Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Kekasih Aini


__ADS_3

Matahari makin meninggi dan semakin bergerak ke barat. Sinar hangatnya, perlahan terganti oleh panas teriknya yang cukup dinanti oleh banyak orang.


Siang ini, satu minggu sudah Adit, Ratri dan Oliv menghilang tanpa kabar. Pihak kepolisian juga belum menemukan keberadaan mereka.


Orang tua Ratri yang masih di Surabaya, jelas tidak bisa tenang memikirkan nasib putri tunggal beserta menantu mereka. Apalagi, cucu mereka sudah demam sejak dua hari yang lalu, karena mencari kedua orang tuanya.


"Apa Adit benar-benar tidak punya musuh, Bu Harti?" Tanya Heni, saat ia menemani cucunya bermain.


"Setahu saya, tidak Bu Heni." Jujur Suharti.


"Tapi ini sungguh tidak wajar. Kenapa mereka bisa tiba-tiba hilang?" Timpal Arif penasaran.


"Iya, Pa. Bahkan polisi sampai saat ini belum menemukan mereka." Sahut Heni setuju.


Suharti terdiam. Ia teringat pada mantan menantunya yang jelas ia anggap sebagai musuh.


"Sebenarnya, ada yang tidak suka dengan putra saya." Ucap Suharti ragu.


"Siapa dia, Bu Harti? Kita bisa mengatakan itu pada polisi agar menyelidikinya." Tanya Arif segera.


Suharti jelas sumringah saat Arif mengatakan itu. Karena nanti, Aini bisa dijadikan kambing hitam atas hilangnya Adit dan Ratri saat ini. Itu pemikiran Suharti.


"Tapi, saya harap Pak Arif dan Bu Heni tidak marah." Ucap Suharti hati-hati.


"Kenapa kami harus marah?" Tanya Heni bingung.


Suharti berpura-pura terlihat sungkan dan ragu-ragu mengatakan nama yang sangat ia benci. Demi bisa, meyakinkan Arif dan Heni agar percaya padanya.


"Siapa dia, Bu Harti?" Tanya Arif tak sabar.


"Diaa,, Aini, ibu kandung Umar." Ucap Suharti pelan.


"Anda jangan bercanda, Bu Harti!" Kesal Heni.


"Untuk apa saya bercanda, Bu Heni? Nyatanya, dia sampai nekat merebut Umar dari ayahnya." Bela Suharti.


"Merebut? Apa maksud Anda?" Tanya Arif bingung.


"Dia menyewa pengacara handal untuk mengambil hak asuh Umar dari ayahnya. Dan yang saya dengar dari putra saya, Aini menjual tubuhnya untuk membayar pengacara itu." Jelas Suharti bersemangat.


"Jangan asal bicara Anda, Bu Harti! Aini tak mungkin melakukan hal seperti itu." Bela Heni tak terima, karena ia sangat mengenal Aini seperti apa.


Arif juga sangat kesal mendengar penuturan Suharti. Tapi, ia jadi teringat sesuatu. Ia lalu mengambil ponselnya.


Sedang Heni, memilih untuk tak menanggapi Suharti lagi. Ia masih tak habis pikir, bagaimana mungkin, Suharti masih tetap membenci Aini sampai sekarang.


"Kenapa nggak bisa dihubungi?" Gumam Arif, setelah beberapa kali menelepon seseorang, tapi tak bisa.


"Kenapa, Pa?" Tanya Heni penasaran.


"Aini, Ma. Nggak bisa dihubungi. Siapa tahu, Ratri menghubunginya." Tutur Arif sambil meletakkan ponselnya.


"Bener juga. Atau coba, hubungi Ratna! Siapa tahu, Aini mengganti nomornya. Tanyakan pada Ratna saja!" Usul Heni sumringah.


"Bener juga, Ma. Kenapa nggak kepikiran dari kemarin, sih?"


Arif kembali mengambil ponselnya. Ia segera mencari nomor kontak Ratna dan segera menghubunginya.


"Assalamu'alaikum, Ratna." Ucap Arif ramah.


"Wa'alaikumussalam, Pak Arif."


"Gimana kabarmu, Na?"


"Alhamdulillah baik, Pak."


"Na, apa Aini mengganti nomornya? Kenapa nomor lamanya tidak bisa dihubungi?"


Tak ada jawaban dari ujung telepon.


"Ponsel Aini hilang, Pak. Jadi, nomornya pun ikut hilang."


"Astaghfirullah. Sejak kapan?"


"Sekitar dua minggu yang lalu."


"Boleh saya minta nomornya yang baru?"


"Maaf, Pak. Saya juga belum tahu nomor barunya. Karena dia baru saja dibelikan ponsel dan nomor baru oleh kekasihnya."

__ADS_1


"Oh, begitu rupanya." Wajah Arif benar-benar terlihat sumringah mendengar penuturan Ratna.


"Iya, Pak."


"Apa dia masih di Surabaya? Kamu tahu alamat tempat Aini bekerja saat ini?"


"Aini sedang tidak bekerja saat ini, Pak. Dia sedang dirawat di rumah sakit."


".. Mbak, jangan bilang!" Sayup-sayup suara Aini terdengar di ujung telepon.


"Aini dirawat di rumah sakit? Kamu sedang bersamanya?" Tanya Arif cemas.


Heni yang mendengar ucapan suaminya, ikut cemas, meski belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sedang Suharti, jelas senang dalam hatinya saat mendengar Aini dirawat di rumah sakit.


"Iya, Pak."


"Di rumah sakit mana? Aku dan Heni sedang di Surabaya sekarang. Tolong berikan kami alamat rumah sakitnya! Kami ingin menjenguk Aini."


"Nanti akan saya kirimkan alamat beserta ruangannya."


"Baiklah. Tapi, kenapa Aini dirawat di rumah sakit? Dia sakit apa?"


Dan lagi. Tak ada jawaban dari ujung telepon untuk beberapa saat.


"Maaf, Pak Arif. Saya tidak bisa mengatakannya melalui telepon. Yang pasti, kondisi Aini sedang tidak baik saat ini."


"Baiklah. Tolong segera kirimi kami alamat rumah sakit dan di ruangan mana Aini dirawat saat ini!"


"Baik, Pak."


"Terima kasih, Na."


"Sama-sama, Pak."


Panggilan segera diakhiri oleh Arif. "Ayo Ma, kita bersiap ke rumah sakit! Kita harus melihat kondisi Aini."


"Iya, Pa." Jawab Heni semangat.


"Maaf, Bu Harti! Kami akan pergi untuk melihat kondisi Aini terlebih dahulu. Kami juga akan mencari tahu, mungkin saja Ratri menghubungi Aini atau Ratna kemarin." Pamit Arif segera.


"Silahkan, Pak!" Singkat Suharti.


Sedang di rumah sakit, Aini hanya berdua dengan Ratna. Ardi harus ke kantor tadi, karena ada beberapa hal yang harus ia selesaikan, tapi pastinya setelah para petugas kepolisian selesai memintai Aini keterangan.


"Mbak kenapa pake bilang sama pak Arif kalau aku di rumah sakit?" Kesal Aini.


"Trus Mbak harus bilang apa? Kan pak Arif nanyain tempat kerjamu. Lagian, kamu juga lagi nggak kerja kan sekarang?" Sahut Ratna sekenanya.


"Ya bilang aja, aku pulang ke Semarang atau apalah. Kan bisa, Mbak?"


"Memangnya kenapa, sih?"


"Kalau mereka dateng, trus nanyain semua ini, gimana Mbak?"


"Ya bilang aja sejujurnya."


"Yang bener aja, Mbak?"


"Memangnya kenapa? Itu yang sebenarnya, kan?"


"Iya, Mbak. Tapi,,"


"Tapi apa? Nanti mereka juga bakalan tahu kebenarannya, kalau polisi sudah menemukan bukti dan bahkan saksi yang akan menguatkan semua keteranganmu tadi. Ingat, ada anak buah pak Ardi yang siap menjadi saksi untukmu." Jawab Ratna yakin.


Aini diam tak menjawab. Ia bingung membantah ucapan Ratna yang memang benar adanya.


"Oh iya, Ni. Ngomong-ngomong, Mbak belum tahu nomor barumu lhooo,," Goda Ratna.


Ingatan Aini segera melayang pada saat Ratna menerima telepon dari Arif tadi. Ratna menyebutkan jika ia baru saja dibelikan ponsel baru oleh kekasihnya. (Pada inget dong, siapa yang beliin Aini ponsel? 🤭)


"Aku juga nggak tahu nomornya, Mbak." Jawab Aini malu.


"Nggak mau kasih tahu nih, ceritanya? Cuma pak Ardi aja ya, yang boleh tahu?" Goda Ratna lagi.


"Mbak apaan, sih? Aku beneran nggak tahu Mbak, nomornya berapa. Mas Ardi nggak kasih tahu kemarin." Jujur Aini, dengan nada yang manja.


"Ya sudah, sini pinjam ponselmu!" Pinta Ratna santai.


Aini pun memberikan ponselnya pada Ratna. Dan bukan Ratna, jika tidak menjahili atau menggoda adiknya itu.

__ADS_1


"Kontaknya baru ada satu aja, Ni? Nomor siapa ini, Ni? Namanyaaa,, calon suamiku?" Goda Ratna bersemangat.


"Bukan aku Mbak yang kasih nama. Itu mas Ardi yang kasih nama." Jujur Aini sambil malu-malu.


"Oh, ini nomor pak Ardi." Sahut Ratna dengan senyum yang mengejek bahagia.


"Mbak apaan, sih?" Rajuk Aini.


Aini benar-benar malu karena ketahuan menyimpan nomor kontak Ardi dengan nama 'Calon Suamiku'. Ya meskipun, Ardi yang menyimpan nama itu sendiri di ponsel baru Aini.


Ratna tersenyum geli melihat Aini yang salah tingkah. Tapi dalam hati kecilnya ia bahagia, karena adik semata wayangnya itu bahagia dengan pilihannya.


Tiga puluh menit kemudian, pintu ruang rawat Aini dibuka oleh seseorang perlahan-lahan. Aini dan Ratna segera mengalihkan perhatian mereka ke arah pintu. Nampak seorang laki-laki yang familiar di ingatan Ratna dan Aini.


"Pak Arif? Mari Pak, silahkan masuk!" Sapa Ratna ramah.


"Bener, Ma." Ucap Arif, sambil menoleh pada Heni yang ada di belakangnya.


"Iya, Pak. Aini dirawat di sini." Sahut Ratna.


Arif dan Heni segera masuk. Mereka jelas sangat terkejut melihat Aini yang terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan beberapa luka di wajah dan punggung tangannya. Mereka bahkan tidak menyapa atau menanyakan kabar pada Ratna terlebih dahulu saking terkejutnya.


"Kamu kenapa, Ni?" Tanya Heni segera.


"Hanya terluka sedikit, Ma." Bohong Aini.


"Apa majikanmu menyiksamu?" Tanya Arif perhatian.


"Tidak, Pa. Mereka baik padaku." Jujur Aini, sambil mengenang Dewi dan Galih.


"Lalu, kenapa kamu terluka seperti ini? Kamu sudah lapor polisi? Ini tindakan kekerasan dan penganiayaan. Pelakunya harus mendapat hukuman berat, Ni." Jawab Galih tak terima dengan kondisi Aini.


"Sudah. Kekasih Aini sudah mengurus segalanya untuk Aini." Sahut Ratna tiba-tiba.


"Oh, begitu. Aku ikut senang, Ni." Jawab Heni lega.


Heni tadi sudah mendengar dari Arif, tentang Aini yang sudah memiliki kekasih baru dan perhatian padanya, sesuai cerita singkat Ratna tadi.


"Mbaakk!" Rajuk Aini.


"Kenapa?" Sahut Ratna santai.


"Nggak papa, Ni. Kami ikut bahagia kalau kamu sudah bertemu dengan seseorang yang bisa membahagiakanmu." Ucap Heni paham.


"Tuh, dengerin bu Heni!" Sindir Ratna sambil menahan tawa.


Wajah Aini jelas segera berubah menjadi merah. Ia benar-benar masih malu, jika dikatakan sebagai seorang kekasih dari Ardiansyah El Baraja. Meski, memang seperti itulah adanya.


Tiba-tiba, slod pintu ruang rawat Aini kembali dibuka dari luar. Dan,,


"Assalamu'alaikum Say,, oh, sedang ada tamu rupanya."


Siapa lagi, kalau bukan kekasih hati si pasien, Ardi.


Semua jelas menoleh ke arah sumber suara. Aini segera memejamkan netranya. Ia benar-benar malu, karena Ardi masuk dengan santainya dan memanggilnya dengan panggilan sayang, padahal ada Arif dan Heni di sana.


Ardi berjalan santai menghampiri Aini dan yang lain. Ia menyalami dua tamu yang ada di ruangan itu. Lalu dengan segera berpindah ke sisi lain Aini, dimana Ratna sedang berdiri.


"Mereka siapa, Sayang?" Tanya Ardi santai.


Arif dan Heni langsung paham, jika yang baru saja datang adalah kekasih Aini. Mereka cukup terkejut, karena kekasih Aini terlihat begitu tampan dan mapan. Bahkan, jika dibandingkan dengan Adit, mereka terlihat sangat jauh berbeda.


Aini masih malu ketika Ardi kembali memanggilnya sayang di depan Arif dan Heni. Tapi, ia tak bisa mengabaikan pertanyaan Ardi begitu saja.


"Mereka,, orangtua dari mbak Ratri, Mas." Jujur Aini.


"Orangtua bu Ratri? Maksudnya, mertua dari pak Adit?" Tanya Ardi untuk memperjelas.


"Iya. Kami orangtua Ratri. Saya Arif, dan ini istri saya, Heni." Jawab Arif, seraya mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri.


Ardi menoleh pada Aini sejenak. Aini yang paham dengan tatapan bingung Ardi, hanya mengangguk pada Ardi. Ardi lalu menyambut uluran tangan Arif.


"Saya Ardi. Ardiansyah El Baraja." Jawab Ardi penuh penekanan.


Arif berusaha mengingat nama itu. Nama yang sedikit tidak asing baginya.


"Anda?" Ucap Arif, seraya melepaskan tautan tangannya dengan Ardi.


"Iya. Saya yang dicurigai oleh besan Anda, atas kasus hilangnya putri dan menantu Anda, satu minggu yang lalu." Jawab Ardi yakin.

__ADS_1


__ADS_2