Namora

Namora
Ameng akan membawa Namora ke kota Kemuning


__ADS_3

Pusat tahanan kota Batu.


Tigor baru saja selesai tertawa. Wajahnya terlihat memerah karena sejak tadi terus tertawa. Sepertinya suasana hatinya saat ini sangat baik. Hanya saja, ketika Tigor tertawa, wajah Ameng tampak sangat cemberut.


Ameng sengaja mengunjungi Tigor untuk menceritakan apa saja yang dilakukan oleh Namora. Dimulai dari mengajak anak itu ke sebuah tempat pertarungan bebas, sampai pada dia menolong sahabatnya hingga berkelahi, kemudian dia juga menceritakan bahwa Namora menabrak mobil milik orang lain dan kini mobil miliknya menjadi rusak berat di bagian depan.


Ketika Tigor mendengar cerita dari Ameng ini, Tigor tampak sangat bahagia sekali. Dia tidak berhenti tertawa. Ada rasa bangga, lucu, dan juga sedih melihat ekspresi Ameng. Dia tau pasti anaknya membuat Ameng mengalami kerugian.


Setelah puas tertawa, Tigor akhirnya memasang wajah serius, lalu berkata. "Meng. Ternyata tidak sia-sia ketika aku tidak memanjakan anak itu. Kau lihat sekarang kan? Kepribadian anak itu sudah mulai terbentuk!"


Ameng mengangguk perlahan. Dia juga memikirkan hal yang sama. Tapi sedikit berbeda dengan Tigor dalam menyikapi temperamen Namora ini.


"Bang. Aku merasa bahwa Namora ini lebih kejam dari dirimu. Jika Abang kejam, tapi masih mau bercanda dengan sahabat. Namora ini, dia bukan hanya kejam, tapi berdarah dingin. Dia tidak sungkan menyakiti orang lain. Aku khawatir kelak dia akan membuatmu banyak musuh!" Ameng mengatakan apa yang menjadi ganjalan di dalam hatinya. Ketika melihat bahwa tadi malam Namora berani berkelahi dan memukul pengawal Willi, dia sedikit merasa tertekan. Andai dia tidak ada dan menghentikan Willi, sudah pasti orang itu akan terus memburu Namora.


Tigor menggelengkan kepalanya secara spontan. "Musuh? Sejak kita berkecimpung di jalan ini, kita bahkan sudah menyemai musuh di berbagai tempat. Walaupun kita tidak mencari, mungkin orang lain yang akan mencari gara-gara kepada kita. Apa yang perlu dikhawatirkan? Kau ingat seperti apa aku memperlakukan Marven? Bukankah aku baik terhadap dirinya? Tapi apa akhirnya? Tanya Tigor yang kurang setuju dengan pendapat Ameng.


"Huh. Memang sangat sulit untuk menjadi sempurna. Menurut Abang, apakah Namora ini sudah bisa diperkenalkan sebagai anakmu?" Tampaknya Ameng juga sudah merasa cukup. Dia juga sangat kasihan kepada Namora. Nyaris anak itu tidak pernah merasa bahagia dalam pergaulannya dengan anak-anak yang sebaya dengannya.


"Sudah sejauh ini. Aku rasa memang sudah waktunya. Kau hanya bisa melakukannya dengan cara bertahap. Aku khawatir ibarat orang haus bertemu air. Dia akan meminum terlalu banyak dan akhirnya kembung. Ingat seperti apa dulu aku memperlakukan Ucok dan ketiga orang lainnya?" Tanya Tigor. Dia ingat dulu seperti apa dia memperkenalkan dunia baru kepada Sugeng, Ucok, Thomas dan Jabat.

__ADS_1


Awalnya dia memindahkan mereka ke rumah staf dunia gemerlap malam. Baru kemudian secara perlahan pindah lagi untuk menempati rumah di kawasan perumahan blok B. Andai ketika itu tidak bertahap, kemungkinan Ucok dan yang lainnya akan mati terkejut. Bayangkan saja dari tinggal di bawah jembatan, tiba-tiba memasuki rumah mewah tiga lantai. Pasti kaget lah.


Ameng mengangguk. Dia tau apa yang harus dia lakukan. Dia akan memperkenalkan Namora terlebih dahulu kepada kerabat dekat Tigor di kota Kemuning. Kemudian memperkenalkan Namora kepada seluruh staf dan bawahan di perusahaan. Barulah setelah itu dia akan membawa Namora lebih dalam dan bersentuhan dengan cabang Dragon Empire yang bermarkas di kota Kemuning.


"Apa kau sudah mendapatkan gambaran apa yang akan kau lakukan?" Tanya Tigor ketika melihat Ameng terdiam sekian lama.


"Sudah bang. Sepertinya Namora juga sudah banyak belajar. Aku tidak khawatir dan yakin bahwa Namora akan sangat cepat menyesuaikan diri. Dia sebenarnya tidak bodoh. Anak itu cukup pintar. Hanya saja, semangat pada dirinya ditekan oleh keadaan. Andai tidak, kemungkinan dia bisa lebih mengekspos diri," jawab Ameng.


Memang semuanya telah dipikirkan oleh Tigor. Andai Mirna tidak berkeras untuk menjauhkan Namora dari lingkungan kota Kemuning, sudah pasti tidak akan seperti ini. Namun, Tigor juga mendapatkan hikmah dari semua ini.


Tigor hanya bisa tersenyum, lalu mengatakan. "Bagus. Kepribadian sudah terbentuk. Anak itu sudah tahan banting. Basis bela diri sudah kokoh. Nyali juga besar. Tidak punya rasa kasihan. Anak itu ditempah oleh keadaan yang tidak ramah untuk dirinya. Paket komplit untuk menjadi penerus seorang Tigor,"


"Semuanya aku serahkan kepadamu!" Tigor sangat mempercayai Ameng. Dia memang sangat dapat diandalkan.


"Satu lagi!" Kata Ameng dengan senyuman yang sangat jahat.


Melihat senyum dari bibir Ameng, Tigor mengernyitkan alisnya. "Apa lagi?" Tanya nya setelah itu.


"Kerusakan mobil ku. Biaya perbaikannya mungkin akan menelan jumlah minimal lima puluh juta rupiah. Aku akan membebankan uang tersebut ke dalam pengeluaran perusahaan. Aku tidak mau rugi!" Jawab Ameng sembari tersenyum yang dia buat semanis mungkin.

__ADS_1


"Kau memang brengsek!" Tigor mengelus dada.


Ameng hanya tertawa. Dia suka membuat Tigor jengkel setengah mati. Hanya uang segitu saja, dia malah tidak kekurangan uang. Tapi dasar Ameng. Jika tidak seperti itu, dia tidak akan puas.


Tigor hanya bisa menarik nafas dalam-dalam. Dia tidak ingin terlalu perhitungan dengan Ameng. Jika tidak ada mereka semua, kemungkinan Tigor akan mati kutu saat ini. Apa lagi dia berada dipenjara bukan dalam waktu yang singkat. Selama ini, mereka lah yang selalu bertanggung jawab atas keluarganya.


"Aku pergi dulu bang. Kau baik-baik di sini ya! Jangan mematahkan kaki orang lagi! Atau masa hukuman mu akan bertambah lagi!" Ejek Ameng. Dia tau seharusnya Tigor sudah bebas andai dia tidak mematahkan kaki sesama narapidana. Karena kelakuannya itulah mengapa dia tidak mendapatkan remisi dan terpaksa menjalani hukuman penuh di dalam penjara.


"Aku tau apa yang harus aku lakukan. Generasi penerus sudah ada. Aku tidak khawatir dengan diriku!" Jawab Tigor dengan nada menyepelekan.


"Abang jangan gitu. Ingat bang! Abang sudah berjanji dengan Namora kalau kau akan bebas ketika dia masuk SMA. Dia sudah mulai menagih. Kelak jika dia datang mengunjungi dirimu, aku yakin Abang tidak akan punya alasan lagi!" Ameng memperingatkan kepada Tigor tentang janjinya kepada Namora beberapa tahun yang lalu.


"Iya. Kau tenang saja. Sekarang kita selesaikan dulu selangkah demi selangkah. Kau urus dulu Namora itu. Jangan menekan ku dengan kata-katamu barusan," Tigor tampak mengelak. Dia memang sudah berjanji. Untung Namora tidak menuntut janjinya itu secara langsung.


Ameng mengangguk.


Dia segera berpamitan kepada Tigor untuk mengajak Namora berangkat bersamanya ke kota Kemuning. Baginya, sudah saatnya Namora mengetahui siapa dirinya agar tidak lagi disepelekan oleh orang-orang yang berada disekitarnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2