
Setelah pakaian Namora dikenakan, kini pak Harianto mulai mengambil sebutir pil lagi dari sakunya, kemudian memasukkannya ke dalam mulut Namora.
Sama seperti sebelumnya, bahwa hanya pada hitungan detik saja, pil itu sudah larut dan mencair di dalam mulut Namora.
Sudah hampir sepuluh menit. Namun, tidak ada perubahan pada diri Namora. Hal ini tentu saja membuat mereka semakin cemas.
Walaupun pak Harianto sekuat tenaga menekan kekhawatirannya, tapi itu tak urung membuat keningnya berkerut dalam.
Rio yang tampak lebih cemas menatap bergantian antara wajah Namora ke wajah pak Harianto. Dia ingin kembali bertanya, tapi mengingat bahwa pertanyaan seperti itu sudah berulangkali dia tanyakan, akhirnya dia hanya bisa menunggu tanggapan dari pak Harianto.
Ditengah kecemasan yang mereka rasakan, tiba-tiba handphone milik Rio berdering.
Setelah melihat nama si penelepon, ekspresi wajah Rio semakin cemas. Karena, saat ini yang menelepon dirinya adalah Tigor. Dia tidak tau harus menjawab apa andai Tigor menanyakan tentang kondisi Namora.
"Siapa?" Tanya Pak Harianto melirik sedikit kearah Rio.
"Abang ku menelepon," jawab Rio.
"Jawab saja. Ceritakan apa yang perlu,"
Rio mengangguk, kemudian menjawab panggilan tersebut.
"Halo bang?!" Kata Rio setelah menggeser layar menjawab panggilan.
"Rio. Ngapain kau saat ini?" Tanya Tigor diseberang sana.
"Ini bang. Kami sedang melakukan pengobatan untuk Namora sesuai petunjuk dari Joe," jawab Rio apa adanya.
"Lalu?" Tanya Tigor. Nadanya tidak menekan, justru terkesan tenang. Dan ini diluar ekspektasi Rio.
"Blm ada tanda-tanda Namora akan siuman. Ntah bagaimana ini. Aku dan pak Harianto sangat mengkhawatirkan Namora,"
"Semuanya memerlukan proses. Kau harus bersabar. Mana ada orang sakit diberi obat langsung sembuh," kata Tigor masih mempertahankan ketenangannya.
Baru saja Rio ingin mengatakan sesuatu, tapi dia menelan kata-kata yang ingin dia ucapkan begitu melihat bahwa perut Namora sedikit membusung. Ada suara cacing terdengar seperti orang yang sedang kelaparan.
"Pak instruktur," kata Rio memanggil pak Harianto.
Pak Harianto segera bergegas, kemudian memperhatikan tubuh Namora.
Tiba-tiba tubuh Namora sedikit mengejang, kemudian...,
"Hoeeek..,"
__ADS_1
Dari mulut Namora, tampak mengeluarkan busa berwarna kehitaman. Semakin banyak.., semakin banyak. Yang tidak mengenakkan adalah, busa kehitaman itu berbau sangat busuk.
"Rio. Apa yang terjadi?" Tanya Tigor di seberang sana.
"Namora seperti mau muntah, bang. Tapi bukan muntah melainkan mulutnya mengeluarkan busa kehitaman," jawab Rio menjelaskan yang terjadi saat ini.
Mirna dan istri Rio yang sudah terkantuk-kantuk di sofa juga mendadak bangun dengan wajah kelelahan dan kekhawatiran.
Dia melangkah ke arah tempat tidur, kemudian bertanya. "Ada apa dengan Namora, Rio?"
"Kak. Lihat! mulut Namora terus mengeluarkan busa,"
Mirna bergegas memasuki kamar. Mengeluarkan saputangan kemudian terus mengelap busa yang keluar dari mulut Namora.
Lebih sepuluh menit kejadian seperti itu terjadi. Setelah itu..,
"Hoeeek..!"
Mirna terkejut bukan main ketika dia hendak kembali mengelap, tiba-tiba kepala Namora miring ke kanan dan dari mulutnya menyembur cairan kehitaman berbau busuk. Sedangkan dari dahinya mulai berkeringat.
"Namora..! Namora anak ku!" Pekik Mirna tidak kuasa menahan perasaannya.
Sedang saat ini, Namora sudah memuntahkan cairan terakhir sebelum kembali tenang. Hanya saja, tubuhnya saat ini basah oleh keringat sehingga pakaian yang dia kenakan bisa di perah.
"Keringat ini tidak wajar. Seperti orang habis melakukan pekerjaan yang berat," gumam pak Harianto sebelum memerintahkan agar Namora dipindahkan ke sofa dan mengganti kasur yang telah basah oleh keringat Namora barusan.
Kerja cepat dilakukan tanpa dikomandoi. Mereka seolah-olah sudah mengerti tugas masing-masing.
Setelah kasur di ganti, kini tubuh Namora kembali diletakkan di atas tempat tidur.
"Namora..," Mirna membelai rambut Namora dengan air mata terus berlinang.
*********
Keempat orang yaitu Pak Harianto, Rio bersama istrinya dan Mirna begadang untuk merawat Namora.
Tepat pukul tiga subuh, mata Namora perlahan terbuka. Dan begitu dia membuka matanya, orang yang pertama dia lihat adalah Mirna.
"Ibu..," panggil Namora lemah.
Suara panggilan Namora ini mengejutkan Mirna yang setengah mengantuk. Rio dan yang lainnya juga mendengar suara panggilan Namora barusan.
Mereka berempat segera memperhatikan ke arah Namora yang perlahan mengerjapkan kelopak matanya.
__ADS_1
"Jangan bergerak! Keadaan masih sangat lemah," ujar pak Harianto begitu melihat Namora akan duduk. Sementara Mirna menambahkan bantal untuk Namora agar bisa bersandar.
Namora tidak membantah. Dia menatap kosong ke arah empat orang yang mengelilingi tempat tidurnya.
"Apa yang terjadi Bu?" Tanya Namora. Dia baru saja siuman. Otaknya masih belum bekerja sepenuhnya.
"Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Jangan memikirkan apapun. Yang terpenting, kau sudah sadar kembali," Mirna melarang Namora untuk berpikir kenapa dirinya bisa berada di tempat tidur. Akan tetapi, Namora perlahan mengingat bahwa ketika dirinya keluar dari kantor polisi untuk memberikan keterangan tentang pengeroyokan yang dilakukan oleh Teja, dia sengaja berziarah ke pemakaman umum tepatnya dimana Zack dan ketiga orang lainnya dikebumikan. Setelah itu dia ingat bahwa seorang lelaki asing menghampiri dirinya dan mengaku bernama Takimura dengan tujuan untuk membunuhnya.
Dia ingat ketika itu dia mati-matian bertahan dari serangan itu. Hanya saja, ketika itu dia tidak tau lagi apa yang terjadi. Karena dia mendadak lemah karena kebanyakan mengeluarkan darah.
Hanya ada satu kata dibenaknya ketika itu. 'mati!'
Mengingat tentang kejadian itu, mendadak tatapan Namora menjadi dingin. Dan sorot mata Namora saat ini diperhatikan oleh pak Harianto.
"Jangan terlalu banyak berpikir. Itu dapat mempengaruhi proses penyembuhan mu. Sebaiknya tenangkan pikiran mu!"
"Iya kek. Terimakasih," jawab Namora kepada gurunya itu.
Keempat orang itu merasa lega dan sangat bahagia melihat Namora akhirnya siuman. Seolah-olah mereka melupakan rasa lelah dan mengantuk. Kelelahan yang mereka rasakan terbayar sudah.
Rio juga buru-buru kembali menelepon Tigor untuk menyampaikan kabar baik ini, bahwa Namora sudah sadar. Terdengar di seberang sana, Tigor berulang kali mengucapkan puji syukur.
"Bu. Mora lapar," tiba-tiba Namora mengeluh bahwa perutnya terasa lapar.
"Iya nak. Iya. Ibu akan menyiapkan makanan untuk mu,"
Mirna sangat bersemangat karena Namora putra satu-satunya itu telah siuman.
Dia pun bergegas menuju dapur untuk memanaskan makanan.
Setelah semuanya selesai, dia segera menyuapi Namora dan Namora sama sekali tidak menolak.
"Maafkan Namora karena membuat kalian menjadi khawatir," kata Namora disela-sela kunyahannya pada makanan yang disiapkan oleh Mirna.
"Itu pelajaran untuk mu agar tidak lagi bertindak gegabah," kata pak Harianto tanpa tedeng aling-aling.
"Iya kek. Lain kali Namora akan lebih berhati-hati. Tapi, mereka sudah keterlaluan. Akan ada hari dimana Namora akan membuat perhitungan dengan mereka,"
"Sudah sudah sudah! Jangan bahas masalah itu dulu. Kau harus istirahat. Pulihkan kesehatanmu. Kau sudah lima hari tidak sekolah," kata Mirna menengahi. Dia segera menarik selimut Namora, kemudian menyuruh putranya itu untuk segera tidur agar bisa fit dengan segera.
Keempat orang itu menghela nafas panjang. Terasa sebongkah batu yang berat terlepas dari pundak mereka. Terlebih lagi Rio. Dia tidak dapat membayangkan bagaimana harus menjawab kepada Tigor andai Namora gagal diselamatkan. Dan untunglah masa-masa kritis Namora sudah berakhir.
"Mari pak. Tidur lah di rumah ku malam ini," Rio menawarkan kepada mantan pelatihnya untuk tidur dirumahnya.
__ADS_1
Pak Harianto tidak menolak dan langsung setuju. Tubuh tua nya merasa kelelahan karena sebagian besar waktunya dihabiskan di perjalanan. Mulai dari Mahato, ke kota batu. Tiba di kota batu, dia segera berangkat ke rumah sakit. Setelah itu, berangkat ke Kuala Nipah. Dan malam ini harus begadang untuk mengurus Namora. Sungguh sangat melelahkan untuk orang setua dirinya.
Bersambung...