Namora

Namora
Kemarahan Namora


__ADS_3

Area tempat pemakaman umum kota Batu.


Namora yang memakai pakaian serba hitam dengan kacamata hitamnya berdiri mematung dihadapan empat gundukan tanah yang tampak masih basah dengan tangan terkepal erat. Sedangkan sekujur tubuhnya tampak menggigil seperti orang yang sedang terserang demam malaria.


Kreeeek...! Kreeeek...! Terdengar suara gemeretak dari ruas-ruas jari tangannya yang terkepal erat.


Ada puluhan lelaki yang juga sama berpakaian berkabung dibelakangnya memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh pemuda itu.


Wajah Namora saat ini sungguh sangat kaku. Walaupun tanpa ekspresi, namun sejak tadi butiran air sebening kristal telah menetes dari kedua matanya.


Semua orang tau bahwa tidak banyak kenalan yang dimiliki oleh Namora. Dan dari kenalan tersebut, hanya ada beberapa yang akrab dengannya.


Selain Kenza, dia sangat akrab dengan Jol. Setelah itu, dia memiliki bawahan yang dia anggap sebagai temannya. Orang yang sangat mengerti apa yang dia inginkan adalah Zack, Ando dan Lan. Akan tetapi, kini tiga dari empat gundukan tanah tersebut adalah tempat peristirahatan terakhir bagi ketiga orang yang dia anggap teman tersebut. Bagaimana dia tidak menangis melihat gundukan tanah tersebut. Terlebih lagi dia mengetahui bagaimana bisa orang ini menjadi sasaran pembunuhan.


Perlahan Namora melangkahkan kakinya ke arah makam yang terdapat di tengah-tengah. Dia merogoh sakunya, mengeluarkan kepingan berwarna kekuningan, kemudian meletakkan tepat di batu nisan makam tersebut.


Zack bin Adnan. Begitulah kata-kata yang tertulis pada papan nisan tersebut.


Namora berlutut perlahan, membelai nisan itu dengan penuh kasih sayang, kemudian berucap. "Zack. Aku tidak menyangka kekhawatiran ku malam itu akhirnya menjadi kenyataan yang sangat pahit. Medali kemenangan ini awalnya ingin aku persembahkan untuk ayah ku. Akan tetapi itu sudah tidak diperlukan lagi. Medali kemenangan ini untuk mu. Bagiku, kau adalah juara sesungguhnya," Namora berhenti berucap. Entah sudah berapa helai tisu yang telah dia habiskan untuk mengusap pipinya yang saat ini basah oleh air mata.


"Zack. Mungkin kau lelah karena terus-menerus berada dibawah bayang-bayang telunjuk tangan ku. Kalau kau lelah karena terus-terusan ku perintah, mengapa kau tidak meminta untuk istirahat saja? Mengapa kau memilih untuk istirahat selamanya? Aku bisa membelikan rumah untuk mu, kemudian memberikan uang agar kau bisa menikah. Asalkan kau hidup, apa pun akan aku berikan selagi aku mampu. Apa bisa kita membuat kesepakatan seperti itu? Tapi kau harus bangun! Kita bisa terus bersahabat,"


Namora seperti orang gila saat ini. Dia ingin membuat kesepakatan dengan Zack asalkan Zack hidup lagi. Tapi mana mungkin orang yang telah meninggal dunia akan hidup kembali.


"Ya Allah. Hamba tidak banyak memiliki sahabat. Yang pertama adalah J7. Tapi mereka mengabaikan ku dan hanya ada Jol yang tersisa. Yang ke dua adalah Kenza. Tapi dia pergi menghilang entah kemana. Yang terakhir adalah Zack. Tapi Kau mengambilnya dari ku. Mengapa Ya Allah?" Namora meratap dengan pilu. Suaranya sudah serak karena terus menangis.


Tangisnya pun berhenti ketika satu tangan memegang pundaknya.


Namora mendongak menatap ke arah Ameng yang memegang pundaknya.

__ADS_1


"Mora. Jangan bersedih karena tidak memiliki teman. Seekor Harimau tidak butuh teman untuk menjadi raja di rimba,"


Namora bangkit berdiri. Dia tidak lagi memperdulikan penampilannya yang terlihat sangat kuyu. Perlahan dia berkata. "Jhonroy harus menerima kemarahan ku!" Katanya, kemudian melangkah hendak meninggalkan area pemakaman umum tersebut menuju ke arah mobil. Dia tidak perduli walaupun dia baru bisa mengendarai mobil dan masih kaku, akan tetapi kemarahan dihatinya mengalahkan ketakutannya untuk mengemudikan mobil.


"Namora. Mau kemana kau?" Bentak Ameng ketika dia melihat Namora yang saat ini seperti orang kurang waras.


"Akan ku bunuh mereka!" Teriak Namora tanpa perduli. Dia setengah berlari menuju ke arah mobil, kemudian memaksakan tangannya untuk membuka pintu mobil tersebut. Ketika dia mengetahui bahwa pintu mobil dalam keadaan terkunci, dia segera berhenti untuk menunggu Ameng menghampirinya.


"Mora. Tenangkan dulu dirimu. Kita bisa mengatur rencana untuk membalas. Kematian Zack memang harus dibalas. Tapi, jika seperti ini, kau bisa mengantar nyawa namanya," bentak Ameng.


"Aku tidak perduli. Mau mati, mau hidup, asalkan aku bisa membunuh tua bangka itu, aku akan puas. Jangan halangi aku, Paman!" Kata Namora tidak mau kalah dan tetap kukuh dengan pendiriannya.


"Bodoh. Aku pikir, setelah menyekolahkan mu, kau akan pintar. Ternyata tetap saja otak mu tumpul. Kau sendirian sedangkan mereka ada ribuan orang. Apa kau mengira bahwa kau memiliki kekuatan super untuk mengalahkan mereka. Baru tiba dihalaman rumah nya saja, kau akan terpanggang oleh anak buah Jhonroy,"


"Aku tidak perduli. Mereka harus menemani Zack. Zack kesepian di sana. Jhonroy harus mati untuk menemani Zack,"


Plak..! Ameng menampar wajah Namora sekuat tenaga sehingga anak itu terhuyung-huyung dan bersandar ke body mobil.


Namora mengepalkan tinjunya erat-erat, kemudian berdiri dengan tampang yang sangat kaku. Tak lama setelah itu, dia berlari menuju seratusan orang yang mengepungnya, kemudian mulai melakukan serangan membabi-buta.


"Keras betul hati anak ini," ujar Ameng yang segera maju, kemudian menangkap bagian belakang kerah baju Namora, lalu menariknya sekuat tenaga hingga Namora terjengkang kebelakang.


Ameng tau bahwa Namora saat ini sudah dirasuki kemarahan. Jika tidak, mustahil dia bisa membuat Namora jatuh seperti ini. Dengan dikuasai oleh kemarahan, ini akan sangat berbahaya bagi Namora sendiri.


"Kalian..., Kalian ingin memberontak kepada ku?" Bentak Namora sembari bangkit. Dia menunjuk ke arah orang-orang yang mengepungnya dengan kemarahan yang meluap-luap.


"Mora..,"


"Diam!" Bentaknya membuat ucapan Ameng seketika terhenti.

__ADS_1


"Kurang ajar!"


Plak..!


"Sejak kapan kau belajar menjadi pendurhaka seperti itu? Ayah mu pun tidak akan tega membentak ku. Kau, yang masih bau kencur sudah menunjukkan taring dihadapan ku? Biadab!"


Namora tau dia salah. Bahkan, sebelum dia ditampar sekali lagi oleh Ameng pun, dia sudah mengatupkan mulutnya. Makanya, ketika tamparan Ameng barusan mendarat sekali lagi di pipinya, dia tidak berani mendongakkan kepalanya menatap Ameng.


"Jika kau memang tidak bisa lagi diatur, maka silahkan kau pergi mengantar nyama mu ke kota L!" Ameng melemparkan kunci mobil ke arah Namora, kemudian mendorong tubuhnya ke arah mobil.


"Pergi!"


Ameng hanya menggertak Namora saja. Dia sudah mempersiapkan diri andai Namora nekat juga untuk pergi, maka hal yang bisa dia lakukan adalah menyuruh anak buahnya mengikat dan menyekap Namora di apartemen miliknya di bukit Batu.


Namora terdorong ke depan dengan kunci mobil ditangannya. Tapi dia tidak bergerak. Rasanya kedua kakinya telah ditambat ke satu tiang besi hingga dia tidak kuasa untuk melangkahkan kakinya.


"Maafkan Mora, Paman!"


"Begitu baru benar. Kita bisa bicara baik-baik dengan kepala dingin. Paman sudah membahas masalah ini dengan ayah mu. Bahkan, tuan besar Jerry William juga akan memberikan dukungan. Jangan mengacaukan rencana tuan besar. Atau kau akan merasakan sesuatu yang lebih buruk daripada kematian!"


Namora bergidik ngeri ketika mendengar nama Jerry William disebut.


Dia bisa saja bangga di kota Kemuning dan sekitarnya. Akan tetapi, Jerry William bisa bangga dimana saja yang dia inginkan. Jerry William, raja segala raja bisnis di dunia ini bisa melakukan apa saja. Baginya, Namora tidak lebih dari sebutir pasir di padang yang tandus.


"Ikut aku ke pusat tahanan kota Batu. Ayah mu ingin bertemu dengan mu!" Ajak Ameng sambil menarik tangan Namora menuju mobil.


Namora, yang saat ini ketakutan ketika mendengar nama Jerry William tadi hanya bisa manjadi anak penurut. Dia hanya bisa mengikuti apa yang akan direncanakan oleh ayahnya, dan siap menjadi pion andai memang dirinya dibutuhkan untuk itu.


Bagi dirinya saat ini adalah, asalkan Jhonroy bisa hancur, apapun jalannya dia akan tempuh.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2