Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Gagal Fokus


__ADS_3

"Jadi Ni, kamu mau jadi istriku atau istri Ardi?" Tanya Rama tanpa ragu.


Aini menatap Rama dengan seksama. Ia mencoba membaca keseriusan Rama dari ekspresi wajah dan nada bicaranya. Dan dari itu semua, Rama terlihat cukup serius dengan ucapannya.


Lalu, bagaimana dengan Ardi? Ardi jelas sedikit cemburu dan tak terima jika Rama sampai merebut Aini darinya. Mengingat, ia saja menunggu satu tahun untuk bisa mendapatkan momen seperti saat ini, setelah kesalahan yang ia lakukan dulu.


"Ma!" Panggil Ardi kesal.


"Kenapa?" Santai Niken, sambil duduk di kursi ruang makan.


"Mama beneran ngijinin, kalau papa nikah lagi?" Tanya Ardi meyakinkan.


"Ya kalau papamu masih kuat punya istri muda lagi, kenapa enggak? Kan dalam agama juga diperbolehkan poligami."


Ardi yang tadi berniat untuk mulai mengambil hati Aini lagi, malah dibuat kesal oleh ayahnya sendiri. Ia akhirnya pergi meninggalkan dapur dengan perasaan yang kesal.


Kenapa? Karena bukan tak mungkin bagi Aini untuk menerima ayahnya itu menjadi suaminya. Mengingat, Rama yang kini usianya hampir kepala enam, masih tetap memiliki pesona yang sulit untuk ditolak oleh para wanita. Postur tubuhnya yang masih sehat dan gagah, dengan wajah yang cukup awet muda, membuat Rama bisa saja memenangkan hati Aini, yang notabene, pernah disakiti oleh Ardi.


Niken dan Rama jelas menahan tawanya saat melihat putranya pergi dengan wajah kesal. Mereka jelas berhasil membuat Ardi cemburu dengan sikap Rama tadi.


"Jadi Ni, kamu mau pilih papanya atau anaknya?" Goda Niken.


Aini yang masih bingung dengan pertanyaan Rama tadi, ditambah sikap cemburu Ardi yang terlihat sangat jelas, makin bingung dengan pertanyaan yang diajukan Niken.


"Bu Niken dan pak Rama ada-ada saja." Sahut Aini sekenanya.


Niken tersenyum geli melihat Aini. "Papa kalah tuh sama Ardi."


"Iya, Ma." Timpal Rama dengan wajah sedih.


Wajah Aini jelas langsung merona, karena ketahuan secara diam-diam masih memiliki perasaan pada Ardi. Dan berarti, menolak secara halus tawaran Rama.


"Kita bakalan punya mantu lagi, Pa. Tapi yang ini, mantunya istimewa." Sahut Niken bahagia.


Aini benar-benar tertunduk malu saat ini. Dalam hati kecilnya, sungguh, harapan untuk menjadi menantu Rama dan Niken masih bersemayam di sana. Dan kini, malah dengan terang-terangan, dia digoda dengan santai oleh mereka.


"Istimewa dong, Ma. Papa aja nggak nolak kalau Aini mau sama Papa." Kelakar Rama.


"Iya, iya. Tapi, kan kasihan Ardi, Pa."


"Iya, Ma."


Aini jelas tersenyum-senyum sendiri mendengar obrolan pasangan suami istri yang ada di dekatnya itu. Mereka seolah-olah tidak mempedulikan keberadaan Aini di sana, dan malah membicarakan Aini dengan begitu gamblangnya.


"Oh iya, Ni. Kamu lama kan di sini?" Tanya Niken mengakhiri sesi jahilnya.


"Mungkin beberapa hari saja. Umar juga harus sekolah lagi." Jujur Aini.


"Kan sekarang baru masa libur sekolah."


"Iya. Tapi, saya juga tidak bisa terlalu lama meninggalkan Erna dan yang lain, Bu'."


"Eemmhh, lusa masih di sini kan?"


"In shaa Allah, masih Bu. Ada apa? Bu Niken butuh bantuan saya?" Tanya Aini perhatian.


"Sebelum itu, jangan panggil aku Bu Niken lagi! Panggil, Mama! Kayak Ardi."


"Bu Niken ini, ada-ada saja. Saya kan hanya,,"


"Itu terdengat kaku, Ni. Panggil Mama saja, ya?"


"Tapi Bu,,"


"Dan panggil aku, Papa! Oke?"


"Tapi Pak,,"


"Nggak pake tapi! Itu terdengar lebih nyaman, Ni. Lagian, Umar saja sudah biasa panggil oma sama opa. Tinggal kamu saja." Bujuk Niken.

__ADS_1


"Pelan-pelan saja! Nanti juga lama-lama terbiasa. Iya kan, Ma?" Timpal Rama.


Niken mengangguk yakin. Tapi Aini masih menatap ragu pada pasangan suami istri itu. Ia juga tak bisa memberikan alasan untuk menolaknya.


"Lusa kamu ikut Mama ya, Ni!" Pinta Niken segera.


"Kemana, Bu', eh, Ma?" Gagap Aini.


"Adalah pokoknya."


"Iya, Bu'."


"Mama." Tegur Niken.


"Eh iya, maaf, Ma." Sahut Aini kikuk.


Niken jelas sudah punya rencana istimewa untuk Aini. Rencana apa itu? Biar othor aja yang tahu duluan 😅, kalian nanti kalau waktunya tiba ya 😁.


Aini lalu kembali ke kamar Kenzo untuk mengecek dua putranya apakah sudah bangun atau belum. Sedang di kamar Ardi,,


"Papa apa-apaan sih? Masak mau nikah lagi? Mama juga, kenapa harus ngebolehin papa nikah lagi?" Gumam Ardi geram.


Ardi akhirnya bersiap ke kantor dengan perasaan yang kesal. Padahal ini masih pagi, tapi Ardi sudah merasa kegerahan meski ia sudah mandi dan pendingin di kamarnya pun menyala. Karena kekesalannya, Ardi tak bisa fokus memilih setelan kerjanya. Ia bahkan mendadak tidak bisa memakai dasi.


Ardi akhirnya keluar kamar untuk sarapan dengan kemeja yang belum rapi, dasi yang belum terpasang dan jas kerja yang dibawanya, benar-benar tidak sesuai dengan warna kemeja yang ia kenakan. (Gagal fokus ya Pak Duda 😅)


Rama, Niken dan Aini yang melihat Ardi seperti itu, benar-benar keheranan. Tak biasanya duda tampan itu penampilannya terlihat kacau. Hanya rambutnya saja yang sudah tertata dengan baik.


"Kamu kenapa, Di? Buru-buru?" Bingung Niken.


"Enggak, Ma." Datar Ardi.


Rama dan Niken yang duduk bersebelahan, akhirnya saling pandang. Mereka lalu mulai menyadari sesuatu. Dan bukan Niken namanya jika tidak memiliki ide jahil. Tapi, ia menahannya sampai semua selesai sarapan.


"Ni, ayo ikut Mama!" Ajak Niken santai, saat Aini membereskan meja makan.


"Iya, Ma." Patuh Aini.


"Ardi mau berangkat, Ma." Datar Ardi sambil meraih tas kerjanya.


Niken yang sudah berdiri di ujung meja makan, segera meraih tangan Ardi. Ia pun menarik Ardi tanpa berbasa-basi.


"Ardi mau ke kantor, Ma." Cegah Ardi.


"Kamu nggak boleh ke kantor, sebelum penampilanmu rapi!" Sahut Niken kesal.


Niken tetap menarik tangan Ardi untuk membawanya kembali ke kamarnya. Ardi berusaha melepaskan diri dari ibunya, tapi tetap tak dilepaskan sama sekali. Dan tiba-tiba, Niken berhenti di ujung tangga.


"Aini! Ikut Mama!" Teriak Niken, karena tak mendapati Aini mengikutinya.


"Oh, iya, Ma."


Aini pun bergegas menyusul Niken dan Ardi. Ia mengikuti langkah sepasang ibu dan anak itu. Ardi pun hanya pasrah pada Niken karena sedari tadi, ia benar-benar tak bisa fokus saat berganti pakaian.


Niken membawa Ardi ke almari besarnya. Ia pun mulai membuka satu persatu pintu almari di ruangan itu. Dan itu membuat Aini ternganga dengan lebar. Karena baru kali ini, ia melihat ruangan yang dipenuhi dengan almari dan semuanya berisi pakaian yang sangat rapi. Tapi tak hanya pakaian saja, ada beberapa asesoris laki-laki dan juga sepatu di sana.


"Aini! Pilihkan pakaian untuk Ardi ke kantor!" Pinta Niken tegas.


"Iy,, iya, Ma?" Bingung Aini.


Niken melangkahkan kakinya untuk keluar. "Kalian baru boleh keluar, setelah Ardi selesai dengan setelan kerja yang benar."


"Ardi sudah terlambat, Ma." Kesal Ardi.


Niken segera menutup pintu, tanpa menghiraukan ucapan Ardi dan keterkejutan Aini.


"Dasar! Baru di panasin gitu aja udah langsung gagal fokus." Gerutu Niken sambil sedikit cekikikan.


Ardi masih tidak menyadari, ini adalah ulah ibunya yang ingin memberikan kesempatan padanya untuk merebut hati Aini. Ia masih dibutakan oleh rasa cemburu pada sang ayah dan sikapnya di masa lalu.

__ADS_1


Aini yang mulai mengerti sifat Niken, lalu mencoba melihat satu per satu baju yang ada di dalam deretan almari-almari besar itu. Ia mulai mencarikan setelan kerja yang tepat untuk Ardi, termasuk dasi yang pas untuknya.


"Ganti yang ini saja Mas, kemejanya! Biar cocok sama jas dan celana panjang Mas. Dan ini dasinya." Ucap Aini sembari membawa kemeja dan dasi pilihannya.


Ardi menerima begitu saja kemeja pilihan Aini. Ia masih diliputi rasa cemburu yang membuatnya tidak bisa fokus. Ia bahkan dengan santainya membuka kemeja yang ia kenakan di hadapan Aini. Hingga membuat Aini harus berbalik badan agar matanya tidak ternodai lagi oleh lekuk tubuh Ardi yang dulu sempat terpampang di hadapannya.


"Berikan dasinya padaku!" Datar Ardi.


Aini lalu memberikan dasi yang dipegangnya pada Ardi. Ardi pun menerimanya begitu saja, tanpa mau memakainya lebih dulu.


"Mas! Dasinya dipakai dulu!" Cegah Aini sebelum Ardi keluar.


"Akan kupakai nanti." Singkat Ardi.


Aini lalu meraih kembali dasi di tangan Ardi dan berusaha menahan Ardi agar tidak keluar lebih dulu. Tangannya pun segera mengalungkan dasi itu di leher Ardi dan mulai membuat simpul di dada Ardi.


"Sebentar, Mas! Ini sudah hampir selesai." Ucap Aini, dengan netra yang fokus memperbaiki simpul dasinya.


"Oke, sudah Mas." Imbuh Aini setelah memperbaiki letak dasi dan merapikan kemeja Ardi.


Dan saat inilah, Ardi baru tersadar. "Aini?"


"Iya?" Jawab Aini, sambil menatap wajah Ardi.


Mereka saling memandang pantulan wajah masing-masing di bola mata orang yang ada dihadapannya. Tanpa ada yang berucap.


"Masihkah aku memiliki kesempatan, Ni?" Lirih Ardi.


Aini hanya tersenyum. "Mama sudah menunggu di depan, Mas."


Aini lalu melangkahkan kakinya lebih dulu dan meninggalkan Ardi yang begitu menantikan jawabannya. Ia lalu perlahan membuka pintu yang tadi di tutup oleh Niken.


Dan ternyata, Niken sudah tidak ada di sana. Niken sudah turun lebih dulu dan menanti Ardi dan Aini di bawah bersama Rama.


"Nah! Itu baru papanya Kenzo." Celetuk Niken, saat melihat Ardi sudah rapi dengan setelannya.


"Iya, Ma." Datar Ardi.


"Gimana, Pa? Hebat kan calon istri muda Papa?" Goda Niken.


"Iya, dong. Papa memang tak pernah salah pilih." Bangga Rama.


Tanpa berkomentar apapun, Ardi segera berpamitan pada Rama dan Niken. Ia lalu mencari keberadaan jas dan tas kerjanya yang tadi ia tinggalkan di ruang makan.


"Sudah dibawa ke depan sama Aini." Sahut Niken paham.


Ardi lalu menyusul Aini yang tadi memang turun lebih dulu. Dan saat ia sampai di garasi, Aini sedang memasukkan jas dan tas kerja Ardi ke mobil, sesuai permintaan Niken.


Ardi masih belum sadar, bahwa ia sedang dikerjai oleh ayah dan ibunya. Ia masih diliputi rasa cemburu pada sang ayah.


"Aku tak boleh kalah dari papa." Batin Ardi yakin.


Papa Kenzo itu mulai bersemangat lagi untuk mengambil hati Aini dan mengalahkan papanya.


Ardi pun menghampiri Aini. "Terima kasih, Sayang."


"Iya, Mas. Eh?" Aini refleks menjawab Ardi setelah menutup pintu mobil.


Ardi tersenyum kecil karena kembali berhasil menggoda Aini. Ide nakalnya pun tiba-tiba bersarang di kepalanya.


Ardi yang hanya berjarak dua langkah dari Aini, tanpa aba-aba dan permisi, langsung mengikis jarak antara dia dan wanita yang sedang di dekatnya itu. Ia pun dengan cepat memaksa Aini menempel ke pintu mobil yang baru saja ditutup itu.


"Mas?"


Aini terkejut bukan main karena dikungkung oleh Ardi di samping mobil. Bahkan, kedua tangan Ardi pun mengunci di kedua sisi agar ia tidak bisa pergi. Jantung Aini jelas berdegup kencang. Ia sungguh tak siap dengan keadaan seperti itu.


"Katakan padaku, Sayang! Siapa yang kamu pilih? Aku atau papa?" Tanya Ardi cepat, dengan wajah yang semakin mendekati wajah Aini.


Aini paham maksud pertanyaan Ardi. Tapi, ia tak bisa menjawabnya saat ini. Apalagi, posisinya kini jelas sangat tidak nyaman.

__ADS_1


"Ardi! Jangan main curang kamu!" Sela Rama tiba-tiba.


__ADS_2