Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Mencari Aini Part 1


__ADS_3

Terkadang, kita terbutakan oleh perasaan kita sendiri. Perasaan cemas dan takut akan sesuatu, sering kali bisa membuat kita melakukan sebuah kesalahan. Yang mungkin, bukanlah kesalahan yang sederhana. Dan hanya penyesalan yang akhirnya datang menyapa.


Itulah kini yang dirasakan Ardi. Ia sungguh menyesali tindakan bodohnya, hingga membuat Aini pergi. Ia sungguh hanya tidak ingin membuat Aini merasakan kembali hal buruk yang tak pernah diharapkan itu.


Ardi sadar, ia dikelilingi oleh beberapa orang yang tidak suka dengan kesuksesan karirnya dan ingin menjatuhkannya.


Tapi Ardi juga tidak lupa, semakin tinggi sebuah pohon, akan semakin besar pula angin yang menerpanya. Dan sayangnya, pohon Ardi rasanya tidak kuat menahan terpaan angin itu. Akar yang menancap dalam, tidak cukup kuat menahan terpaan angin yang datang dengan hebatnya.


"Kamu dimana, Sayang?" Gumam Ardi sambil menyetir.


Ardi berusaha menghubungi nomor Aini berkali-kali. Tapi ternyata, ponselnya tidak aktif. Ia bahkan tidak tahu, Aini meninggalkan ponsel pemberian Ardi di rumahnya.


"Umar." Monolog Ardi.


Ardi segera mencoba menghubungi nomor ponsel Umar. Tapi sayang, nomor Umar juga tidak bisa dihubungi.


Ardi lalu menepikan mobilnya. Ia mendadak bingung, mau mencari Aini kemana. Ia kembali memainkan ponselnya.


"Lacak nomor Aini! Dan apakah Erna masih mengikuti Aini?" Ucap Ardi segera, saat panggilan teleponnya tersambung.


"Masih, Pak." Sahut laki-laki di seberang telepon, yang tak lain adalah Angga.


"Dimana dia sekarang?"


"Saya akan segera mengabari, Bapak."


Ardi segera mengakhiri teleponnya. Ada sebersit rasa tenang menghampirinya setelah mengetahui, bahwa salah satu anak buahnya masih mengikuti Aini saat ini.


"Maafkan aku, Sayang! Maafkan aku!" Gumam Ardi penuh penyesalan.


Ardi benar-benar meratapi kebodohannya karena melakukan hal itu pada Aini. Bayangan wajah Aini saat ia memintanya pergi tadi, bermain indah dalam benaknya.


Tiba-tiba, ponsel Ardi berdering. Dan nama Angga yang tertera dengan jelas di layar ponselnya.


"Dimana?"


"Di sekolah, Pak."


Tanpa banyak berkata, Ardi segera melajukan mobilnya kembali. Ia ingin segera menyusul Aini dan Umar yang sedang ada di sekolah.


Jalanan sudah cukup padat di siang akhir pekan. Membuat laju mobil Ardi sedikit terhambat. Ia bahkan sampai merasa kesal karena itu. Dan saat itu terjadi, ponsel Ardi kembali berdering. Tapi kini, dari nomor baru yang menelepon.


"Siapa?"


"Saya Erna, Pak. Salah satu pengawal Bapak, yang ditugaskan mas Reno mengikuti bu Aini."


"Iya. Ada apa?"


"Bu Aini sekarang sudah keluar dari sekolah. Beliau berhenti di depan rumah tempat kerja lamanya."


"Oke."


Ardi yang sudah hampir tiba di sekolah, harus memutar arah mobilnya untuk menuju tempat kerja lama Aini. Ia pun segera menghubungi Mala untuk menanyakan alasan Aini ke sekolah.


"Apa dia mengurus kepindahan Umar?" Terka Ardi.


"Iya, Pak. Bu Aini mengurus surat pindah sekolah Umar." Jawab Mala di seberang telepon.


"Baik. Terima kasih, Bu Mala."


"Sama-sama, Pak."


Sambungan telepon pun segera terputus. Ardi sebenarnya ingin menanyakan beberapa hal pada Mala. Tapi ia urungkan. Karena tak ingin, masalah antara ia dan Aini menyebar begitu saja.


"Kumohon, Sayang! Tunggu aku!" Monolog Ardi.


Ardi benar-benar memacu mobilnya dengan tidak sabar. Ia berkali-kali menekan klakson mobilnya, demi mendapatkan jalan dari padatnya lalu lintas.


Dan setelah hampir lima puluh menit berkendara, di jantung kota Surabaya, dengan kepadatan lalu lintasnya yang tidak dapat diprediksi, Ardi akhirnya sampai di rumah Galih dan Dewi. Majikan lama Aini.


Ardi segera keluar dari mobil. Dan disaat bersamaan, ada seorang wanita berperawakan tomboi menghampirinya. Wanita itu mengenakan helm dan masker untuk menutupi wajahnya. Ia Erna.


"Apa dia masih di dalam?" Tanya Ardi segera.


"Masih, Pak. Motornya juga masih terparkir di depan rumah sejak tadi." Jawab Erna yakin.


"Tidak ada yang mencurigakan, bukan?"


"Tidak, Pak. Hanya seorang laki-laki, yang sepertinya pemilik rumah ini, tadi pergi seorang diri dengan mobil."


"Kapan?"


"Sekitar dua puluh menit yang lalu."


"Terima kasih."


"Tentu, Pak."


Ardi lalu segera mendekati pintu gerbang rumah Dewi. Ia pun memencet bel rumah yang ada di dekat pintu.


Tak lama, seorang perempuan berusia tiga puluhan keluar dari rumah. Ia pun segera menghampiri Ardi.


"Cari siapa?" Tanya perempuan itu ramah.

__ADS_1


"Apa bu Dewi ada?" Sahut Ardi sopan.


"Ada. Sebentar saya panggilkan."


"Terima kasih."


Perempuan tadi lalu kembali masuk ke rumah. Tak berselang lama, Dewi pun keluar.


"Pak Ardi?" Gumam Dewi, setelah melihat Ardi di depan gerbang rumahnya.


Dewi segera membukakan pintu untuk Ardi.


"Mari Pak, silahkan masuk! Maaf, tadi asisten rumah tangga saya tidak mengenali Anda." Ucap Dewi sungkan.


"Tidak masalah."


"Mari Pak, kita ngobrol di teras!" Ajak Dewi ramah.


"Tidak usah, Bu Dewi. Saya kemari ingin menanyakan Aini. Apa dia ada?"


"Aini?"


"Iya. Itu motornya, bukan?" Tanya Ardi, seraya menunjuk pada salah satu motor yang terparkir di depan rumah Dewi.


"Oh, itu. Iya Pak, itu motor Aini. Tapi, Aini tidak di sini. Dia sudah pergi beberapa saat yang lalu." Jujur Dewi.


"Tapi, motornya masih di sini." Sanggah Ardi.


"Iya. Aini tadi diantar suami saya. Dia memang menitipkan motornya di sini sementara. Karena dia tak mungkin membawa Umar dalam perjalanan jauh dengan motor. Itu yang Aini katakan."


"Maksudnya?"


"Aini bilang, dia ingin pulang. Jadi, dia sementara menitipkan motornya di sini. Karena dia tadi kemari bersama Umar. Aini jelas tidak bisa membawa Umar dengan motornya jika akan menempuh perjalanan jauh."


Hati Ardi pun makin cemas. Ketakutannya sejak tadi, menjadi kenyataan. Aini berniat pergi dari Surabaya.


"Apa Aini mengatakan pada Anda, ia akan pulang kemana, Bu'?" Tanya Ardi dengan wajah yang penuh harap.


Dewi menghela nafasnya dengan perlahan.


"Aini tidak mengatakannya pada saya, Pak." Jujur Dewi.


Wajah Ardi segera berubah makin putus asa.


"Maaf, Pak Ardi. Saya tidak tahu, ada masalah apa diantara kalian. Karena Aini pun tidak menceritakannya pada saya dan suami saya. Tapi, sejauh saya mengenal Aini, Aini jelas tidak akan melakukan hal seperti ini, jika hanya karena masalah sepele." Imbuh Dewi yakin.


"Itu memang karena kesalahan saya, Bu Dewi." Aku Ardi.


"Bukan saya membela Anda atau Aini. Tapi, jika memang Anda ingin memperbaiki semuanya, Anda bisa menyusul Aini ke terminal. Dia meminta suami saya mengantarnya ke terminal tadi, karena ingin mengelabuhi pengawal Anda."


Ardi dan Dewi segera menoleh pada Erna yang masih berada di luar gerbang. Ardi segera menutup matanya dengan penuh penyesalan.


"Baiklah, Bu Dewi. Terima kasih untuk informasinya." Ucap Ardi dengan sedikit harapan di hatinya.


"Tentu, Pak Ardi. Jika Anda bisa bertemu dengan Aini, saya harap, Anda bisa memperbaiki kesalahan yang sudah terjadi. Dan hubungan Anda dengan Aini bisa kembali membaik." Tulus Dewi.


"Tentu, Bu Dewi. Terima kasih."


"Sama-sama, Pak Ardi."


Ardi segera berbalik badan. Tapi, sebelum ia melangkahkan kakinya, ia kembali berbalik ke arah Dewi.


"Maaf, Bu Dewi. Bolehkan saya meminta nomor ponsel suami Anda? Mungkin saja, beliau nanti tahu, kemana tujuan Aini." Pinta Ardi sopan.


"Tentu, Pak Ardi. Sebentar, saya ambil ponsel dulu!" Jawab Dewi ramah.


Dewi pun segera kembali ke dalam rumah dan mengambil ponselnya. Ia lalu memberikan nomor ponsel Galih pada Ardi.


Ardi segera berpamitan, setelah ia mendapatkan nomor ponsel Galih. Ia sangat berterima kasih pada Dewi, karena mau mengatakan yang ia ketahui pada Ardi.


Ardi lalu bergegas menuju terminal sesuai petunjuk Dewi tadi. Bersama Erna, ia berusaha menyusul Aini ke terminal.


Iya, Dewi memang mengatakan yang sebenarnya pada Ardi. Dewi hanya ingin wanita yang sudah satu tahun menjadi pengasuh putranya itu, bahagia.


Flashback On


"Assalamu'alaikum." Ucap Aini dari depan rumah Dewi, setelah ia menekan bel rumah.


"Iya, wa'alaikumussalam." Sahut seorang perempuan yang baru saja keluat dari rumah.


Aini tersenyum ramah melihat perempuan itu.


"Mbak Aini?" Sapa perempuan itu dengan ramah.


Wanita itu adalah pengasuh anak Dewi dan Galih. Ia pun segera membukakan pintu untuk Aini dan Umar.


"Apa bu Dewi dan pak Galih ada?" Tanya Aini ramah.


"Ada, Mbak. Ayo masuk! Motornya tapi dimasukin dulu."


"Iya."


Aini lalu memindahkan motornya ke dalam gerbang. Ia sedikit melirik ke arah seberang jalan, dimana ada seorang wanita yang mengikutinya sejak tadi.

__ADS_1


Aini dan pengasuh Dewi pun segera mengobrol sambil berjalan masuk ke rumah.


"Aini?" Sapa Dewi ramah.


"Iya, Bu'."


Dewi segera menghampiri Aini dan tak segan untuk memeluknya. Mereka melepas rindu setelah beberapa waktu tidak bertemu.


Begitulah kedekatan Aini dan Dewi. Mereka tidak seperti majikan dan ART-nya. Tapi malah seperti sepasang teman atau bahkan sahabat yang sudah lama saling mengenal.


"Ini pasti Umar? Iya, kan?" Terka Dewi segera.


"Iya, Bu'." Jawab Aini yakin.


Dewi segera menyambut Umar dengan ramah. Ia bahkan langsung meminta Umar untuk bermain dengan dua putranya. Galih pun ikut menyambut Aini dengan ramah.


"Mana pak Ardi? Nggak diajak?" Goda Dewi sumringah.


Aini hanya tersenyum. Dan itu, membuat senyum Dewi segera meluntur. Ia menyadari, ada sesuatu yang tak baik sedang terjadi.


"Maaf, Pak, Bu. Apa saya boleh meminta tolong?" Tanya Aini segera.


Aini tidak mau berlama-lama atau sekedar berbasa-basi. Karena ia sedang diburu waktu.


"Minta tolong? Tentu saja, Ni." Jawab Dewi bahagia.


"Saya ingin menitipkan motor saya beberapa hari di sini. Saya tidak bisa membawa pulang Umar dengan motor, karena perjalanannya jauh." Jelas Aini cepat.


"Kamu mau pulang? Ke Jogja?"


"Tidak, Bu. Rumah ibu saya di Jogja, saya dan mbak Ratna sewakan pada orang. Sayang jika tidak dirawat." Jujur Aini.


"Lalu? Kamu mau ke Semarang?"


Aini hanya tersenyum kembali. Galih dan Dewi makin yakin, ada hal yang Aini sembunyikan. Dan itu bukan hal yang sederhana.


"Kamu mau kemana, Ni? Kamu dengan Umar sekarang." Rayu Dewi perlahan.


"Maaf, Bu. Saya tidak bisa mengatakannya. Secepatnya, saya akan mengambil motor saya kemari, setelah Umar bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya." Tolak Aini sopan.


"Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusanmu." Jawab Dewi menyerah.


"Lalu, kamu mau naik apa nanti?" Tanya Galih perhatian.


"Saya ingin naik bis saja, Pak." Jujur Aini.


"Biar diantar mas Galih, ya?" Tawar Dewi cepat.


"Apa tidak merepotkan?"


"Lalu, kamu akan naik apa ke terminal?"


"Angkutan umum, Bu'."


"Biar aku antar saja." Sahut Galih segera.


Aini terdiam sejenak. Ia teringat pada orang yang sejak tadi mengikutinya.


"Sebenarnya, saya juga ingin mengelabuhi seseorang, Pak, Bu."


"Siapa?" Tanya Galih dan Dewi bersamaan.


"Dia sepertinya pengawal mas Ardi. Dia mengikuti saya, sejak saya keluar dari rumah mas Ardi tadi."


Dewi dan Galih saling pandang.


"Baiklah. Aku akan bantu mengalihkan perhatiannya." Sahut Galih yakin.


"Umar? Bagaimana sekolahnya?" Tanya Dewi perhatian.


"Saya sudah mengurus kepindahannya tadi." Jujur Aini.


"Aku tak tahu, ada masalah apa antara kamu dan pak Ardi. Tapi, bukankah jika ada masalah, sebaiknya diselesaikan dulu dengan baik-baik, Ni?" Nasehat Dewi.


Aini diam tak menjawab. Ia tertunduk begitu saja mengingat sikap Ardi padanya tadi.


"Terima kasih Bu', untuk sarannya." Jawab Aini sedih.


Dewi bisa merasakan getir hati Aini dari nada bicaranya. Ia yakin, ada kesalahpahaman yang cukup besar antara Aini dan Ardi. Tapi, ia juga tak bisa memaksa Aini untuk mengatakan apa yang terjadi padanya.


"Apapun pilihanmu Ni, aku harap, kamu akan bahagia nantinya. Hanya itu." Tulus Dewi.


"Terima kasih, Bu'."


Aini benar-benar tak bisa menahan lagi airmatanya. Buliran bening itu akhirnya meluncur dengan indah membasahi wajah ayunya.


Dan karena hal itu pula, Dewi dan Galih yakin, Aini memiliki perasaan yang kuat pada Ardi. Dan masalah yang mereka alami, pasti bisa diselesaikan dengan perlahan, tanpa ada yang menyakiti.


Setelah beberapa saat, Galih segera mengantar Aini ke terminal. Galih pun benar-benar membantu Aini lepas dari pengawasan pengawal Ardi. Ia menyembunyikan Aini dan Umar di kursi belakang mobilnya.


Aini benar-benar berterima kasih pada Galih dan Dewi yang mau menolongnya. Ia berjanji, beberapa hari kedepan akan mengambil motornya.


Flashback Off

__ADS_1


"Aku tunggu kabar bahagiamu, Ni." Gumam Dewi saat menatap Ardi yang perlahan pergi dari kediamannya.


__ADS_2