Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Terkejut


__ADS_3

"Bunda gimana, Pa? Udah bangun?" Tanya Umar, sambil terus menatap Aini di ruang ICU.


"Belum. Tapi kondisinya sudah stabil. Bunda akan dipindah ke ruang perawatan nanti." Jawab Ardi lega.


"Papa?" Batin Imron dan Ratna tak percaya. Mereka langsung saling pandang.


"Oma sama opa mana?" Tanya Ardi bingung.


Karena setahu Ardi, Umar dan Kenzo datang ke rumah sakit bersama Rama, Niken dan Gilang. Dan saat tiba tadi, Umar dan Kenzo hanya berdua.


Umar berbalik badan, untuk menjawab Ardi. "Masih di,, Budhe? Pakdhe?"


Jawaban Umar terpotong karena melihat sosok yang sudah lama tidak ia temui. Umar segera berjalan mendekati Imron dan Ratna yang masih kebingungan dengan segala situasinya.


Imron dan Ratna tersenyum hangat pada Umar. Ratna segera merentangkan dua tangannya untuk menyambut keponakannya itu, meski dengan rasa penasaran yang cukup besar dalam hatinya.


"Ponakan Budhe udah besar, ya!" Ucap Ratna haru.


Bagaimana tidak? Sejak Umar dibawa Adit ke Surabaya, Imron dan Ratna tidak pernah bertatap muka secara langsung dengan Umar. Mereka hanya berkomunikasi lewat telepon untuk tetap saling mengingat.


Imron dan Ratna sempat khawatir, jika nanti Umar tidak mengenali mereka. Mengingat, saat mereka bertemu terakhir kali, Umar masih cukup kecil saat itu.


"Mas Deni sama mas Rafi mana, Budhe?" Tanya Umar, saat ia masih dipelukan Ratna.


"Mereka nggak ikut, Nak. Kan harus sekolah." Jawab Ratna lega.


Umar mengangguk paham. Ratna pun melepaskan pelukannya. Kini giliran Imron yang sejenak memeluk Umar.


"Budhe! Pakdhe! Ini Kenzo. Yang sering ikut video call sama Umar." Ucap Umar antusias.


Umar segera menarik Kenzo untuk mendekat. Kenzo pun segera mengulurkan tangannya untuk salim dengan Imron dan Ratna.


Ratna mengamati dengan seksama wajah Kenzo. Ia sedikit melirik ke arah Ardi. Dan yang dilirik ternyata menyadarinya.


"Dia putra saya." Ucap Ardi segera.


Imron dan Ratna mengangguk paham. Tak lama, Rama, Niken dan Gilang tiba. Mereka lalu berkenalan juga dengan Imron dan Ratna.


Dan saat itu terjadi, Aini mulai disiapkan oleh perawat untuk dipindahkan ke ruang rawat inap. Dika pun dengan sigap mengurus beberapa hal yang dibutuhkan.


Gilang juga segera menemui rekannya yang menjadi dokter Aini di rumah sakit itu. Ia merundingkan tentang segala hal yang berkaitan dengan rencana kepindahan Aini ke Surabaya.


"Besok. Kita baru bisa memindahkan Aini. Aku juga akan menghubungi rumah sakit terlebih dahulu untuk mempersiapkan segalanya." Jelas Gilang, setelah ia kembali dari bertemu rekan seprofesinya.


"Nggak bisa hari ini?" Rengek Ardi.


Gilang mendengus kesal. "Sana bawa ke Surabaya! Kalau terjadi apa-apa nanti, jangan nyari aku!"


"Ayolah, Lang!"

__ADS_1


"Pak Ardiansyah El Baraja! Kita harus lihat kondisi Aini lebih dulu, setelah dia keluar dari ICU karena salah satu alatnya dilepas dari tubuhnya." Geram Gilang.


"Kalau memang kondisinya tetap stabil, kita bisa membawanya ke Surabaya besok. Tapi kalau tidak, kita harus menunggunya stabil lebih dulu, baru bisa membawanya ke Surabaya." Imbuh Gilang sambil menahan kekesalannya.


Gilang sebenarnya paham dengan perasaan Ardi, yang menginginkan Aini mendapatkan yang terbaik. Tapi, ia juga manusia biasa yang bisa merasa kesal dengan sikap sahabatnya itu, yang kadang semaunya sendiri.


Ardi tak menjawab. Ia sangat paham sikap Pak Dokter satu ini. Jika ia sudah menjawab seseorang dengan nada bicata seperti itu, berarti memang sudah tidak bisa ditawar lagi.


Sembari menunggu Aini dipindahkan ke ruang rawat inap, semua mengobrol banyak hal. Niken dengan ramah menyambut Ratna yang sudah jauh-jauh datang ke Pasuruan demi adik semata wayangnya. Mereka saling bercerita dan mendengar cerita satu sama lain.


Tapi ada dua pertanyaan yang belum terjawab di benak Ratna. Dan ia bingung, harus menanyakan hal itu pada siapa.


"Aku akan bertanya pada Aini nanti." Batin Ratna pasrah.


Ratna masih sungkan dengan keluarga Ardi. Ia dan Imron sungguh tak tahu, jika Aini adalah orang yang istimewa bagi keluarga Ardi. Terutama, bagi Ardi sendiri.


Hingga akhirnya, kebersamaan itu harus terputus karena perawat yang mengingatkan bahwa Umar dan Kenzo tidak bisa berlama-lama berada di sana.


Umar dan Kenzo akhirnya, mau tak mau, berpamitan pada semua. Termasuk Rama dan Niken. Karena mereka juga harus menemani dua anak laki-laki itu kembali ke Surabaya.


"Kamu nggak pulang dulu, Di?" Tanya Niken perhatian.


"Besok, Ma. Setelah Aini dipindahkan ke Surabaya." Jawab Ardi santai.


"Ya sudah. Mama juga lebih tenang sekarang, karena ada mbak Ratna dan mas Imron yang menemanimu di sini."


"Iya, Ma."


"Tidak. Aku sedang tidak ada urusan hari ini. Mungkin nanti malam atau besok siang, baru ada." Jawab Ardi yakin.


Ratna tersenyum pada Ardi dan Niken. Niken dan yang lain pun segera berpamitan pulang, karena tak ingin diusir oleh pihak rumah sakit.


Tapi ternyata, saat itu juga, Aini mulai keluar dari ICU dan dibawa ke ruang rawat. Mereka akhirnya mengikuti Aini ke ruang rawat terlebih dahulu. Baru setelah Aini selesai dipindahkan, mereka baru pergi.


...****************...


Di sebuah ruangan yang serba putih, seorang wanita cantik baru saja terbangun diatas lantai keramik nan dingin. Ia melihat ke sekeliling. Dan merasa begitu asing dengan tempat itu.


"Ini dimana?" Gumamnya kebingungan.


Apalagi, saat mendapati dua orang wanita lain juga tergeletak di atas lantai dengan pakaian yang sangat minim. Ia pun segera menghampirinya dan tidak menyadari apa yang ia kenakan.


Dan betapa terkejutnya wanita itu, saat tahu, dua wanita itu adalah orang yang dikenalinya.


"Mbak Oliv? Reni?"


Wanita itu segera membangunkan dua wanita yang masih tergeletak dengan mata yang terpejam. Ia menggoyangkan tubuh dua wanita itu untuk membangunkannya.


Dua wanita itu terbangun juga dengan kebingungan. Mereka saling menatap satu sama lain. Bukan hanya karena saling mengenal, tapi juga karena pakaian yang mereka kenakan.

__ADS_1


"Kalian?"


Ya. Mereka adalah Oliv, Ratri dan Reni. Mereka baru saja tersadar setelah dibuat tertidur oleh beberapa orang, yang tidak lain adalah anak buah Ardi. Pakaian mereka pun sudah diganti oleh seorang wanita, yang dibayar mahal untuk hal sederhana itu.


Oliv segera teringat sesuatu. Oliv segera berdiri dan berlari menuju salah satu pintu.


"Mas Ardi! Mas! Aku tidak bersalah, Mas. Tolong lepaskan aku, Mas! Mas Ardi!" Teriak Oliv, sambil berusaha membuka salah satu pintu.


Reni dan Ratri melihat Oliv dengan keheranan.


"Percuma kamu melakukan itu. Kita sudah jelas terjebak di sini. Aku bahkan sudah disekap sejak malam itu, setelah kalian mengunjungi Aini." Ucap Reni santai.


"Apa?" Ucap Ratri tak percaya.


Oliv yang sedang sibuk berusaha mencoba membuka pintu, seketika menoleh karena mendengar ucapan Reni.


"Iya. Malam itu, setelah kamu dan suamimu pergi dari rumah itu, anak buah Ardi datang mengepung rumah. Kami jelas kalah jumlah dan kemampuan." Jelas Reni.


"Jadi, Aini sudah diselamatkan?" Tanya Ratri ragu.


"Sudah."


"Lalu, bagaimana dia sekarang?"


"Mana kutahu! Aku saja tidak tahu bagaimana keadaan anak buahku, setelah malam itu kami kalah dan dibius." Jawab Reni kesal.


Oliv tiba-tiba berlari mendekati Reni. "Jadi, Aini berhasil diselamatkan mas Ardi?"


"Iya. Ardi membawa Aini setelah menghajar anak buahku yang akan memperk*sanya." Jawab Reni santai.


"Apa kamu bilang? Aku sudah melarang kalian menyentuh Aini bukan? Tapi kenapa kamu melakukan itu padanya?" Marah Ratri.


Reni membuang muka dari Ratri. Ia sebenarnya kurang menyukai Ratri. Hanya karena, Ratri adalah istri Adit.


Ratri segera berdiri dan meninggalkan dua wanita yang sedang bernasib sama dengannya. Ia kesal dan kecewa dengan apa yang ia dengar dari Reni. Ia merasa sangat menyesal karena membantu Adit melakukan penculikan itu.


"Maafkan aku, Ni!" Batin Ratri sedih.


Ratri terduduk di salah satu sudut ruangan itu. Pikirannya melayang jauh, memikirkan bagaimana keadaan Aini saat ini.


Sedang Reni dan Oliv, berusaha membuka kedua pintu yang ada, agar bisa keluar. Pintu itu tidak memiliki gagang sama sekali. Mereka pun kesulitan untuk mencoba membukanya. Reni bahkan beberapa kali mencoba menendangnya, tapi hasilnya nihil.


Entah sudah berapa lama mereka berada di ruangan itu, mereka tak tahu sama sekali. Atau bahkan mengetahui jam berapa atau apakah ini siang atau malam, mereka pun tak tahu. Karena ruangan itu benar-benar rapat. Hanya dua buah AC dan sebuah monitor berukuran biasa yang ada di ruangan itu.


"Percuma ada tv. Nggak bisa nonton apapun." Celetuk Oliv bosan.


Ratri dan Reni hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Oliv.


Mereka bertiga mulai kedinginan dan lapar. Apalagi, dengan pakaian minim, alias lingerie yang mereka kenakan saat ini, membuat suhu dingin dengan mudahnya menerpa tubuh mereka.

__ADS_1


Tiba-tiba, dua buah AC yang ada di ruangan itu menyala tanpa permisi. Tiga wanita itu jelas terkejut. Mereka saling pandang dengan tatapan cemas.


"Dia ingin balas dendam." Gumam Reni.


__ADS_2