
Pagi yang mendung menyapa. Membuat semburat jingga langit pagi pun tiada. Tergantikan dengan arak-arakkan awan hitam yang menggumpal di segala penjuru. Dan terlihat jelas, awan hitam itu akan segera menumpahkan segala isinya.
Seperti suasana hati Adit pagi ini. Masih mendung sejak tadi malam. Lebih tepatnya, semenjak ia bertemu dengan Ardi dan Aini di bioskop. Apalagi, jika mengingat kejadian tak menyenangkan saat di depan toko semalam.
Flashback On
"Maaf, Pak, Bu. Kami sudah tutup." Ucap karyawan itu.
"Bukankah ada pengunjung lain di dalam?" Jawab Adit bingung.
"Iya."
"Lantas?"
"Beliau pengecualian. Karena beliau pemilik tempat ini." Jawab karyawan itu ramah.
"Apa?" Ucap Ratri tersentak sekaligus tak percaya.
"Sial!" Batin Adit kesal.
"Ijinkan kami masuk! Kami mengenal mereka. Kami juga akan berbelanja. Dan pasti juga tidak sedikit." Pinta Adit tegas.
"Maaf, Pak. Kami tidak bisa. Ini permintaan pribadi pemilik tempat ini." Jelas karyawan itu ramah.
"Tapi,,"
"Maafkan kami sekali lagi, Pak, Bu. Kami sudah tidak menerima pengunjung lain saat ini. Kami hanya menunggu pak Ardi selesai berbelanja dan akan segera tutup." Tolak karyawan itu lagi.
"Mas!" Rengek Ratri kesal.
"Apa? Kita nggak bisa masuk sekarang." Jawab Adit ketus.
"Tapi aku mau baju itu." Rengek Ratri lagi sambil menunjuk pada salah satu manekin yang ada di dalam toko.
Adit pun mengikuti arah tangan Ratri. Tepat pada sebuah manekin yang mengenakan midi dress berwarna peach, yang juga cukup menarik perhatiannya. Ia lalu mencoba menggunakan alasan itu untuk bisa masuk.
"Kami ingin membeli baju yang ada pada manekin itu. Tolong, ijinkan kami masuk dan membelinya!" Pinta Adit sedikit memaksa.
"Maaf, Pak. Kami tidak bisa mengijinkannya. Jika Bapak dan Ibu menginginkannya, Bapak dan Ibu bisa kembali lagi kemari besok pagi. Kami akan buka kembali tepat pukul sembilan pagi." Jelas karyawan itu lagi.
Adit mendengus kesal. Ia tak bisa menggoyahkan kedisiplinan karyawan wanita itu sedikit pun. Ia lalu memiliki sebuah ide. Yang mungkin bisa membuatnya masuk ke toko itu demi istrinya dan juga untuk membalas kekesalan hatinya pada Ardi dan Aini.
Adit sedikit mendekat ke karyawan wanita itu. Ia lalu merogoh sakunya celananya.
"Aku akan berikan bonus untukmu. Tapi, ijinkan aku dan istriku masuk sebentar." Bisik Adit di telinga karyawan itu.
Karyawan itu memasang wajah datar. Ia lalu sedikit celingukan melihat ke kanan dan ke kiri. Adit pun tersenyum kecil melihat tingkah karyawan itu. Dan kini, giliran karyawan itu yang sedikit mendekatkan kepalanya ke telinga Adit.
"Berapa yang akan Bapak berikan?" Bisik karyawan itu antusias.
"Berapa yang kamu inginkan?" Sahut Adit penuh kemenangan.
"Eemh! Tapi maaf, Pak. Saya sudah menerima bonus tunai untuk malam ini." Bisik karyawan itu santai.
Adit pun langsung membulatkan matanya. Ia tak mengira, jalan terakhir yang mungkin bisa membuatnya bisa masuk ke dalam toko, ternyata juga gagal.
Karyawan itu segera menegakkan kembali tubuhnya. Ia pun tersenyum ramah kembali pada Adit dan Ratri.
"Sial! Ayo pulang!" Ajak Adit kesal.
Adit pun segera membalikkan badan dan berjalan menuju mobilnya. Ratri yang benar-benar menginginkan baju yang ada di manekin di dalam toko, terkejut bukan main, saat Adit meninggalkannya begitu saja.
Ratri pun akhirnya mengikuti Adit kembali ke mobil dengan hati yang tak rela. Sedang Adit, perasaannya sangat kesal karena gagal untuk bisa membalas kekalahannya tadi saat di bioskop.
Dan saat sepasang suami istri itu masih dalam mode kekesalannya masing-masing, sebuah mobil sedan berwarna putih, terlihat masuk ke area tempar parkir toko. Mobil itu pun segera terparkir sembarangan.
Dan sejurus kemudian, keluar seorang wanita cantik dari dalam mobil. Yang jelas, mencuri perhatian Adit dan Ratri yang hendak masuk mobil. Wanita itu berjalan dengan pasti menuju pintu masuk toko.
"Sepertinya, aku pernah lihat. Tapi dimana ya?" Gumam Ratri, saat melihat wanita tadi keluar mobil.
"Kamu kenal, Yang?" Tanya Adit penasaran, saat mendengar gumaman Ratri.
"Lupa, Mas. Tapi, wajahnya nggak asing." Sahut Ratri, sambil terus menatap wanita itu berjalan menuju pintu masuk toko.
Ratri benar-benar serius mengingat-ingat siapa wanita itu. Ia yakin, ia pernah melihat wanita cantik itu sebelumnya. Tapi, ia lupa dimana dan siapa wanita itu.
Dan saat Ratri masih sibuk dengan ingatannya, wanita itu juga mengalami hal yang sama dengan Adit dan Ratri tadi. Ia juga dicegat dan dilarang masuk oleh karyawan toko.
__ADS_1
"Maaf, Bu. Kami sudah tutup." Tolak karyawan itu ramah.
"Tapi aku mau masuk. Mas Ardi di dalam, kan?" Paksa wanita tadi.
"Tapi kami tidak bisa mengijinkan siapapun masuk ke toko, Bu. Saat ini kami sudah tutup."
"Tapi aku mau bertemu mas Ardi. Itu mobilnya, kan? Jadi, dia pasti masih di dalam."
"Iya, Bu. Tapi beliau menolak siapapun untuk masuk ke toko saat ini."
"Kamu tidak tahu siapa saya?" Sombong wanita itu.
Karyawan itu terdiam. Ia sebenarnya juga lupa, siapa sosok wanita dihadapannya itu. Meski sebenarnya, ia merasa cukup familiar dengan wajah wanita cantik itu.
"Saya Indah Olivia. Mantan istri mas Ardi. Saya ingin bertemu dengannya sekarang." Jawab wanita itu penuh kebanggaan.
Karyawan itu sejenak tertegun. Ia akhirnya ingat, wanita itu memang mantan istri dari pemilik tempatnya bekerja.
"Katakan pada mas Ardi, saya ingin bertemu dengannya! Dia pasti segera mengijinkanku masuk. Dan kamu, akan menerima akibatnya." Kesal wanita itu.
Wanita itu memang Oliv. Ia tadi tidak sengaja melewati depan toko saat ingin pulang ke rumah setelah pergi menemui salah satu temannya. Ia melihat mobil pribadi Ardi terparkir rapi di depan toko. Ia pun segera membelokkan mobilnya ke arah toko karena ingin bertemu dengan Ardi.
"Maaf, Bu. Beliau sedang tidak ingin diganggu siapapun." Jawab karyawan itu ramah.
"Tapi aku mantan istrinya. Dia pasti akan mengijinkanku masuk." Keukeuh Oliv.
"Maaf, Bu. Kami tidak bisa."
"Awas, minggir!"
Oliv berusaha menyingkirkan karyawan itu dengan mendorongnya kuat. Tapi, karyawan itu tetap tidak mau menyingkir sama sekali. Ia hanya sedikit terkejut dengan sikap Oliv yang cukup bar-bar.
"Maaf, Bu. Anda tidak diijinkan masuk!" Ucap karyawan itu tegas, sambil terus menghalangi Oliv agar masuk.
"Minggir!"
Oliv semakin nekat untuk bisa masuk ke dalam toko. Ia bahkan berteriak memanggil-manggil Ardi tanpa ragu.
"Mas Ardi! Mas! Mas Ardi! Aku tahu kamu di dalam, Mas. Ini aku Mas, Oliv. Ijinkan aku masuk, Mas. Ada yang ingin kukatakan padamu, Mas." Teriak Oliv, sambil terus berusaha untuk masuk ke dalam toko.
Karyawan wanita itu pun berusaha tetap menahan Oliv agar tidak masuk ke toko. Bahkan, seorang karyawan laki-laki lain pun akhirnya ikut membantu karyawan wanita tadi untuk menghalangi Oliv masuk.
"Pantas saja pak Ardi menceraikannya. Sikapnya saja seperti itu." Gumam Adit, dengan netra yang setia menatap semua ulah Oliv.
"Iya, Mas." Timpal Ratri menyetujui.
Dua karyawan toko bersama seorang petugas keamanan, akhirnya berhasil membuat Oliv kembali ke mobilnya. Meski mereka bertiga tahu, dalam hati Oliv, ia pasti merasa sangat kesal.
Oliv berjalan ke mobilnya dengan amarah di dalam dada yang begitu membuncah. Ia mencoba menghubungi ponsel Ardi, tapi tak ada respon sama sekali. Ia pun masuk ke mobil, dan membanting keras pintu mobilnya.
Dan adegan itu, jelas menjadi bahan tontonan Adit dan Ratri yang masih belum pergi dari area parkir depan toko. Mereka juga ingin tahu, sejauh apa seorang Indah Olivia, yang merupakan mantan istri Ardi, bisa membuat karyawan Ardi kelabakan atau tidak.
Hati Adit menertawai dengan keras, Oliv yang juga tak bisa masuk ke dalam toko. Ia bahkan tersenyum mengejek di balik kemudinya, karena melihat Oliv yang sangat kesal.
Sedang di dalam mobil Oliv, Oliv masih berusaha menghubungi Ardi. Panggilan suara itu masuk ke ponsel Ardi, tapi tidak dijawab oleh Ardi. Makin kesallah hati Oliv saat ini.
Oliv akhirnya memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Ia pun mulai menyalakan mesin mobilnya. Dan saat ia berusaha untuk keluar dari area parkir toko, netranya tidak sengaja menangkap pemandangan dari lantai tiga toko, yang membuatnya makin naik pitam.
"Aini?" Ucapnya tak percaya.
Oliv kembali keluar mobil. Ia menajamkan matanya, kala melihat Ardi dan Aini sedang asik memilih sesuatu di lantai teratas toko. Mereka nampak sedikit bercanda dan tertawa begitu bahagia.
"Dasar! Wanita sialan!" Umpat Oliv sangat keras.
Dan jelas, kalimat itu menelusup sempurna di telinga Adit dan Ratri yang juga sedang bersiap untuk pergi dari tempat itu. Mereka segera mencoba mencari alasan, kenapa Oliv bisa mengumpat begitu keras.
Mereka sedikit melongok kearah luar jendela mobil. Dan saat itu juga, mereka jelas melihat Ardi dan Aini yang berada di lantai tiga toko. Pasangan suami istri itu segera saling pandang. Mereka tak menyangka, Oliv ternyata mengumpat pada Aini yang sedang asik berbelanja dengan Ardi.
Oliv pun kembali ke mobilnya dengan lebih marah. Ia segera keluar dari tempat itu dengan amarah yang makin tak terkendali. Ia memacu mobilnya dengan kecepatan yang sangat kencang. Membelah lalu lintas malam Kota Surabaya yang mulai lengang.
Adit dan Ratri pun akhirnya juga menyusul Oliv. Mereka juga akhirnya meninggalkan toko untuk kembali ke rumah.
Flashback Off
"Apa mantan istri pak Ardi, tidak menyukai Aini?" Monolog Adit, sambil menikmati kopi paginya.
"Jika memang iya, mungkin, aku bisa mengajaknya bekerja sama." Imbuhnya lagi.
__ADS_1
"Aku tetap tidak akan membiarkanmu hidup bahagia, Ni." Akhir Adit, dengan kemarahan yang selalu sampai di ubun-ubun jika menyangkut Aini.
"Kenapa, Mas?" Tanya Ratri, saat ia dan putranya tiba di teras, dimana Adit sedang bersantai.
Ratri segera membiarkan putranya itu bermain dan berlarian kesana-kemari. Ia memilih duduk di kursi yang bersebrangan dengan Adit, sembari mengawasi putranya bermain.
"Kamu ingat wanita semalam? Mantan istri pak Ardi?" Tanya Adit semangat.
"Iya. Dia kan model, Mas. Setahuku, dia juga pernah menjadi model dari brand tas kenamaan dari Perancis." Jelas Ratri singkat.
"Benarkah? Lalu, kenapa dia di sana semalam? Apa dia ingin kembali pada pak Ardi?"
"Aku juga tak tahu tentang itu, Mas. Tapi sepertinya, dia tidak menyukai kehadiran Aini di dekat pak Ardi."
"Kamu benar. Dan karena hal itu, kita bisa bekerja sama dengannya."
"Kerja sama apa, Mas?"
"Kerja sama untuk menghancurkan hidup Aini." Jawab Adit santai.
"Sudahlah, Mas. Jangan ganggu hidup Aini! Biarkan dia bahagia dengan hidupnya sekarang." Bela Ratri tiba-tiba.
"Tidak akan. Aku tidak akan membiarkan Aini bahagia." Jawab Adit kesal.
"Mas!"
"Dia sudah mengambil Umar hingga menyebabkan bapak meninggal. Aku tidak akan melupakan hal itu." Jawab Adit geram.
"Sudahlah, Mas! Jangan mengganggu hidup Aini lagi." Pinta Ratri khawatir.
Ratri sebenarnya kasihan pada Aini yang hidupnya sudah sangat berantakan, setelah ia hadir dalam biduk rumah tangganya dulu. Tapi, bisikan demi bisikan dari setan yang ada di sekitar Ratri, membuatnya bisa melakukan hal-hal itu pada Aini.
Ratri masih punya nurani dalam dirinya. Ia juga sebenarnya tak tega jika melihat Aini terus saja disalahkan oleh Adit, yang memang tak mengetahui apapun dalam permasalahan Aini dan dirinya.
Tapi, Ratri juga sudah tidak bisa lagi membujuk atau menasehati Adit. Adit sudah terlalu gelap mata pada Aini. Apalagi, setelah kematian Hadi. Ia begitu membenci Aini melebihi apapun dan siapapun yang dibencinya di dunia ini.
"Kamu ini bicara apa?" Bentak Adit marah, hingga membuat putranya tersentak hingga menangis.
"Aku hanya tak ingin, kamu bertindak terlalu jauh, Mas. Biarkan Aini hidup dengan pilihannya! Jangan ganggu dia!" Jawab Ratri, setelah merengkuh putranya dalam gendongan.
"Sejak kapan kamu jadi membela Aini seperti ini?"
"Aku hanya tak ingin kamu gelap mata, Mas. Dan nanti sesuatu yang buruk terjadi padamu."
"Memangnya, apa yang bisa wanita itu perbuat?"
"Jangan lupa Mas, ada pak Ardi di samping Aini sekarang."
"Cih! Laki-laki bodoh itu. Aku pastikan, ia tak akan berbuat apapun, meski aku mencincang Aini nanti." Jawab Adit yakin.
"Mas!"
"Sudahlah!"
Adit lalu masuk ke rumah dengan geram. Ia meninggalkan Ratri yang masih berusaha menenangkan putranya. Ratri pun menghela nafas beratnya.
Sedang di tempat lain, Aini kembali menjadi DPO para penghuni di kediaman Ardi. Ia kembali tak menampakkan diri pagi ini.
Ardi sudah mencoba mencarinya ke kamar kedua putranya, tapi ternyata tidak ada. Sri dan Prapto juga tak tahu, dimana Aini berada. Aini kembali bangun lebih pagi dan menyelesaikan pekerjaan rumah lebih pagi. Lalu hilang tanpa jejak.
Lalu, kemanakah Aini pagi ini?
****************
Hai Readers 🤗🤗
Terima kasih, terima kasih, terima kasih 🥰🤩 karena masih setia dengan kisah Ardi dan Aini 😘
Maaf ya 😁😁 kalau masih belum maksimal dan belum sesuai dengan yang Readers harapkan 🙏🙏
Tetap ditunggu kritik, saran dan dukungannya yaa 👍
Apapun itu yang kalian tinggallin buat othor,, Othor sangat berterima kasih 😘😘
Lope yu semuanyah 🥰🥰
Okey,, see you next episode yaa 😉😉
__ADS_1
🤗🤗😍🤩😘🥰