
Kampung baru
Di sebuah bangunan besar dengan lapangan latihan yang cukup luas, terlihat beberapa anak-anak remaja sedang duduk berkelompok-kelompok. Beberapa diantaranya terlihat masih berkeringat menandakan bahwa mereka baru saja selesai dari aktivitas mereka masing-masing.
Di salah satu pojok yang masih di sekitar area lapang tersebut, terlihat empat orang anak remaja sedang berbincang-bincang sesama mereka. Keempat anak remaja itu adalah Diaz, Ruben, Dudul dan Rudi.
Dengan lagak angkuhnya, Diaz yang memang terkenal sangat sombong dan suka membanggakan penampilannya, berulang kali menunjukkan otot-otot tubuhnya dihadapan ketiga sahabatnya yang sejak sekolah dasar selalu bersama dengannya.
Tidak jarang dia sering mencari gara-gara dengan anak-anak yang lainnya ketika sudah berada di luar dari pusat latihan itu.
Sebenarnya dimana mereka saat ini, dan apa yang mereka lakukan di tempat ini?
Tiga tahun yang lalu, seorang praktisi beladiri keturunan Jepang membuka pusat latihan karate di kampung baru ini. Dan pusat latihan ini dinamakan Dojo menurut bahasa Jepang.
Ketika itu, seluruh anak-anak dari kampung Baru berbondong-bondong ingin mendaftar menjadi murid di Dojo ini. Termasuk lah Namora, Diaz, Ruben, Dudul dan Rudi. Namun, Namora batal menjadi murid di Dojo ini karena keburu dijahili oleh keempat sekawan tersebut sehingga Namora di usir dari Dojo ini tanpa sempat mendaftar sebagai murid. Hal ini lah yang membuat Namora terpaksa berpindah-pindah mencari guru agar bisa membalas semua penghinaan yang dia terima dari Diaz cs tersebut.
***
"Ruben! Coba kau lihat otot-otot tangan ku ini! Hahaha. Kau lihat saja betapa kuatnya aku!' ujar Diaz sambil mengepalkan kedua tangannya sehingga urat-urat pada tangannya bertonjolan.
"Ya. Memang diantara kita berempat, kau lah yang paling menonjol dan paling diandalkan oleh master," jawab Ruben. Terdengar sedikit datar suaranya yang menandakan bahwa dia merasa iri dengan pencapaian yang diperoleh oleh Diaz.
"Terus terang saja. Aku iri padamu!" Kata Dudul pula.
__ADS_1
Sebenarnya, mereka berempat bisa dikatakan seimbang. Hanya saja, Diaz memang sedikit lebih ekstra dalam latihan. Karena, dia memiliki tujuan untuk memenangkan kejuaraan pencak silat yang akan diadakan di SMP tempatnya belajar.
Niatnya adalah, mengukir nama terlebih dahulu sebelum menduduki bangku SMA. Jika dia bisa memenangi pertandingan di SMP, maka kesempatan untuk terpilih sebagai salah satu wakil untuk SMA tempat dia belajar kelak akan sangat terbuka. Karena itu adalah obsesinya. Dia ingin menjadi jagoan tanpa tanding.
"Kalau kau iri, mengapa kau tidak latihan secara ekstra? Lihat sekarang seperti apa aku! Tidak ada di perguruan ini yang berani terhadap diriku. Berani melawan, akan aku pastikan anak itu bakalan menyesal," sombong sungguh perkataan dari Diaz ini.
Beberapa anak-anak remaja lainnya mendengar apa yang diucapkan oleh Diaz. Tapi mereka pura-pura tidak mendengar, karena khawatir dengan tindak balas yang akan dilakukan oleh pemuda songong itu.
"Apa kau yakin ingin mengikuti kejuaraan pencak silat di SMP kita?" Tanya Rudi sekedar ingin tau.
"Mengapa? Apa kau meragukan kemampuan ku?" Bukannya menjawab, malah Diaz balik bertanya.
"Aku tidak ragu. Hanya saja, aku juga tertarik mengikuti turnamen itu," jawab Rudi seadanya.
"Kau akan menjadi lawan ku jika kau mengikuti turnamen itu," tegas Diaz tanpa menjaga perasaan sahabatnya.
"Mengapa, Rudi? Jika kau bersikeras untuk ikut serta dalam kejuaraan itu, maka tidak ada pilihan selain harus saling mengalahkan. Aku belajar karate bukan untuk hal yang sia-sia. Melainkan, untuk menjadi yang terkuat. Jika ada yang menghalangiku, pasti akan aku singkirkan!" Kembali Diaz menebarkan ancamannya.
"Apa salahnya? Kalian boleh mengikuti turnamen itu. Andai kalian nanti bertemu di final, anggap saja itu adalah latihan. Kalian bisa bertarung di gelanggang. Namun, kalian jangan lupa bahwa kita adalah sahabat!" Ujar Dudul pula menengahi ketegangan diantara Rudi dan Diaz yang tampak tidak mau mengalah.
"Benar kata Dudul itu. Mengapa kita terlalu kaku seperti ini. Toh kita ini kan sudah bersahabat sejak di sekolah dasar? Siapapun yang akan menang diantara kalian berdua, tentu akan sangat membanggakan perguruan kita!" Giliran Ruben pula yang bicara.
"Kalian berbicara tentang menang dan kalah diantara kami berdua. Seolah-olah kalian berdua berfikir bahwa kami lah yang terkuat. Jangan seperti katak di bawah tempurung! Kita belum tau seperti apa kekuatan dari sekolah menengah pertama yang lainnya. Aku muak dengan kesombongan yang selalu dipraktekkan di depan mataku. Padahal, Master selalu berpesan bahwa kesombongan itu dapat memakan diri sendiri," kata Rudi sembari berdiri. Lalu, tanpa menghiraukan ketiga temannya yang mendelik tajam kearahnya, dia langsung saja meninggalkan mereka menuju ke aula besar di bangunan Dojo tersebut.
__ADS_1
"Sialan si Rudi ini. Apa maksudnya dengan kata-kata yang baru saja dia ucapkan? Apakah dia sudah bosan menjadi sahabatku?" Tanya Diaz dengan gusar. Terlihat jelas pada wajahnya, bahwa dia sangat tersinggung dengan perkataan yang diucapkan oleh Rudi tadi.
"Sudahlah, Diaz! Mungkin dia sedang ada masalah. Jangan terlalu perhitungan dengan sahabat," kata Dudul pula dengan maksud meredakan kemarahan di hati Diaz.
Sementara itu, dari dalam ruangan, tampak Rudi berjalan sambil menyandang tas miliknya. Dia terus saja berjalan melewati ketiga orang sahabatnya itu. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Bahkan, menegur pun tidak. Dia terus melangkah menuju ke arah pintu, lalu menghilang dibalik pintu tersebut.
"Benar-benar deh si Rudi ini," gusar sungguh hati Diaz melihat tingkah Rudi tadi.
"Sebenarnya, kau yang terlalu menekannya. Turnamen itu terbuka untuk siapa saja yang memiliki kemampuan. Tidak ada salahnya untuk ikut serta. Jika menang, berarti apa yang kita pelajari selama ini tidak sia-sia. Andai kalah, jadikan sebagai motivasi untuk terus berusaha menjadi lebih baik lagi,"
"Kau membelanya, Ruben?" Bentak Diaz yang mulai hilang kesabaran.
"Aku tidak membela siapa-siapa. Aku hanya membela persahabatan kita. Jangan karena ego masing-masing, persahabatan kita selama sembilan tahun ini hancur. Rudi itu bukan Namora yang bisa kau tindas sesuka hatimu. Jika dia marah, dan mengadukan kepada ayahnya, bisa celaka kau!" Kata Dudul lagi memperingatkan.
Mendengar perkataan Dudul, Diaz hanya bisa menelan ludahnya. Dia jelas tau siapa ayah Rudi. Ayah Rudi adalah Ganjang. Salah satu dari sekian orang yang berpengaruh di kota batu dan sekitarnya selain Panjul dan Mokmok.
"Sudahlah. Sebaiknya mari kita pulang. Latihan pun sudah selesai. Masih ada waktu. Kita bisa memanfaatkan waktu luang untuk bermain futsal," ajak Ruben sembari berdiri lalu menarik tangan Diaz untuk ikut berdiri.
"Ya sudah. Kau ajak Rudi! Kita main di lapangan samping kafe milik bang Dhani!"
"Main futsal ke kota Batu?" Tanya Dudul tercengang.
"Sesekali tak apa. Ayo buruan!" Ajak Diaz.
__ADS_1
Ketiga anak remaja itupun langsung berjalan menuju ke luar dimana tadi Rudi menghilang meninggalkan mereka.
Bersambung...