
"Semesta sepertinya sedang mendukungku. Aku kini sedang hamil. Dan Aini, tadi kepergok Mas Adit bertemu dengan temannya yang kemarin ada di foto itu. Apalagi, Ibu selalu mendukung semua yang aku lakukan. Hhaaahh,, akhirnya. Sepertinya, harapanku dan Ibu untuk membuat Mas Adit dan Aini berpisah akan segera terlaksana." Gumam Ratri bahagia, saat Adit pergi ke rumah Ratmini, setelah mengantarnya pulang.
Ratri benar-benar terbutakan oleh egonya. Hasrat untuk memiliki Adit seutuhnya, benar-benar telah memenuhi hatinya. Ia tak lagi menghiraukan bagaimana perasaan Aini sebagai madunya. Ia juga lupa, nasehat kedua orang tuanya tentang bagaimana harus bersikap pada madunya itu.
Ratri merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia lalu mengambil ponselnya dan segera menghubungi Suharti. Ia ingin menceritakan apa yang terjadi tadi.
"Ibu pasti seneng dengernya." Gumam Ratri lagi.
Ratri pun mengobrol cukup lama dengan Suharti melalui telepon. Ia menceritakan apa yang telah terjadi.
Dan benar, Suharti bahagia mendengar apa yang Ratri ungkapkan. Ia juga tak menyangka, semesta sepertinya sedang mendukungnya dengan cara yang tak terduga.
"Bener yang Ibu bilang tadi. Aku harus membuat suasana hati Mas Adit bertambah panas saat ini."
Ratri tiduran di kamarnya dengan santai. Ia tak menghiraukan bagaimana keadaan Adit dan Aini saat ini. Ia hanya memikirkan, bagaimana cara membuat Adit semakin kesal dan marah pada Aini, hingga akhirnya, Adit akan menggugat cerai Aini secepatnya. Jadi ia akan segera menjadi Nyonya Aditya Eka Subrata seorang.
...****************...
Takdir manusia, siapa yang tahu. Apa yang akan terjadi nanti, sungguh menjadi misteri bagi setiap hati dan nalar manusia. Sekuat apapun menerka, tak pernah bisa menjadi jawaban yang sempurna.
Setelah kejadian di depan apotek, Adit benar-benar mendiamkan Aini. Ia nyaris tak berbicara dengan Aini selama satu minggu ini. Hatinya sedang dilanda kebimbangan yang besar.
Ingin Adit mempercayai ucapan Aini, yang sangat ia tahu, istrinya itu tak mungkin berselingkuh darinya. Mengingat, panjangnya perjalanan mereka selama berumah tangga. Dari Adit yang menjebak Aini, restu dari Suharti yang begitu sulit didapat, hingga Aini harus menerima dimadu oleh Adit karena ulah Suharti. Dan Aini tak pernah mengeluh atau pun menuntut hal yang aneh-aneh padanya sampai saat ini.
Tapi, apa yang Adit lihat dengan mata kepalanya sendiri kemarin pun, tak bisa ia abaikan begitu saja. Meski Fajar dan Aini sudah menjelaskan semua, tapi terasa mengganjal di hati Adit.
Apalagi, tanpa Adit sadari, Ratri dan Suharti sudah berkali-kali berusaha meracuni pikiran Adit. Demi memisahkan Adit dan Aini tentunya.
Selama satu minggu ini, Ratri sering mengajak Adit mengunjungi Suharti. Dan saat itulah, dua wanita berbeda generasi itu memberikan asupan negatif pada hati dan logika Adit, hingga membuatnya semakin tidak mempercayai Aini.
Hari ini, Adit mengantar Hadi ke rumah sakit untuk menjalani terapi dan memeriksakan kesehatannya. Ia bersama Suharti dan Ratri menemani Hadi ke rumah sakit. Umar kembali dititipkan pada Ratmini oleh Aini.
"Aini?" Gumam Adit, saat selesai membayar biaya administrasi pemeriksaan Hadi.
Adit menajamkan penglihatannya. Ratri yang sedang bersamanya pun mendengar gumaman Adit yang cukup lirih. Ia juga mencari sosok yang sangat ia kenali itu.
Dan benar, Ratri melihat Aini sedang berdiri dan berbincang dengan seorang laki-laki di depan ruang praktek salah satu dokter spesialis di rumah sakit itu. Mereka berbincang cukup akrab.
Adit hendak melangkahkan kakinya, tapi dicegah oleh Ratri. Adit menoleh pada Ratri, yang disambut dengan gelengan kepala oleh Ratri.
"Jangan di sini Mas! Ini di rumah sakit." Saran Ratri.
__ADS_1
Adit kembali menoleh pada Aini yang masih berbincang dengan laki-laki itu. Mereka bahkan terlihat memasuki ruang praktek dokter itu bersama.
"Untuk apa Aini mengunjungi dokter kandungan? Dan kenapa dia bersama laki-laki itu lagi?" Gumam Ratri yang mulai menyadari situasinya cukup mendukung rencananya.
Adit yang berusaha menahan kekesalan dan amarahnya karena rasa cemburu dan rasa ketidakpercayaannya pada Aini yang mulai memenuhi hatinya, segera terpancing dengan gumaman Ratri.
Adit hanya diam dan berlalu meninggalkan Ratri begitu saja. Ratri pun tersenyum sinis saat menyadari sikap Adit. Ia lantas mengikuti Adit, lalu keluar dari rumah sakit.
Malam harinya, menjelang isya, Aini baru saja tiba di rumah bersama Umar. Ia tadi langsung menjemput Umar dari tempat kerjanya.
Aini sudah mulai terbiasa dengan sikap dingin Adit padanya setelah kejadian foto waktu itu. Jadi, ia pun bersikap biasa ketika Adit dan Ratri tidak menyapanya saat ia sampai di rumah. Aini langsung mengajak Umar ke kamarnya.
Setelah Umar tertidur, Aini mencoba mencari Adit untuk mengatakan sesuatu padanya. Sesuatu yang mungkin bisa menjadi alasan bagi Adit dan Aini untuk bisa kembali lebih dekat.
"Mas, ada yang ingin kukatakan padamu." Ucap Aini pelan, saat Adit berada di dapur untuk mengambil minum.
"Kebetulan, ada yang ingin kukatakan padamu juga." Jawab Adit datar.
Aini lantas duduk di salah satu kursi yang ada di ruang makan. Ia menunggu Adit menyelesaikan minumnya. Hati Aini sedikit menciut saat mendengar nada bicara Adit tadi. Tapi, ia berusaha mengabaikan hal itu demi apa yang ingin ia sampaikan.
"Katakan!" Pinta Adit singkat saat ia sudah selesai minum dan berdiri di dekat Aini.
Aini menyerahkan sebuah amplop putih berlogo rumah sakit yang tadi ia kunjungi. Adit pun membukanya dan perlahan membacanya.
Aini mengerutkan dahinya.
"Apa maksudmu Mas? Aku sudah pernah mengatakan padamu bukan, aku tak pernah berselingkuh darimu." Jawab Aini cepat.
"Benarkah? Lalu kenapa kamu tadi bisa berada di rumah sakit bersama Fajar? Kalian mengunjungi dokter kandungan bukan? Jadi anak itu, anak selingkuhanmu bukan?" Tuduh Adit tanpa ragu.
Suara Aini tertahan. Pita suaranya, seakan mendadak rusak begitu saja mendengar tuduhan sang suami. Hatinya terasa begitu pedih mendengar hal itu keluar dari mulut Adit. Tanpa terasa, butiran bening itu, keluar begitu saja dari kelopak matanya.
"Aku tidak selingkuh Mas. Dan ini adalah anakmu. Bukan anak orang lain." Ucap Aini terbata.
"Bohong! Lalu, kenapa kamu bisa mengunjungi dokter kandungan bersamanya tadi?" Tanya Adit marah.
Aini terisak dalam. Ia tak percaya, Adit bisa mengatakan hal itu padanya.
"Kenapa diam? Jadi benarkan, kamu memiliki hubungan dengan laki-laki itu?" Tanya Adit tak sabar.
Aini menatap nanar laki-laki yang sudah enam tahun mendampinginya setiap hari. Menjadi sandarannya di setiap suasana.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kamu mengatakan itu semua Mas? Setelah semua yang kita lalui enam tahun ini." Sahut Aini pedih.
"Seharusnya aku yang bertanya itu padamu. Bagaimana bisa kamu berselingkuh, setelah apa yang kita lalui selama ini?"
"Harus kukatakan berapa kali Mas, agar kamu percaya. Aku tak pernah berselingkuh darimu." Getir Aini.
"Jika memang begitu, jelaskan padaku, kenapa bisa kamu berada di rumah sakit bersama Fajar tadi? Kalian bahkan masuk ke ruang praktek dokter kandungan bersama."
"Jika aku menjelaskan semuanya, apa Mas akan percaya padaku?"
Adit terdiam.
"Mas tak akan percaya." Ucap Aini lirih.
Aini membalikkan badannya.
"Aini!" Adit membentak Aini keras.
"Ada apa Mas? Kenapa Mas sekarang sering membentakku? Padahal, dulu Mas tak pernah meninggikan nada bicaramu padaku sedikitpun." Jawab Aini marah.
Adit tak menjawab. Apa yang dikatakan Aini memang benar. Ia dulu tak pernah sedikitpun berbicara dengan nada yang tinggi pada Aini. Tapi sekarang, ia sering membentak Aini hanya karena hal yang cukup sederhana.
"Oke Mas. Jika Mas tak bisa menjawabnya. Aku sudah cukup paham dengan semuanya." Sahut Aini makin pedih.
Aini membalikkan badannya. Ia berniat kembali ke kamarnya untuk beristirahat bersama Umar. Tapi, belum sempat ia melangkah, ia mengurungkan niatnya.
"Dan, iya Mas. Aku berselingkuh darimu. Aku lelah dengan semua sikapmu padaku akhir-akhir ini, yang tak pernah lagi bersikap manis padaku. Aku juga butuh kasih sayang dari seseorang yang bisa memberikanku perhatian dan mendengarkan segala keluh kesah dan lelahku." Ucap Aini datar, tanpa menoleh kembali pada Adit.
"Apa?"
Aini segera membalikkan kembali badannya ke arah Adit.
"Aku berselingkuh darimu Mas. Karena Mas sudah tak pernah lagi memperhatikanku dan memberikanku kasih sayang seperti dulu. Mas hanya mementingkan Mbak Ratri."
"Dia sedang hamil. Kamu tahu itu bukan?"
"Aku sekarang juga sedang hamil Mas. Dan kamu malah menuduh darah dagingmu sendiri sebagai anak selingkuhanku? Dimana nuranimu Mas?"
Aini benar-benar kehilangan kendali dirinya. Ia meluapkan isi hati yang mengganjal akhir-akhir ini. Ia yang sudah cukup lelah dengan semua drama kehamilan Ratri, juga ulah Ratri dan Suharti yang selalu berusaha menjauhkan Adit darinya, membuat Aini benar-benar tak bisa lagi menahan semuanya sendiri.
Apalagi, bukan sebuah pelukan dan sambutan hangat yang Aini terima dari Adit karena kehamilannya. Tapi malah sebuah tuduhan yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya.
__ADS_1
"Bukankah itu yang ingin kamu dengar dariku Mas?"