Namora

Namora
Skema matang seorang Jerry William


__ADS_3

"Aneh. Benar-benar aneh," gumam Tuan Syam tidak mengerti.


Gumaman dari Tuan Syam ini membuat seorang lagi lelaki tua yang tadi duduk di sampingnya menatap lurus ke arah wajah Jerry.


"Apa kau ingin memainkan teka-teki dengan kami hah?" Bentaknya dengan gusar.


"Sabar Drako! Kau seperti tidak tau saja dengan menantu mu yang baik hati ini," kata Tuan Syam mencoba menenangkan Drako.


"Dia ini terlalu sialan. Itu yang membuat ku ingin menjitak kepalanya!" Drako yang terkenal dengan sifatnya yang tidak sabaran dan selalu berapi-api memasang wajah angker seolah-olah kemarahannya bisa meledak kapan saja. Tapi, memang begitulah wataknya yang cepat panas. Padahal, hatinya baik. Jika baru mengenal Drako ini, maka orang itu mungkin sudah cepirit di celana melihat kegarangannya.


Jerry masih tetap tersenyum seolah-olah sedang membiarkan kedua orang tua yang sangat dia hormati itu menebak apa sebenarnya rencana yang sedang dia susun.


"Cepatlah ceritakan apa yang kau rencanakan. Atau.., nih!" Kata Drako lagi sambil mengacungkan tinjunya.


"Mengapa ayah begitu terburu-buru ingin mengetahui apa rencana ku?" Tanya Jerry dengan lagak tengilnya.


"Aku berhak tau. Aku dan Syam berhak mengetahui. Karena, dua orang yang kau kirim itu bukanlah sembarang orang. Yang satu pembunuh, yang satu pengintai. Sepasang hitam itu telah menempati peringkat atas di dalam Tiger Syam di kelas bintang dua," sergah Drako.

__ADS_1


Jerry menarik nafas pasrah. Tampaknya, dia tidak akan mungkin bisa merahasiakan apapun dari kedua orang tua ini. Bukannya rahasia dan rencana yang dia atur dapat di tebak, melainkan dirinya mendapat paksaan agar membeberkan setiap kali dia mengatur rencana.


", Baiklah..!" Kata Jerry William dengan pasrah. Kemudian dia melanjutkan. "Namora, putra dari Tigor sedang membuat masalah dengan tiran lokal di kota L. Jadi, aku berinisiatif untuk mengirim Black shadow dan Black Eagle untuk melindungi anak itu diam-diam,"


"Itu kami sudah tahu. Akan tetapi, yang tidak kami ketahui, namun sangat membuat aku heran adalah, mengapa kau sibuk menjaga keselamatan anak Tigor, sedangkan keselamatan anak mu sendiri tidak kau jaga?" Bentak Drako.


"Itulah yang tidak ayah ketahui. Cara berpikir ayah memang sangat kuno. Sudah tidak bisa di upgrade lagi. Baik. Akan aku ceritakan alasanku yang sebenarnya," kata Jerry sambil mengibaskan tangannya menyuruh semua pengawal yang berada baik itu di ruangan maupun di pintu aula untuk pergi meninggalkan mereka.


Setelah dipastikan bahwa sudah tidak ada lagi pengawal yang berada di tempat itu, Barulah Jerry memulai penjelasannya. "Ayah.., dan Tuan Syam. Aku sebenarnya telah lama ingin mengatur skema kekacauan yang bisa menarik perhatian dari Arold holding company. Hanya saja, aku tidak menyangka akan secepat ini dan dilakukan pula oleh orang-orang bawahan ku di kota Kemuning. Memang, seandainya tidak mereka lakukan pun, aku tetap akan mengaduk-aduk kolam dangkal di sana. Tapi itu baru akan aku lakukan setelah Joe mengetahui siapa dirinya dan apa beban yang akan aku letakkan dipundaknya. Tapi sekali lagi aku katakan, hal ini terlalu cepat. Setidaknya lebih cepat enam bulan dari perencanaan yang ku buat," tutur Jerry William.


Rencana pertama yang dilakukan oleh Jerry adalah, mengalihkan perhatian keluarga Miller untuk melirik pasar di Indonesia. Yang ke dua, melalui Leo yang menjadi mata-mata di keluarga Miller itu, dia sengaja menghembuskan kabar bahwa Joe putra Jerry William saat ini sedang berada di Indonesia tepatnya di Sumatera Utara. Setelah mereka melirik ke Indonesia, barulah Jerry akan mengaduk-aduk pasar bisnis di sana dan keluarga Miller pasti akan memusatkan fokus mereka ke sana seolah-olah Jerry buta terhadap lumbung emas yang terdapat di salah satu negara Asean tersebut.


Tuan Syam seolah-olah berpikir. Dia mencoba menghubungkan antara sikap dan karakter Jerry, apa yang dia katakan tadi, serta orang-orang yang dia kirim ke kota Kemuning. Kemudian dia mencoba menebak.


"Apakah kau ingin menjadikan kota Kemuning sebagai medan perang antara kau dan keluarga Miller?"


Jerry mengangguk, kemudian menjawab. "Aku telah mempelajari cara kerja dari keluarga Miller ini. Ayah dan Tuan Syam pasti tau seperti apa cara kerja mereka. Bahkan mereka menganut paham bahwa musuh dari musuh adalah teman. Lihatlah bahwa mereka merekrut Tuan Paul, Diana Regnar dan Frank Regnar. Belum lagi mereka mempekerjakan semua mantan orang-orangnya Ramendra. Siapa saja yang dekat dengan Future of Company adalah musuh bagi mereka dan akan mereka hancurkan dengan berbagai cara. Jadi, Namora ini telah membuka jalan bagi kita untuk menarik perhatian mereka ke Indonesia," kata Jerry menjelaskan.

__ADS_1


"Kata-kata mu tentang rencana ini sepertinya terdengar sangat sederhana. Akan tetapi, sangat sulit untuk diimplementasikan. Aku tidak tau darimana rasa percaya diri mu sehingga kau sangat optimis bisa memancing mereka ke Sumatera Utara?!"


"Itulah perbedaan cara berpikir Gangster dengan pebisnis. Ayah mungkin tidak bisa melihat celahnya. Akan tetapi, bagiku, ada ratusan celah untuk memuluskan skema yang telah aku persiapkan. Salah satunya adalah, membuat lawan Namora ini bangkrut dengan cara mengadu mereka untuk berperang di pasar saham. Menurut informasi yang aku dapat, Martins Group kota Kemuning sedikit berada di bawah Agro finansial Group. Ini adalah modal utama yang membuat Agro finansial Group percaya diri untuk menekanl nilai jual saham milik Martins Group cabang kota Kemuning. Mungkin ayah tau apa yang paling menakutkan dari sebuah peperangan?" Tanya Jerry dengan serius.


"Kalah dari lawan yang dianggap rendah adalah kekalahan yang menakutkan sekaligus memalukan. Pukulan seperti ini sangat menyakitkan karena tidak terpikirkan sebelumnya. Berarti..?" Drako menatap wajah Jerry lekat-lekat, kemudian seperti tercerahkan, dia kembali berkata. "Kau akan membantu Martins Group kan?"


Jerry mengangguk pelan. Ada seulas senyuman jahat disudut bibirnya yang dihiasi kumis tipis.


"Kalau kau membantu Martins Group, itu sah-sah saja. Akan tetapi, apa hubungannya dengan keluarga Milner dan Arold holding company milik mereka?" Kini giliran Tuan Syam pula yang bertanya. Dia tau arahnya, hanya saja, dia ingin lebih mengetahui lagi apakah tebakannya benar atau ada sesuatu yang lain yang direncanakan oleh Jerry.


"Seperti yang aku katakan tadi. Keluarga Miller selalu menganggap bahwa musuh dari musuh adalah sahabat. Aku juga sudah mengetahui bahwa mereka juga sudah melakukan pendekatan kepada Marven yang masih berada di penjara Kota Batu. Akan tetapi, mereka harus bersabar menunggu Marven itu keluar dari penjara. Apakah menurut Ayah dan anda Tuan Syam, mereka tidak memata-matai kita? Begitu juga dengan Agro finansial Group. Ketika kita ikut campur dalam masalah Martins Group cabang kota Kemuning, mereka pasti akan segera mencari tahu seluk beluk tentang Future of Company.


Aku tidak sabar menunggu perhatian Arold holding company terpecah antara proyek mereka di Garden Hill, atau peperangan bisnis yang melibatkan Future of Company di Sumatera Utara. Begitu perhatian mereka bercambang, aku akan menarik Joe kembali ke Starhill dan menyerang mereka dengan kekuatan penuh. Ketika itu terjadi, mereka terpaksa harus meninggalkan MegaTown dengan perasaan terhina,"


"Oh ya. Aku juga harus menghubungi Joe agar dia bisa ikut berpartisipasi dalam pesta penyambutan kebebasan Tigor dari penjara yang tidak akan lama lagi. Joe harus tau siapa dia dan apa statusnya yang sebenarnya. Dengan begitu, aku akan meminta Joe untuk membuat keributan kecil di Tower Mall sehingga lebih menarik perhatian lagi. Ketika Tigor bebas dari penjara, aku akan menyuruh Joe untuk lebih mencolok agar musuh di MegaTown segera mengejarnya. Dengan cara kerja dari Tigor, mereka yang akan mencelakai Joe pasti akan mati tanpa kuburan," kata Jerry lagi dengan sangat bersemangat.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2