Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Menemui Kenzo


__ADS_3

"Gimana, Dik?" Suara seorang wanita, menggema di telinga Dika dengan sempurna, saat ia baru saja turun dari lantai atas ruko Aini.


"Berhasil, Bu. Bu Aini yang menerima telepon Anda tadi." Jawab Dika yakin.


"Lalu?"


"Kalau tidak salah dengar, bu Aini meminta ijin pada pak Ardi untuk menemui Kenzo."


"Bagus. Kalau begitu, segera pesankan tiket pesawat untuk kalian pulang besok!"


"Baik, Bu."


"Aku tunggu kabar darimu lagi."


"Iya, Bu."


Sambungan telepon pun berakhir. Dika pun tersenyum lega dan bahagia setelah itu. Ia segera memenuhi permintaan wanita yang tadi meneleponnya, yang tak lain adalah Niken.


Sedang di lantai atas,,


"Boleh aku menemui Kenzo, Mas?" Tanya Aini tanpa ragu, dengan wajah cemasnya yang belum hilang.


Ardi cukup terkejut mendengar pertanyaan Aini. Ia tak menyangka, Aini bahkan langsung ingin menemui Kenzo saat mendengar kabar dari Niken tadi.


"Tapi,,"


"Apa ini rencana mama?" Terka Ardi dalam hati.


Ardi cukup ragu dengan kabar yang diberikan oleh ibunya. Karena ia sangat tahu, kondisi Kenzo sangat baik saat ia pergi ke Banyuwangi kemarin. Apalagi, Gilang sudah mengatakan, hasil operasi Kenzo dengan Aini satu tahun lalu sangat baik. Tubuh Kenzo pun membaik dengan perlahan.


"Aku janji tidak akan mengusiknya, Mas. Aku hanya ingin menjenguknya. Melihat kondisinya." Bujuk Aini dengan perasaan yang makin cemas.


Hati ibu mana yang tak cemas, saat mendengar putranya dilarikan ke rumah sakit diwaktu yang sudah larut. Meski ia belum tahu pasti, apa yang terjadi pada putranya itu.


Ardi tak tega melihat Aini yang matanya mulai merah dan ada cairan bening yang menggenang di sana. Ia bisa merasakan, kecemasan yang Aini rasakan saat ini hanya dari ekspresinya saja.


"Iya. Tentu saja boleh. Kamu boleh menemuinya. Kenzo juga pasti senang bisa bertemu denganmu." Jawab Ardi yakin.


"Terima kasih, Mas."


"Iya."


"Aku akan membangunkan Umar." Sahut Aini segera.


"Jangan! Biarkan Umar beristirahat malam ini! Dia baru saja mengalami kecelakaan tadi. Kita berangkat besok pagi saja." Tulus Ardi.


"Apa tidak apa-apa, Mas?"


"Kamu tenang saja! Kenzo pasti sudah ditangani oleh Gilang saat ini."


Aini terduduk lemas di kursinya kembali. Ia memikirkan dua putranya yang sedang dalam kondisi kurang baik saat ini.


Ardi lalu lebih mendekat pada Aini yang terduduk. Ia lalu setengah berjongkok di depan Aini. Dipegangnya tangan wanita dihadapannya, yang kini sedang dilanda kecemasan itu.


"Lihat aku, Ni!" Pinta Ardi lembut.


Aini yang merasakan sentuhan tangan dan permintaan Ardi, pun segera mengalihkan perhatiannya pada Ardi.


"Tenanglah! Sekarang, istirahatlah! Kita akan memberi tahu Umar besok pagi dan akan berangkat setelah itu." Pinta Ardi lembut.


Aini mengangguk kecil. Ardi pun tersenyum karena Aini mau mendengarnya. Aini lalu kembali ke kamarnya ditemani oleh Ardi. Dan setelah Aini ke kamarnya, Ardi lalu menemui Dika dan meminta Dika memesankan tiket pesawat untuk mereka besok.


Dan saat pagi tiba, Aini dan Ardi mengabari Umar bahwa mereka akan menemui Kenzo hari ini. Umar cukup terkejut saat mendengar Kenzo sakit dan masuk rumah sakit. Karena selama satu tahun ini, Kenzo sudah sangat jarang sakit, apalagi sampai harus menginap di rumah sakit.


"Tapi jangan beri tahu Kenzo kalau kita akan ke sana!" Pinta Ardi.


"Kenapa, Pa?" Polos Umar.


"Kita berikan kejutan untuknya."


"Oke, Pa." Jawab Umar yakin.


Aini pun mengabari Erna dan Nia yang akan memasak untuk berjualan.


"Kalau kalian ragu-ragu untuk buka warung hari ini, warungnya tutup dulu saja! Aku mungkin akan menginap beberapa hari di Surabaya nanti." Jujur Aini.


"Di Surabaya?" Tanya Erna bingung.


"Iya."


"Bukannya Mbak mau ke Bandung?"


"Bandung? Kok Bandung? Kenzo kan di Surabaya, Na."


"Pak Ardi kan sudah pindah ke Bandung, Mbak."


"Apa?"


Iya. Aini sampai saat ini tidak tahu jika Ardi dan keluarganya sudah pindah ke Bandung. Ardi pun dari kemarin tidak mengatakan apapun pada Aini tentang kepindahannya ke Bandung setelah kepergian Aini waktu itu.


"Mas, apa Mas sekarang tinggal di Bandung? Bukan di Surabaya?" Tanya Aini setelah menemui Ardi yang sedang membantu Umar bersiap.


"Iya. Setelah kamu pergi hari itu, aku pindah ke Bandung. Kenapa?"

__ADS_1


"Berarti, sekarang Kenzo juga di Bandung?"


"Iya."


"Astaghfirullah. Kenapa Mas nggak bilang? Itu jauh sekali, Mas."


"Kita akan naik pesawat nanti. Dika sudah memesankan tiketnya."


Wajah Aini berubah bingung. Ia tidak tahu jika Kenzo ada di kota yang sangat jauh darinya saat ini. Tapi Umar,,


"Horeee! Umar belum pernah lho Pa, naik pesawat." Jujur Umar antusias.


"Oh ya? Oke, berarti nanti akan jadi pengalaman pertamamu." Sahut Ardi bahagia.


"Iya, Pa."


"Oke. Tos sama Papa!"


Plok. Ardi dan Umar pun tos dengan bahagia, saat Aini masih bingung menghadapi semuanya. Karena sebenarnya, ia juga belum pernah naik pesawat.


Pukul enam pagi, Ardi, Aini, Umar dan yang lainnya berangkat ke Surabaya. Mereka segera menuju ke bandara dimana mereka ka bertolak ke Bandung dengan pesawat yang sudah dipesankan tiketnya oleh Dika.


Aini meninggalkan warungnya dan menyerahkannya sementara pada Erna. Ia sudah sangat percaya pada Erna setelah semua yang mereka lalui bersama satu tahun ini. Dan lagi, Erna juga orang pilihan Ardi yang memang diminta untuk menjaganya.


Umar begitu bahagia saat ia memasuki pesawat dan duduk di kursinya. Ia mengamati setiap jengkal interior pesawat yang ditumpanginya dan tak sabar untuk segera terbang.


Lalu, bagaimana dengan Aini? Aini, duduk dengan gelisah di kursinya. Ia cukup gugup saat pesawat hendak lepas landas.


Dan Ardi yang duduk bersebelahan dengan Umar, menyadari itu. Ardi pun meminta ijin Umar untuk bertukar tempat duduk dengan Dika lebih dulu, agar ia bisa menenangkan Aini. Dan Umar mengijinkannya.


"Tenanglah, Ni! Semua akan baik-baik saja." Pinta Ardi, setelah ia duduk dan memegang lembut satu tangan Aini.


"Apa? Ah, iya, Mas." Sahut Aini terkejut, dengan wajah yang sangat cemas.


"Lihat aku!" Pinta Ardi lembut.


Aini pun mencoba memberanikan diri melihat Ardi. Melihat wajah laki-laki yang masih menjadi penghuni hatinya hingga saat ini. Menatap dalam, manik mata laki-laki tampan yang kini sedang duduk di sampingnya.


"Tenanglah, Sayang! Ada aku di sini." Ucap Ardi begitu lembut.


Entah Ardi yang selalu bisa menenangkan Aini, atau Aini yang masih selalu percaya dengan setiap ucapan Ardi. Perasaan Aini pun dengan segera menjadi lebih tenang dalam hitungan detik.


Daaannn,,


Aini akhirnya berhasil melewati detik-detik saat pesawat lepas landas tanpa kegugupan yang berarti. Perasaannya lebih tenang saat berada di dekat Ardi.


Setelah terbang sekitar seratus enam puluh menit, pesawat yang membawa Ardi dan yang lainnya mendarat dengan sempurna di Kota Paris van Java, Bandung. Aini dan Umar yang baru pertama kali terbang dengan pesawat, tidak mengalami jet lag. Mereka turun dari pesawat dengan kondisi yang cukup baik.


Disambut dengan kehangatan sinar matahari sore, Aini dan Umar pertama kali menapakkan kaki mereka di kota dengan sejuta pesonanya itu. Mereka langsung menuju rumah sakit dimana Kenzo dirawat.


Ardi sudah mendengar dari Gilang, Kenzo memang mengalami demam semalam. Mungkin karena kelelahan dan cuaca yang tidak menentu, jadi Kenzo mendadak mengalami demam.


Flashback On


"Kenzo kenapa, Lang?" Tanya Ardi saat panggilan telepon pada sahabatnya tersambung.


"Demam."


"Kenapa sampai ke rumah sakit kalau demam?"


"Aku dikabari, om sama tante udah sampai rumah sakit."


"Terus?"


"Ya aku cek kondisinya di rumah sakit."


"Sekarang gimana?"


"Udah mendingan."


"Berarti nggak rawat inap, kan?"


"Rawat inap."


"Kalau udah mendingan, kenapa harus rawat inap?" Kesal Ardi.


"Nunggu bundanya dateng."


Klek. Panggilan diakhiri begitu saja oleh Gilang. Makin kesal-lah Ardi saat ini. Baru saja ia menikmati waktu santainya berdua dengan Aini, malah diganggu dengan hal yang sebenarnya bisa diselesaikan tanpa campur tangannya.


Ardi sebenarnya paham dengan jawaban dari Gilang tadi. Kenzo pasti sangat merindukan Aini selama ini. Jadi, ini bentuk protes kecil darinya agar keinginannya dipenuhi oleh sang ayah.


Flashback Off


Aini yang terlalu memikirkan Kenzo, ia lupa menanyakan lagi pada Ardi dan Dika, kenapa Kenzo sampai dirawat di rumah sakit. Hati ibu satu ini, terlalu sedih dan cemas karena mendengar putranya semalam dilarikan ke rumah sakit.


Setelah menyusuri lorong-lorong rumah sakit, dan berada di bilik kotak untuk naik beberapa lantai, Ardi, Aini, Umar dan Dika sampai di depan sebuah ruangan yang langsung dibuka pintunya oleh Ardi.


"Assalamu'alaikum." Ucap Ardi seraya membuka pintu.


"Papa!"


Suara seorang anak laki-laki menggema sempurna dari dalam ruang rawat itu menyambut Ardi. Anak laki-laki itu duduk bersandar di atas brangkar pasien ditemani oleh seorang wanita yang tak lain adalah neneknya. Siapa lagi kalau bukan Kenzo dan Niken.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam." Jawab Niken lega.


Terlihat jelas di wajah Kenzo dan Niken, mereka terlihat lega dan bahagia melihat kedatangan Ardi.


"Papa punya hadiah untukmu, Ken." Ucap Ardi, yang masih berdiri di depan pintu, seraya membuka lebar pintunya.


Wajah Kenzo berubah penasaran dan sangat antusias. Karena Kenzo memang tak tahu, jika Aini dan Umar ikut ke Bandung saat ini.


"Kenzo!" Panggil Umar, sambil melongokkan kepalanya dari luar pintu.


"Umar!" Sahut Kenzo tak percaya.


Kenzo segera berusaha untuk turun dari ranjangnya, karena memang tak ada selang infus yang menahannya. Umar pun lalu segera masuk dan menghampiri Kenzo.


Dua teman lama yang sudah terasa seperti saudara itu pun segera berpelukan untuk melepas rindu.


"Masih ada lagi, Ken." Sela Ardi.


Kenzo yang memang masih menghadap pintu saat berpelukan dengan Umar, terkejut bukan main saat melihat wanita yang baru saja memasuki ruang rawatnya.


"Bunda!" Lirih Kenzo tak percaya.


Kenzo segera melepaskan pelukannya pada Umar. Perasaannya bercampur aduk seketika kala melihat wanita yang sangat ia rindukan.


"Iya, Sayang. Ini Bunda." Jawab Aini sambil tersenyum.


Kenzo pun lalu menghampiri Aini yang juga berjalan menghampirinya. Mereka jelas segera berpelukan untuk melepaskan segala rasa yang tertahan dalam hati.


Bahagia, jelas. Mereka jelas bahagia karena bisa bertemu kembali setelah terpisah lama. Sedih, iya. Kenapa baru sekarang mereka dipertemukan? Bukan kemarin-kemarin agar rasa rindu itu tidak menumpuk semakin tinggi.


Kenzo yang sangat merindukan Aini, langsung menangis di pelukan bundanya. Ia tak bisa mengucapkan apapun untuk mengungkapkan perasaannya.


Begitu juga Aini. Ia juga jelas menitikan airmatanya karena akhirnya bisa menyampaikan segala rasa yang tertahan lama dalam hatinya. Rasa yang mengusiknya dan seolah tak ingin pergi.


Niken jelas menangis haru melihat kejadian kecil itu. Ia pun tak bisa menahan air matanya melihat cucunya menangis begitu keras dalam pelukan Aini.


"Lihat! Itu semua karena ulahmu." Kesal Niken pada Ardi yang sudah berdiri di sampingnya.


"Maaf, Ma!" Sesal Ardi.


Semua membiarkan Kenzo dan Aini berpelukan untuk melepas rindu. Niken pun segera menyambut Umar dan memeluknya.


"Kamu kenapa, Nak?" Tanya Niken perhatian.


"Kemarin jatuh, Oma. Diserempet motor. Untung ditolongin papa." Jujur Umar.


Niken menoleh sejenak pada Ardi, karena ia tak tahu tentang hal itu. Niken lalu mengajak semua untuk duduk, untuk melepas rindu satu sama lain. Ia juga segera menghampiri Aini untuk menyambutnya. Ia bahkan tak segan memeluk Aini.


"Bagaimana kabarmu, Ni?" Tanya Niken haru, saat berpelukan dengan Aini.


"Baik, Bu. Bu Niken bagaimana kabarnya?" Jawab Aini sedikit terisak.


"Aku juga baik, Ni."


Niken lalu membiarkan Aini dan Kenzo untuk kembali mengobrol. Sedang ia dan Ardi, menemani Umar.


"Kamu sakit apa, Ken? Kenapa harus dirawat?" Tanya Aini, setelah Kenzo kembali ke ranjangnya.


"Rindu sama kamu, Ni." Sahut seorang laki-laki, yang tiba-tiba masuk ke ruang rawat Kenzo.


Semua pun menoleh. "Dokter Gilang."


Gilang yang memang sengaja ingin menemui Aini, tidak sengaja mendengar pertanyaan Aini tadi. Ia pun mewakili Kenzo untuk menjawabnya.


"Gimana kabarmu, Ni?" Sapa Gilang ramah, setelah berada di dekat Aini.


"Baik, Dokter. Dokter Gilang sendiri, bagaimana kabarnya? Mbak Maya, juga bagaimana kabarnya?" Jawab Aini ramah.


"Alhamdulillah, semua baik." Santai Gilang.


"Alhamdulillah."


Lalu tiba-tiba,,


"Oh, calon menantuku sudah datang rupanya." Ucap seorang laki-laki paruh baya yang juga masuk ke ruangan itu tanpa permisi.


Semua kembali menoleh ke arah pintu, tak terkecuali Aini. Ia sedikit bingung mendengar ucapan laki-laki itu, yang tak lain adalah Rama.


"Iya, Om. Udah dateng, nih!" Sahut Gilang bahagia.


Aini sedikit celingukan mencari keberadaan orang yang dimaksud Rama. Tapi tidak menemukan siapapun yang mungkin Rama maksudkan.


"Kamu kenapa? Cari siapa?" Tanya Gilang yang masih berdiri di dekat Aini.


Aini kebingungan menjawab Gilang.


"Yang dimaksud om Rama itu ya kamu. Calon menantunya. Calon istrinya Ardi." Jawab Gilang sambil tersenyum geli.


...****************...


Hai readers 🤗🤗


Happy new year to all of you 🥳🥳🥳🥳🥳

__ADS_1


Semoga semuanya akan menjadi lebih baik di tahun yang baru ini, Aamiin.


Okay,, see you next episode again 😘😍


__ADS_2