
"Aini?"
Dan lagi. Suara seseorang yang familiar di indera pendengaran Aini, menggema tanpa permisi. Membuat sang pemilik nama, kembali berusaha mengurai keterkejutannya. Apalagi, tidak ada Ardi di sampingnya saat ini.
Itu jelas suara seorang laki-laki. Aini yang sedang fokus memilih belanjaan, segera mengalihkan perhatiannya. Ada sepasang laki-laki dan perempuan bertubuh sedikit gempal, serta dua orang anak kecil di hadapannya. Mereka tersenyum pada Aini. Dan ternyata,,
"Fajar?" Ucap Aini tak percaya.
"Iya, ini aku. Fajar kasur. Nggak lupa kan sama aku?" Jawab laki-laki itu santai.
"Mana mungkin aku lupa sama kasur kayak kamu." Kelakar Aini dengan tawa renyahnya.
Aini dan sepasang laki-laki dan perempuan itu pun tertawa bersama. Bahkan, tawa mereka sedikit mengalihkan perhatian para pengunjung lain.
Iya, yang menyapa Aini tadi adalah Fajar. Teman lama Aini dari Jogja. Ia sedang bersama istrinya, Tika, dan dua putrinya. Aini memang selalu bisa tertawa bahagia jika bertemu dengan teman-teman lamanya.
(Kalau ada yang lupa sama Fajar, coba buka di bab awal yaa! Bab sebelum Aini bercerai dengan Adit 😉. Dan ini, bukan Tika mantan pengasuhnya Kenzo, yaa!)
"Dunia memang selebar daun kelor ya, Ni." Ucap Fajar santai.
"Kalau dunia selebar daun kelor, mana muat dunianya dihuni kasur kayak kamu." Cibir Aini tanpa ragu.
"Iya, Ni. Bener banget." Timpal Tika antusias.
Mereka bertiga pun kembali tertawa sejenak. Aini lantas mengalihkan perhatiannya pada dua gadis kecil yang berusia sekitar enam tahun. Mereka kembar identik.
"Mereka anak kalian? Kembar identik ya?" Tanya Aini seraya berjongkok.
"Iya, Ni." Jawab Tika.
"Halo! Namanya siapa?" Sapa Aini segera.
Dua gadis kembar dengan wajah yang nyaris sama itu pun segera saling pandang.
"Kok Tante-nya nggak di jawab?" Sahut Fajar segera.
Dua gadis itu segera menoleh pada ayahnya, lalu menoleh lagi pada Aini.
"Rani."
"Rina." Jawab dua gadis kecil itu bersamaan.
"Rani sama Rina. Kenalin, nama Tante, Tante Aini." Jawab Aini sambil tersenyum ramah.
Aini mengulurkan tangannya. Ia cukup gemas dengan dua gadis kembar itu. Hatinya mendadak ingin memiliki seorang putri secantik gadis kembar milik Fajar dan Tika.
Rani dan Rina pun menyambut tangan Aini. Mereka bergantian menyalami Aini dengan sedikit malu. Aini pun tersenyum sangat lebar karena disambut oleh mereka.
"Yang waktu kamu minta tolong beli alat itu? Nggak garis dua?" Tanya Aini, setelah kembali berdiri.
Aini sudah cukup mengenal Tika. Karena sebenarnya, Tika adalah teman sekolah Aini saat SMA. Jadi, ia bisa sangat santai mengobrol dengan pasangan suami istri itu.
"Enggak, Ni. Ternyata cuma telat biasa." Jawab Tika sedikit cekikikan.
"Tak kirain udah lahiran malah." Sahut Aini sekenanya.
Aini berusaha menutupi sedih hatinya mengingat kejadian dua tahun lalu. Bagaimana ia akhirnya difitnah dengan kejam hingga harus kehilangan bayinya dan akhirnya juga harus bercerai dari Adit. Dunia begitu gelap bagi Aini saat itu.
Tika dan Fajar menyadari sedikit gelagat Aini yang berusaha menutupi sesuatu. Mereka lantas berusaha mengalihkan perhatian Aini.
"Kamu ngapain di sini, Ni?" Tanya Fajar segera.
"Oh, ini, belanja." Jujur Aini.
"Kalian?"
"Mas Fajar dipindah tugas ke sini, Ni." Jawab Tika sedikit tak ikhlas.
"Jauh banget?" Sahut Aini tak percaya.
"Yaaahh, nasib jadi karyawan, Ni. Di pindah kemana aja harus mau."
"Iya juga."
Tiba-tiba, Rani dan Rina berlari karena tertarik dengan sesuatu Tika pun segera berlari mengejar dua putrinya.
"Sebentar ya, Mas!" Pamit Tika cepat.
Fajar pun mengangguk paham.
"Lha kamu? Kerja di sini?" Tanya Fajar setelah Tika berlalu karena mengejar dua putrinya.
__ADS_1
"Iya. Aku udah setahun di Surabaya." Jujur Aini.
Fajar dan Aini pun mengobrol sembari menunggu Tika yang sedang meladeni putri kembarnya menghampiri sesuatu. Mereka berbincang dengan santai. Karena Aini juga sedang menunggu Ardi.
Ada yang tahu kemana Ardi?
Ardi sedang mencari kebutuhan pribadinya. Ia sedikit canggung pada Aini, jika ia harus bersama Aini saat memilihnya. Jadi, ia pergi memilihnya sendiri.
Ardi pun jadi sedikit lama meninggalkan Aini, karena harus menjawab telepon dari Dika. Ada hal yang harus Dika katakan secepatnya pada Ardi. Jadi, ia pun menelepon Ardi dengan segala pertimbangan.
Setelah selesai, Ardi segera kembali menghampiri Aini. Dan saat ia sampai lorong dimana ia tadi meninggalkan Aini, hatinya mendadak bergemuruh. Seakan ada kompor yang secara tiba-tiba menyala dengan api besar di dadanya. Panas.
Bagaimana tidak? Ardi melihat Aini sedang berbincang santai dan bahkan bercanda dengan seorang laki-laki. Mereka sangat terlihat begitu akrab.
Ardi pun melangkahkan kakinya dengan pasti menghampiri Aini. Ada perasaan tak suka di hati Ardi saat melihat Aini berbincang dengan laki-laki yang sedikit gempal itu.
Dan, set. Ardi segera meraih pinggang kecil Aini ke dalam pelukannya. Sang empunya pinggang pun segera menoleh karena terkejut.
"Eehh? Mas Ardi?" Ucap Aini bingung.
"Dia siapa, Sayang?" Tanya Ardi seramah mungkin.
Ardi sedang berusaha keras menutupi api cemburu yang sedang berkobar di dadanya. Meski ia tak tahu, siapa laki-laki yang berbincang dengan Aini. Tapi, ia cukup yakin, bahwa laki-laki itu cukup mengenal Aini dengan baik. Karena mereka terlihat begitu dekat dan akrab saat berbincang.
"A,, apa?"
Aini makin terkejut saat Ardi memanggilnya dengan panggilan tak biasa. Ia langsung menatap Ardi penuh tanya. Ardi pun segera menoleh pada Aini.
"Oh, saya Fajar, Mas. Teman lama Aini dari Jogja." Sahut Fajar santai.
Begitulah pembawaan Fajar. Ia cukup santai menghadapi segala hal yang bahkan mungkin sangat mengejutkannya.
Fajar sebenarnya juga terkejut saat ada seorang laki-laki yang tiba-tiba memeluk pinggang Aini dengan intens. Tapi ia paham, itu mungkin adalah seseorang yang sedang dekat dengan Aini. Karena Fajar juga tahu, bahwa Aini sudah berpisah dari Adit.
Ardi dan Aini yang sedang saling pandang pun, segera mengalihkan pandangan mereka ke arah Fajar. Fajar terlihat sedang mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Ardi. Ardi pun lalu menyambutnya.
"Oh iya, saya Ardi, calon suami Aini." Jawab Ardi yakin.
Fajar pun mengangguk paham dan tersenyum ramah pada Ardi. Ia lalu berjabat tangan dengan pasti.
Sedang Aini, kembali menoleh pada Ardi dan menatapnya penuh tanya. Ia yakin, Ardi sedang cemburu pada Fajar saat ini. Hingga ia bisa bersikap seperti itu saat ini.
"Tenang saja, Mas! Nggak usah cemburu sama saya! Saya dan Aini, benar-benar hanya berteman sejak dulu." Sahut Fajar, setelah ia dan Ardi selesai berjabat tangan.
Ardi tertegun dengan ucapan Fajar. Ia tak menyangka, Fajar juga mengenal Adit. Dan bahkan, mengetahui kisah Aini.
"Ayah!"
Suara dua gadis kembar milik Fajar pun menelusup di indera pendengaran mereka. Mereka pun segera menoleh. Dua gadis kembar itu langsung memeluk ayahnya bersamaan. Dan saat itu pula, Tika pun tiba dengan wajah yang sedikit heran.
"Kenalin Mas, ini istri saya, Tika. Dan ini putri kami, Rani dan Rina." Ucap Fajar cepat.
Tika pun segera mengulurkan tangannya untum berkenalan dengan Ardi. Tapi, posisi Ardi yang masih memeluk pinggang Aini, lebih mencuri perhatiannya.
"Dia calon suami Aini, Bun." Imbuh Fajar lagi.
"Ardi."
"Tika." Ucap Tika sambil tersenyum dan mengangguk paham.
"Kenapa nggak bilang dari tadi sih Ni, kalau kamu kesini sama calon suamimu?" Sapa Tika ramah.
Aini hanya tersenyum untuk menanggapi pertanyaan Tika. Ardi pun perlahan melepaskan pelukannya pada Aini. Hatinya mulai tenang, karena laki-laki yang tadi berbincang dengan Aini, bukanlah saingannya. Ya meskipun, kalau dibandingin, jelas menang Ardi kemana-mana. (Othornya curang 😄)
"Yaudah Ni, kami duluan ya. Rina sama Rani mau main ke atas." Pamit Fajar.
"Oh, iya Jar." Jawab Aini singkat.
"Kita tunggu ya kabar baiknya, segera!" Timpal Tika sambil mengedipkan sebelah mata.
"Kabar baik apa?" Jawab Aini belagak polos.
"Tolong jaga Aini ya Mas Ardi! Meski kami tak begitu dekat, tapi aku sedikit tahu, perjalanan Aini tak mudah selama ini. Jadi, tolong bahagiakan Aini dan jaga Aini dengan lebih baik!" Pinta Fajar tulus.
"Kamu bicara apa sih, Jar?" Sahut Aini malu.
Ada sekelumit rasa yang tak biasa menghampiri hati Ardi. Ada rasa cemburu yang menyeru perlahan, karena ternyata, Fajar cukup tahu kehidupan Aini. Tapi, ada rasa dan harapan yang lebih dominan, memenuhi hatinya. Rasa dan arapan untuk bisa memenuhi permintaan laki-laki yang begitu santai menghadapinya itu.
"Aku akan berusaha." Jawab Ardi yakin.
Aini segera mendongakkan wajahnya ke arah Ardi. Ia bisa melihat dengan jelas, wajah Ardi yang tersenyum pasti dan begitu serius menjawab permintaan Fajar.
__ADS_1
"Mas,,??" Lirih Aini tak percaya.
"Oke. Kita duluan ya, Ni. Rani udah nggak sabar mau main, nih." Pamit Fajar lagi.
"Oh, iya. Hati-hati!" Jawab Aini sekenanya.
"Kamu juga hati-hati, ya! Aku tunggu undangan kalian." Timpal Tika antusias.
Hati Aini mendadak tak karuan. Ia paham betul maksud ucapan Tika. Sebuah do'a yang kadang juga menjadi sebait do'anya dalam diam.
Fajar dan Tika segera berlalu. Meninggalkan kembali sepasang duda dan janda yang sedang dilanda asmara itu. Aini melambaikan tangannya dengan senyuman hangat pada dua gadis kembar milik Fajar. Begitupun sebaliknya.
"Ayo, belanja lagi!" Ajak Ardi segera.
"Mas?" Panggil Aini sebelum Ardi melangkahkan kakinya.
Ardi pun menatap Aini dengan lembut.
"Kita akan mengobrol banyak nanti, tapi tidak di sini. Sekarang, kita selesaikan dulu belanjanya! Apa lagi yang belum masuk troli?" Jawab Ardi penuh perhatian.
Aini menghela nafasnya. Ia pun mengangguk paham dengan ucapan Ardi. Mereka lantas kembali berbelanja seperti pemintaan Ardi.
"Kita tidak pulang, Mas?" Tanya Aini saat menyadari, mobil Ardi melaju tidak menuju rumah.
"Bukankah kita akan berkencan?" Jawab Ardi santai dibalik kemudi mobilnya.
"Tapi, kita sudah berbelanja bukan?"
"Iya. Lantas? Apa bagimu itu berkencan?"
"Apa?" Ucap Aini lirih penuh kebingungan.
Ardi tersenyum pada Aini. Ia tak menyangka, pemikiran Aini cukup polos dan sederhana. Tak banyak percakapan diantara mereka selama diperjalanan. Mereka sibuk dengan pikiran dan perasaan mereka masing-masing.
Setelah berkendara tak begitu lama, Ardi dan Aini tiba di sebuah taman yang ada di area kota. Taman yang cukup terjaga dan terawat keindahannya. Ada beberapa pengunjung juga di sana.
"Ayo, turun!" Ajar Ardi setelah berhasil memarkirkan mobilnya.
"Iya, Mas." Jawab Aini patuh.
Aini mengedarkan pandangannya. Ia tersenyum melihat suasana taman yang menyenangkan di hadapannya. Taman yang begitu sejuk dan indah. Begitu hijau dan menenangkan, di tengah hiruk pikuk kota.
"Kamu pernah kemari?" Tanya Ardi sambil mulai melangkahkan kakinya.
"Iya. Dengan bu Dewi dan pak Galih." Jujur Aini.
Mereka kembali berjalan berdua tanpa berbincang. Menikmati suasana taman yang tak begitu ramai karena masih di jam kerja. Mereka lantas duduk di salah satu tempat duduk yang tersedia.
"Apa Fajar dan Tika teman dekatmu?" Tanya Ardi penasaran, sambil menatap hamparan rumput dan kolam yang ada di taman itu.
"Tidak juga, Mas. Aku tak memiliki teman dekat semenjak aku menikah." Jujur Aini sedikit sedih.
"Tapi sepertinya, mereka cukup tahu tentang kehidupanmu?"
"Iya. Fajar pernah melihat aku dan mas Adit sedikit berdebat karena kesalahpahaman."
"Kalian berdebat di muka umum?" Tanya Ardi tak percaya.
"Sedikit. Lebih tepatnya, mas Adit marah padaku saat itu. Karena melihatku berdua dengan Fajar tanpa sengaja." Jawab Aini makin lirih.
Air bening nan indah itu, mulai menggenang memenuhi rongga kelopak mata Aini. Hatinya masih merasa pedih, jika mengingat perlakuan Adit padanya saat itu.
Aini tertunduk dalam. Ia tak ingin, Ardi melihatnya menitikan air mata itu. Ia bahkan segera mengedipkan matanya beberapa kali untuk meredam air mata itu agar tak meluncur dari tempatnya.
Ardi menoleh pada Aini, karena suara Aini makin lirih. Ia sadar, ada yang tak biasa dari nada bicara Aini. Ia terkejut, saat mendapati Aini menahan tangis di sampingnya. Ia pun segera meraih tubuh mungil yang sedang duduk tepat di sampingnya, ke dalam pelukan tangan kirinya.
"Maaf, karena membuatmu mengingat hal itu." Sesal Ardi tulus.
Aini hanya mengangguk di pelukan Ardi. Ia akhirnya malah tak bisa membendung air matanya yang keluar makin banyak. Ia bahkan sedikit terisak di pelukan Ardi.
Hati Ardi benar-benar merasa bersalah karena membuat Aini menangis. Ardi benar-benar tak tahu, jika Fajar memiliki hubungan dengan hancurnya rumah tangga Aini dan Adit.
Ardi segera melepaskan pelukannya. Ia lalu menarik wajah Aini yang tertunduk. Ia tertegun, saat melihat wajah Aini yang polos tanpa riasan, berubah sangat merah dan basah.
"Jangan menangis, Sayang! Aku mohon! Aku tak bisa melihatmu seperti ini. Maafkan aku membuatmu mengingat hal yang tak seharusnya." Ucap Ardi penuh sesal, dengan tangan yang sibuk mengusap wajah Aini.
Aini hanya diam tak menjawab. Matanya terpejam, demi menahan air matanya agar tak meluncur kembali membasahi pipinya.
Meski Aini bisa tersenyum setiap hari, tapi hatinya tetaplah rapuh, ketika mengingat hal pedih yang pernah ia alami. Ia tetaplah seseorang yang butuh untuk dikuatkan dalam beberapa hal yang membuatnya begitu emosional.
Air mata itu malah mengalir makin deras karena penuturan Ardi. Hatinya begitu haru mendapat perlakuan lembut dari laki-laki yang tak pernah ia sangka. Laki-laki yang memang telah menggetarkan hatinya yang pernah terluka cukup dalam.
__ADS_1
"Maaf, Sayang! Maaf." Ucap Ardi sambil kembali memeluk Aini.