Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Kamar 507 Part 1


__ADS_3

Lidah memang tak bertulang. Mungkin ungkapan itu sangatlah tepat. Demi keinginannya bersama sang putra, Aini rela membuat perjanjian yang sungguh tak pernah ia bayangkan. Tapi, apa salahnya dengan keinginan itu?


Malam mulai menyapa. Bulan dan bintang sedikit enggan menampakkan keindahannya malam ini, karena terhalang oleh awan kelabu yang menggantung di langit Kota Surabaya.


Aini sedikit ragu mengeluarkan motornya. Tapi, ia sudah berjanji untuk menemui Ardi di hotel malam ini. Ia pun sudah mendapat ijin dari Dewi dan Galih untuk keluar malam ini.


Dewi dan Galih sebenarnya juga khawatir pada Aini. Mereka juga tak tahu, apa yang akan terjadi nanti di hotel. Mereka pun berpikiran sama dengan Aini. Mengingat, Aini pernah membuat janji itu dengan Ardi.


Dengan perlahan, Aini menjalankan motornya menuju hotel yang kemarin dikatakan oleh Ardi. Hotel itu berada di jantung Kota Surabaya. Butuh sekitar tiga puluh menit untuk sampai ke sana.


Setelah Aini membuat perjanjian dengan Ardi hari itu, ia dihantui oleh rasa bersalah dan ketakutan. Ketakutan jika memang ia harus menjual tubuhnya demi membayar biaya pengacara yang menangani kasus perebutan hak asuh Umar.


Tapi, keinginan dalam lubuk hatinya pun, tak dapat Aini bohongi. Ia ingin bisa kembali bersama dengan Umar setiap hari. Menemani dan melihatnya tumbuh dewasa, sebagaimana ibu-ibu yang lain.


Dan jika memang Aini harus menjual tubuhnya, ada satu hal lagi yang membuatnya sedih. Kenzo. Karena berarti, Kenzo juga belum bisa mendapat donor untuk kesembuhan penyakitnya.


Saat sampai di hotel itu, Aini segera bertanya pada resepsionis, di lantai berapa kamar 507 berada. Ia pun segera menuju lift untuk menaiki beberapa lantai, agar sampai ke kamar yang dimaksud Ardi.


Dengan jantung yang berdegup kencang, Aini mengetuk pintu kamar yang memiliki angka 507 di depannya. Hatinya ketakutan memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Perlahan pintu itu terbuka.


"Anda sudah tiba, Bu Aini? Silahkan masuk!" Pinta Dika ramah.


Aini mengangguk kecil sambil tersenyum kaku. Ia pun melangkahkan kakinya memasuki kamar yang asing baginya. Tubuhnya mulai mengeluarkan keringat dingin saking gugupnya.


"Pak Ardi sedang membersihkan diri. Anda tunggulah sebentar di sini!" Ucap Dika, setelah mereka sampai di ruang tamu kamar kelas presidential suite itu.


"Iya, Pak. Terima kasih." Jawab Aini lirih.


"Karena Anda sudah tiba, saya permisi dulu, Bu Aini. Pak Ardi ingin bicara berdua dengan Anda."


"Tapi Pak,," Cegah Aini segera.

__ADS_1


"Iya?"


"Pak Ardi memangnya ingin mengatakan apa? Kenapa harus berdua? Dan kenapa harus di sini?" Tanya Aini panik.


Dika tersenyum kecil.


"Nanti Anda juga akan mengetahuinya, Bu Aini." Jawab Dika ringan.


"Saya permisi, Bu Aini. Anda tunggulah dengan santai di sini! Tak ada yang perlu Anda khawatirkan." Imbuh Dika santai.


Pikiran Aini makin tak karuan. Jantungnya makin berdetak tak beraturan. Nafasnya berpacu dengan aliran darahnya yang berdesir hebat.


Dika pun akhirnya keluar dari kamar dan membiarkan Aini menunggu Ardi yang sedang mandi. Karena memang seperti itulah permintaan Ardi tadi.


Aini mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar, untuk mengurangi kegugupannya. Kamar yang luasnya berkali-kali lebih besar dari kamar yang ia tempati saat ini. Dengan desain interior yang jelas tak main-main, membuat suasana kamar makin mewah dan elegan di segala sisinya.


Aini akhirnya sampai di dekat jendela yang tirainya tertutup rapat. Ia berniat untuk membukanya dan melihat suasana malam Kota Surabaya dari kamar itu. Hingga,,


Aini yang fokus pada tirai dihadapannya, terkejut bukan main. Tubuhnya bahkan sampai berjingkat saking terkejutnya. Ia pun segera membalikkan badan.


"Aaaaaa!" Teriak Aini cukup lantang.


Kedua tangan Aini segera terangkat menutupi wajahnya. Ia pun kembali membalikkan badannya membelakangi Ardi.


"Kamu kenapa teriak?" Tanya Ardi bingung.


"Bapak kenapa belum pakai baju?" Ucap Aini masih dalam posisi membelakangi Ardi.


"Apa maksudmu aku belum pakai baju? Aku mengenakan handuk kimono hotel." Sanggah Ardi.


"Bapak kan bisa berpakaian lengkap lebih dulu." Sahut Aini sekenanya.

__ADS_1


"Aku tak tahu jika kamu sudah tiba. Apa Dika sudah pergi?"


"Sudah. Pak Dika sudah keluar kamar beberapa saat yang lalu." Jawab Aini tanpa membalikkan badannya.


Ardi tersenyum kecil melihat tingkah Aini. Tanpa Aini ketahui, Ardi berjalan mendekatinya.


"Dengan sikapmu itu, kamu mau membayar biaya pengacaraku dengan tubuhmu? Apa kamu bercanda?" Batin Ardi sambil berjalan.


"Bukankah kamu harus membayar biaya perebutan hak asuh Umar?" Bisik Ardi di telinga kiri Aini.


Bulu-bulu di tubuh Aini meremang sempurna. Aini refleks menoleh ke arah Ardi yang membisikinya kalimat yang tak ia harapkan itu. Dua pasang bola mata itu bertemu pandang dan saling memantulkan bayangan satu sama lain.


"Kamu tidak lupa bukan, dengan perjanjian kita?" Imbuh Ardi hingga menyadarkan Aini dari keterpakuannya karena bertemu pandang dengan Ardi dari jarak dekat.


Aini segera menjauhkan diri dari Ardi. Jantungnya yang tadi sudah mulai tenang, kembali bertalu dengan kerasnya dan membuatnya dilanda kegugupan kembali.


"Apa, apa hasilnya sudah keluar? Apakah saya tidak bisa menjadi pendonor bagi Kenzo?" Tanya Aini demi menutupi kegugupannya.


Aini berjalan ke arah lain agar tidak berdekatan dengan Ardi. Ia memilih berjalan ke arah ranjang berukuran besar yang ada di kamar itu. Karena memang, letak ranjang berada sedikit jauh dari jendela.


"Sudah. Dan kurasa, kamu sudah bisa menerkanya, bagaimana hasilnya setelah aku memintamu datang kemari malam ini." Jawab Ardi santai.


Aini menghentikan langkahnya tepat di depan ranjang. Tatapannya mendadak kosong mendengar jawaban Ardi. Hatinya begitu pedih mengingat nasib Kenzo yang belum bisa mendapat pendonor yang cocok. Aini membalikkan badannya.


"Lalu, bagaimana,,"


Kalimat Aini terpotong karena kembali terkejut. Ia terkejut, karena Ardi sudah berada dihadapannya lagi saat ini. Bahkan, nyaris tak berjarak, bahkan barang sejengkal. Ia pun refleks memundurkan langkahnya. Tapi sayang, terbentur oleh ranjang dan akhirnya terduduk begitu saja di tepi ranjang.


"Apanya yang bagaimana?" Tanya Ardi santai, sambil mulai membungkukkan badannya mendekati Aini.


"Bapak, Bapak mau apa?" Tanya Aini makin gugup.

__ADS_1


"Menurutmu?"


__ADS_2