Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Perhatian Ardi


__ADS_3

Wahai hati, dapatkah engkau menjelaskan, segala yang kau rasakan? Menjelaskan setiap rasa yang hadir, dalam setiap hembusan nafas yang masih dimiliki raga ini.


"Aini?"


"Iya, Pak,,"


Ardi dan Aini sama-sama terkejut. Mereka tak mengira, akan bertemu di tempat itu, dan bahkan di waktu yang sudah cukup larut.


Ardi tadi baru saja menyelesaikan beberapa pekerjaan yang harus ia bawa pulang. Ia berniat menyegarkan diri dengan menikmati semilir angin malam di halaman belakang rumahnya, yang dihiasi dengam tanaman yang dirawat oleh sang ibu.


"Kamu,,??"


"Tadi bu Niken mengajak saya mengobrol sebentar, Pak." Jujur Aini.


"Pantas saja, mama tadi terlihat seperti menyembunyikan sesuatu." Batin Ardi.


"Bapak butuh sesuatu?" Tanya Aini ramah.


"Tidak. Hanya ingin menenangkan pikiran sejenak."


Ardi dengan santainya berjalan ke arah kursi dimana Aini tengah duduk. Kursi yang sama, yang tadi dipakai oleh Aini dan Niken mengobrol. Ia pun duduk begitu saja di kursi itu, sambil menatap lurus ke arah taman. Aini segera beringsut dari posisinya. Ia refleks memutar tubuhnya menghadap Ardi.


"Apa yang kalian obrolkan tadi?" Tanya Ardi santai.


Aini yang masih terkejut, tak begitu memperhatikan ucapan Ardi. Apalagi, jantungnya pun segera berdetak dengan begitu kencangnya. Hanya karena, Ardi duduk di sebelahnya.


"Ha? Maaf Pak, Bapak barusan bilang apa?" Tanya Aini tak enak hati.


Ardi menoleh pada Aini. Tanpa sengaja, dua pasang bola mata itu saling bertemu pandang. Mereka seolah-olah, saling berbicara dalam diam.


"Apa Aini memang secantik ini bila dilihat dari dekat?" Batin Ardi, dengan mata yang masih setia menatap wanita tepat dihadapannya itu.


Pandangan itu tak terlepas begitu saja. Mereka saling menatap bayangan diri di dalam bola mata yang tepat ada di depannya.


"Cantik." Gumam Ardi tanpa sengaja.


Aini pun terkesiap karena ucapan Ardi.


"Maaf, Pak. Bapak bicara apa?" Tanya Aini bingung.


Ardi yang sedikit mencondongkan tubuhnya pada Aini tanpa sadar, segera memperbaiki posisinya. Ia sedikit salah tingkah karena ketahuan memuji Aini begitu saja.


"Apa yang kamu obrolkan dengan mama?" Tanya Ardi sedatar mungkin, demi menutupi perasaannya saat ini.


"Oh itu. Bukan apa-apa kok, Pak." Jawab Aini sambil membenarkan posisinya kembali.


Hening.


Tak ada percakapan lagi diantara dua insan itu. Mereka sibuk dengan pikiran dan perasaannya masing-masing. Hingga,,


"Terima kasih, Ni." Ucap Ardi tulus, tanpa menoleh pada Aini.


"Untuk apa, Pak?" Tanya Aini setelah menoleh pada Ardi.


"Karena kamu mau menjadi pendonor untuk Kenzo. Aku nyaris putus asa mencari pendonor untuknya selama ini."


"Anda harus lebih kuat, Pak. Karena hanya Anda yang bisa Kenzo andalkan."


Ardi menoleh pada Aini.


"Kamu benar. Jika bukan padaku, kemana lagi Kenzo akan bersandar."


Aini tersenyum lega mendengar penuturan Ardi. Ia pun membalas senyuman Ardi.


"Tapi, seharusnya saya yang berterima kasih pada Bapak. Karena Bapak bersedia membantu saya agar bisa kembali bersama Umar." Ucap Aini segera.


"Aku dari awal memang berniat membantumu. Aku tak pernah tega, ketika seorang ibu harus dipisahkan dari putranya dengan alasan apapun."


"Tapi,,,"


"Iya, aku memisahkan Kenzo dari ibunya. Karena memang ibunya lebih memilih karirnya daripada putranya sendiri."


Aini terdiam. Ia tak bisa berucap atau membalas apapun yang Ardi katakan. Ia lantas menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Menatap bintang dan bulan yang bersinar indah malam ini.


"Setiap orang memiliki pilihan dalam hidupnya. Dan setiap setiap pilihan, memiliki jalan yang berbeda-beda." Ucap Aini lembut.


"Kamu benar." Jawab Ardi singkat.


Ardi masih setia menatap wanita mungil di sampingnya. Wanita yang tingginya hanya sebatas dada bidangnya itu, terlihat berbeda di mata Ardi malam ini. Sebuah senyuman kecil nan indah, tercipta di wajah sang duda yang sedang menikmati waktu santainya.


Ardi lantas mengikuti arah pandangan Aini. Ia ikut menatap langit luas yang nampak gemerlap malam ini. Nampak begitu ceria dengan jutaan bintang yang menghiasinya.


"Maaf, Pak. Saya permisi masuk dulu!" Pamit Aini setelah beberapa saat mereka diam.


"Oh, iya. Aku juga ingin masuk!" Jawab Ardi segera.


Aini menganggukkan kepalanya ke arah Ardi. Ardi pun bersiap untuk kembali masuk. Aini segera berdiri dan diikuti oleh Ardi. Tapii,,


"Eehh,," Ucap Aini terkejut.


Dan, bruk. Aini jatuh ke dalam pelukan Ardi. Ardi pun dengan sigap menangkap tubuh Aini, meski ia juga terkejut. Hingga tanpa mereka sadari, Ardi memeluk tubuh Aini dan jatuh terduduk kembali bersamaan. Dan kini, Aini berada di atas pangkuan Ardi.

__ADS_1


Aini segera menoleh pada Ardi. Ardi pun ternyata juga sudah menatap ke arah wanita yang sedang berada di pangkuannya dengan dua tangan itu.


"Kamu nggak papa?" Tanya Ardi cepat.


"Iya, Pak. Maaf, Pak." Jawab Aini malu, sambil menatap wajah Ardi.


"Kamu kenapa? Pusing?"


"Tidak, Pak."


"Lalu? Kenapa tiba-tiba bisa jatuh? Kamu tidak sedang meng,,"


"Maaf, Pak. Bagian bawah rok saya, ternyata terinjak oleh Bapak tadi." Jawab Aini cepat.


Ardi segera menoleh ke arah kakinya. Dan benar. Bagian bawah rok yang Aini kenakan, ternyata terinjak olehnya.


"Oh, maaf. Aku tak sengaja." Ucap Ardi seraya menarik kakinya dari bagian rok Aini.


"Ehem,,"


Ardi dan Aini segera menoleh ke arah pintu.


"Kalau mau romantisan, kira-kira dong waktunya, Di. Ini udah malam dan kalian belum halal." Tegur Niken santai.


"Siapa yang romantisan? Mama nggak usah aneh-aneh lagi, ya!" Jawab Ardi ketus.


"Terus, kenapa kamu mangku Aini gitu?"


Ardi segera mengalihkan pandangannya ke arah tangannya, yang masih setia tanpa sengaja memeluk dan memangku Aini sejak tadi. Ia pun refleks segera melepaskannya. Aini pun refleks beringsut lalu berdiri mengambil jarak dari Ardi.


"Maaf, Bu. Ibu salah paham sepertinya. Rok saya tadi tidak sengaja terinjak oleh pak Ardi saat saya akan masuk. Saya tidak sengaja terjatuh dan Pak Ardi membantu saya tadi." Jelas Aini gugup.


Niken tersenyum melihat tingkah Ardi dan Aini.


"Iyaaa,," Sahut Niken cekikikan.


"Mama ada apa ke sini? Mau ngobrol sama Aini lagi?" Tanya Ardi sedikit kesal.


"Memangnya kenapa? Nggak boleh? Ganggu waktumu sama Aini, gitu?" Cibir Niken santai.


"Udah deh, Ma!"


"Mama kesini karena Kenzo nyari kamu. Dia pindah ke kamarmu." Jelas Niken sambil berlalu masuk kembali.


"Apa?"


Ardi segera berdiri dan berlari masuk ke kamarnya. Ia sudah sangat hafal dengan tingkah putranya yang satu ini. Jika Kenzo tengah malam mencarinya hingga pindah ke kamarnya, berarti ia sedang merindukan ibunya.


Ardi segera menyusul putranya yang sudah tiduran di ranjangnya. Ia segera memeluk putra semata wayangnya itu dengan penuh kehangatan. Menyelimutinya dan mendekapnya erat.


"Paa,," Panggil Kenzo lirih.


"Iya, Sayang."


"Kenzo ingin tidur dengan mama, seperti Umar." Ucapnya sedih.


Ardi terdiam. Ia yang baru saja melegakan perasannya, tiba-tiba harus kembali bergulat dengan apa yang mengganggu pikirannya sejak tadi.


Ardi akhirnya tak menjawab Kenzo. Ia lebih memilih memeluk Kenzo dan membuatnya kembali terlelap dalam pelukannya seperti biasa.


Flashback On


"Maaf, Pak. Ada yang ingin bertemu." Ucap Dika, saat ia memasuki ruangan Ardi, tepat sebelum Dika menjemput Aini siang ini.


"Siapa?"


"Hai, Mas." Sapa seorang wanita yang nyelonong dengan santai ke ruangan Ardi.


Ardi yang sedang sibuk dengan berkas-berkasnya, segera mengalihkan pandangannya karena sangat hafal dengan suara itu. Seorang wanita dengan dres ungu selutut dan sebuah tas dari merk kenamaan dunia di tangannya nampak jelas di depan matanya. Tak lupa, sebuah high heels setinggi sepuluh senti menghiasi kaki jenjangnya yang begitu paripurna. Dia Oliv, ibu kandung Kenzo.


"Ngapain kamu kesini?" Tanya Ardi datar.


"Aku ingin bertemu dengan Kenzo." Jujur Oliv tanpa ragu.


Ardi mengerutkan keningnya. "Untuk apa?"


"Aku ibunya, Mas."


"Ibu katamu?" Cibir Ardi.


"Iya. Lagi pula, sudah lama aku tak bertemu dengannya. Aku baru pulang dari luar negeri setelah beberapa bulan di sana."


"Aku tak mengijinkannya." Jawab Ardi singkat.


"Tapi Mas,,,"


"Maaf, Pak. Saya harus segera menjemput beliau." Sela Dika.


"Iya, pergilah!" Jawab Ardi segera.


Oliv menoleh pada Dika. "Siapa yang ingin kamu jemput? Apa Kenzo? Biar aku saja yang menjemputnya ke sekolah."

__ADS_1


"Maaf, Bu. Saya harus menjemput tamu pak Ardi. Saya permisi!"


"Oh. Baiklah." Jawab Oliv kecewa.


Dika segera undur diri dan meninggalkan Oliv dan Ardi.


"Biarkan aku bertemu dengannya!" Pinta Oliv lagi.


"Tidak." Jawab Ardi singkat.


Oliv memang perlu ijin dari Ardi jika ingin menemui Kenzo. Itu adalah keputusan pengadilan sejak Oliv dan Ardi bercerai dulu.


Dan bukan tanpa alasan Ardi menolak permintaan Oliv tadi. Ardi merasa aneh dengan permintaan Oliv. Karena selama ini, belum pernah sekalipun Oliv meminta bertemu dengan Kenzo. Kenzo yang selalu meminta bertemu dengan ibunya selama ini.


"Tapi Mas,,"


"Aku tidak mengijinkannya. Dan sekarang, pergilah! Aku sedang banyak pekerjaan." Jawab Ardi datar tanpa menatap Oliv sedikit pun.


"Hanya sebentar."


Oliv berjalan mendekati Ardi. Ia ingin mencoba merayunya.


"Tidak."


"Mas, kumohon!"


Ardi diam tak menjawab. Ia malah fokus pada komputer dan laptopnya yang berada di meja kerjanya.


"Pergi dari sini! Letak pintunya belum berubah."


Langkah Oliv yang sudah sampai di dekat Ardi segera terhenti. Ia akhirnya mengalah pada mantan suaminya itu. Ia pun keluar dari ruangan Ardi dengan tangan kosong.


Setelah Oliv keluar, Ardi segera membereskan laptop dan berkasnya. Ia segera meraih ponsel, kunci mobil dan jas kerjanya. Ia segera keluar dari ruangannya dengan tergesa-gesa. Ia bahkan langsung menghubungi Niken untuk menanyakan sopirnya, apakah sudah berangkat menjemput Kenzo atau belum.


Ardi ingin memastikan bahwa Oliv tidak nekat menemui Umar ke sekolahnya. Ia juga khawatir, jika Oliv nekat datang ke rumahnya. Jadi ia bergegas untuk memastikan hal itu.


Flashback Off


Pikiran Ardi yang tadi sejenak sudah tenang, kembali menjadi sedikit kusut karena ucapan Kenzo. Ardi sejak tadi memikirkan permintaan Oliv tadi siang.


Ardi sebenarnya juga tak tega pada Kenzo. Tapi, ada yang janggal dengan permintaan Oliv. Jadi, ia akan menyelidikinya lebih dulu untuk menjaga keamanan Kenzo.


Ardi akhirnya terlelap bersama Kenzo di kamarnya. Mereka saling memeluk satu sama lain di bawah selimut yang sama.


Keesokan paginya, langit sedikit muram karena awan hitam yang menaunginya. Cahaya kehangatan sang surya, terhalang oleh kawanan awan mendung yang datang sejak dinihari tadi.


Ardi baru saja selesai mandi, saat ponselnya berdering karena ada panggilan yang masuk. Ia pun segera menjawabnya. Dan tak lama, ia segera menuju ke kamar Umar.


Aini membuka pintu kamar Umar setelah mendengar ketukan beberapa kali. Ia sedikit terkejut, karena Ardi masih bertelanjang dada saat menyambangi kamar putranya.


"Astaghfirullahal'adzim." Ucap Aini, sambil menundukkan pandangannya.


"Oh, maaf." Ucap Ardi salah tingkah.


Ardi menyadari kecerobohannya karena lupa belum mengenakan kaosnya. Ia hanya mengenakan celana boksernya seperti biasa setelah ia keluar dari kamar mandi. Ardi segera berlari kembali ke kamarnya dan memakai kaosnya.


"Siapa, Bunda?" Tanya Umar penasaran.


"Om Ardi." Jawab Aini lembut.


"Mana?"


"Nggak tahu. Pergi lagi tadi. Udah! Yuk benerin seragamnya!"


Aini kembali melanjutkan aktivitasnya bersama Umar. Ia tadi baru membantu Umar bersiap untuk ke sekolah. Aini membiarkan pintu kamar Umar sedikit terbuka. Karena ia yakin, Ardi akan kembali ke kamar putranya.


Dan benar. Tak lama Ardi kembali ke kamar Umar setelah mengenakan kaosnya.


"Ada yang harus kukatakan padamu dan Umar." Jujur Ardi ragu.


"Ada apa, Pak?" Tanya Aini perhatian.


"Dika baru saja mengabariku. Pak Hadi Subrata, meninggal dunia pagi ini." Ucap Ardi perlahan.


"Innalillahi, bapak." Ucap Aini spontan.


Aini segera berpegangan pada tembok karena hampir terjatuh. Ardi pun refleks mencoba membantu Aini. Ia memegangi kedua lengan Aini.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Ardi cemas.


"Bunda kenapa?" Tanya Umar panik, setelah menghampiri ibunya.


Aini menggelengkan kepalanya pelan. Ardi lalu melepaskan Aini.


"Akung, Le. Akung meninggal." Ucap Aini pelan saat menatap putranya.


Umar terdiam. Sejurus kemudian, Umar mulai menangis. Ia ingat, bagaimana kakeknya itu sangat menyayanginya. Dan sudah sebulan lebih, ia tidak bertemu dengannya.


Aini segera memeluk putranya. Menenangkannya.


"Kita ke rumah akung nanti!" Ajak Aini untuk menenangkan Umar.

__ADS_1


"Pergi bersamaku!" Sela Ardi segera.


__ADS_2