Namora

Namora
Pengawal bayangan keluar untuk membantu


__ADS_3

Wuzzz...! Suara angin bersiur dari pipa besi yang melayang di atas kepala Namora.


Baru saja anak itu berhasil menghindari pukulan yang dilayangkan oleh penyerangnya dengan cara merundukkan kepalanya.


Begitu pipa besi tadi lewat setengah jengkal dari ataas kepalanya, Namora segera membuang diri ke samping dengan cara berguling. Lalu, tepat setelah posisi tubuhnya terlentang, dia segera menendang tulang kering lelaki tadi hingga lelaki yang menyerang barusan jatuh tertelungkup dan sialnya, posisi jatuh lelaki itu tepat ke arah Namora yang telentang.


Plak..!


"Aaaa...,"


Begitu lelaki tadi akan menimpa tubuh Namora, Namora segera meninju kening lelaki itu sehingga pukulan yang keras ditambah dengan momentum bobot lelaki yang terjatuh tadi menambah kekuatan pukulan tersebut hingga kening lelaki itu kini benjol dan meninggalkan bekas sebesar telur ayam.


Namora segera mengayunkan kakinya dan sedikit postur kayang, dia kembali berdiri membelakangi Ameng yang tampak tenang-tenang saja bersandar di body mobil. Sesekali dia menendang ke depan begitu ada yang mendekat kearahnya.


Namora, yang sejak kemarin telah dibuncah kemarahan tidak lagi memperdulikan keselamatan dirinya. Dia terus mengamuk seperti banteng terluka dan meninju serta menendang apa saja yang dapat dia jangkau. Akan tetapi, sehebat apapun Namora, dia hanyalah seorang anak yang kebetulan memiliki sedikit kemampuan beladiri.


Setelah lebih dari lima belas menit berjuang, akhirnya dia kelelahan juga sehingga kini dirinya menjadi bulan-bulanan serangan dari pengeroyok tersebut.


Bugh...!


Tendangan ke arah perut oleh pengeroyok membuat Namora terjajar kebelakang.


Dia berusaha sekeras tenaga agar tidak jatuh. Karena, apabila dia jatuh, maka selesai lah sudah.


Penyerang terus merengsek maju, sedangkan Namora terus mundur sampai kini punggungnya menyatu dengan mobil.


"Mati kita, Paman!" Keluh Namora. Wajahnya kini sudah berlumur darah akibat kepalanya tadi terkena hantaman keras oleh pengeroyok.


"Sepertinya tidak ada cara lain," kata Ameng yang segera meraba sesuatu yang terselip di pinggangnya. Dan seperti itu adalah pistol. Namun, sebelum Ameng mengeluarkan pistol dari balik pakaiannya, seorang lelaki berpakaian loreng hitam yang entah darimana datangnya melompat dan langsung menyerang para pengepung tadi dari arah belakang.


Begitu serangan yang sangat fokus ke arah titik melumpuhkan dari orang tadi, pengepungan itu mendadak jadi kocar-kacir dan kini perhatian mereka terbagi antara akan terus membereskan Namora atau melawan lelaki berpakaian hitam yang entah darimana datangnya tadi.

__ADS_1


Melihat sosok berpakaian serba hitam itu mengamuk dan telah menjatuhkan lebih dari lima orang pengeroyok dalam waktu tidak sampai satu menit, Ameng segera membatalkan niatnya mengeluarkan pistol, kemudian tersenyum karena dia tau bahwa orang itu tidak lain adalah salah satu dari dua Black yang dikirim oleh Jerry William untuk melindungi Namora. Akan tetapi, Namora jelas tidak tau siapa lelaki berpakaian hitam yang tiba-tiba muncul dan menyerang pengeroyokan tersebut.


Namora tidak sempat memikirkan hal itu di dalam hatinya. Karena saat ini dia mendapat kesempatan untuk menarik nafas dalam-dalam karena tadi nafasnya nyaris putus akibat terus melakukan perlawanan yang sangat menguras tenaga tersebut.


Sementara Namora menarik beberapa tarikan nafas, lebih dari separuh dari pengeroyok sudah terjatuh dan mengerang di tanah.


"Mengerikan orang ini," kata Namora dalam hati. Dia memperhatikan cara lelaki itu bertarung. Persis seperti seorang tentara. Gerakannya tampak kaku, akan tetapi, setiap satu pukulan, akan menjatuhkan lawannya.


Saat ini, ada yang patah hidung, kepala pecah, kantong kemenyan remuk, kaki keseleo, dan rusuk patah. Benar-benar seperti seekor harimau diantara sekawanan domba.


Hanya butuh sepuluh menit bagi lelaki itu untuk menjatuhkan pengeroyokan tersebut. Dan satu-satunya orang yang tidak tergeletak dari pihak lawan hanyalah Teja yang meringkuk di samping mobil sambil menutupi kepalanya dengan lengan tangannya.


Selesai menghajar pengeroyok tadi, lelaki itu menatap dingin ke arah Ameng dan Namora, lalu segera hendak melangkah pergi.


Namora yang melihat orang itu akan segera pergi segera menyapa dengan maksud menanyakan siapa orang itu, dan ingin berterima kasih kepalanya.


"Tuan, tunggu sebentar! Siapakah anda ini?"


Selesai berkata, lelaki itu segera pergi tanpa menoleh lagi, kemudian menghilang di balik tikungan.


Namora mematung menatap ke arah jalan yang dilalui oleh lelaki tadi. Namun dia sadar bahwa dia tidak boleh berlama-lama menatap ke arah perginya orang itu. Lalu, dia memalingkan pandangannya ke arah Teja yang tampak masih dalam keadaan ketakutan.


Bugh..! Namora menerjang bahu Teja membuatnya terjengkang dan nyungsep ke bawah kolong mobil.


"Aku sudah mengatakan bahwa kalian hanyalah segerombolan domba yang merasa dirinya adalah serigala. Aku ingin tau seperti apa jika kau berada pada posisi yang terjepit. Apa kau pernah berpikir bahwa kau akan berada dalam situasi ini?" Namora berbicara sambil menarik kaki Teja, lalu menyeretnya agar keluar dari bawah mobil.


"Ampun. Kau tidak bisa menyakiti aku. Jika kau nekat, ayah ku tidak akan melepaskan kalian. Ketahuilah bahwa kekuatan ayahku sangat menakutkan. Kau akan menyesal jika berani menganiaya ku," dalam keadaan terjepit seperti itu, Teja masih bisa bersikap sombong.


Namora menyeringai dingin. Keadaan wajahnya yang berlumur darah seakan menambah keangkeran wajahnya. Lalu, dengan tatapan penuh dendam, dia segera meraih pipa besi yang tergeletak di tanah, kemudian berniat hendak memukul ke arah kepala Teja. Dia ingat seperti apa keadaan Zack yang saat itu menemui ajalnya. Kepalanya pecah akibat terkenal hantaman benda tumpul.


"Mau apa kau Namora?" Tanya Teja ketakutan. Dia secara tidak sadar menendangkan kakinya ke tanah agar bisa menjauh dari jangkauan Namora.

__ADS_1


"Kau kan yang membunuh Zack?"


"Bukan... Bukan aku!" Jawab Teja ketakutan.


"Memang bukan kau, tapi orang-orang suruhan mu. Sekarang aku akan membalas kematian Zack!" Kata Namora. Dia akan membereskan Teja kali ini untuk membalas dendam atas kematian Zack. Namun, baru saja dia mengangkat pipa besi ditangannya, dari arah sana terdengar suara sirene polisi, dan tak lama setelah itu, lima unit mobil kepolisian telah tiba di tempat kejadian.


Namora memalingkan wajahnya dan menatap ke arah satu unit mobil hardtop berwarna biru yang sangat dikenalnya.


Seorang lelaki yang masih muda keluar dari dalam mobil diikuti oleh sekitar sepuluh orang lelaki berseragam petugas kepolisian, lalu mengepung tempat tersebut.


"Turunkan senjata, lalu berikan kerjasama!" Kata seorang anggota kepolisian dengan menggunakan pengeras suara.


"Sial," kata Namora dalam hati, lalu melemparkan pipa besi ditangannya ke tanah.


"Paman," sapa Namora ke arah pemimpin sepasukan polisi yang baru saja tiba itu.


"Namora. Kau mundur, dan biarkan polisi melakukan tugasnya!"


"Tapi, Paman?!"


"Jika kau tidak mengikuti instruksi, maka kau juga akan aku penjarakan!" Ancam kepala polisi yang tidak lain adalah Rio Habonaran adanya. Karena kawasan ini masih termasuk dalam kawasan kota Batu, maka sudah semestinya hal ini berada dalam cakupan Kapolres kota Batu. Dan Rio adalah penanggung jawabnya.


Sebenarnya Rio sudah mengetahui bahwa ruang besuk telah dipasang alat penyadap suara. Akan tetapi, dia tidak terburu-buru mencegah. Hanya saja, dia fokus kepada orang yang telah melakukan penyadapan tersebut. Setelah orang itu melakukan panggilan kepada Jhonroy yang mengatakan bahwa Namora dan Ameng akan menuju ke kota Kemuning dan meminta Jhonroy mengirim orang untuk mencegat, barulah Rio bertindak. Namun dia sedikit terlambat. Dan setelah dia tiba di lokasi, ternyata orang-orang yang dikirim oleh Jhonroy sudah tergeletak di tanah dengan erangan dan tangisan yang beranekaragam.


"Tangkap mereka! Kita akan meminta keterangan dari mereka. Dengan begitu, kita akan mengetahui siapa yang telah mengirim mereka ke kota Batu untuk melakukan tindak kriminal," perintah Rio kepada bawahannya.


"Siap, Komandan!" Jawab mereka serentak, kemudian bergerak untuk membawa orang-orang yang tergeletak itu ke dalam mobil. Namun, karena jumlah mereka terlalu ramai, Rio terpaksa menelepon untuk meminta agar di kirim mobil gerobak untuk mengangkut orang-orang ini ke markas besar kepolisian kota Batu.


"Bang. Sebaiknya kalian juga ikut untuk memberikan keterangan!" Pinta Rio kepada Ameng. Bagaimanapun, kedua orang ini juga terlibat walaupun mereka adalah korban pengeroyokan. Namun, untuk meminta keterangan kepada Ameng dan Namora, tentu saja mereka juga harus di bawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.


Ameng tidak membantah, kemudian dia menyuruh Namora agar masuk ke dalam mobil, kemudian mengikuti konvoi mobil patroli tersebut menuju ke markas besar kepolisian kota Batu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2