Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Di Rumah Imron Part 2


__ADS_3

Matahari semakin meninggi. Meski belum sampai tengah hari, tapi teriknya cukup terasa panas di kulit. Semakin menghangatkan setiap hal yang masih merasakan dingin karena sang malam.


Aini sedang sibuk di dapur Ratna untuk mengolah singkong yang didapatnya dari sawah tadi. Ia mengolah sebagian singkongnya saja hari ini, dan sebagian lain akan diolahnya esok untuk bekal ke sawah untuk memanen kacang. Ia tersenyum-senyum sendiri sambil memasak, karena mengingat kejadian di sawah tadi.


Flashback On


"Mas mau dikasih hadiah apa emangnya?" Tanya Aini sesantai mungkin.


"Aku mauu,,,"


Ardi menggantung kalimatnya. Wajahnya terlihat berpikir keras demi mendapatkan hadiah dari Aini. Padahal sebenarnya, ia sudah terpikirkan sejak tadi.


"Aku mau ci,,"


"Waaahh! Banyak Pakdhe!" Seru Umar dan Kenzo bersamaan.


"Iya, Pak. Besar-besar singkongnya." Ucap Rafi senang.


Perhatian Ardi dan Aini pun akhirnya teralihkan. Mereka bisa melihat, Imron berhasil mencabut sebatang pohon singkong, dengan dua singkong yang berukuran cukup besar dan tiga singkong berukuran kecil di pangkalnya.


Imron hanya mengangguk saja. Sebab ia menahan tawa, karena berhasil menjalankan ide jahilnya. Ia sebenarnya berniat mengganggu keasikan Ardi dan Aini sejak tadi. Jadi, ia berusaha semaksimal mungkin agar bisa segera mencabut pohon itu, dan mengalihkan perhatian pasangan kekasih baru itu. Dan ternyata, berhasil.


Hanya dengan bantuan dari empat anak laki-laki yang ada di sekitarnya, Imron berhasil menggagalkan momen asik Ardi dan Aini.


"Bunda! Singkongnya besar!" Seru Kenzo antusias.


Aini pun berjalan ke arah Kenzo. "Iya. Besar ya."


"Nanti mau dimasak apa, Bunda?" Tanya Kenzo penasaran.


"Kenzo mau dimasakin apa?"


"Nggak tahu."


"Loh? Kok nggak tahu?" Bingung Aini.


"Kenzo itu baru sekali makan singkong. Dan dia tidak menyukainya waktu itu." Sela Ardi setelah ikut mendekat.


Aini dan Imron jelas terkejut mendengar ucapan Ardi. Karena mereka ingat betul, Kenzo begitu antusias tadi ingin mencabut singkong di sawah.


"Terus, kenapa tadi Kenzo pengen panen singkong?" Tanya Aini penasaran.


"Pengen lihat aja, Bunda." Polos Kenzo.


Aini dan Imron tersenyum geli. Mereka tak menyangka, jika Kenzo hanya ingin melihat proses memanen singkong.


"Nanti Bunda masakin singkongnya buat Kenzo, ya?" Tawar Aini segera.


"Nggak mau. Nggak enak." Sahut Kenzo sambil menggelengkan kepala.


"Kalau Bunda yang masak, pasti enak. Ya?" Bujuk Aini.


Kenzo kembali menggelengkan kepalanya.


"Tante Aini kalau masak lemet, enak lho, Ken." Timpal Rafi.


"Iya. Bener banget, Mas." Imbuh Deni.


"Besok singkongnya dibuat lemet ya, Tante! Buat bekal ke sawah." Pinta Rafi santai.


"Oke. Besok Tante masakin lemet."


Rafi dan Deni begitu senang mendengar jawaban Aini. Karena mereka memang tahu, Aini pandal dalam memasak. Bahkan, lebih pandai daripada Ratna.


Kenzo akhirnya sedikit tergoda. Ia ingat, apapun yang dimasakkan oleh Aini, terasa begitu pas di lidahnya.


"Besok, Kenzo mau sedikit deh Bunda." Ucap Kenzo ragu.


"Oke, Sayang. Nanti Bunda buatin yang lain dulu, ya? Besok baru buat lemetnya." Sahut Aini bahagia.


Kenzo pun mengangguk yakin.


"Papa kenapa belum jadi cabut pohon singkongnya?" Protes Kenzo.


"Kan gantian sama pakdhe." Kilah Ardi.


"Sekarang pakdhe udah, Pa. Giliran Papa sekarang." Rengek Kenzo.


Ardi lalu kembali ke pohon yang tadi siap ia cabut. Ia sedikit mengurangi dahannya yang penuh daun, agar lebih mudah mencabutnya. Ia lalu mulai bersiap mencabutnya.


"Hati-hati nariknya, Di! Nanti singkongnya patah." Saran Imron.


"Oh, iya, Mas." Jawab Ardi paham.


Ardi dan Imron sudah tidak saling memanggil dengan sapaan pak. Mereka sudah memutuskan untuk memanggil dengan sapan yang lebih nyaman.


Karena usia Imron terpaut satu tahun lebih tua dari pada Ardi, Ardi memanggil Imron dengan mas. Dan Imron memanggil Ardi dengan namanya saja. Sesuai permintaan Ardi.


Ardi lalu berusaha mencabutnya. Tapi ternyata memang sulit.


"Ayo, aku bantu!" Ajak Imron santai.


"Iya, Mas."

__ADS_1


"Ini sepertinya lebih besar, singkongnya." Yakin Imron.


"Benarkah, Mas?"


Ardi dan Imron menarik pohon itu bersama. Setelah berusaha beberapa kali, akhirnya pohon itu berhasil tercabut. Dan benar, ada tiga buah singkong berukuran besar di pangkalnya.


"Berusahalah, Mas! Aku yakin, akan ada jalan untuk kita." Batin Aini, seraya menatap lembut Ardi yang nampak bahagia karena berhasil mencabut singkong.


Flashback Off


Aini bahagia mengingat Ardi begitu serius memperjuangkan hubungan mereka. Bagaimana Ardi berusaha membaur dengan kehidupan Ratna dan Imron, yang jelas jauh berbeda dengan kehidupannya.


"Kamu masak apa, Sayang?" Tanya Ardi yang baru saja menghampiri Aini.


"Singkong goreng sama sawut singkong, Mas. Mas mau dimasakin apa?" Sahut Aini, sambil memasukkan singkong ke panci pengukus.


"Terserah kamu saja, Sayang."


"Yakin? Emang Mas doyan singkong?" Goda Aini, sambil berkacak pinggang, setelah menutup panci pengukus.


"Doyan, dong. Apalagi, kalau kamu yang masak." Santai Ardi.


"Berarti, nanti harus dimakan habis ya masakanku." Pinta Aini manja, sambil bersedekap.


Ardi seketika merasa gemas melihat tingkah Aini. Ia tahu, penghuni rumah Imron yang lain sedang ada di depan rumah. Jadi, ada ide nakal seketika muncul di otaknya.


Tangan Ardi langsung mendarat di pinggang Aini. Dan tanpa permisi, menarik tubuh mungil itu hingga tak berjarak dengannya.


"Eh!" Refleks Aini.


"Makan habis sama yang masak sekalian juga mau kok." Jawab Ardi dengan wajah nakal.


"Mas! Nanti anak-anak lihat!" Tegur Aini sambil meronta.


"Mereka baru di depan sama mas Imron." Santai Ardi tanpa melepaskan pelukannya.


"Mereka bisa masuk kapan saja, Mas."


"Sebentar saja, Sayang." Rengek Ardi dengan penuh kelembutan.


Aini pun berhenti meronta. Ia bisa merasakan, kerinduan dan perasaan sayang Ardi yang begitu jujur dari ucapannya.


"Bersabarlah, Mas! Akan tiba waktu bagi kita nanti." Sahut Aini lembut, seraya menatap dalam netra tajam Ardi.


Ardi pun mengangguk paham, dan malah langsung memeluk Aini lebih dalam. Mendekapnya dengan begitu erat tak ingin melepasnya. Hingga,,


"Ni! Aini!"


"Ni, kamu kok,," Ucapan wanita itu terhenti seketika saat mendapati dua orang sedang berpelukan di dapur Ratna.


"Mbak Yuli?" Ucap Aini, setelah sedikit melongok ke sebelah kanan lengan Ardi.


Ardi pun melepaskan pelukannya. Ia lalu ikut menoleh ke sumber suara yang berasal dari belakangnya.


Aini segera menghampiri wanita yang nampak sangat terkejut itu. Ia berjalan senatural mungkin demi menutupi gugup hatinya karena kepergok sedang berpelukan dengan Ardi.


Wanita yang baru saja datang itu, jelas sangat terkejut melihat Aini berpelukan dengan seorang laki-laki asing. Ia seketika mematung dan tak bisa berucap.


"Gimana kabarnya, Mbak?" Tanya Aini bahagia.


"Dia,," Ucap wanita berperawakan gemuk yang masih menatap Ardi dengan bingung.


"Dia, mas Ardi, Mbak." Jawab Aini.


"Mas Ardi?" Ulang wanita yang bernama Yuli itu.


"Iya. Dia,,"


"Bunda! Singkongnya udah matang belum?" Sela Kenzo sambil berlari menghampiri Aini.


Yuli yang merupakan sepupu Aini, makin terkejut setelah mendengar Aini dipanggil bunda oleh anak laki-laki yang tadi ditemuinya di depan rumah Imron. Ia menatap Aini dan Kenzo makin kebingungan.


"Belum, Sayang. Bunda baru aja mulai mengukusnya. Yang satu, tinggal digoreng sebentar lagi. Sabar, ya!" Sahut Aini, sambil sedikit membungkukkan badannya.


"Nanti dibawa ke depan ya, Nda!" Manja Kenzo.


"Iya. Nanti kalau sidah matang, Bunda bawa ke depan singkongnya." Sanggup Aini.


"Oke."


Kenzo pun segera berbalik badan, dan bersiap kembali ke depan.


"Eh, Ken! Udah salim sama budhe Yuli belum?" Cegah Aini cepat.


"Udah tadi di depan, Bunda. Dikenalin sama pakdhe." Jujur Kenzo.


"Ya sudah."


Kenzo lalu kembali berlari kembali ke depan.


"Bunda?" Ucap Yuli tak percaya.


"Iya, Mbak. Dia putraku." Aku Aini.

__ADS_1


Yuli masih mencoba memahami maksud ucapan Aini. Karena memang, ia tidak tahu cerita Aini, Ardi dan Kenzo.


"Dan mas Ardi, papanya Kenzo." Imbuh Aini.


Yuli menatap ke arah Ardi yang berdiri di samping Aini. Ia mulai memahami sesuatu yang mungkin adalah jawaban dari kebingungannya.


"Saya Ardi, Mbak." Sapa Ardi sambil mengulurkan tangannya.


"Yuli." Sahut Yuli kaku, seraya menjabat tangan Ardi.


"Mbak Yuli ini, anak perempuan kakaknya almarhumah ibu, Mas. Dia sepupuku. Rumahnya nggak jauh dari sini." Tutur Aini.


"Begitu rupanya." Sahut Ardi paham.


"Di! Bisa tolong sebentar!" Panggil Imron tiba-tiba.


"Iya, Mas." Sahut Ardi sedikit berteriak.


"Aku ke depan, ya." Pamit Ardi segera.


"Iya, Mas." Jawab Aini.


Ardi lalu pergi menginggalkan Aini dan Yuli karena panggilan Imron tadi. Sedang Yuli, segera bersiap menginterogasi Aini.


"Siapa dia, Ni? Apa diaaa,," Tanya Yuli segera.


"Dia papanya Kenzo dan Umar, Mbak." Jawab Aini, seraya menggandeng Yuli menuju meja makan.


"Dia kekasihmu?"


Aini terdiam.


"Kenapa diam?" Tanya Yuli bingung.


"Kami sedang berusaha meminta restu dari mbak Ratna." Jujur Aini.


"Ratna? Kenapa dia tidak merestui kalian? Dia sepertinya orang baik. Putranya juga,, tunggu! Dia duda, kan?"


"Iya. Mas Ardi menduda sejak Kenzo masih bayi."


"Lalu, kenapa Ratna tidak merestui kalian?"


"Ada sesuatu yang membuat mbak Ratna belum memberikan restunya, Mbak."


"Kalian kenal di Banyuwangi?"


"Di Surabaya, Mbak."


"Surabaya? Jadi, kalian udah lama kenal? Atau jangan-jangan, kalian juga udah lama menjalin hubungan spesial?"


"Sejak aku tinggal di Banyuwangi, kami tidak berkomunikasi, Mbak."


"Terus?"


"Panjang Mbak, ceritanya. Tapi yang pasti, selama satu tahun ini, kami saling menanti satu sama lain ternyata."


"Dan Ratna masih tidak merestui kalian untuk itu?"


"Mbak Ratna memiliki alasan untuk itu, Mbak."


"Tapi, tidak seharusnya dia melakukan itu padamu, Ni. Kamu juga berhak bahagia."


"Mbak Ratna juga pasti menginginkan hal itu, Mbak. Makanya dia belum memberikan restunya pada kami."


"Kalian ada masalah?"


"Enggak, Mbak."


"Biar Mbak yang bicara padanya nanti." Yakin Yuli.


"Jangan, Mbak! Do'akan kami saja, agar bisa mendapatkan yang terbaik."


"Tentu kalau itu. Dan biar aku nanti bicara pelan-pelan padanya."


Aini menggelengkan kepalanya.


"Kamu nggak ingin menikah dengannya?"


"Aku jelas ingin, Mbak. Itulah alasan kami kemari. Meminta restu mbak Ratna dan mas Imron agar kami bisa segera menikah."


"Mbak akan bantu bicara dengan Ratna."


"Jangan, Mbak! Biarkan aku dan mas Ardi berusaha. Setelah itu, aku pasrahkan semua pada Yang Maha Kuasa." Tulus Aini.


"Ya sudah! Aku akan bantu do'akan yang terbaik untuk kalian."


"Terima kasih, Mbak."


"Tentu, Ni."


Dan tanpa Aini dan Yuli ketahui, ada seseorang yang mendengarkan obrolan sederhana mereka. Ia menatap ragu pada benda-benda di hadapannya.


"Apa aku terlalu kejam pada Aini? Apa aku menghalangi kebahagiaannya?" Batin Ratna sedih.

__ADS_1


__ADS_2