
Ada hitam dan ada putih. Ada kebaikan jelas ada keburukan. Semua berjalan seimbang di dunia ini. Berjalan beriringan saling mengisi dan melengkapi satu sama lain. Karena memang, tak ada yang abadi di dunia ini.
Setelah keributan pagi di rumah Ardi karena hilangnya Aini sejak pagi, semua kini berjalan seperti biasa.
Ardi yang telah yakin bahwa Aini baik-baik saja, lalu berangkat ke kantor dengan hati yang tenang. Sarapan pagi bersama Aini, membuat hatinya bahagia pagi ini. Wajah tampannya, jelas dihiasi oleh rona bahagia dari hati yang memang sedang bahagia.
Sedang Aini, segera kembali berkutat dengan pekerjaan rumah yang belum selesai. Ia membantu Sri seperti biasa. Sedang Rama dan Niken, jelas bersantai menikmati hari mereka.
Karena ini akhir pekan, dua anak laki-laki Ardi dan Aini pulang lebih cepat dari sekolah. Mereka bahkan hanya sudah di rumah saat jam menunjukkan pukul sebelas siang.
"Bunda, ayo!" Rengek Kenzo pada Aini selepas sholat dzuhur.
"Kemana?"
"Ke kantor papa." Jawab Kenzo manja.
"Ngapain ke kantor papa? Papa kan baru kerja." Rayu Aini perlahan.
"Aku pengen jalan-jalan sama papa." Jujur Kenzo tanpa ragu.
"Kemarin kan kamu habis jalan-jalan sama oma, sama opa."
"Kan sama papa belum."
"Tapi kan papa baru kerja, Sayang."
"Nggak papa, Bunda. Kenzo udah biasa nyusul papa ke kantor minta sesuatu. Papa pasti nurutin."
"Kenzo,, Kenzo kan udah besar, nggak boleh kayak gitu terus sama papa. Papa biar kerja dulu. Nanti, kalau papa udah pulang, Kenzo boleh minta apapun sama papa." Nasehat Aini.
"Gitu ya, Bunda?"
"Iya. Jadi, sekarang Kenzo main sama Bunda, sama Umar dulu di rumah. Nanti kalau papa udah pulang, udah istirahat bentar, baru deh, Kenzo boleh minta sesuatu sama papa, ya?"
"Eemm,, oke."
"Sip! Anak pinter." Puji Aini.
Kenzo yang tadi duduk tepat di samping Aini yang baru selesai sholat, tiba-tiba berdiri dan berlari keluar dari kamar Aini. Dan sejurus kemudian, terdengar teriakan yang menggema di seluruh penjuru rumah. Dan jelas, Aini pun mendengarnya.
"Omaa! Kenzo mau ke kantor papa." Teriak Kenzo tanpa keraguan.
"Eh?"
Aini sangat terkejut mendengar teriakan Kenzo. Bukan karena suara Kenzo yang melengking ke seluruh penjuru rumah, tapi permintaannya. Padahal baru saja ia selesai menasehati anak itu, tapi kini malah sudah merengek pada neneknya.
Niken yang juga baru selesai sholat, segera menghampiri cucunya. Ia sangat santai meladeni cucu pertamanya itu.
"Kenzo mau ngapain ke kantor papa? Mau bantuin papa nyelesein kerjaan?" Tanya Niken santai.
Kenzo menggeleng manja.
"Terus?"
"Mau jalan-jalan sama papa. Umad sama Bunda juga sekalian." Jelas Kenzo tanpa ragu.
"Kemarin kan udah jalan-jalan sama Oma sama opa." Tolak Niken halus.
"Kan sama papa, sama bunda belum." Jawab Kenzo ringan.
Niken memejamkan matanya karena tak mengira akan menerima jawaban seperti itu dari Kenzo. Dan jawaban anak berusia delapan tahun itu, jelas benarnya.
Umar dan Aini bersamaan menghampiri Niken dan Kenzo yang sedang mengobrol. Umar hanya menatap bingung pada ibunya yang juga nampak kebingungan dengan sikap Kenzo.
"Kenzo tadi bilang, mau nunggu papa pulang kerja, kan?" Rayu Aini lagi.
"Nggak jadi, Bunda. Mau sekarang aja jalan-jalannya. Sama Bunda sekalian, yaa?" Jawab Kenzo polos.
"Aku?" Sahut Umar sedikit cemas.
"Ya jelas sama kamu juga dong, Mar. Nanti kita main di taman aja!" Jawab Kenzo antusias.
"Oke." Umar pun menjawabnya dengan antusias.
Aini menggelengkan kepalanya melihat tingkah dua putranya.
"Ya udah, biar dianter pak Prapto ya, ke kantor papa?" Sela Niken.
"Oke, Oma!" Jawab Kenzo bahagia.
Niken tersenyum bahagia melihat Kenzo begitu bahagia akhir-akhir ini. Mengingat, beberapa hari lagi, cucunya itu akan berhadapan langsung dengan benda-benda yang belum pernah ia temui sebelumnya. Dengan kondisi yang tanpa ada kepastian hasilnya.
"Semoga setelah operasi, aku masih bisa melihat kebahagiaan itu." Batin Niken sendu.
Niken pun meminta Umar dan Aini bersiap. Aini awalnya jelas menolak. Tapi karena rengekan dan bujukan yang begitu halus, ia pun menurutinya. Ia lalu mengganti pakaiannya dan bersiap untuk menemani Kenzo dan Umar ke kantor Ardi.
"Pak Prapto! Tolong antar Kenzo dan Umar ke tempat Mas Ardi dulu ya! Saya mau ke ATM sebentar." Pinta Aini sambil menunjuk ke arah seberang jalan.
Prapto pun mengikuti arah tangan Aini yang ternyata menunjuk ke arah sebuah kantor cabang bank swasta yang memang berada tepat di depan gedung kantor Ardi. Ia lalu mengangguk paham.
"Mbak Aini hati-hati, ya!" Pesan Prapto.
__ADS_1
"Iya, Pak."
Prapto lantas membawa dua bocah laki-laki itu menuju ke lantai teratas gedung, dimana kantor Ardi berada. Sedang Aini, jelas segera menyeberangi jalan untuk menuju bank.
"Papaaa!"
Teriakan dua bocah laki-laki itu, membuyarkan waktu istirahat beberapa karyawan yang ada di kantor. Mereka pasti segera menoleh ke arah sumber suara. Yang ternyata, sudah berada di ruangan sang pemilik kantor.
"Kenzo? Umar? Kalian sama siapa kesini?" Tanya Ardi tak percaya.
"Pak Prapto." Jawab Kenzo seraya duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Ardi.
Ardi pun segera mencari keberadaan orang yang dimaksud Kenzo. Yang ternyata, sedikit tertinggal di belakang karena ditinggal berlari oleh Kenzo dan Umar.
Pak Prapto lantas menceritakan ulah Kenzo di rumah, hingga membuatnya bisa sampai di kantor saat ini.
"Aini?"
"Mbak Aini sedang ke ATM tadi." Jujur Prapto.
Ardi segera berlari keluar kantor. Prapto sampai terkejut karena Ardi tiba-tiba berlari begitu saja. Dan saat sampai di depan pintu lift, ia berpapasan dengan Aini yang baru saja sampai.
"Kamu nggak papa, kan?" Tanya Ardi penuh kepanikan, sambil mengamati Aini dengan teliti.
"Aku nggak papa, Mas. Kenapa?" Tanya Aini bingung.
"Syukurlah." Jawab Ardi lega, sambil menarik tubuh Aini ke dalam dekapannya.
Aini masih kebingungan dengan sikap Ardi. Ia bahkan hanya mematung saking terkejutnya. Dan itu, malah manjadi tontonan beberapa pasang mata yang ada di sekitarnya.
"Mas, dilihatin karyawanmu!" Tegur Aini, saat menyadari ada beberapa orang yang berdiri tak jauh dari posisinya dengan Ardi saat ini.
Ardi perlahan melepaskan pelukannya. Ia berusaha bersikap senetral mungkin dihadapan para karyawannya. Aini pun langsung tertunduk malu karena terciduk oleh beberapa pasang mata di sekitarnya.
"Syukurlah, jika kamu baik-baik saja." Ucap Ardi sedikit keras dan sangat lega.
Tanpa berucap lagi, ia langsung meraih tangan Aini dan menggandengnya menuju ruangannya. Ia tak menghiraukan tatapan para karyawannya yang terlihat sangat kepo dengan apa yang terjadi.
Aini pun hanya bisa pasrah, saat tangan Ardi menyentuh dan menggenggam erat tangannya. Karena ia tak tahu, harus bagaimana menghadapi situasinya saat ini.
Saat sampai di ruangan Ardi, Ardi dan Aini langsung disambut oleh Kenzo yang langsung merengek pada Ardi untuk menemaninya jalan-jalan. Sedang Umar, lebih memilih asik dengan beberapa buku yang ada di ruangan Ardi.
Ardi pun dengan segera mengiyakan permintaan Kenzo. Mengingat, kejadian yang baru saja terjadi, membuatnya sedikit kikuk menghadapi para karyawannya. Jadi, ia memilih untuk melarikan diri dari kantor.
Ardi segera menyerahkan urusan kantor pada Dika. Ia dan para tamunya segera pergi dari kantor bersamaan. Hanya saja, Prapto langsung pulang ke rumah, sedang sepasang duda dan janda beserta dua putranya itu segera menuju salah satu tempat makan favorit Kenzo untuk makan siang. Baru setelah makan siang, mereka pergi ke taman untuk menghabiskan waktu bersama.
Semua larut dalam kebahagiaan dan canda tawa bersama. Ardi dan Aini, menemani Kenzo dan Umar yang asik bermain di taman kota bersama beberapa pengunjung lain. Mereka pun sesekali ikut bermain saat dua anak kecil itu memintanya untuk ikut bermain.
"Bunda, aku mau gula kapas!" Pinta Umar tiba-tiba sebelum mereka masuk mobil.
Aini mengedarkan pandangannya. Ia pun melihat penjual gula kapas yang berada di sebrang jalan, dimana ia berada sekarang.
"Kenzo juga mau, Bunda!" Timpal Kenzo segera.
"Ya sudah, kalian tunggu di mobil saja, ya! Bunda belikan gula kapas di sana sebentar." Pinta Aini perhatian.
Dua anak laki-laki itu mengangguk patuh. Aini pun segera menyebrang jalan, setelah mendapat ijin dari Ardi.
Tapi, netra tajam Ardi menangkap sesuatu yang sedikit mencurigakan. Ia juga merasakan firasat yang tak baik.
"Kalian tunggu di mobil, ya! Papa susul bunda sebentar. Jangan buka jendela atau pintu mobil untuk siapapun, kecuali Papa atau bunda! Mengerti?" Pinta Ardi sedikit tegas.
Dua bocah laki-laki itu mengangguk patuh. Meski dalam hati mereka, sedikit merasa ketakutan karena permintaan dan nada bicara Ardi yang cukup serius.
Ardi pun segera mengunci mobilnya dan segera berlari menyebrangi jalan untuk menyusul Aini. Dan tepat saat Ardi sampai di sebrang jalan, ada dua orang laki-laki berboncengan yang juga berhenti di dekat penjual gula kapas itu. Ardi sedikit melirik mereka.
"Kenzo sama Umar?" Tanya Aini bingung, saat Ardi sampai di sampingnya.
"Di mobil. Tenanglah!" Jawab Ardi senatural mungkin.
Aini lantas membayar dua gula kapas pesanannya. Ia harus sedikit menunggu penjualnya memberikan kembalian padanya.
Dan saat itu terjadi, netra tajam Ardi melihat keadaan sekitar. Ia pun berpindah posisi di depan Aini yang sedang membelakangi jalan raya. Ia juga sembari mengawasi mobilnya. Matanya tiba-tiba membulat, saat dua orang laki-laki tadi berlari ke arah Aini.
BUG. SRET.
Tiba-tiba, tubuh Aini didorong oleh salah satu laki-laki itu. Hingga langsung jatuh ke pelukan Ardi. Ardi pun dengan sigap menangkapnya. Ia berusaha agar tak terjatuh karena sedikit terkejut.
Dan seketika, terdengar suara lengkingan knalpot yang memekakkan telinga, menjauh dari tempat itu dengan kecepatan tinggi. Disusul oleh dua motor dengan suara knalpot yang mirip, juga menjauh dari tempat itu.
"Mas? Mas nggak papa?" Tanya Aini panik.
"Enggak. Kamu nggak papa kan?" Balas Ardi tak kalah cemas.
"Iya."
Orang-orang langsung berkerumun di sekitar gerobak penjual gula kapas tadi. Ardi dan Aini segera melihat apa yang terjadi. Karena ternyata, bukan mereka berdua yang menjadi pusat perhatian.
Ternyata, laki-laki yang mendorong Aini tadi jatuh di depan gerobak penjual gula kapas dengan luka sayatan benda tajam di salah satu lengannya. Dan lukanya sangat parah. Darahnya mengucur deras membasahi baju yang ia kenakan.
"Astaghfirullahal'adzim. Mas!"
__ADS_1
Aini terkejut bukan main saat melihat laki-laki itu. Tapi, ia juga tak tahu jika laki-laki itu yang tadi mendorongnya. Ia ikut berkerumun dan panik bersama beberapa orang lain.
Saat semua fokus pada laki-laki yang terluka itu, Ardi sibuk menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru arah yang dapat dijangkaunya. Dan tanpa disangka, ia melihat dua pasang mata yang sangat ia kenali sedang menatap jauh ke arah lalu lalang kendaraan.
"Awas kalian!" Batin Ardi mulai geram.
Laki-laki yang terluka tadi segera dilarikan ke rumah sakit. Ia dibonceng dengan sepeda motor oleh temannya tadi. Lalu,,
"Bu, Anda harus berterima kasih pada masnya tadi! Kalau dia nggak dorong Ibu tepat waktu, Ibu yang kena bacok tadi." Tegur salah satu warga pada Aini, yang ternyata, tidak sengaja melihat kejadian tadi secara lengkap.
"Apa? Maksud Bapak?" Sahut Aini bingung.
"Ibu tadi didorong kan sama seseorang dari belakang. Itu masnya tadi yang dorong. Kayaknya, masnya tadi sempat lihat, ada orang yang bawa senjata tajam ke arah sini. Dia refleks dorong tubuh Ibu, supaya Ibu nggak kena bacok." Jelas laki-laki itu.
"Astagfirullah!"
Aini jelas sangat terkejut mendengar penuturan laki-laki itu. Kakinya mendadak lemas saat mendengar kalimat demi kalimat dari laki-laki itu. Tubuhnya pun langsung oleng.
"Kamu nggak papa, Sayang?" Tanya Ardi panik, seraya memegangi tubuh Aini.
"Mas! Masnya tadi,,"
"Iya, aku dengar. Aku akan minta Dika mencari tahu siapa yang tadi menyelamatkanmu." Sahut Ardi menenangkan.
Aini mengangguk pasrah. Ia masih berusaha keras menenangkan diri dan menegakkan tubuhnya. Seseorang lalu memberikan Aini air minum dan kursi agar Aini bisa duduk dan lekas membaik.
Ardi pun sedikit berbincang dengan beberapa orang yang membantu laki-laki tadi dan Aini. Ia berusaha mencari informasi yang mungkin berkaitan dengan apa yang baru saja terjadi.
Setelah Aini cukup tenang, Ardi dan Aini berpamitan pada warga sekitar yang membantunya. Ia segera kembali ke mobil dan langsung pulang.
Beruntung, Kenzo dan Umar tidak melihat kejadian buruk tadi. Mereka sedang asik bermain ponsel di dalam mobil dan tidak mendengar kegaduhan karena lalu lintas yang cukup ramai.
Ardi dan Aini yang baru saja masuk mobil, langsung paham jika dua putranya tidak mengetahui kejadian buruk tadi. Mereka pun merasa lega. Kenzo dan Umar malah sangat antusias menyambut gula kapas pesanan mereka.
Ardi lalu menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan tempat itu segera. Sembari sesekali berusaha memastikan bahwa Aini sudah benar-benar tenang.
Sedang Aini, jelas berusaha setenang mungkin dihadapan Kenzo dan Umar. Ia tak ingin, dua putranya itu mencemaskan dirinya.
"Mas! Laki-laki yang mendorongku tadi,," Adu Aini cemas, saat mereka sudah sampai di rumah.
"Tenanglah! Aku akan mengurusnya dengan Dika. Aku akan memberitahumu jika aku sudah menemukannya. Kita harus berterima kasih padanya!" Sahut Ardi selembut mungkin.
Padahal, hati sang duda satu ini sedang sangat bergemuruh. Ia sangat ingin tahu, siapa orang yang berniat melukai Aini. Karena ia yakin, kejadian tadi bukanlah sebuah kebetulan. Itu sudah direncanakan.
"Iya, Mas. Aku harus berterima kasih padanya." Sahut Aini masih cemas.
"Ayo masuk! Aku akan mengurusnya, tenang saja!"
Aini berusaha menenangkan hatinya semaksimal mungkin. Ia pun mempercayakan semuanya pada Ardi. Karena ia yakin, Ardi lebih tahu tentang hal itu.
Saat sang rembulan semakin bersinar terang diantara jutaan bintang, Ardi masih terjaga dengan segala pikirannya. Saat semua orang di rumahnya sudah terlelap, ia pergi keluar rumah seorang diri. Menyambangi rumah yang berada tepat di sebelah rumahnya. Ia pun disambut dengan tangan terbuka.
"Bagaimana? Apa sudah mengaku?" Tanya Ardi saat ia bertemu dengan salah satu laki-laki yang biasa mengikutinya.
"Belum, Pak. Dia masih tidak mau mengaku." Jawab laki-laki itu tegas.
"Apa Angga sudah memberi kabar?"
"Sudah, Pak. Dari rekaman CCTV yang ia dapatkan, ia belum bisa memastikan siapa yang lebih mencurigakan."
"Hari. Bagaimana kondisinya?"
"Hari harus menerima beberapa jahitan di lengannya. Ia juga baru saja keluar dari ruang operasi. Kini masih dalam pengawasan ketat dokter."
"Dimana dia?"
"Di tempat biasa."
Ardi segera melangkahkan kakinya menuju salah satu kamar di rumah itu dengan santai. laki-laki tadi pun juga menemaninya. Mereka lantas berhenti di depan sebuah pintu yang terlihat sangat biasa. Tak ada yang mencurigakan di sana.
Tapi, saat pintu di buka, nampak dua orang laki-laki yang hanya mengenakan ****** ******** terluka sangat parah. Dengan luka lebam hampir di seluruh tubuhnya.
"Apa dia membayarmu untuk semua ini?" Remeh Ardi setelah mendekati dua laki-laki yang terluka itu.
Dua laki-laki itu hanya diam tak merespon. Mereka terlalu kesakitan untuk menjawab pertanyaan sederhana Ardi.
"Tunggu sampai besok pagi! Jika tetap sama, lakukan seperti biasa!" Pinta Ardi singkat.
"Baik, Pak." Jawab laki-laki itu patuh.
Ardi lantas keluar dari ruangan itu. Ia pun juga segera keluar dari rumah itu. Ia sedikit berbincang santai dengan laki-laki yang sedari tadi menemaninya.
"Terima kasih, Mas Reno. Maaf merepotkanmu malam-malam begini." Ucap Ardi santai.
"Jangan sungkan, Pak Ardi. Kita tetangga. Sudah semestinya kita saling membantu." Jawab laki-laki itu tak kalah santai, Reno namanya.
Reno adalah pengawal pribadi Ardi. Ia selalu ada dimanapun Ardi berada. Bahkan, ia menyamar menjadi salah satu OB di kantor Ardi, yang selalu berada di dekat Ardi.
Dan jelas, Ardi tidak hanya memiliki satu pengawal. Ia bahkan membuatkan sebuah rumah tepat di samping rumahnya untuk para pengawalnya itu tinggal, sekaligus sebagai markas bagi seluruh hal yang menyangkut dirinya dan pengawal pribadinya.
Ardi pun segera kembali ke rumah. Ia lalu ke kamarnya dan beristirahat. Mempersiapkan diri untuk hari esok yang tak pernah ia tahu akan seperti apa.
__ADS_1