
"Aini tidur di kamar Ardi dengan,,"
"Nggak usah aneh-aneh deh, Ma!" Sahut Ardi tiba-tiba.
"Aneh-aneh gimana? Memangnya, kalau Mama tidur sama Aini, apanya yang aneh? Kan sama-sama perempuan. Gimana sih kamu?" Jawab Niken kesal, sambil menahan tawanya.
Semua orang pun menahan tawa karena ucapan Ardi. Ardi ternyata terkena kejahilan mamanya lagi yang memiliki banyak ide nakal.
Ardi mengira, mamanya akan memintanya tidur sekamar dengan Aini. Tapi ternyata tidak. Ardi pun segera diam seribu bahasa. Ia berusaha memasang wajah datar demi menutupi rasa malunya.
"Atau kamu yang mau aneh-aneh? Iya, kan?" Cecar Niken santai.
"Aneh-aneh gimana maksud Mama?" Polos Ardi.
Padahal, duda yang sedang sedikit terpojok ini, tahu betul maksud ibunya. Tapi, ia berusaha menutupi pikiran nakalnya tadi.
"Ya Mama nggak tahu. Kan kamu yang dari tadi bilang macem-macem." Jawab Niken santai.
Ardi pun akhirnya tak menjawab Niken lagi.
"Tadi Mama mau usul, gimana kalau Aini tidur di kamar kamu, sama Mama? Terus kamu, tidur sama papa di kamar sana." Imbuh Niken sambil menunjuk ke arah kamar yang ia maksud.
"Tapi Ma, Papa pengen dipijit sama Mama. Papa agak capek." Sela Rama sedikit merengek.
"Tuh Tante! Om Rama pengen dipijit sama Tante. Jadi, Tante tidur sama Om aja seperti biasanya." Timpal Gilang.
"Minta pijit Ardi dulu, Pa! Kasihan Aini." Jawab Niken segera.
"Oke, Ardi setuju usulan Mama." Sela Ardi tanpa ragu.
Ardi pun segera melenggang, meninggalkan orang-orang yang masih sedikit kebingungan karena masalah kamar tadi. Ia segera menuju kamar yang seharusnya menjadi kamar untuk kedua orang tuanya itu.
Semua sedikit cekikikan karena melihat tingkah Ardi. Sedang Aini, malah sedikit tak enak hati karena harus merepotkan semua orang disaat mereka akan beristirahat.
Semua akhirnya memasuki kamar masing-masing. Dan seperti usulan Niken, Niken akhirnya tidur satu kamar dengan Aini. Sedangkan Ardi tidur satu kamar dengan ayahnya.
Aini sedikit kikuk ketika merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia sedikit malu pada Niken.
"Santai saja! Ayo tidur! Besok masih ada satu tempat yang harus kita kunjungi." Ucap Niken setelah menyadari gelagat Aini.
"Iya, Bu." Jawab Aini sungkan.
Dua orang wanita itu segera memejamkan netranya. Aini yang merasa cukup lelah dengan fisik dan pikirannya, segera terlelap. Tapi tidak dengan Niken. Ia memperhatikan wajah wanita yang sedang tidur di sampingnya setelah memastikan, wanita itu sudah terlelap.
"Mungkinkah kamu bisa menjadi menantuku nanti?" Batin Niken sedih.
Niken benar-benar berharap, Aini bisa menjadi menantunya. Menjadi istri, dari putra semata wayangnya. Tapi, bayang-bayang percakapannya dengan Aini beberapa waktu yang lalu, cukup mengganggu pikirannya.
Niken masih ingat, Aini belum ingin menikah lagi. Aini ingin memperbaiki diri dan membenahi hatinya lebih dulu. Aini ingin fokus pada Umar, yang sudah ia perjuangkan beberapa waktu.
"Haruskah aku menjebaknya?" Batin Niken putus asa.
Niken masih sibuk dengan pikirannya, ketika malam makin bergulir dan larut. Ia pun juga akhirnya terlelap setelah lelah dengan kemelut hatinya sendiri.
Pagi hari telah menyapa. Kegaduhan pagi kembali tiba. Semua berkemas dan bersiap untuk pergi ke tujuan mereka hari ini. Sebuah pulau kecil yang masih ada dalam teritorial kepulauan Madura.
Mereka kembali mengunjungi pantai hari ini. Dan jelas, Ardi dan Aini kembali terjebak dalam mobil yang sama dan hanya berdua saja.
Ardi berusaha keras mengurai suasana canggung yang begitu terasa. Ia berusaha mengobrol dengan Aini yang masih banyak diam. Sungguh, ini menjadi hal yang sulit bagi Ardi. Ia tak mengira, Aini akan bereaksi sejauh ini.
Sedang Aini masih bergelut dengan hatinya. Ia masih tak tahu, bagaimana harus menyikapi Ardi saat ini. Jadi, ia memilih untuk lebih diam sementara ini.
Setelah menyeberangi lautan, mereka disambut kembali dengan hamparan pasir pantai nan eksotis. Dengan beragam keindahan dan pesonanya. Bahkan, mereka juga disambut oleh keindahan bawah laut yang sangat disayangkan jika dilewatkan.
Semua kembali hanyut dalam suasana liburan yang penuh canda tawa. Bahkan, Aini pun terbawa suasana liburan yang menyenangkan bersama yang lain. Sejenak, ia melupakan kegalauan hatinya yang cukup kebingungan untuk menyikapi Ardi. Ia bahkan bisa bermain air dan pasir pantai bersama Ardi dan yang lainnya.
"Ni,," Panggil Ardi lembut.
Ardi pun duduk di samping Aini yang sedang asik duduk mengawasi Umar dan Kenzo yang sedang bermain ombak.
"Ya?" Aini pun spontan menoleh pada Ardi.
"Terima kasih."
"Untuk apa, Mas?"
__ADS_1
Ardi hanya tersenyum. Aini pun diam tak bereaksi. Ia bingung dengan jawaban Ardi.
Dan saat Aini masih dilanda kebingungan, tiba-tiba, sebuah tangan kekar, meraih dan menarik tangannya begitu saja. Ia pun refleks mengikuti arah tatikan tangan itu. Yang ternyata, mengajaknya menghampiri dua putranya yang sedang asik bermain kejar-kejaran ombak dengan yang lain. Aini pun refleks ikut bermain ombak ketika ombak itu datang.
Di tepi pantai, dua pasang mata mengamati setiap kejadian itu dengan seksama. Ada kegelisahan tersendiri dari salah satu diantara mereka.
"Bisakah Ardi memenangkan hati Aini, Pa?" Gumam Niken sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Rama.
"Sabarlah, Ma! Biar waktu yang menjawabnya. Kita serahkan pada Yang Maha Kuasa. Kita sudah berdo'a dan berusaha. Sisanya, biar tangan Tuhan yang bekerja." Jawab Rama bijak.
Niken menghela nafas beratnya. Ia pun menganggukkan kepalanya paham. Meski, masih ada keraguan dalam hatinya.
Rama sebenarnya juga menyukai Aini. Ia juga tak menolak, jika Aini menjadi menantunya. Meski ia belum lama berkenalan dengan Aini, tapi, tinggal serumah dengannya, membuatnya sedikit memahami seperti apa Aini itu. Dan tak ada hal yang membuatnya ragu untuk menjadikan Aini menantunya.
Menjelang sore, semua bersiap untuk kembali ke vila. Awalnya, sore ini mereka akan langsung kembali ke Surabaya. Tapi karena semua kelelahan, jadwal pulang pun diundur esok hari. Ardi pun segera menghubungi rekannya untuk hal itu.
Tak ada kegaduhan malam ini. Semua segera beristirahat di kamar masing-masing. Tapi kini, Aini tidur dengan Umar. Sedang Kenzo, tidur dengan Ardi. Seperti yang direncanakan Ardi.
Dan malam ini, Aini kesulitan memejamkan netranya. Ia memikirkan bagaimana baiknya ia menyikapi Ardi.
"Kenapa aku harus jatuh hati pada mas Ardi?"
Kalimat itu menggema di kepala Aini tanpa henti. Ia pun teringat, setiap perlakuan manis Ardi padanya. Setiap senyuman hangat yang begitu menenangkan hatinya. Serta, setiap sentuhan lembut yang selalu menggetarkan hati dan jiwanya.
"Kuserahkan pada-Mu, Ya Allah."
Aini pun segera memejamkan matanya dengan bayangan Ardi yang masih bermain di kepalanya. Mengantarkan sang janda pergi ke alam mimpi dengan lebih tenang.
Pagi kembali menyapa. Para wanita sedikit kebingungan karena tak ada bahan makanan. Apalagi, para bocil mendadak lapar kala mentari bahkan belum menampakkan cahayanya. Mengingat, semalam mereka hanya makan malam dengan makanan yang dipesan melalui aplikasi pesan antar. Dan hari ini, tidak masuk dalam hitungan rencana liburan kemarin.
"Kamu mau kemana?" Tanya Ardi seraya mengejar Aini yang tiba-tiba keluar vila.
"Cari warung atau pasar, Mas. Kasihan anak-anak." Jujur Aini saat Ardi meraih tangannya.
"Ini masih gelap, Ni."
"Ya kan pasti sudah ada yang bangun Mas beberapa orang."
Ardi malah tersenyum pada Aini. Ia tak mengira, Aini bisa begitu perhatian pada anak-anak. Ia tak segan untuk mencarikan bahan makanan untuk anak-anak yang dilanda kelaparan setelah bangun tidur. Meski mentari pun belum menampakkan sinarnya.
Ardi tak melepaskan tangan Aini. Ia menariknya menuju mobilnya. "Tunggu sebentar, aku ambil kunci!"
Ardi pun bergegas masuk rumah dan mengambil kunci mobilnya.
"Mau kemana woi, pagi-pagi?" Tanya Gilang segera saat melihat Ardi menenteng kunci mobil.
"Kencan." Jawab Ardi asal.
Gilang pun segera penasaran dengan jawaban Ardi. Ia mengejar Ardi keluar rumah. Dan saat ia diambang pintu, Ardi memang benar sedang bersama Aini. Ardi bahkan sedang membukakan pintu mobil untuk Aini. Gilang pun tersenyum lega.
"Good luck, Bro!" Gumam Gilang sambil terus menatap sahabatnya yang sibuk bersiap untuk pergi.
Ardi dan Aini benar-benar pergi berdua. Mereka mencari warung atau pasar terdekat. Mereka juga bertanya pada orang yang mereka temui, dimana letak warung atau pasar terdekat.
Ardi jelas tak menyia-nyiakan kesempatan ini.
Mereka tiba di sebuah pasar tradisional yang tak begitu besar. Tapi, barang yang dijual di sana cukup lengkap dan beragam. Aini segera berburu bahan makanan mentah dan beberapa camilan.
Ardi pun dengan sigap menjadi pengawal dan ATM berjalan bagi sang janda pujaan hatinya. Meski Aini sempat berdebat dengan Ardi tentang siapa yang membayar, Ardi akhirnya bisa merayu Aini agar menurutinya dan berbelanja dengan uang Ardi saja. (Calon suami yang baik 😁)
Setelah dirasa cukup, Aini pergi ke sebuah kios penjual makanan ringan. Ada minuman hangat juga di sana. Ia membeli dua minuman hangat untuknya dan Ardi. Mereka membawanya ke dalam mobil.
"Kamu nggak bilang dari tadi kalau haus?" Tanya Ardi perhatian.
"Saya tidak begitu haus, Mas. Kasihan Mas Ardi, tadi belum minum atau makan apapun di rumah, malah udah keliling pasar dari tadi." Jujur Aini.
Ardi tertegun dengan jawaban Aini. Ia tak menyangka, Aini bahkan memikirkan hal sesederhana itu. Yang ia pun sebenarnya tak begitu mempermasalahkannya.
"Terima kasih." Jawab Ardi sambil tersenyum.
"Sama-sama, Mas."
Jantung Aini mendadak bertalu tak terkendali. Kala Ardi tersenyum padanya setelah sedari tadi membantunya mengelilingi pasar untuk berbelanja.
Sejenak, Aini melupakan galau hatinya karena kebingungan bagaimana menyikapi Ardi. Ia sedari tadi bersikap sangay biasa dan netral dengan Ardi. Bahkan, tak ada rasa canggung saat berbincang atau sedikit berdebat saat berbelanja tadi.
__ADS_1
"Boleh aku minta kopimu, Ni? Milikku terlalu pahit." Ucap Ardi tanpa malu.
"Apa?"
Aini tak percaya dengan ucapan Ardi. Ia menatap Ardi penuh tanya. Ardi malah dengan segera mengambil gelas kopi Aini dan menukarnya dengan miliknya.
"Eehh Mas, ituuu,,"
Aini gelagapan saat Ardi merebut gelasnya dan segera menyeruput isinya. Bahkan, tepat di tempat ia tadi menyeruput kopinya.
"Lebih manis." Ucap Ardi sambil tersenyum puas.
Aini masih kebingungan dengan ulah Ardi. Ia masih memegangi gelas kopi Ardi dengan kaku. Sedang Ardi malah santai dan terus menyeruput kopi yang ada di tangannya tanpa menghiraukan Aini yang kebingungan.
"Ah iya, satu hal lagi." Ucap Ardi santai, sambil menoleh pada Aini.
Ardi sedikit terkejut karena Aini menatapnya bingung.
"Kamu kenapa?" Tanya Ardi penasaran.
"Kopi saya bahkan lebih pahit dari pada milik Anda, Mas. Takaran gulanya lebih sedikit dibanding Anda. Kenapa Anda bilang lebih manis?" Jawab Aini polos.
Ardi tersenyum kecil. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Aini
"Karena itu kopi milikmu. Dan aku minum di gelas yang sama dan dari bekas bibirmu. Jelas terasa lebih manis." Jawab Ardi santai.
"Ap,,"
Aini segera tersadar dari kebingungannya. Pipinya segera terasa menghangat dan sedikit memerah. Ia baru sadar, Ardi begitu romantis padanya. Ia tak berpikir sejauh itu tadi. Ia segera mengalihkan pandangannya dari Ardi. Menatap gelas kopi yang ada di tangannya dengan perasaan bahagia yang menggelitik hatinya.
Ardi jelas tahu, Aini sedang tersipu malu saat ini. Ia tersenyum dan menahan tawa kecilnya yang ingin lepas begitu saja karena sikap Aini. Ia pun kembali menegakkan tubuhnya.
"Ah iya, dan satu lagi, Ni." Imbuh Ardi setelah menyeruput kembali kopinya.
"Iya?" Aini kembali menoleh pada Ardi.
"Jika kita sedang berbicara, jangan gunakan anda dan saya, itu terdengar kaku!" Pinta Ardi santai.
"Tapi, itu karena saya menghormati Anda, Mas." Jujur Aini.
"Gunakan, aku dan kamu! Itu terdengar lebih santai dan enak di dengar." Pinta Ardi lagi.
"Tapi Mas,,"
"Tak ada tapi-tapi!" Bantah Ardi santai.
Ardi kembali mencondongkan tubuhnya ke arah Aini. Dan kini, bahkan lebih dekat dari sebelumnya. Aini pun refleks ikut mencondongkankan tubuhnya untuk menghindari Ardi.
"Atau, kamu ingin aku membungkammu lagi seperti waktu itu?" Goda Ardi nakal.
Aini mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali. Ia paham betul, apa maksud Ardi. Ia segera menggelengkan kepalanya. Dan sejurus kemudian, Aini malah menganggukkan kepalanya.
Ardi pun bingung dengan jawaban Aini.
"Kamu ingin aku menciummu lagi?" Tanya Ardi lirih.
Aini kembali menggeleng.
"Saya paham,, eh,, aku paham maksud Mas Ardi." Jawab Aini kikuk.
Ardi pun tersenyum. "Bagus."
Ardi kembali menegakkan tubuhnya. Aini pun ikut melakukan hal yang sama.
"Ya sudah, ayo pulang! Mereka pasti sudah menunggu." Ajak Ardi, setelah menyeruput habis kopinya.
"Iya, Mas." Jawab Aini lirih.
Ardi segera menyalakan mesin mobilnya. Ia pun mulai keluar dari tempat parkir dengan perasaan yang cukup bahagia. Alasannya jelas, karena berhasil berkencan dengan Aini barusan, meski hanya sebentar. Apalagi, ia berhasil membuat sedikit momen romantis dengan Aini.
Saat sampai di vila, Ardi dan Aini segera disambut dengan bahagia oleh seluruh isi vila. Bukan hanya karena berhasil mendapatkan asupan energi untuk pagi ini, tapi juga karena raut wajah mereka yang nampak lebih bahagia dari sebelumnya. Meski mereka tak tahu, apa yang terjadi, tapi mereka yakin, ada hal baik yang terjadi saat Ardi dan Aini pergi berbelanja tadi.
Sejenak Aini menatap Ardi yang sedang sibuk meladeni sahabatnya yang selalu jahil dan kepo itu. Ia menatap penuh kelembutan dan keharuan dalam hatinya.
"Haruskah aku menyambutmu, Mas? Karena sungguh, aku sangat ingin menyambutmu. Meski aku tak tahu apa yang akan terjadi nanti." Batin Aini.
__ADS_1