Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Kejujuran


__ADS_3

Langit senja telah menyapa. Semburat warna jingga nan mempesona, menjadi pemandangan yang begitu memanjakan netra setiap orang yang melihatnya.


Waktu terus berjalan dan berlalu. Memberikan cerita demi cerita yang berbeda pada setiap detiknya. Membawa setiap pemiliknya, pada takdir yang telah tergariskan jauh sebelum takdir itu terjadi.


Tak terasa, satu bulan sudah Ardi dan Aini menyandang status suami istri. Rumah tangga mereka berjalan dengan begitu indah. Meski, Aini kini berubah begitu manja pada Ardi.


Tapi, sikap manja Aini itulah yang menjadi penyemangat tersendiri bagi Ardi. Ia selalu tidak sabar untuk segera pulang dan menemui sang istri, setelah seharian bersibuk ria dengan semua pekerjaannya. Ia selalu rindu dengan sikap manja Aini.


Jika ditanya apa Ardi tidak lelah? Jelas ia lelah setelah seharian bekerja. Tapi, waktu dengan keluarga kecilnya, tentu saja tidak akan ia sia-siakan begitu saja. Mengingat, perjalanan yang telah ia lalui hingga sampai bisa menyandang sebagai suami dari wanita pujaan hatinya, tidaklah mudah dan singkat.


Apalagi sekarang, Rama dan Niken sudah pindah ke rumah baru mereka. Rumah yang ukurannya jauh lebih kecil dari rumah yang sekarang hanya ditempati oleh keluarga kecil Ardi saja.


Dan hari ini, Ardi baru saja menyelesaikan berkas terakhirnya dan bersiap untuk pulang. Tapi, seseorang mengetuk pintu kantornya.


"Masuk!" Sahut Ardi, dengan tangan yang sibuk membereskan meja kerjanya.


Pintu ruang kerja Ardi terbuka perlahan. Ardi pun menyempatkan untuk melirik siapa yang ingin menemuinya. Dan tak disangka, tamunya begitu istimewa kali ini.


"Sayang?" Ucap Ardi tak percaya.


Sang tamu, yang tak lain adalah Aini, tersenyum begitu manis pada sang empunya ruangan. Ardi pun segera berdiri dan menghampiri Aini.


"Kenapa nggak bilang kalau mau ke kantor? Aku baru saja mau pulang. Hanya tinggal merapikan meja kerjaku saja." Tanya Ardi tanpa ragu.


"Umar dan Kenzo pergi ke rumah mama sejak pulang sekolah. Jadi, aku kemari agar nanti bisa ikut jemput mereka ke rumah mama." Aku Aini.


Ardi tersenyum paham. Ia lalu meraih tubuh sang istri dan mendekapnya dengan lembut. Aini pun hanya pasrah saat tangan kekar suaminya, melingkari tubuhnya. Ia pun juga balas memeluk Ardi tanpa ragu.


"Kamu bosan ya, di rumah sendirian?"


Aini mengangguk manja.


"Sepertinya, kita harus berusaha lebih keras, Sayang."


"Usaha apa, Mas?" Tanya Aini setelah mendongakkan kepalanya.


"Usaha biar Kenzo dan Umar segera punya adik."


Aini memukul manja punggung Ardi. "Mas, ih! Masa ke sana terus, sih?"


"Nggak papa dong! Kan sama kamu." Gemas Ardi.


Aini hanya mengangguk dan mengeratkan pelukannya.


"Sebentar!"


Ardi lalu melepaskan pelukannya dan mengunci pintu ruangannya.


"Kok dikunci, Mas? Katanya mau pulang?" Bingung Aini.


"Biar nggak ada yang ganggu, Sayang. Aku mendadak pengen,,"


Tanpa aba-aba, Ardi mendaratkan bibirnya ke bibir Aini. Aini pun menyambut sang suami dengan senang hati. Mereka akhirnya hanyut dalam ciuman yang indah bagi mereka yang jelas telah halal.


Ardi membawa Aini duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya. Ia memangku Aini dengan begitu hangat, tanpa melepaskan tautan bibir mereka.


Tangan Ardi mulai menjalar ke tubuh Aini. Ia pun mulai menyibakkan jilbab bagian depan yang Aini kenakan. Dan perlahan, membuka resleting depan gamis Aini. Tapi, Aini segera menahannya.


"Mas! Ini di kantor." Tegur Aini, sambil memegangi tangan Ardi.


"Nggak papa, Sayang. CCTV-nya udah aku matiin."


"Kenapa?"


"Antisipasi kalau sewaktu-waktu kamu datang ke kantor seperti ini."


Aini sedikit mengerutkan keningnya. Tapi, ia paham dengan maksud jawaban Ardi.

__ADS_1


"Kalau ada yang masuk tanpa ijin gimana, Mas? Di ruangan ini, pasti banyak berkas penting kan, Mas?" Cemas Aini.


"CCTV di ruang depan masih menyala, Sayang. Jadi, siapapun yang masuk ke ruangan ini masih terpantau."


Aini tersenyum pada Ardi. Dan dengan segera, Ardi kembali menautkan bibirnya dengan bibir Aini kembali. Aini jelas menyambutnya.


"Mas, jangan! Ini di kantor." Tolak Aini lagi, saat Ardi kembali berusaha membuka resleting gamisnya.


"Dikit aja, Sayang! Aku mainin di dalem." Rengek Ardi.


CUP. Aini mengecup bibir Ardi yang masih sedikit basah.


"Maass! Kamu pemilik kantor ini. Kamu seharusnya memberikan contoh yang baik sama karyawanmu." Tolak Aini perlahan.


"Kan kita udah nikah, Sayang. Aku udah memberikan contoh yang baik sama mereka." Kilah Ardi.


"Ya memang. Tapi, kita juga harus tahu tempat Mas, kalau ingin bermesraan."


"Kan cuma mainan dikit, Sayang. Atau, kamu mau aku mainin semuanya?"


Aini tersenyum bahagia mendengar ucapan Ardi.


"Jelas mau dong, Mas. Tapi tidak di sini." Manja Aini.


Ardi sedikit terkejut mendengar jawaban Aini. Ia tidak mengira, Aini-nya mulai berubah agresif sekarang. Tapi, ia bahagia karenak sikap Aini yang barusan.


"Kan udah dikunci pintunya. CCTV juga udah dimatiin." Bujuk Ardi.


"Ruangan ini kan tidak kedap suara, Mas. Kalau aku kelepasan terlalu keras, kan malu, Mas."


Ardi tersenyum geli. Tapi, memang ada benarnya apa yang dikatakan Aini. Jadi, Ardi pun mulai memikirkan cara, agar ia tetap bisa sedikit bermain dengan Aini, tanpa bisa membuat Aini lepas kendali.


"Kalau gitu, aku maininnya di dalem bajumu saja. Ya, Sayang?" Pinta Ardi penuh harap.


Aini memandangi wajah Ardi yang begitu mengharapkan ijinnya. Ia sedikit memikirkan beberapa hal yang mungkin terjadi saat ia mengijinkan Ardi memenuhi permintaannya.


"Lakukanlah, Mas! Tapi, bantu aku saat aku hampir lepas kendali nanti!" Sahut Aini mesra.


Tanpa menunggu lama, Ardi pun kembali menautkan bibirnya dengan milik Aini. Mereka hanyut dalam ciuman hangat dan penuh rasa. Ardi juga segera membuka resleting gamis Aini dan bermain dengan dua buah benda kecil nan menggoda milik Aini.


Dan benar, Ardi selalu bisa membuat Aini hampir lepas kendali, meski hanya bermain kecil saja. Aini mulai diliputi kabut gairah karena permainan tangan Ardi. Aini berusaha keras untuk menahannya agar tak lepas kendali.


"Maasss,, cu,, kup!" Pinta Aini terbata.


Ardi yang pahan dengan maksud Aini, segera menghentikan aksinya. Ia langsung dipeluk dengan begiti erat oleh Aini. Yang ia yakini, sang istri sedang berusaha meredam gejolak hasrat dalam dirinya yang mulai menguasai dan hampir tak terkendali. Karena ia pun juga merasakan hal yang sama.


Nafas Ardi dan Aini saling berpacu dalam pelukan mereka yang begitu erat. Saling berusaha keras untuk meredam gejolak hasrat yang muncul dan meminta untuk dilepaskan.


"Terima kasih, Sayang." Ucap Ardi setelah sedikit tenang.


Aini hanya mengangguk dalam pelukan Ardi.


"Aku suka bola kecilmu. Ukurannya masih sama seperti dulu." Jujur Ardi santai.


Aini yang juga mulai tenang, menyadari kejanggalan dari ucapan Ardi. Ia lalu segera melepaskan pelukannya.


"Mas, gimana bisa tahu ukuran payudaraku?" Tanya Aini cemas.


Pikiran Aini sudah melanglang buana. Mencoba menerka dan menebak, segala kemungkinan. Karena seingatnya, Ardi belum pernah menyentuh aset kecilnya itu, selama mereka belum menikah.


"Kamu lupa, aku kan pernah menel*njangimu, Sayang?" Santai Ardi.


Aini berusaha mengingat apa yang Ardi maksudkan. Ia pun ingat, saat ia ditemukan Ardi pingsan di balkon rumah setelah hujan turun cukup deras malam itu.


"Tapi, Mas bilang, Mas menutupi tubuhku dengan selimut. Bagaimana Mas bisa tahu ukurannya masih sama? Apa Mas sempat memegangnya dulu?" Cemas Aini.


"Kamu bicara apa, Sayang? Tentu saja tidak." Jawab Ardi, sembari menarik Aini kedalam dekapannya.

__ADS_1


"Aku bisa saja melakukan yang lebih dari sekedar menyentuhmu saat itu, jika aku mau. Karena kamu sedang pingsan waktu itu. Tapi, aku tidak ingin mengecewakanmu, Sayang. Jadi, aku berusaha untuk menahan semua godaan yang datang padaku saat itu." Jujur Ardi.


Aini masih diam didekapan Ardi.


"Aku memang tidak melihat bola kecilmu saat itu. Tapi, aku melihat bra-mu saat aku melepasnya. Dan aku cukup tahu berapa ukuran isinya dari penutupnya saja." Jelas Ardi.


Aini mendongak dan menatap wajah Ardi.


"Kamu tak percaya?" Tantang Ardi.


"Seorang wanita malam yang mengajariku hal itu. Dia menjelaskan, bagaimana cara melihat ukuran aset milik wanita, meski hanya melihat dari kain penutupnya saja." Imbuh Ardi.


Ekspresi wajah Aini mendadak berubah. Ia ingat, Ardi pernah dipanggil dengan sebutan cassanova oleh Gilang. Ia pikir, itu hanya sebuah lelucon antara dua sahabat dekat. Tapi, apa yang baru saja Ardi katakan, membuatnya berpikir lagi.


"A,, pa,, itu benar, Mas?" Lirih Aini tak percaya.


"Apanya?"


"Mas sering bermain wanita?" Ragu Aini.


"Iya. Aku pernah melakukan itu." Jujur Ardi tanpa ragu.


Pelukan Aini segera mengendur. Hatinya mendadak sedikit pilu setelah mendengar jawaban Ardi. Ia tak menyangka, apa yang pernah ia dengar adalah benar adanya.


Dan hal itu, jelas disadari oleh Ardi.


"Tenanglah, Sayang! Itu masa laluku. Aku sudah tidak pernah melakukan itu, semenjak aku mengenalmu." Hibur Ardi.


Aini masih diam dan tertunduk.


"Dulu aku terlalu lelah mencari pendonor untuk Kenzo. Dan lagi, aku juga laki-laki normal yang memiliki hasrat seperti laki-laki lain. Jadi, aku mencari wanita bayaran untuk hal itu."


"Aku tidak hanya sekedar mencari pemuas saja saat itu. Aku ingin mencari pendonor dan melepaskan mereka dari dunia yang tak baik itu, yang memang mau menjadi pendonor untuk Kenzo." Jujur Ardi.


"Apa, mereka juga kamu perlakukan sama, seperti kamu memperlakukan aku dulu, Mas?"


"Tidak. Aku hanya memantau kehidupan mereka saja, selama menunggu hasil tes kecocokan itu keluar."


Ardi menyadari pertanyaan Aini yang sedikit tak biasa. Ia tahu, istrinya itu mulai merasa tak nyaman dan mungkin sedikit cemburu karena ceritanya.


Ardi segera menangkupkan kedua tangannya ke pipi Aini. Ia menarik wajah mungil itu ke arah wajahnya, hingga dua pasang bola mata itu bertemu dan saling pandang.


"Tenanglah, Sayang! Semenjak aku mengenalmu, aku sudah tidak pernah melakukan hal itu lagi. Dan, diantara semua calom pendonor Kenzo, kamulah satu-satunya yang aku perlakukan dengan sangat spesial."


CUP. Ardi mengecup kening Aini dengan lembut.


"Aku tidak tahu kenapa. Hanya saja, sejak awal aku bertemu denganmu di sekolah, ada yang berbeda dari dirimu. Meski aku tidak tahu apa itu. Dan Dika yang menyadarkanku, jika kamu itu istimewa bagiku." Akhir Ardi.


"Pak Dika?"


Ardi mengangguk yakin. Ia pun menceritakan apa yang Dika katakan padanya dulu, hingga akhirnya ia yakin, bahwa ia memang telah jatuh hati pada janda yang akan menjadi penyelamat bagi putranya waktu itu.


"Itu memang masa laluku, Sayang. Maaf, karena aku melakukan itu dulu." Sesal Ardi.


"Tak apa, Mas. Setiap orang pasti memiliki masa lalu. Kita hanya perlu mensyukuri, semua yang telah kita lalui, hingga bisa sampai di sini, saat ini. Jadikan sesuatu yang kurang baik itu pelajaran yang tidak akan kita ulangi. Bukan begitu?" Hibur Aini.


Ardi mengangguk setuju. Ia pun mendekap erat tubuh Aini yang masih duduk di pangkuannya.


Memang, setiap orang memiliki masa lalu. Dan tidak peduli seperti apa masa lalu itu, karena satu hal yang pasti, semua yang memiliki masa lalu, pasti memiliki masa depan.


"Ayo Mas ke rumah mama! Umar dan Kenzo pasti sudah menunggu." Ajak Aini bersemangat.


"Ayo!" Sahut Ardi bersemangat.


"Oh iya, Mas. Minggu depan kita jadi ke Surabaya, kan?" Tanya Aini sebelum beranjak dari pangkuan Ardi.


"Jadi. Dika sudah memesankan tiketnya."

__ADS_1


"Eemm,, bolehkah aku menjenguk mbak Ratri di lapas besok, Mas?" Tanya Aini ragu.


__ADS_2