
"Berhenti!" Teriak Adit tanpa ragu.
Perhatian semua orang teralihkan pada Adit. Tak terkecuali Umar dan Kenzo yang masih berada di atas panggung bersama teman-temannya yang lain.
Begitu pula dengan Mala. Ia segera berlari keluar mengejar Aini yang sudah tidak terlihat di aula nan besar itu. Dan ternyata, Ardi juga ikut melangkahkan kakinya mengikuti Mala.
Adit tadi menyadari tatapan Umar yang sedang melempar senyum pada orang lain. Senyum yang begitu tulus dan bahagia. Dan itu membuat Adit penasaran. Ia pun mengedarkan pandangannya, hingga melihat Aini yang sedang asik melambaikan tangannya ke arah panggung.
Dada Adit terasa bergemuruh seketika. Ia tak menyangka, Aini bisa berada di sana tadi. Padahal, ia sudah sangat mempercayakan putranya ke pihak sekolah, yang entah bagaimana bisa membuat Aini berada di tempat itu.
Adit pun segera mengejar Aini. Ratri bersama putrinya yang duduk di samping Adit, sangat terkejut dengan ulah Adit. Ia segera mencoba mencari alasan dibalik sikap Adit tadi. Tapi, ia tak melihat siapapun yang mencurigakan.
"Bunda!" Gumam Umar yang sadar dengan sikap ayahnya.
Umar pun berlari dari barisannya tiba-tiba. Kenzo yang berada tepat di sampingnya, pun ikut berlari keluar. Tapi, ia belum tahu alasan Umar pergi dari panggung.
Dan karena Ardi dan Mala yang mendadak keluar dari aula, membuat para hadirin penasaran. Apalagi, dengan ulah Adit yang mendadak berteriak dan berlari keluar juga dengan tergesa-gesa. Dan juga, Umar dan Kenzo yang mendadak turun dari panggung meski dicegah oleh gurunya.
Akhirnya, beberapa hadirin pun ikut keluar karena penasaran dengan apa yang terjadi.
Tepat di halaman sekolah, Aini sedang berlari sekencang yang ia mampu agar bisa segera keluar dari area sekolah. Tapi sayang, motornya sedikit terjepit oleh motor lain, hingga sulit untuk dikeluarkan sendiri. Ia pun segera dibantu oleh tukang kebun sekolah yang hari ini beralih profesi menjadi tukang parkir.
"Kenapa kamu di sini?" Bentak Adit, tepat di belakang Aini.
Aini berjingkat karena terkejut. Ia yang terlalu fokus pada laki-laki yang sedang mengeluarkan motornya, tidak mengetahui jika Adit berhasil menemukannya. Aini segera membalikkan badannya.
"Maaf Mas, aku akan segera pergi." Ucap Aini cemas.
"Jawab pertanyaanku! Bagaimana bisa, kamu berada di sini saat ini?" Bentak Adit keras.
Hati Aini menciut karena bentakan mantan suaminya. Aini masih tetaplah wanita yang lemah dan tak ingin membuat masalah.
"Sudah, Bu." Ucap laki-laki paruh baya, yang baru saja selesai mengeluarkan motor Aini dari barisan motor yang terparkir rapi.
Aini segera menoleh pada laki-laki itu, "Iya Pak, terima kasih."
Aini bersiap menaiki motornya, hingga suara dua anak laki-laki mengalihkannya.
"Bundaaa!"
Umar dan Kenzo berlari dengan kencang ke arah Aini. Mereka tak menghiraukan tatapan para tamu yang ikut keluar karena penasaran. Termasuk Ratri, yang sedang menggendong putrinya sambil berjalan cepat untuk menghampiri Adit.
Mata dua orang ayah dari kedua anak laki-laki itu, membulat dengan sempurna. Mereka sama-sama terkejut dengan ulah putra mereka.
Tapi sayang, satu diantaranya diliputi dengan amarah yang nyaris membuncah. Dipenuhi dengan kekekecewaan dan kebencian yang cukup besar pada wanita yang sedang mereka panggil.
Umar yang hampir sampai pada Aini, dihadang dengan segera oleh Adit. Tapi Umar sudah bersiap. Ia membelokkan arah larinya, hingga Adit tak berhasil menangkapnya. Sedang Kenzo, laju kakinya terhenti sedikit jauh di belakang Umar karena kelelahan.
Umar segera memeluk erat Aini. Makin bergemuruhlah hati Adit saat ini.
"Umar, kemari!" Bentak Adit.
Umar menggeleng cepat, sambil menatap Adit dengan ketakutan. Ia bahkan menyembunyikan tubuhnya di balik tubuh mungil Aini.
"Ayah bilang, kemari!" Bentak Adit makin keras.
"Jangan berteriak, Mas!" Sela Aini, yang tak rela Umar dibentak oleh ayahnya.
Aini segera mengusap lengan Umar yang melingkar di perutnya. Ia bisa merasakan, wajah Umar yang menempel dengan kuat di punggungnya. Detak jantung Umar pun berpacu dengan cepatnya, hingga Aini pun bisa merasakannya.
Adit tersentak karena Aini menyelanya.
"Mas, sudah! Ini di sekolah Umar." Ucap Ratri, sambil memegangi lengan Adit.
Adit segera menoleh. Matanya masih memancarkan kemarahan dalam tatapannya pada Ratri.
"Masuk mobil!" Pinta Adit cepat.
"Tapi Mas,," Sela Ratri ragu.
__ADS_1
"Aku bilang, masuk!" Pinta Adit sedikit keras.
Ratri yang juga tak ingin berdebat dengan suaminya di depan umum, segera menjauh dari Adit. Ia mundur beberapa langkah dari posisinya tadi. Ia tetap tidak bisa meninggalkan Adit yang sedang diliputi amarah.
Adit masih membenci dan sangat kecewa pada Aini. Hingga ia dengan sungguh-sungguh, tidak mengijinkan Aini menemui Umar sama sekali. Meski, ia sempat diancam oleh kedua mertuanya dulu mengenai hal itu.
"Ayah katakan sekali lagi, Umar. Cepat kemari! Dan susul mama ke mobil!" Pinta Adit.
"Nggak mau. Umar mau sama Bunda." Jawab Umar, dengan tangan yang makin erat memeluk Aini.
"Umar!" Panggil Adit dengan nada mulai marah kembali.
Umar pun menggeleng dengan cepat, hingga membuat Adit benar-benar marah saat ini.
Adit mulai melangkahkan kakinya mendekati Aini. Tangannya segera terangkat dan bersiap meraih tangan kecil Umar.
Umar pun memberontak. Ia tak ingin ikut dengan ayahnya saat ini. Ia sungguh ingin bersama ibunya, meski hanya beberapa saat.
Tapi itu tidak dihiraukan oleh Adit. Ia malah semakin berusaha menarik Umar dan menjauhkannya dari Aini.
Aini tak bisa menahannya lagi. Ia tak rela, putranya diperlakukan dengan kasar oleh ayahnya sendiri. Ia dengan cepat berusaha melepaskan cengkeraman tangan Adit yang dengan eratnya memegangi lengan Umar.
"Jangan ikut campur kamu, Ni!" Bentak Adit, disela usahanya menarik Umar dari Aini.
"Dia putraku, Mas. Aku juga berhak atas Umar." Sahut Aini tegas.
"Putramu? Bukankah kamu menjualnya demi biaya rumah sakit ibumu dan kehidupan nyamanmu?" Sindir Adit, setelah melepaskan tangannya dari lengan Umar.
"Jaga bicaramu, Mas!" Bentak Aini tak terima.
"Kenapa? Bukankah itu benar?" Cibir Adit santai.
"Terserah apa katamu, Mas. Tapi, aku tak pernah melakukan itu sama sekali." Jawab Aini yakin.
Adit tersenyum mengejek.
"Tenanglah, Sayang! Bunda masih di sini." Ucap Aini, seraya mengusap lembut tangan putranya.
SET.
Adit meraih lengan Umar dengan cepat. Aini pun segera mencegah Umar kembali pada Adit, sesuai permintaan Umar tadi. Acara perebutan sang putra pun tak bisa dihindarkan.
Hingga akhirnya, Adit meraih pergelangan tangan Aini yang masih setia memegangi Umar. Mencengkeramnya dengan begitu kuat, hingga membuat Aini meringis kesakitan. Pegangan tangan Aini di tangan Umar pun akhirnya terlepas.
Adit segera menghentakkan tangan Aini dengan sangat keras. Hingga membuat Aini terjatuh karena tak siap.
"Bundaa!" Teriak Umar, dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.
"Ada apa ini?" Tegur seorang laki-laki yang baru saja tiba bersama dua orang lain.
Mereka Ardi, Dika dan Mala. Mala segera membantu Aini untuk berdiri. Aini meringis kesakitan menahan sesuatu, sambil menatap pilu putranya yang sedang menangis dan terisak dalam genggaman ayahnya.
"Kebetulan Anda di sini Pak Ardi. Saya ingin mengajukan keluhan terhadap sekolah Anda. Karena telah lalai menjaga siswanya, putra saya. Hingga putra saya bisa diganggu oleh wanita tak tahu diri seperti dia." Ucap Adit penuh kemarahan.
"Tunggu sebentar, Pak Adit. Apa maksud Anda?" Tanya Ardi setenang mungkin.
"Bagaimana bisa, wanita seperti dia, hadir di sini saat ini? Jika bukan karena campur tangan pihak sekolah." Cecar Adit, sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah Aini.
"Bukankah Bu Aini adalah mantan istri Anda? Dia ibu dari putra Anda, bukan?" Sahut Ardi tenang.
Adit mengerutkan keningnya.
"Bagaimana Anda tahu tentang hal itu?"
"Bu Aini selalu datang menemui putranya di sekolah satu minggu sekali."
"Apa? Tapi saya tidak pernah memberikan ijin untuk itu? Bagaimana pihak sekolah bisa begitu ceroboh melakukan hal itu?" Marah Adit.
"Mas, Umar kesakitan tangannya." Sela Aini tiba-tiba.
__ADS_1
Adit menoleh pada Aini, lalu pada Umar. Ia bisa melihat wajah Umar yang merah karena menangis dan menahan sakit. Adit pun segera mengendurkan tangannya dari Umar.
"Masuk ke mobil dengan mama!" Pinta Adit cepat.
Umar menggelengkan kepalanya. Adit pun mendengus kesal.
"Ma! Bawa Umar masuk mobil!" Panggil Adit segera.
Ratri yang berdiri tak jauh dari Adit, segera menghampiri Adit dan Umar. Adit pun melepaskan tangannya dari Umar, setelah memastikan Umar bersama Ratri. Ia juga memastikan, Ratri dan kedua putra-putrinya telah masuk mobil yang terparkir tak jauh dari sana. Ratri pun berusaha mencegah Umar untuk keluar.
"Baik, Pak Ardi. Bagaimana Anda akan menjelaskan itu? Bagaimana sekolah sebagus ini, bisa melakukan hal seceroboh itu pada muridnya?" Sambung Adit, setelah Umar masuk mobil.
"Maaf, Pak Adit. Kami tidak serta merta mengijinkan bu Aini menemui putranya begitu saja. Kami mengijinkannya, karena telah mendapatkan ijin dari walinya, Bu Ratri. Anda bisa menanyakan sendiri pada istri Anda." Sahut Mala datar.
"Apa?"
Adit menoleh ke arah mobilnya. Amarahnya mulai memuncak kembali, setelah tahu kebenaran itu dari Mala. Tapi, ia juga merasa sedikit malu, karena sempat menuduh pihak sekolah yang tidak bisa menjaga putranya.
Adit akhirnya melangkahkan kakinya menuju mobilnya tanpa berucap apapun. Ia segera menyalakan mobilnya dan segera meninggalkan area sekolah.
Dan dari kursi belakang, Umar menggedor-gedor kaca mobil ayahnya sambil terus memanggil Aini.Ia ingin keluar dan menghampiri Aini, tapi tidak bisa. Pintu dan kacanya sudah dikunci oleh Adit.
Hati Aini terlampau pedih melihat putranya seperti itu. Ia berjalan dan lalu sedikit berlari untuk mengejar mobil Adit dengan langkah pincang. Kakinya terkilir tadi, saat Adit menghempaskan tangannya dengan sangat kuat.
"Umar!" Panggil Aini lirih, disela langkahnya.
Aini akhirnya terjatuh, karena kakinya terasa lebih sakit setelah sedikit berlari mengejar Umar. Mala dan Ardi segera menghampirinya. Sedang Dika, segera mengkondisikan suasana halaman depan sekolah. Meminta para tamu undangan untuk segera kembali ke aula untuk melanjutkan acara.
"Anda tidak apa-apa?" Tanya Ardi segera, setelah ia sampai di depan Aini.
"Anda tidak apa-apa, Bu Aini?" Tanya Mala cemas, sambil ikut berjongkok di samping Aini.
"Umar!" Ucap Aini dengan air mata yang mengalir deras.
Ardi cukup kebingungan menghadapi situasi saat ini. Ia ingin membantu wanita mungil di depannya itu, tapi otaknya mendadak beku dan tak bekerja sama sekali. Ia tak tahu harus bagaimana.
Mala akhirnya memeluk Aini. Membiarkan hati yang kuat itu, menumpahkan segelintir rasa yang sangat menyakitinya saat ini. Membiarkan wanita mungil itu melepaskan pedih hatinya.
Setelah sedikit tenang, Mala mengajak Aini ke ruangannya. Ia membantu Aini berjalan pelan, dengan Ardi mengikutinya di belakang. Tak lupa, Ardi meminta Dika menangani acara lustrum hari ini, sebagaimana yang sudah direncanakan. Dengan Rama, yang mewakilkan kehadiran Ardi saat ini.
Mala menenangkan Aini di ruangannya. Sedang Ardi, melihat kondisi putranya terlebih dahulu, yang sedang berada di ruangannya bersama sang nenek.
"Saya minta maaf, Bu Mala." Ucap Aini penuh penyesalan.
"Itu bukan salah Anda, Bu Aini." Jawab Mala tulus.
Aini terdiam. Hatinya sangat merasa bersalah. Karena kehadirannya, acara yang diadakan sekolah menjadi terganggu.
Setelah mengobrol beberapa saat, dan Aini juga lebih tenang, ia segera berpamitan pada Mala.
"Anda yakin bisa pulang sendiri, Bu Aini? Kaki Anda terkilir bukan?" Tanya Mala perhatian.
"Saya akan pelan-pelan, Bu Mala." Jawab Aini lirih.
"Atau Ibu pulang dengan taksi online saja, biar lebih aman. Motor Ibu, biarkan di sini." Usul Mala.
"Tidak perlu, Bu Mala. Saya akan pulang pelan-pelan."
"Biar diantar Dika." Sela Ardi tiba-tiba dari arah pintu.
Mala dan Aini pun segera menoleh ke sumber suara.
"Tidak perlu, Pak. Saya masih bisa pulang sendiri. Maaf telah mengacaukan acara Anda hari ini." Sahut Aini tulus.
Aini masih ingat, laki-laki yang baru saja masuk, adalah orang yang memberikan sambutannya tadi di aula. Yang berarti, ia adalah pemilik yayasan dan sekolah itu.
"Tapi Bu Aini,," Sela Mala berusaha merayu Aini.
"Saya permisi, Bu Mala, dan Bapak." Aini segera berdiri dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Mala pun ikut berdiri. Tapi, Aini segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan itu. Mala dan Ardi akhirnya hanya menatap punggung Aini yang berjalan sedikit pincang.
Apa yang akan terjadi, selalu menjadi misteri yang tak bisa ditebak. Selalu menjadi tanda tanya dalam setiap benak pemiliknya. Tetapi, akan selalu ada hal baik dari setiap hal yang akan kita lalui nanti.