Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Masa Lalu Part 2


__ADS_3

Awan hitam menggantung sempurna di langit. Hujan yang turun dengan derasnya, menambah pekatnya suasana malam yang terus bergulir. Menapaki detik demi detik, menuju hari yang makin larut.


Aini mencoba mengembalikan kesadarannya yang nyaris hilang karena diliputi kabut gairah. Ia menoleh pada Adit yang fokus menyetir karena hujan sedang lebat di luar.


"Ma,,af Pak!" Ucap Aini terbata.


Adit sejenak menoleh.


Aini masih ingat jelas, apa yang baru saja terjadi. Aini kebingungan, setan apa yang merasukinya tadi. Hingga dengan begitu liarnya mencium Adit, dan bahkan duduk dipangkuannya sambil menggerayangi tubuh Adit.


Wajah Aini makin merah. Suasana hujan lebat di luar, tak membuatnya merasa kedinginan. Ia bahkan merasa sedikit kegerahan.


"Kenapa,, kita ke,, hotel Pak?" Tanya Aini saat Adit memarkirkan mobilnya di depan sebuah hotel yang tak asing baginya.


"Ada yang harus kita selesaikan." Jawab Adit singkat.


Adit segera mengajak Aini ke kamar yang ia pesan baru saja. Aini masih kebingungan sembari meredam gejolak di tubuhnya yang kembali menggelora dan ingin segera dituntaskan.


"Ayo Sayang, kita lakukan!" Ucap Adit lirih, setelah mengunci kamarnya.


"Iya Pak?"


Aini yang sedang tidak bisa fokus, tak bisa mendengar dengan jelas ucapan Adit. Ia pun sibuk melihat kamar yang baru saja dimasukinya dan tak menyadari Adit telah berjalan mendekatinya dari belakang.


"Kita lanjutkan hal yang tadi sempat tertunda!"


Adit segera membalikkan tubuh Aini. Ia pun meraih pinggang Aini dan mendaratkan bibirnya dengan lembut di bibir Aini.


Aini yang memang sedang dalam kondisi yang tidak ia ketahui sebabnya, segera menyambut perlakuan Adit yang membuatnya begitu terbuai. Meski itu pertama kalinya bagi Aini, tapi ada dorongan dari tubuhnya yang membuatnya bisa membalas setiap perlakuan Adit dengan begitu lihai.


"Aku mendapatkanmu Sayang."


Adit bermonolog dengan bahagianya, saat ia berhasil merenggut mahkota berharga Aini malam ini, dan memberikan benih miliknya ke dalam rahim Aini. Adit menatap wajah Aini yang tertidur pulas di sampingnya dengan tubuh polos yang tertutup selimut.


"Semoga kamu bisa hamil setelah ini Aini. Karena aku pasti akan bertanggung jawab kepadamu."


Iya, Adit menjebak Aini malam ini. Dalam jus mangga yang Aini minum tadi, sudah Adit berikan obat perangsang di dalamnya. Hingga membuat Aini bisa melakukan hal itu dengan Adit, meski ia tadi sempat menolak.


Adit sudah dibutakan oleh cintanya pada Aini dalam waktu singkat. Meski Aini selama ini menolaknya, tapi Adit memanglah bukan tipikal laki-laki yang akan menyerah begitu saja. Ia akan berusaha mendapatkan apa yang ia inginkan dengan berbagai cara. Meskipun itu harus dengan cara yang kurang baik.


Aini tadi sempat menolak perlakuan Adit di tengah gejolak tubuhnya yang begitu menggelora. Ia masih memiliki sedikit kesadaran ketika Adit membuka satu persatu pakaian yang mereka kenakan. Tapi karena gejolak yang begitu kuat, membuat Aini menyerahkan dirinya pada Adit.


Dan pagi menjelang. Aini terbangun dengan tubuh yang terasa begitu lelah. Ia kebingungan dengan suasana kamar yang tak biasa. Hingga ia melihat wajah seorang laki-laki tepat berada di depan wajahnya sedang tertidur pulas di sampingnya.


"Astaghfirullah!" Ucap Aini tersentak.


Aini segera beringsut menjauh dari Adit yang masih terlelap di sampingnya. Ia melihat bahu dan dada bagian atas Adit yang tak tertutup selimut. Ia pun segera menyadari keadaan yang sama pada tubuhnya.


Aini mencoba mengingat apa yang telah terjadi semalam. Potongan demi potongan memori Aini pun akhirnya mulai tersusun.


"Enggak! Nggak mungkin! Ini nggak mungkin terjadi." Ucap Aini setelah terduduk dengan mata yang mulai menghangat dan merah.


"Kamu sudah bangun Sayang?" Adit pun terbangun karena suara Aini.


"Apa yang Bapak lakukan pada saya?" Teriak Aini mulai histeris dengan tangan yang memegang erat selimut yang menutupi tubuh polosnya.


"Dengarkan aku Aini!" Adit pun segera duduk dan berusaha menenangkan Aini.


Aini berteriak dan menangis histeris. Ia memukul lengan dan dada polos Adit tanpa mendengarkan apapun yang Adit katakan. Airmatanya mengalir deras, beriringan dengan pedih hatinya yang harus menerima kenyataan bahwa ia telah kehilangan harta berharganya.


"Aku akan bertanggung jawab." Ucap Adit lagi dan lagi, setelah pukulan Aini mereda karena di peluk erat oleh Adit sejak tadi.


Cukup lama Aini menangis dalam pelukan Adit, demi meluapkan segala rasa yang berkecamuk dihatinya saat ini. Ia bahkan menangis sesenggukan, membayangkan bagaimana ia nanti akan mengatakan hal itu pada ibunya.

__ADS_1


Setelah Aini cukup tenang, Adit melepaskan pelukannya. Aini pun segera menjauh dari Adit dan berniat membersihkan diri lalu pulang.


"Iisshh." Aini meringis kesakitan karena merasakan nyeri di bagian intinya.


Adit yang menyadari itu, segera turun dari ranjang dan menghampiri Aini dengan tubuhnya yang masih polos. Ia tahu, Aini seperti itu karena ulahnya semalam yang menggempur Aini berkali-kali.


"Apa sangat sakit?" Tanya Adit penuh perhatian setelah berdiri di depan Aini.


Aini mendelikkan pandangannya karena Adit yang berdiri tepat di depannya dengan tubuh polos. Tanpa permisi dan berucap apapun, Adit segera membopong tubuh Aini yang tertutup selimut.


"Bapak mau apa?" Teriak Aini terkejut.


"Aku bantu ke kamar mandi. Kamu seperti itu, karena aku menggempurmu semalaman." Jawab Adit santai.


Wajah Aini seketika menghangat dan sedikit merah. Aini hanya menunduk diam di gendongan Adit. Bagian intinya sungguh terasa nyeri saat ini. Ah entah, berapa kali mereka semalam melakukannya.


Setelah Aini dan Adit selesai membersihkan diri, Adit berniat mengantar Aini pulang. Tapi ditolak Aini. Aini tak ingin, ada kabar tak sedap yang menghampiri keluarganya karena pulang pagi bersama seorang laki-laki yang bukan mahramnya. Ia pun juga harus mencari alasan yang tepat untuk ibunya, karena semalam tak pulang ke rumah.


Adit sedikit memaksa, tapi tetap ditolak Aini. Adit akhirnya mengalah, dan mengantarkan Aini ke tempat dimana ia menitipkan motor Aini semalam.


Aini pun tak berangkat bekerja hari ini. Pikiran dan tubuhnya benar-benar lelah menghadapi kenyataan yang tak pernah ia harapkan akan terjadi di hidupnya.


Saat Aini sampai di rumah, ia berbohong pada ibunya. Ia beralasan, menginap di rumah temannya karena kelelahan dan hujan sangat lebat semalam. Aini belum berani mengatakan yang sejujurnya pada ibunya. Mengingat, ibunya baru saja keluar dari rumah sakit karena penyakit liver yang dideritanya.


Sedang Adit, segera pulang ke rumah. Ia sudah biasa tak pulang karena sering menginap di rumah teman-teman lamanya. Adit pun berangkat bekerja seperti biasa hari ini.


Hanya saja, hati Adit begitu bahagia hari ini. Karena apa? Jelas karena sebentar lagi, Aini pasti akan meminta pertanggung jawaban padanya karena ulahnya semalam. Dan itu berarti, ia akan segera menikah dengan Aini.


Adit sebenarnya tulus mencintai Aini. Kesederhanaan dan kelembutan Aini benar-benar mengalihkan dunia Adit dari gemerlapnya para wanita dengan sejuta kemolekan tubuh dan topeng-topengnya yang sangat mereka banggakan.


Tapi, Adit melakukannya dengan cara yang kurang benar. Apakah itu cinta? Ataukah itu obsesi dari seorang Aditya Eka Subrata pada Aini?


Satu bulan berlalu.


Setelah malam itu, Aini berusaha keras menghindari Adit. Meskipun sangat sulit, karena tempat kerja yang sama, tapi Aini berusaha sangat keras.


Aini menyadari ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Ia mudah sekali merasa lelah. Dan akhir-akhir ini, badannya terasa sakit di seluruh bagian, terutama di bagian dadanya.


"Astaghfirullah!"


Aini teringat sesuatu saat membukan almari bajunya hendak mengambil selimut malam ini, dan melihat pembalut miliknya yang biasa ia simpan di almari bagian bawah.


Hati Aini mulai cemas. Pikirannya mulai tak karuan. Ia menyadari, ia sudah terlambat datang bulan selama satu minggu. Ia terduduk lemas di dekat kasurnya, sembari menatap kosong pada kalender meja bergambar Hello Kitty miliknya.


Aini mengambil ponselnya dan mulai mencari informasi tentang tanda-tanda awal kehamilan yang sedang memenuhi pikirannya. Tubuhnya bergetar hebat kala membaca beberapa artikel yang menunjukkan bahwa apa yang ia rasakan akhir-akhir ini bisa jadi adalah tanda dari awal kehamilan.


Keesokan paginya, Aini ingin memastikan ketakutannya semalam. Ia pergi ke apotek untuk membeli test pack. Dan menggunakannya saat ia telah pulang bekerja. Yang kebetulan, malam ini, Ratmini sedang pergi mengaji di masjid. Jadi Aini di rumah sendirian.


Tubuh Aini lemas tak berdaya. Airmatanya mengalir deras membasahi wajahnya yang tegang. Kala ia melihat dua garis merah terpampang nyata di alat tes kehamilan yang telah ia pakai barusan.


"Ujian apa ini ya Allah?" Ratap Aini dalam tangisannya sambil meringkuk di lantai kamarnya yang dingin.


Aini menangis begitu lama. Meratapi nasibnya yang entah beruntung atau tidak. Karena ia tahu, ibu Adit pasti akan menolaknya mentah-mentah. Mengingat, baru minggu lalu, Suharti memperkenalkan seorang polwan cantik kepada para karyawan rumah makannya, yang digadang-gadang adalah calon istri Adit.


"Aku harus bagaimana? Bagaimana mengatakan ini pada Ibu?"


Hati Aini pedih tak terkira. Ia menangis tertahan di kamarnya. Ia tak tahu, bagaimana menghadapi ibunya dan apa yang akan terjadi nanti, jika sampai ibunya tahu bahwa Aini hamil diluar nikah.


Waktu yang berlalu, membawa Aini pada titik dimana ia harus membuat keputusan yang sangat sulit. Ia memikirkan itu selama berhari-hari dengan segala pertimbangan. Dan akhirnya, ia memutuskan untuk merahasiakan kehamilannya dari semua orang. Bahkan ibunya. Demi menjaga kesehatan sang ibu yang semakin hari semakin lemah.


Pagi yang mendung. Aini berangkat bekerja dengan tubuh yang cukup lelah. Satu bulan ini, cukup berat bagi Aini. Ia harus kucing-kucingan dengan sang ibu agar ibunya tak mencurigai kehamilannya. Ia berusaha sangat keras bersikap senormal mungkin.


Di tempat kerja, Aini pun berusaha bersikap biasa pada Adit. Apalagi, dalam satu minggu terakhir, banyak pesanan datang dan rumah makan pun ramai pengunjung. Ia bahkan harus ikut turun tangan membantu teman-temannya pang lain.

__ADS_1


"Astaga! Aini! Bangun Ni! Aini!"


Seorang wanita berpakaian seragam batik, berteriak cukup histeris di depan toilet. Ia hendak buang air kecil saat mendapati Aini tergeletak tak sadarkan diri di depan toilet.


"Tolong! Arman! Pak Wisnu!" Teriak wanita itu sekeras mungkin.


"Ada apa?" Tanya Adit yang baru saja tiba karena mendengat teriakan karyawannya.


"Aini pingsan Pak." Jawab wanita tadi sambil menoleh pada Adit.


"Apa?"


Adit segera mendekati Aini yang separuh tubuhnya dipangku oleh temannya.


Tanpa pikir panjang, Adit segera membopong tubuh Aini menuju mobilnya. Para pengunjung dan karyawan, terkejut melihat Adit membawa Aini sambil berlari.


"Aini kenapa?" Tanya para karyawan lain penasaran.


"Pingsan di depan toilet tadi." Jawab wanita yang menemukan Aini tadi.


Para karyawan berdo'a dalam hati, agar Aini baik-baik saja. Aini memang sudah terlihat pucat sejak pagi. Tapi ia memaksa untuk membantu yang lain karena memang pekerjaan cukup banyak hari ini.


"Bertahanlah!" Gumam Adit sembari menyetir dan sesekali menoleh pada Aini yang masih pingsan di kursi di sampingnya.


Saat sampai di rumah sakit, Aini segera mendapatkan pertolongan dari pihak medis. Adit menunggu Aini dengan begitu cemas. Mulutnya tak henti berdo'a agar tak terjadi apapun pada wanita yang telah merebut hatinya dalam waktu singkat itu.


"Anda suami pasien?" Tanya seorang perawat pada Adit yang sedari tadi menatap para perawat berlalu lalang di ruang IGD.


"Ha? Ah, iya. Saya suaminya. Bagaimana keadaannya?" Tanya Adit cepat.


"Kondisinya sudah stabil. Tapi lain kali, tolong jangan sampai Ibu kelelahan lagi. Karena akan berbahaya bagi bayinya."


"Bayi? Maksud Dokter?"


"Apa Bapak dan Ibu belum tahu? Ibu sekarang sedang hamil. Usianya sekitar tujuh atau delapan minggu. Untuk lebih pastinya, silahkan mengunjungi poli obsgyn dan berkonsultasi pada dokternya."


"Aini hamil?"


Senyuman Adit terkembang sempurna. Hatinya sungguh bahagia mendengar kabar itu. Ia yakin, bahwa bayi dalam kandungan Aini adalah anaknya. Ia segera menghampiri Aini setelah dokter yang menangani Aini undur diri.


Aini masih belum sadar. Adit mengusap lembut perut datar Aini. Ia bahkan menciumi tangan Aini dengan begitu lembut dengan perasaannya yang bahagia.


"Kamu sudah sadar Sayang?" Tanya Adit, setelah melihat Aini membuka matanya.


"Pak? Ini,,?" Ucap Aini lirih dengan penuh kebingungan.


"Kamu tadi pingsan di depan toilet. Beruntung Lia menemukanmu tadi."


Aini hanya diam. Ia mulai mengingat memori terakhirnya sambil menikmati tubuhnya yang terasa lemas.


Aini pun segera bangkit. Tapi Adit mencegahnya.


"Kamu mau kemana? Istirahatlah dulu!" Pinta Adit lembut.


"Saya harus kembali ke rumah makan Pak."


"Tidak. Tapi kamu harus ikut saya setelah ini!"


"Kemana Pak?"


"Nanti kamu juga tahu. Sekarang, katakan padaku, apa kamu tahu kamu sedang hamil sekarang?"


"Apa? Siapa yang mengatakan itu?" Tanya Aini panik.

__ADS_1


"Dokter. Kamu berarti tahu jika sekarang kamu sedang hamil kan? Kenapa tak mengatakannya padaku Ni? Dia anakku bukan?" Tanya Adit lagi dengan penuh perhatian.


Aini hanya diam, dan lalu membuang muka dari Adit.


__ADS_2