
"Menurutmu?" Sahut Ardi santai.
Aini berusaha menghindari Ardi yang makin membungkuk ke arahnya. Spontan, ia menjatuhkan diri di atas ranjang karena kehabisan akal saking gugupnya. Ardi malah tersenyum nakal melihat reaksi Aini.
"Bapak mau apa? Bapak, apa tidak kasihan dengan Kenzo? Dia bahkan belum mendapatkan pendonor. Tapi Bapak malah ingin melakukan hal seperti itu saat ini? Dimana,,"
Aini berusaha mencegah Ardi menghentikan niatnya untuk semakin mendekati Aini. Tapi, ia malah dibuat terkejut lagi oleh Ardi, yang dengan santainya melambaikan pakaian yang baru saja diambil Ardi, tepat di samping Aini tengah tiduran. Ucapan Aini pun terpotong tiba-tiba.
Ardi mengerutkan keningnya mendengar ucapan Aini. Dugaannya sempurna. Aini mengira, ia akan melakukan hal itu pada Aini saat ini.
"Bukankah kamu memintaku untuk berpakaian?" Sahut Ardi santai.
Dan, blusss. Pipi Aini langsung merona karena ketahuan berpikiran mesum pada Ardi tadi. Aini segera memalingkan wajahnya dari Ardi.
"Aku hanya ingin mengambil baju yang sudah Dika siapkan sebelum pergi tadi. Apa ada yang salah?"
"Apa kamu berpikir, aku akan melakukan itu denganmu saat ini? Atau jangan-jangan, kamu memang sudah mengharapkannya?" Goda Ardi sambil tersenyum nakal.
Aini masih membuang muka dari Ardi. Ia tak punya keberanian sama sekali menatap pria yang secara tidak langsung, sedang mengungkungnya di tepi ranjang. Ia hanya berusaha menenangkan jantungnya yang sedang berdegup begitu kencangnya.
Lalu, bagaimana dengan Ardi?
Ardi yang tadi berniat mengerjai Aini, karena reaksi keterkejutannya melihat Ardi hanya mengenakan handuk kimono, malah ikut merasakan kegugupan secara tiba-tiba. Jantungnya pun berdetak lebih cepat, saat ia berhasil mengungkung Aini.
Ardi laki-laki normal. Posisinya kini, jelas menang banyak. Ia bisa melakukan apapun pada Aini dengan posisinya saat ini.
Ardi segera menegakkan kembali tubuhnya. Ia berjalan menuju kamar mandi sembari membawa pakaian yang tadi diambilnya di atas ranjang.
"Kenapa aku mendadak gugup?" Gumam Ardi saat ia sudah berada di kamar mandi.
Ardi memilih segera mengenakan pakaiannya. Meski, dengan perasaan yang masih kebingungan karena mendadak gugup ketika berdekatan dengan Aini tadi.
Sedang Aini, segera bangkit dari posisinya. Ia pun segera berjalan menuju kursi dimana ia meletakkan tasnya tadi. Ia pun duduk dengan tubuh yang sedikit gemetar karena kegugupan yang masih melandanya.
"Mau ditaruh mana mukaku? Kenapa aku bisa berpikiran sejauh itu tadi dengan pak Ardi?" Gumam Aini.
Hingga sebuah ketukan di pintu kamar, mengalihkan perhatian Aini. Ia pun segera membukakan pintu. Ternyata, pelayan hotel mengantarkan makanan pesanan yang tadi di pesan oleh Dika. Aini pun kembali duduk di kursinya tadi setelah membukakan pintu untuk pelayan. Ia lalu memainkan ponselnya demi menghilangkan kegugupannya.
"Apa kamu sudah makan?" Tanya Ardi saat ia keluar, selesai mengenakan pakaian lengkapnya.
"Iya?" Sahut Aini terkejut.
Ardi mendengus kesal. "Apa aku sangat menakutkan bagimu? Hingga kamu selalu terkejut ketika aku bertanya padamu?"
"Maaf, Pak. Saya tidak mendengar langkah kaki Bapak. Jadi, saya tidak tahu jika Bapak sudah selesai." Jujur Aini.
"Orang seganteng itu, apanya yang nyeremin? Eh,, kenapa aku jadi mikir kesana?" Batin Aini setelah melihat penampilan Ardi yang sedang berjalan menuju meja makan.
"Kemarilah! Tolong temani aku makan! Dika memesankan dua porsi makan malam tadi." Pinta Ardi tulus.
"Tapi,,"
"Kamu sudah makan?"
"Belum, Pak."
"Ya sudah. Ayo, makan! Atau kamu tidak suka dengan makanannya? Aku akan pesankan yang lain."
__ADS_1
"Bukan begitu maksud saya, Pak. Hanya saja,,"
"Kita makan dulu! Setelah itu, baru kita lanjutkan urusan yang lain."
Deg. Pikiran Aini segera melayang kembali. Melayang pada hal yang sedikit mesum. Otak Aini tiba-tiba dipenuhi pemikiran mesum dengan Ardi sejak tadi. Dan itu membuat Aini kesulitan berpikir jernih.
Aini masih diam di kursinya. Ia sedikit melamun, karena ucapan terakhir Ardi tadi.
"Apa perlu kugendong, untuk sampai ke sini?" Tanya Ardi, hingga membuyarkan lamunan Aini.
"Apa? Oh, tidak Pak." Jawab Aini gelagapan.
Aini pun segera bangkit dari kursinya. Ia pun berjalan ke arah Ardi yang sudah lebih dulu duduk di kursi. Mereka lantas menikmati makan malam dengan cukup tenang. Tak banyak percakapan.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Ardi setelah mereka selesai makan.
"Iya, Pak. Silahkan!"
"Kenapa kamu berpisah dengan mantan suamimu? Apa karena dia menikah dengan istrinya yang sekarang?"
"Tidak. Bukan karena itu."
"Lantas?"
"Saya dulu akhirnya mengijinkan mas Adit menikahi mbak Ratri karena tak punya pilihan lain. Saat itu saya tidak ingin berpisah dengannya, tapi karena keadaan, memaksa saya harus menerima kenyataan bahwa mas Adit harus menikahi mbak Ratri."
Ardi terdiam. Ia mencoba menyatukan cerita Aini dengan beberapa informasi yang ia dapatkan beberapa waktu yang lalu.
"Maaf, mengingatkanmu akan hal itu." Tulus Ardi.
Aini hanya tersenyum.
Aini merapikan bekas piring makan mereka. Ia terbawa kebiasaannya saat di rumah.
"Kemarilah! Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Pinta Ardi sembari mencari sesuatu yang ingin ia berikan pada Aini.
Aini pun menghampiri Ardi. Perasaannya sudah tak segugup tadi. Ia sedikit terbiasa dengan keadaannya sekarang yang hanya berdua dengan Ardi di kamar itu.
Ardi duduk dan mengeluarkan isi tasnya. Ia pun mencoba menoleh ke segala arah untuk mencari sesuatu. Tapi tak ia jumpai. Ia lantas berdiri begitu saja, tanpa memperhatikan Aini yang sudah sampai di dekatnya.
Aini yang tak siap karena Ardi berdiri tiba-tiba, refleks memundurkan langkahnya. Tapi karena kurang hati-hati, kakinya terantuk kaki meja kecil yang ada di belakangnya.
Ardi terkejut karena Aini hampir terjatuh. Ia pun spontan meraih tubuh Aini dan menariknya ke dalam pelukannya agar Aini tak jatuh.
Tapi karena Ardi yang juga sedang tidak fokus, tubuh Aini yang menubruk tubuhnya, membuat posisi berdirinya kini tidaklah dalam posisi sempurna. Ia pun refleks memundurkan langkahnya untuk menyeimbangkan tubuhnya agar tak terjatuh. Tapi sayang,,
BRUK. Langkah kaki Ardi menubruk kursi panjang yang tadi ia duduki. Ia pun segera jatuh terlentang di atas kursi, dengan tubuh Aini berada di atasnya, karena masih dalam pelukannya.
Ardi dan Aini saling pandang. Mereka saling memandang bayangan diri mereka, dalam bola mata orang yang tepat dihadapannya.
Jantung dua insan yang sedang dalam posisi tak aman itu, berdetak dengan kencangnya. Berteriak dan bertalu begitu kuat. Mengisyaratkan kegugupan yang melanda dua insan itu dengan begitu jelasnya. Tapi entah, apa mereka menyadarinya atau tidak.
"Ehem!"
Suara deheman seseorang membuyarkan keterpakuan Ardi dan Aini. Mereka segera menoleh ke arah sumber suara. Dan ternyata, Dika sedang berdiri tak jauh dari mereka, sambil seolah-olah tak melihat apapun tadi.
Aini segera bangkit dari posisinya. Ardi pun segera ikut bangun. Aini segera berlari ke kamar mandi demi meredam rasa malu dan gugupnya karena apa yang baru saja terjadi. Sedang Ardi, berusaha bersikap sedatar mungkin pada Dika.
__ADS_1
"Bagaimana kamu bisa kembali?" Tanya Ardi penasaran.
"Maaf, Pak. Kunci hotel terbawa saya tadi. Dan ini, berkas dari dokter Gilang, ternyata masih di dalam tas saya." Jujur Dika, sembari menyerahkan amplop dan kunci kamar pada Ardi.
"Pantas saja, aku tak menemukannya sejak tadi." Sahut Ardi sedikit kesal.
"Maaf, Pak." Ucap Dika sungkan.
"Tak apa."
Ardi pun menerimanya dengan lega. Karena yang ia cari tadi akhirnya ketemu.
Dika lantas pamit undur diri. Meninggalkan Ardi yang masih menunggu Aini keluar dari kamar mandi.
"Ini, untukmu! Dari Gilang." Ucap Ardi, setelah Aini kembali dari kamar mandi.
"Apa ini, Pak?" Tanya Aini sambil duduk di seberang Ardi.
"Hasil tes kecocokanmu dengan Kenzo." Jujur Ardi.
Aini menghela nafas beratnya. Hatinya sudah diliputi kesedihan jika mengingat kegagalannya menjadi pendonor bagi Kenzo. Tapi, ia berusaha menguatkan hatinya sendiri.
Aini pun membuka amplop itu dan membaca isinya perlahan. Ia mulai kebingungan dengan apa yang ada di dalamnya.
"Ini? Maksudnya bagaimana, Pak? Kenapa ada catatan bahwa saya bisa jadi pendonor?" Tanya Aini.
"Kecocokan sumsum tulang belakangmu dengan Kenzo cukup tinggi. Jadi, kamu bisa menjadi pendonor bagi Kenzo." Jelas Ardi.
Aini terdiam karena kebingungan mencerna ucapan Ardi yang bertolak belakang dengan ucapannya beberapa saat yang lalu.
"Terima kasih, karena kamu mau menjadi pendonor untuk Kenzo." Tulus Ardi dengan senyum tampannya.
"Tapi, Bapak bilang tadi,,,"
"Aku bilang apa?" Tanya Ardi santai.
"Bapak bilang, saya harua membayar biaya pengacara, bukan?"
"Apa aku mengatakan itu tadi? Aku rasa, tidak." Sanggah Ardi datar.
Aini terdiam, dan mengingat apa yang Ardi katakan. Ia pun akhirnya membenarkan sanggahan Ardi tadi.
"Jadi, saya bisa menjadi pendonor untuk Kenzo?" Tanya Aini antusias.
"Iya."
"Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah." Gumam Aini haru.
Aini membaca setiap kata yang ada dalam surat di dalam amplop tadi. Diiringi dengan buliran bening yang mulai meluncur indah dari persinggahannya, Aini mengingat Kenzo dengan hati yang haru. Perasannya sungguh sulit untuk di utarakan.
Bahagia jelas. Ia bahagia karena Kenzo akhirnya bisa mendapat pendonor. Tak lupa, yang berarti juga, Kenzo kemungkinan bisa sembuh dari penyakitnya selama ini. Dan satu hal penting. Ia tak perlu membayar pengacara Ardi, dengan hal yang sebenarnya ia takutkan.
"Semoga kamu segera sembuh, nak." Batin Aini sedikit terisak.
Ardi hanya menatap setiap ekpresi dan tingkah Aini yang terlihat begitu haru dan bahagia karena kabar itu. Ia tak menyangka, Aini bisa begitu bahagia hanya karena kabar yang mungkin terdengar biasa bagi beberapa orang.
Apa Ardi tidak bahagia? Tentu dia bahagia, sangat bahagia. Orang tua mana yang tidak bahagia, ketika akhirnya, ada titik terang dari hal yang terlihat begitu mustahil terjadi. Setelah banyaknya usaha dan do'a. Cahaya terang itu akhirnya tiba.
__ADS_1
Ardi bahkan langsung mengabarkan berita itu pada kedua orang tuanya kemarin. Ia bahkan langsung mengajak Kenzo dan Umar berjalan-jalan ke taman bermain untuk menghabiskan waktu bersama.
Tak selamanya awan gelap itu hadir. Terkadang, ia hanya singgah sebagai pelengkap kehidupan, dan akan tersapu oleh angin secara perlahan. Terbawa oleh lembutnya hembusan lirih, yang mungkin tak pernah kita duga.