selamat menjelang siang kepada dewan juri, para guru, orang tua murid dan para murid dari berbagai SMA se-provinsi Sumatra Utara. Terimakasih karena telah hadir untuk memeriahkan acara turnamen tahunan yang bisa kita adakan bagi mempererat hubungan antar sekolah.
Saya, bapak Togu Panjaitan selaku panitia penyelenggara acara mengucapkan ribuan terimakasih atas partisipasinya. Semoga acara turnamen ini bukan hanya menanamkan rasa cinta kita kepada kesenian beladiri, akan tetapi semakin mempererat hubungan silaturahmi antara kita semua. Selain para murid yang akan bertanding, para guru juga bisa saling mengenal dan mungkin bisa saling bertukar pikiran seputar pendidikan. Karena, lain orang, lain kepala, lain pula isinya pikirannya. Pengalaman seseorang tidak akan sama dengan pengalaman orang yang lainnya.
Buat para peserta yang akan bertanding, singkirkan ego kalian. Karena walau bagaimanapun, ini hanyalah pertandingan antar sekolah yang diselenggarakan hanya untuk memupuk rasa cinta kita kepada kesenian beladiri dan untuk saling bersilaturahmi. Bertanding lah secara sportif, kemenangan bukan segalanya. Jangan sampai mencederai lawan dan kalian bisa saling melindungi.
Sekian dari saja, Togu Panjaitan, dan selamat berjuang untuk para kontestan yang bertanding!"
Selesai mengucapkan kata-kata sambutan, Pak Togu Panjaitan beserta beberapa wasit dan dewan juri langsung mengambil kertas yang mengisi masing-masing slot yang bertuliskan nama peserta dan nama sekolah.
Bagi SMA negeri Tunas Bangsa dan SMA negeri Kampung baru, mereka berada pada Slot yang berbeda. Karena, kedua sekolah ini sama-sama dari kabupaten kota Batu. Dengan begitu, Diaz dan Namora tidak akan bertemu. Andai mereka bertemu, maka itu pasti terjadi hanya jika kedua orang ini sampai pada babak final. Itupun jika salah satu dari mereka tidak kalah duluan.
Setelah selesai dengan undian, akhirnya ditetapkan bahwa SMA negeri Tunas Bangsa berhadapan dengan SMA negeri kota Kemuning. Dan dari SMA negeri Kampung baru, bertemu dengan SMA Indra Sakti.
Untuk menghemat waktu karena terlalu banyak peserta, maka panggung kini dibagi menjadi tiga gelanggang dan tiga orang wasit ditugaskan.
Untuk dewan juri sendiri, terdiri dari sembilan orang dan masing-masing gelanggang pertandingan akan diawasi oleh tiga juri yang terdiri dari Juri A, juri B, dan Juri C.
__ADS_1
Ketika nama Diaz dan Namora dipanggil diikuti oleh masing-masing peserta lainnya, senyum mengejek langsung keluar dari guru olahraga SMA kota Kemuning kepada Pak Bakri.
"Maaf pak Bakri. Sepertinya anda dan murid anda akan pulang lebih awal. Ini karena, murid mu dan murid ku telah ditetapkan untuk bertemu pada putaran pertama ini. Andai murid ku kalah, kami masih memiliki satu lagi wakil. Sedangkan untuk sekolah anda, kalian hanya memiliki satu wakil saja,"
Pak Bakri ingin berteriak karena kemarahannya sudah sampai di ubun-ubun. Akan tetapi dia tidak melakukannya karena walau bagaimanapun, dia akan dianggap gila oleh yang lainnya. Saat ini dia hanya bisa menatap tajam dan menumpahkan seluruh kekesalannya pada Namora melalui tatapannya yang dia tujukan ke atas gelanggang. Karena Namora telah tiba di sana bersama dengan murid wakil dari SMA kota Kemuning yang akan menjadi lawannya.
Brak..!
Suara bantingan terdengar dari gelanggang sebelah diikuti dengan ringis kesakitan. Hal ini tentu menarik perhatian semua orang. Dan setelah melihat, ternyata murid dari Indra Sakti telah tergeletak mendapat serangan dari Diaz. Dan itu adalah rekor kemenangan tercepat untuk saat ini.
Namora melihat ke arah Diaz yang langsung memberikan gesture menyembelih ke arah Namora.
Senyum dingin terlihat dari bibir Namora. Dia sama sekali tidak memiliki ekspresi.
Teriakan penuh ejekan mulai terdengar dari mulut para murid. Yang sialnya lagi, murid-murid dari SMA negeri Tunas Bangsa pun ikut-ikutan mengejek Namora.
Namora sama sekali tidak terpancing. Dia kini fokus terhadap tendangan lurus yang diarahkan kebagian lehernya.
Tap..! Namora segera menangkap pergelangan kaki lawan. Begitu kaki lawannya berada dalam genggaman tangannya, dia segera menyapukan kakinya kearah satu lagi kaki lawannya yang menahan bobot tubuhnya.
Brak..! Bam..!
Suara bergedebug terdengar ketika kaki siswa dari Kota Kemuning tersebut disapu oleh Namora dengan kakinya.
__ADS_1
Wasit segera menghentikan pertandingan ketika siswa tersebut terjatuh.
Semua orang yang tadinya menyoraki Namora dengan hinaan segera terbelalak. Bahkan, pak Burhan dan Bu guru Maudi pun tidak kalah kagetnya. Dia mengira yang jatuh tadi adalah Namora. Oleh karena itu dia tidak ingin melihatnya. Tapi, setelah mengetahui bahwa lawannya yang terjatuh, perasaan bersemangat mulai terlihat dari wajah mereka yang berasal dari SMA negeri Tunas Bangsa.
Setelah memeriksa keadaan siswa dari Kota Kemuning tadi, Wasit pun segera memberikan gesture mengakhiri pertandingan. Ini karena, sebelum melakukan tekel, Namora telah meremas pergelangan kaki lawannya sehingga menjadi terkilir. Dan dengan ini, babak pertama ini dimenangkan oleh Namora dengan waktu yang juga termasuk singkat.
Namora membungkukkan badannya dengan hormat ke sekeliling ring, kemudian dia keluar dari gelanggang menuju kursinya dengan wajah tetap dan tanpa emosi. Dia tidak terlihat bahagia, bangga ataupun marah. Wajahnya dingin dan tanpa ekspresi.
Pak Bakri yang melihat bahwa Namora telah memenangkan satu pertandingan mulai menatap ke arah guru dari SMA kota Kemuning, lalu berkata. "sepertinya doa mu tidak terkabul. Sekarang kau bisa menelan kata-kata mu tadi setelah murid mu dikanvaskan oleh murid ku,"
Guru yang sombong dari kota Kemuning tadi hanya bisa mendengus sinis dan segera membuang muka karena kesal bercampur malu.
Jol, yang melihat Namora sudah kembali ke kursinya langsung menghampiri, kemudian memijit punggung Namora seolah-olah dia adalah pelatih bagi Namora.
"Bagus, Mora. Tapi kau terlalu terburu-buru. Setidaknya, kau permainkan dulu lawan mu. Barulah kau hancurkan! Kalau begini kan tidak seru," kata Jol yang mengharapkan Namora bisa sedikit memberikan tontonan yang menarik.
"Aku menghemat tenaga, Jol. Lawan ku yang sebenarnya adalah Diaz. Aku sudah menyelidiki semuanya dan sudah tau cara menghadapinya. Makanya aku harus bisa menghemat tenaga. Aku akan memenangkan pertandingan melawan Diaz tanpa menyentuhnya," kata Namora yang membuat Jol mengerutkan keningnya.
Sebenarnya, wajar jika Jol heran. Bagaimana cara memang tanpa menyentuh. Omong kosong. Akan tetapi, lain halnya dengan Namora. Dia telah menyelidiki dan melakukan penelitian terhadap reaksi dari menggunakan doping secara berlebihan. Itu bisa membuat jantung bekerja ekstra. Dan andai jantung berlebihan dalam memompa darah, bisa-bisa pembuluh darah akan pecah yang akhirnya menyebabkan kematian. Oleh karena itulah Namora tidak ingin menyentuh Diaz. Hal ini bisa menghindari dirinya dari dianggap pembunuh di atas gelanggang. Bagaimanapun, dia tidak menyentuh Diaz. Diaz mati dengan sendirinya karena menggunakan doping.
Namora menatap beberapa pasang mata yang mengarah kepadanya. Dia tidak memperdulikan semua itu. Baginya, selain Jol dan Udin, tidak ada yang dianggap teman oleh Namora. Semuanya hanya ujung lalang baginya. Ujung lalang, kemana angin berhembus, kesitu mereka akan condong.
Bersambung...
__ADS_1