Namora

Namora
Namora akan menjadi pion bagi rencana Tigor


__ADS_3

Puluhan unit mobil bergerak beriringan meninggalkan area pemakaman umum, lalu berpisah setelah tiba di persimpangan jalan raya yang mengarah ke pusat tahanan kota Batu.


Lima unit mobil mengambil jalan ke kanan untuk menuju pusat tahanan, sedangkan sisanya mengambil jalan ke kiri dan langsung bergerak ke area perumahan bukit Batu.


Saat ini, kelima mobil tadi telah tiba di depan pintu masuk ke pusat tahanan.


Seorang anggota kepolisian menghampiri mereka kemudian menjalankan prosedur bagi orang yang ingin membesuk tahanan.


Setelah melakukan berbagai proses, akhirnya Ameng dan Namora pun segera memasuki pintu tadi. Sedangkan untuk yang lainnya, mereka hanya berjaga-jaga saja di sekitar mobil. Terlihat benar bahwa mereka kini memasang kewaspadaan tinggi. Mereka tidak ingin kejadian yang menimpa Zack terjadi. Maka dari itu, mereka tidak akan pernah lalai. Bahkan, di setiap pinggang masing-masing orang terdapat sepucuk pistol.


Sejak terakhir kali bentrok dengan geng tengkorak sekitar tujuh belas tahun yang lalu, keadaan bisa dikatakan aman. Hingga mereka sama sekali tidak berpikir akan ada yang berani mengusik orang-orang dari Dragon Empire. Maka dari itu mereka melonggarkan kewaspadaannya. Akan tetapi, suasana yang aman kini sepertinya sudah tidak berlaku. Makanya mereka saat ini selalu waspada dengan senjata masing-masing yang siap digunakan kapan saja.


"Ayah..!" Namora berlari memeluk tubuh Tigor yang saat ini baru saja tiba di ruangan besuk.


"Zack, Ayah. Dia telah dibunuh oleh Jhonroy," kata Namora mengadukan kematian Zack kepada Tigor.


Tigor menyentuh kepala Namora, kemudian menghela nafas berat, kemudian berkata. "Kau tau, andai kau ikut kembali ke kota batu bersama dengan Zack, kau pun kemungkinan akan ikut terbunuh,"


Namora melepaskan pelukannya pada Tigor. Kemudian dia menggeleng. "Belum tentu. Membunuh ku memang bisa, akan tetapi mereka membutuhkan usaha yang besar. Tidak mudah membunuh orang yang sudah kenyang dengan gemblengan kakek Harianto,"


"Mora. Kau masih terlalu lugu dalam hal ini. Lawan telah merencanakan ini sejak lama. Sedangkan kau hanya sibuk dengan kepercayaan dirimu yang terlalu besar. Kau bisa melakukan apa saja di kota batu. Akan tetapi, kota L tidak selemah yang kau bayangkan. Sesekali kau harus memiliki rasa takut di dalam hatimu. Rasa takut itu bisa menyeimbangkan keberanian yang kau miliki. Dengan demikian, kau bisa memperhatikan setiap tindakan yang kau lakukan. Selalu ada kerugian dalam meraih keberuntungan. Itu namanya pengorbanan. Sebelum menatap ke depan, kau harus melihat kembali ke belakang. Orang bodoh kalah dengan orang pintar. Orang pintar sungkan dengan orang yang bijak. Sedangkan orang bijak harus memiliki kearifan dan mampu memandang setiap permasalahan dari berbagai sisi. Kau harus mengerti ini supaya kedepannya, kau tidak hanya menggunakan otot mu, melainkan mengedepankan otak. Andai kekuatan otot adalah asas utama untuk berkuasa, maka Pak Harianto sudah layak untuk menjadi Mentri. Bukankah otot yang dia miliki sangat kuat? Lalu, untuk apa kita disuruh untuk mencari Ilmu bahkan sampai ke negeri Cina?"


"Mora masih bingung, Ayah. Jika mereka ingin menargetkan aku, mengapa tidak langsung datang saja? Mengapa teman-teman ku yang mereka bantai?"


"Tujuan mereka jelas. Sambil menyelam, minum air. Awalnya mereka memang menargetkan dirimu. Akan tetapi, karena kau tidak ada di sana, mereka membunuh teman mu. Ini adalah cara efektif untuk melemahkan semangat mu. Kematian itu tidak menakutkan. Yang menakutkan itu adalah, derita sebelum kematian. Itulah yang mereka inginkan. Bukankah sekarang perasaan mu sangat menderita?"


Sebelum Namora menjawab, Tigor kembali berkata. "Ayah tau isi hati mu seperti melihat telapak tangan ayah sendiri. Bukankah sebelum kemari, kau sudah berdebat dengan paman Ameng mu?"


Semakin ke sini, semakin Namora tidak bisa membantah apa yang dikatakan oleh Ayahnya.


Karena merasa terpojok, dia segera mengubah topik pembicaraan.

__ADS_1


"Ayah. Melihat dari foto-foto yang diambil di tempat kejadian, kematian Zack dan teman-teman yang lainnya bukanlah dari bekas peluru. Ini seperti tebasan pedang. Apakah Jhonroy ini ahli dalam memainkan pedang?" Tanya Namora.


Tigor menggeleng perlahan sembari duduk di kursi, kemudian berkata, "Mora. Darimana kau tau bahwa itu adalah pekerjaan Jhonroy? Dalam sebulan terakhir, kau sudah banyak menyinggung orang. Apa kau ingat dengan siapa saja kau berkelahi?"


"Hah?" Namora mendelikkan matanya.


"Mengapa aku mendadak bodoh seperti ini?' pikirannya dalam hati.


"Sebentar, Ayah. Aku seperti menemukan jawaban," katanya, kemudian memikirkan beberapa hari ini, siapa saja yang telah dia singgung, kemudian menghubungkan semua kejadian.


"Dojo kampung baru?!" Tiba-tiba Namora bergumam seolah-olah dia sangat yakin seribu persen bahwa terbunuhnya Zack ada hubungannya dengan Dojo kampung baru. Terlebih lagi, Diaz meninggal di atas ring ketika berhadapan dengannya.


"Kau bisa menunggu hasil penyelidikan Paman Rio mu. Kemungkinan dia akan mendapatkan kesulitan untuk menjatuhkan hukuman terhadap mereka. Kita tidak memerlukan prosedur hukum untuk bertindak. Cukup tau saja, lalu lakukan!"


"Lalu apa yang harus aku lakukan, Ayah? Aku tidak mungkin berdiam diri saja kan? Aku tidak ingin kematian Zack menjadi sia-sia tanpa aku mencari keadilan untuknya. Aku ini lelaki yang punya harga diri. Sebagai teman, aku harus menuntut balas,"


"Hahaha. Naif sekali cara berpikir anak lajang ku ini. Sepertinya kau tidak mencerna semua yang aku katakan tadi.


Kematian itu bukanlah sesuatu yang menakutkan. Yang menakutkan itu adalah derita sebelum kematian. Mengapa kita tidak membiarkan mereka menderita terlebih dahulu sebelum mengirim mereka ke kematiannya?"


Tigor tersenyum sembari mengelus puncak kepala anaknya itu. Kemudian dia menceritakan apa yang direncanakan oleh Jerry William kepadanya.


Namora mencermati dengan sangat khusuk apa yang disampaikan oleh Tigor. Dia tidak ingin salah dan merusak seluruh rencana yang telah disusun oleh tuan besar Jerry William dan ayahnya itu.


"Ayah. Apakah ayah yakin kalau Namora bisa melakukan semua yang kalian rencanakan?" Tanya Namora. Mendadak rasa percaya diri yang dia miliki sebelumnya menghilang begitu saja.


"Pasti bisa. Ayah percaya dengan anak ayah. Yang perlu kau lakukan dalam hal ini adalah percaya diri, dan berusaha untuk lebih kejam lagi. Kekejaman mu sudah mencapai separuh dari kekejaman yang aku miliki. Tingkatkan itu. Kejam kepada lawan yang juga memiliki kekejaman adalah lumrah. Kau juga tidak akan sendirian. Miss Aline akan menjadi pemandu bagimu. Ingat! Dihadapan Miss Aline, kau jangan membantah. Ikuti pengaturan yang telah dia katakan!"


"Namora mengerti. Kalau begitu, Namora akan berangkat sekarang juga ke kota Kemuning. Namora harus tau sebesar apa mereka akan menuruti perkataan yang keluar dari mulutku,"


"Meng. Kau dampingi Namora. Serahkan seluruh dokumen perusahaan kepada Namora. Kemudian, sampaikan perintah dariku bahwa keuangan perusahaan sepenuhnya dikuasai oleh Namora. Mengerti?"

__ADS_1


"Mengerti, Bang!" Jawab Ameng yang sejak tadi memang tidak bicara sepatah katapun.


"Apakah kau mengecas handphone ku?" Tanya Tigor.


"Iya. Ini bang!" Kata Ameng menyerahkan handphone legendaris miliknya yaitu Nokia 6600.


"Sialan. Gara-gara handphone ini tertangkap oleh sipir, aku sampai didenda sejuta setengah kemarin," maki Tigor melihat handphone ditangannya. Baginya uang Rp 1,5 juta bukan apa-apa. Akan tetapi, dia selama ini telah berusaha menjadi tahanan yang baik. Itu sedikit tercoreng gara-gara sipir menangkap dirinya memiliki handphone di dalam penjara.


"Apa lagi yang kalian tunggu? Pergi sekarang!" Kata Tigor begitu melihat bahwa Ameng dan Namora hanya berdiri menatap kearahnya.


"Baik bang!" Kata Ameng yang langsung buru-buru meninggalkan tempat itu sambil menarik tangan Namora.


Tigor memperhatikan beberapa bagian pada atap ruangan, kemudian tersenyum sinis, lalu meninggalkan ruangan itu menuju ke sel tempat dia di kurung.


Dia duduk bersandar pada tembok sambil menghitung waktu.


"Seharusnya sudah waktunya?" Katanya dalam hati. Kemudian dia mulai mencari nomor di handphone jadul miliknya, kemudian melakukan panggilan.


"Hallo bang," sapa satu suara di seberang sana.


"Sugeng. Kumpulkan anak buah mu. Ameng dan Namora akan segera berangkat ke kota Kemuning. Ruangan besuk tadi telah di sadap. Aku yakin berita keberangkatan Namora sudah diketahui oleh pihak lain," kata Tigor dengan nada dingin.


"Baik bang. Apakah kami harus melakukan penyergapan?"


"Tidak. Kalian hanya membayangi Ameng dan Namora saja. Kemudian, lakukan pembersihan andai pertarungan terjadi,"


"Dimengerti!" Jawab Sugeng.


Tigor mengakhiri panggilan. Kemudian dia kembali bersandar ke dinding.


"Sialan. Apakah mereka menganggap Black Cat terlalu bodoh dengan trik kecil ini?" Katanya dalam hati. Dia tau bahwa ada diantara anggota kepolisian ini telah dibeli oleh Jhonroy.

__ADS_1


Setelah Tigor selesai mengutuk di dalam hatinya, kemudian dia menyembunyikan handphone miliknya di balik ****** ********, kemudian berpura-pura bahwa dirinya tidak melakukan apapun.


Bersambung...


__ADS_2