Namora

Namora
Bantuan tiba


__ADS_3

Merisda, yang berada tepat di luar lingkaran dengan seorang pria menjaganya dapat merasakan kiamat kecil yang akan menimpa dirinya dan kedua abangnya. Dia tidak dapat membayangkan seperti apa dirinya di hari esok ketika dia berhasil dibawa kehadapan Jhonroy.


Sementara itu, di tengah-tengah lingkaran, beberapa orang sudah mulai merengsek maju dengan pentungan digenggaman masing-masing.


Suara bak bik buk jelas terdengar disertai dengan teriakan kesakitan. Dan sepertinya itu keluar dari mulut kedua kakak beradik Arda dan Ardi.


Merisda berdoa di dalam hatinya, semoga saja Tuhan mengirimkan malaikat-Nya untuk menolong dirinya dan kedua abangnya.


"Ayo, jangan buang-buang waktu lagi! Kita harus segera menyelesaikan tikus-tikus ini. Apa kau tidak melihat lambaian uang merah bergambar presiden Soekarno? Uang telah menunggu kita begitu pekerjaan ini selesai!"


"Sepertinya, ini adalah hari akhir kita. Bang Arda, selama ini aku selalu membantah kata-kata mu. Sebagai adik pembangkang, aku memohon ampunan dari dosa-dosa ku kepadamu!" Bisik Ardi ditengah-tengah rasa putus asanya.


"Iya. Abang juga minta maaf kepadamu karena terlalu keras selama ini. Tapi, sebelum kita mati, setidaknya aku ingin membunuh salah satu dari mereka untuk menemaniku ke akhirat,"


"Mengapa salah satu? Aku ingin banyak!"


Selesai berkata seperti itu, Ardi segera menggenggam pisau yang ada ditangannya erat-erat, lalu melompat menerkam ke arah kerumunan.


"Awas! Orang ini sudah putus asa," teriak salah satu dari pengepung. Namun terlambat. Karena, satu dari tiga tusukan yang dilakukan oleh Ardi dengan cepat, dapat mengenai sasaran.


Brugh...!


Satu sosok tubuh lelaki tinggi tegap tersungkur sambil menutupi dadanya yang terkena tusukan dari Ardi.


Melihat temannya ambruk, salah satu dari mereka dengan marah mengayunkan tongkat kayu yang tepat mengenai belakang kepala Ardi.


"Argh...," Ardi terhuyung ke depan sambil mengusap bagian belakang kepalanya. Ketika dia melihat, kini telapak tangannya telah merah oleh darah.


"Ku bunuh kalian!" Teriak Ardi dengan sangat marah.


Bugh..! Belum hilang gema suaranya, sekali lagi pukulan mendarat di bagian punggungnya.


Ketika Ardi terjatuh, pukulan demi pukulan pun langsung hinggap di tubuhnya.


Seperti memukul kasur yang dijemur, suara itu membuat Arda yang keadaannya juga tidak jauh berbeda, memaksa dirinya untuk berlari dengan niat untuk menolong adiknya. Tapi apa sial? Baru satu langkah, tiba-tiba tongkat kayu menghantam tepat di bagian perutnya, membuatnya terbungkuk menahan mual.


Bugh...! Satu lagi pukulan menghantam tempat yang sama, membuat darah segar menyembur dari mulut Arda.


"Matilah kalian berdua!" Teriak mereka dengan marah. Tapi, begitu mereka akan memukul bagian tubuh kedua orang itu di bagian yang mematikan, tiba mereka menyipitkan mata menahan silau dari cahaya lampu yang dengan sengaja ditembakkan ke arah mereka.


"Sial. Siapa lagi yang mencari mati?" Maki mereka dengan geram.


Mereka lalu serentak menyipitkan mata, lalu menatap ke arah cahaya yang ternyata dari kendaraan roda empat yang dipimpin oleh seseorang yang mengendarai sepeda motor.

__ADS_1


"Tuan muda. Apa kita sudah boleh ikut campur?"


Penunggang sepeda motor itu mengangguk pelan. Kemudian, dia segera turun dari sepeda motornya, lalu berjalan dengan tenang menuju ke kerumunan.


"Siapa kau hah? Jangan ikut campur, atau kau akan menyesal!" Ancam ketua dari gerombolan orang-orang yang menyerang Ardi dan Arda.


"Aku tidak suka banyak bicara. Tapi, aku menginginkan nyawa kalian semua untuk mengirim pesan kepada Jhonroy, bahwa aku menantang dia untuk melakukan tindakan terhadapku!"


"Cari mati? Baik. Aku akan dengan senang hati memberikan kematian kepadamu!"


Selesai berkata demikian, lebih dari sepuluh orang lelaki segera mengepung pemuda itu. Akan tetapi, belum sempat mereka beraksi, pemuda itu sudah bergerak duluan, kemudian mengirimkan tendangan kilat. Setiap satu tendangan, satu orang yang terjatuh. Hal ini tentu membuat orang-orang yang masih mengepung Arda dan Ardi mengalihkan pandangan mereka.


"Sialan. Orang ini tidak lemah!"


Seolah-olah melupakan Ardi dan Arda yang saat ini sudah pasrah pada kematian, mereka semua bergegas bersama-sama menuju pemuda itu.


Beberapa meter lagi mereka akan tiba, anak muda itu langsung memberikan aba-aba.


Entah dari mana datangnya, tiba-tiba dari berbagai arah kini bermunculan lelaki berpakaian hitam, kemudian mengepung mereka.


Andai ini di siang hari, maka akan terlihat kepanikan di wajah setiap dari mereka. Ini karena, mereka yang tadinya sudah sepersekian detik untuk berhasil, namun sepertinya ini tidak akan mudah. Mereka tidak dapat menerima pergantian peristiwa yang begitu cepat.


"Bereskan!"


Begitu suara pemuda itu hilang, kini orang-orang yang muncul dari berbagai arah tadi langsung menyerang.


Kelasnya jelas berbeda. Mereka hanyalah preman bayaran. Sedangkan orang-orang yang baru tiba tadi jelas adalah kelompok gengster yang tidak asing lagi di jalanan.


Pertarungan yang timpang itu selesai tidak lebih dari sepuluh menit.


Banyak orang yang tergeletak di tanah dengan cedera berat. Andai mereka sembuh, kemungkinan untuk seperti sediakala sangat tipis. Mereka mungkin masih hidup, akan tetapi mereka kemungkinan juga akan cacat.


Satu-satunya orang yang masih berdiri dari pihak lawan adalah seorang lelaki yang bertugas untuk menjaga Merisda. Dia gemetar ketakutan ketika pemuda yang telah melepaskan helm yang dia kenakan, berjalan mendekatinya. Bagian bawah celananya sudah basah oleh air seni.


"Kau mau selamat?"


Lelaki itu semakin ketakutan. Dia tiba menjatuhkan dirinya berlutut dihadapan pemuda itu.


"Jangan. Tolong jangan bunuh aku!"


"Dengarkan kata-kata ku! Pulanglah dan temui Jhonroy. Katakan kepadanya bahwa jika dia dan orang-orangnya berani melewati perbatasan Tanjung Karang dengan niat buruk, maka dia tidak akan bisa kembali lagi ke kota L. Aku akan mengubur mereka di sini!"


"Ba.., baik. Baik. Aku akan menyampaikan pesan mu. Tapi, jika dia bertanya kepada ku siapa yang mengirimkan pesan, aku harus menjawab apa?" Tanya lelaki itu masih tetap ketakutan.

__ADS_1


"Namora Habonaran!"


"Baik. Terimakasih telah mengampuni selembar nyawaku!"


"Pergi. Jika dalam hitungan ke tiga kau tidak pergi, kepala mu yang akan sampai kepada Jhonroy!"


"Satu..!" Namora mulai menghitung. Tapi, sebelum dia menghitung yang ke dua, lelaki itu telah lenyap dari pandangannya.


"Zack.., bersihkan!"


"Baik, Tuan muda!" Jawab Zack yang langsung memberi kode kepada anak buahnya.


Kerja cepat pun dilakukan. Dan kini, jalanan sudah bersih seperti sedia kala dengan orang-orang yang sudah mati dan masih hidup, di tindih jadi satu didekat semak-semak perkebunan kelapa sawit.


"Namora?!"


Namora memalingkan wajahnya ke arah datangnya suara. Kini, dia melihat bahwa Merisda tertatih datang kearahnya.


Namora membeku. Dia tidak tau harus berbuat apa. Apakah dia akan membantu memapah gadis itu, atau hanya membiarkan saja.


"Terimakasih, Namora!"


Merisda berusaha mendekati Namora. Lalu, dia memegang kedua pipi pemuda itu dengan kedua tangannya. Namun, yang membuatnya heran adalah, Namora seperti tunggul kayu yang tidak memiliki ekspresi.


Jika dulu Namora diperlakukan seperti itu, maka Namora akan berjingkrak-jingkrak kesenangan. Tapi itu dulu. Dan yang ada dihadapannya ini adalah Namora yang sudah mati rasa.


Zack, dengan ragu mendekati Namora, kemudian bertanya. "Apa yang harus kita lakukan kepada dua orang itu? Mereka adalah Arda dan Ardi,"


"Masih hidup?"


"Masih, Tuan muda. Mereka hanya pingsan," jawab Zack.


"Paksa agar mereka sadar. Kota ini sudah tidak aman bagi mereka. Kecuali Jhonroy mati, barulah mereka bisa kembali ke kota Batu ini,"


"Namora. Siapa kau sebenarnya?" Baru kali ini Merisda seperti tersadar bahwa Namora yang dulu sangat berbeda dengan Namora yang ada dihadapannya ini. Dia tidak dapat mencerna perubahan pada diri Namora. Sifatnya bagai langit dan bumi dari Namora yang dia kenal dulu. Apa lagi dia mendengar bahwa Zack menyebut dirinya sebagai Tuan muda. Siapa sebenarnya Namora ini.


"Aku adalah anak seorang narapidana, yang dibentuk oleh kekejaman yang kalian lakukan. Penghinaan apa yang belum pernah aku terima? Kekerasan seperti apa yang belum aku dapatkan? Kau lebih tau tanpa harus aku yang menguraikan semuanya kan?" Namora menjawab pertanyaan Merisda sembari menjauhkan tangan gadis itu dari wajahnya.


"Mora..!"


"Abang mu sudah siuman. Cepat pergi! Atau, semuanya akan terlambat?!"


Namora memutar tubuhnya, kemudian berjalan cepat menuju sepeda motornya.

__ADS_1


Tak lama setelah itu, suara mesin mengaum disusul dengan lesatan sepeda motor menembus kegelapan.


Bersambung...


__ADS_2