Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Reno


__ADS_3

Langit nampak murung pagi ini. Suara kicau burung pun nyaris tak terdengar. Tergantikan oleh suara tetesan-tetesan air dari Sang Maha Kuasa. Retesan-tetesan air, yang akan menjadi sumber kehidupan bagi semuanya.


Dua hari sudah Aini pulang dari rumah sakit. Dan dua hari sudah pula, ia mennemani Niken di rumah sakit menjaga Kenzo, jika siang hari. Dan jika malam hari, Aini akan berada di rumah. Bersama putra pertamanya, Umar.


Umar pun juga sudah menjenguk Kenzo lagi di rumah sakit kemarin sepulang sekolah. Ia lalu pulang bersama Aini saat sore tiba. Dan jika malam, pastilah giliran Ardi yang menjaga Kenzo.


Agenda Ardi jadi bertambah selama Kenzo di rumah sakit. Ia bahkan juga belum pulang ke rumah semenjak Aini juga dirawat di rumah sakit. Karena jika siang Ardi harus bekerja, dan saat malam, ia harus menemani putra sulungnya di rumah sakit.


Jika ditanya apa Ardi lelah? Jelas, dia lelah. Apalagi setelah operasi dan Aini juga masih harus dirawat. Sungguh hari yang berat bagi Ardi. Bagaimana ia harus bisa membagi waktunya untuk Aini dan Kenzo, tanpa harus membuat Kenzo curiga.


Ditambah lagi, perasaan cemas dan khawatir dengan hasil dari operasi putranya yang masih dievaluasi oleh sang dokter. Meski operasi berjalan lancar, tapi hasil operasinya masih menunggu seiring berjalannya waktu.


Kemarin, Kenzo minta dibuatkan camilan oleh Aini. Meski bukan hal baru bagi Aini, tapi karena hal itu, Aini harus menyambangi pasar untuk membeli beberapa bahannya. Karena memang, tidak tersedia di rumah Ardi.


Aini baru saja selesai bersiap untuk ke pasar pagi ini, setelah Umar berangkat sekolah. Tapi tiba-tiba, ponselnya berdering. Ia tersenyum kecil melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


"Assalamu'alaikum. Iya, Mas?" Sapa Aini sangat ramah.


"Wa'alaikumussalam. Kamu sedang apa, Sayang?" Sahut orang di seberang telepon, yang tak lain adalah Ardi.


"Mau ke pasar, Mas. Kenzo kemarin minta dibuatin dadar gulung. Aku harus beli kelapa ke pasar. Ada apa?"


"Sama siapa? Pak Prapto baru nganter papa sama mama ke rumah sakit, kan? Pak Joko udah pulang nganter Umar?"


"Sendiri aja, Mas. Aku udah tahu jalannya kok."


"Jangan! Jangan pergi seorang diri!"


"Nggak papa, Mas. Cuma bentar kok."


Ardi masih diam di ujung telepon. "Kamu tunggu sebentar di rumah! Aku akan minta seseorang menemanimu ke pasar."


"Nggak usah, Mas."


"Jangan membantahku, Sayang! Aku tak ingin terjadi sesuatu padamu."


Aini tiba-tiba terdiam. Ia sebenarnya merasakan firasat tak baik sejak kemarin. Tapi ia coba mengabaikannya dan berfikir positif demi menghilangkannya. Dan setelah Ardi mengatakan kalimat terakhirnya tadi, entah mengapa, firasat itu malah mendadak semakin kuat.


"Kamu tunggu sebentar! Biar Reno yang menemanimu."


"Reno? Siapa Reno, Mas?"


"Nanti dia akan menjelaskannya padamu. Aku tutup teleponnya dulu."


Belum sempat Aini menjawab, Ardi langsung memutuskan panggilan begitu saja. Aini segera menatap ponselnya dengan bingung. Tapi, ia memilih menuruti permintaan Ardi.


Dan tak lama, ada seseorang yang mengetuk pintu rumah. Aini pun segera membukakan pintu.


"Selamat pagi, Bu Aini." Sapa seorang laki-laki yang berada tepat di depan pintu.


"Iya, selamat pagi. Cari siapa?" Sambut Aini ramah.


"Saya Reno, pengawal pribadi pak Ardi. Tadi pak Ardi meminta saya, untuk menemani ibu ke pasar, karena beliau masih di rumah sakit."


Aini terdiam. Ia ingat nama yang barusan disebutkan oleh tamu itu. Nama yang sama, yang tadi juga disebutkan Ardi.


Tamu itu memang Reno. Dia baru saja akan berangkat ke rumah sakit menemui Ardi tadi, tapi Ardi lebih dulu menghubunginya. Dan meminta Reno, mengantar Aini ke pasar lebih dulu. Reno jelas mematuhi perintah Ardi.


Aini dengan seksama mengamati Reno dari atas ke bawah. Reno tak terlihat seperti pengawal pribadi sama sekali. Ia lebih terlihat seperti seorang sopir atau tukang kebun biasa. Meski memang, tubuhnya begitu tegap dan gagah untuk ukuran tukang kebun biasa.


Reno menyadari tatapan Aini. Ia tahu, Aini sedikit meragukan pengakuannya tadi. Karena memang, ia sengaja hanya memakai pakaian rumahan biasa, sebagai samarannya kali ini. Ia pun lantas tersenyum ramah pada Aini.


"Sebentar, saya akan menghubungi pak Ardi, untuk meyakinkan Anda!" Pinta Reno ramah.


Reno segera mengambil ponselnya. Ia lalu menghubungi Ardi melalui panggilan video, agar Aini yakin padanya.


"Ada apa?" Suara Ardi, jelas menggema di telinga dua orang yang masih berada di pintu itu.


"Maaf, Pak. Sepertinya, bu Aini tidak begitu yakin dengan saya." Jawab Reno sopan.


"Berikan ponselmu padanya!"


"Baik, Pak."

__ADS_1


Reno segera menyerahkan ponselnya pada Aini. Aini sedikit ragu menerima ponsel itu.


"Mas?" Ucap Aini masih tak percaya.


"Iya Sayang, ini aku. Dia Reno, pengawalku. Pergilah ke pasar dengannya! Dia akan menjagamu. Maaf, aku tak bisa menemanimu. Mama dan papa belum sampai di rumah sakit."


Aini melirik ke arah Reno. Ia masih berusaha meyakinkan diri, bahwa orang dihadapannya memang seorang pengawal.


"Kenapa? Dia memang terbiasa menyamar jika sedang menjadi pengawal. Semua pengawalku selalu menyamar jika sedang bekerja. Percayalah! Dia sudah terbiasa dengan hal itu."


"Atau tunggulah sebentar, aku akan segera pulang, jika papa dan mama sudah sampai! Aku akan menemanimu nanti." Imbuh Ardi cemas.


"Tidak apa, Mas. Aku akan pergi dengan mas Reno saja. Mas pasti akan terlambat ke kantor nanti jika menemaniku ke pasar lebih dulu." Sahut Aini ragu.


"Kamu yakin?"


"Iya, Mas."


Aini berusaha meyakinkan Ardi bahwa ia bisa pergi dengan Reno. Karena ia sungguh tak enak hati pada Ardi, jika Ardi harus menemaninya ke pasar lebih dulu. Karena berarti, itu akan membuat Ardi terlambat ke kantor pagi ini.


"Ya sudah, baiklah. Kabari aku segera, jika kalian sudah sampai rumah atau terjadi apapun!"


"Iya, Mas."


"Tolong berikan ponselnya kembali pada Reno!"


Aini hanya mengangguk. Ia lalu mengembalikan ponsel Reno pada pemiliknya. Ardi dan Reno sejenak berbincang.


Aini lantas pergi ke pasar ditemani oleh Reno. Mereka menggunakan mobil yang biasa dipakai Reno, sebagai inventaris untuk pekerjaannya.


Aini pergi ke salah satu pasar tradisional. Karena bahan makanan yang ia butuhkan, tersedia di pasar tradisional. Ia juga sekalian belanja beberapa kebutuhan rumah Ardi, sesuai permintaan Niken.


Reno mengekori kemanapun Aini melangkah. Awalnya, Aini sedikit tidak nyaman. Tapi karena itu sudah menjadi permintaan Ardi, dan ia pun juga menyanggupinya, ia berusaha keras menyamankan diri dengan kehadiran Reno yang mengikutinya.


Saat Aini sedang memilih beberapa sayuran, tiba-tiba ada seorang wanita yang menyentuh bahunya dengan santai. Aini pun sangat terkejut.


"Aini? Kamu Aini, kan?" Sapanya cukup keras, hingga membuat beberapa pengunjung pasar pun mengalihkan perhatiannya.


"Kamuu??"


Aini sudah berusaha sangat keras, tapi tetap saja tidak menemukan jawaban dari kebingungannya. Ia benar-benar tidak mengenali wanita yang baru saja menyapanya.


Reno segera mendekati Aini. Ia sadar, Aini sedikit aneh sikapnya. Ia berpikiran, bahwa Aini tidak mengenali wanita itu, jadi ia ingin membantu Aini keluar dari situasinya. Tapi sayang, wanita itu begitu heboh tingkahnya.


"Ya ampun, Ni! Kamu lupa sama aku? Aku Reni. Kita satu kelas kan dulu, saat SMA." Jawab wanita itu begitu antusias.


"Reni?"


Aini masih berusaha mengingat nama itu. Ia mulai ingat, ada salah satu teman SMAnya yang bernama Reni. Tapi, wajah dan postur tubuhnya sangat berbeda dengan wanita yang sedang ada di hadapannya saat ini.


Reni yang ia kenal, tubuhnya tidak begitu tinggi dan sedikit gemuk, dengan kulit sawo matang. Tapi ini, Reni yang ada di hadapannya, kenapa bisa begitu semampai tinggi tubuhnya, seperti model. Bahkan, kulitnya begitu putih terawat.


"Iya. Aku Reni. Kenapa? Pasti pangling, kan?"


Saat Aini masih berusaha mengurai kebingungannya, wanita yang mengaku sebagai Reni itu, segera meraih tubuh Aini dan memeluknya tanpa ragu. Ia memeluknya dengan begitu bahagia. Sebuah senyuman pun bahkan tesungging indah di wajahnya. Aini pun refleks terjatuh dalam pelukan wanita itu.


"Seneng banget rasanya ketemu sama kamu, Ni." Ucap wanita itu santai.


Aini masih mematung. Ia tak tahu harus bagaimana menyikapi situasinuy saat ini. Dan saat itu masih terjadi,,


"Jangan bersikap macam-macam! Atau Umar yang akan menanggung akibatnya." Bisik wanita itu, tepat di telinga Aini.


Aini jelas membulatkan kedua bola matanya. Ia tak menyangka, bahwa wanita yang sedang memeluknya begitu heboh itu, ternyata bukan orang baik-baik.


Dan ketika Aini masih belum mengurai keterkejutannya, wanita itu segera melepaskan pelukannya.


"Beberapa waktu yang lalu, aku ke sekolah Adel, putri pertamaku. Nggak sengaja, aku lihat anak laki-laki yang mirip sama kamu. Kata Adel, namanya Umar. Dia putramu?" Tanya wanita itu tanpa ragu.


"Umar?"


Suara Aini sedikit tercekat. Ia yang tadi masih berusaha meyakinkan diri bahwa yang dibisikkan wanita itu tidaklah benar, ternyata malah dengan begitu nyaringnya dia menyebut nama putranya itu lagi.


"Iya, Umar. Ini, aku sempat memotretnya waktu itu."

__ADS_1


Wanita itu segera mengambil ponselnya. Ia sejenak mengutak-atik ponselnya untuk mencari sesuatu.


"Ini Umar, kan? Dia putramu, kan? Wajahnya mirip banget sama kamu." Ucap wanita itu dengan sangat santai dan heboh, sambil menunjukkan sebuah foto yang terpampang di ponselnya.


Aini jelas makin terkejut. Saat foto Umar yang sedang berada di sekolah, terpampang nyata di layar ponsel wanita itu.


"Umar?" Batin Aini bingung.


Jantung Aini jelas langsung berdetak makin kencang. Tubuhnya mendadak dingin, tapi peluhnya mengucur dengan deras.


Wanita itu, tiba-tiba makin mendekat pada Aini. Tubuhnya menempel dengan sempurna pada Aini berdampingan.


"Aku tahu, kamu sedang bersama seseorang. Jika ingin Umar selamat, patuhi permintaanku!" Ucap wanita itu lirih, tapi masih terdengar oleh Aini.


Aini tahu, wanita itu tidak main-main. Apalagi, ia bisa memiliki foto Umar yang sedang berada di sekolah. Jadi, ia pasti tahu sedang berada dimana Umar sekarang.


Aini masih belum menanggapi apa yang wanita itu katakan. Kepalanya masih dipenuhi kebimbangan dan keterkejutan.


"Kamu udah lama di sini?" Tanya wanita itu makin santai.


"Belum, Ren." Jawab Aini senatural mungkin.


"Oh. Udah sering belanja ke sini?"


"Belum. Ini pertama kalinya. Kamu udah biasa?"


"Udah. Ayo, aku ajak ke langganan aku!"


Wanita itu segera menggamit lengan Aini dan menariknya begitu saja. Aini pun refleks mengikuti arah langkah kaki wanita itu.


"Aku harus bagaimana? Umar? Mas Reno?" Batin Aini makin bingung.


Aini benar-benar tak tahu mana yang harus dipilihnya. Jika ia menuruti wanita itu, maka dirinya yang akan terancam keselamatannya. Tapi jika ia tidak menurutinya, jelas Umar yang akan terancam keselamatannya.


Aini mencoba menoleh ke belakang, dimana Reno sedang mengikutinya saat ini. Tapi,,


"Jangan menoleh! Aku tak main-main dengan putramu! Jika kamu berani macam-macam, kamu akan segera menerima kabar buruk dari sekolah!" Ancam wanita itu lirih, sambil terus berjalan menggamit lengan Aini, tapi dengan gerak dan ekspresi yang terlihat sangat biasa.


Perasaan Aini makin tak karuan. Ia tak mungkin mengorbankan putranya hanya demi dirinya sendiri. Tapi, ia juga sangat takut dengan apa yang akan dihadapinya nanti.


Reno menyadari sedikit gelagat aneh dari Aini. Karena ia cukup tahu, Aini bukanlah seseorang yang pandai berbohong. Ia segera mempercepat langkahnya demi menyamai posisi Aini, agar ia bisa segera menyapanya.


Tapi tiba-tiba, seseorang yang sedang membawa dua buah plastik besar berisi ikan lele yang baru saja dibersihkan, tidak sengaja menyenggol tubuhnya. Dan tanpa aba-aba, salah satu plastik yang ada di tangannya itu terlepas dari genggamannya. Ikan lele seisi plastik itu segera berserakan memenuhi lantai lorong pasar itu.


"Astaga!" Ucap orang itu terkejut.


Reno pun refleks meloncat karena terkejut. Dan sang empunya plastik tadi, tanpa sengaja menjatuhkan begitu saja plastik yang satunya, hingga plastik itu pun juga pecah. Makin berserakan lah ikan lele di lantai lorong pasar itu.


Orang-orang pun segera berkerumun untuk membantu. Reno pun sejenak melirik ke arah lantai yang dipenuhi ikan lele. Tapi, ia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. Arah dimana Aini tadi berada.


"Bu Aini?" Gumam Reno panik.


Aini sudah tak terlihat di sekitarnya. Ia bergegas menjauh dari kerumunan untuk mencari Aini. Perasaannya makin tidak enak.


"Ceroboh kamu, Ren!" Gumam Reno, sambil terus mencari Aini kesana-kemari.


"Cari bu Aini! Aku kehilangannya! Dia bersama seorang wanita tinggi berkulit putih." Ucap Reno dengan tangan yang memegangi ponsel, tapi terus berjalan mengelilingi pasar untuk mencari Aini.


Reno tadi memang tidak mengawal Aini sendirian. Ia bersama dua orang temannya yang memang sudah ditugaskan untuk mengawal Aini jika keluar rumah. Mereka tadi menunggu di luar, karena tak ingin Aini merasa curiga dan tak nyaman. Itu juga atas ijin Reno.


Tiga pengawal itu begitu panik saat ini. Ukuran pasar yang cukup besar dan ramai, membuat mereka cukup kesulitan menemukan Aini.


"Bu Aini?" Teriak Reno, saat melihat Aini dan wanita tadi memasuki sebuah mobil sedan yang terparkir di tepi jalan raya.


Tapi sayang, Reno kurang cepat. Mobil itu segera melaju, tepat setelah wanita itu masuk setelah Aini.


Dan saat itu terjadi, Aini sempat menoleh ke belakang dan jelas melihat Reno di sana. Ia berusaha meminta tolong pada Reno dengan mencoba memukul kaca mobil.


Tapi tiba-tiba, seorang laki-laki yang duduk di samping Aini, segera membungkam mulut Aini. Aini jelas berusaha meronta. Tapi tak lama, ia pun mulai kehilangan kesadarannya.


Dan wanita yang mengaku sebagai teman lama Aini tadi, juga ikut menoleh ke belakang. Ia lalu melambaikan tangan ke arah Reno, dan tersenyum puas penuh kemenangan. Ia bahkan memberikan ciuman jarak jauh untuk Reno dari dalam mobil.


Dan Reno, jelas melihat itu semua. "Aaarrgghh!"

__ADS_1


__ADS_2