Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Pilihan Aini


__ADS_3

Aini dengan segera membukakan pintu untuk sang tuan rumah beserta tamunya. Ia pun tersenyum ramah saat berpapasan dengan dua orang itu.


"Kamu, orang baru ya?" Tanya wanita itu ramah, saat melihat Aini.


"Iya, Bu." Jawab Aini sopan.


"Oh. Oke. Kenalkan! Aku Kamila. Tunangan Ardi." Ucap wanita itu dengan senyum indahnya.


Ekspresi wajah Aini seketika berubah. Dan itu jelas terlihat di netra cantik sang tamu yang bernama lengkap Hanifa Kamila Putri. Aini pun segera memaksakan senyumnya kembali, demi menutupi gelisah hatinya.


Hanifa Kamila Putri, atau lebih sering disapa dengan Mila. Seorang arsitek muda berbakat dari negeri seberang, Singapura. Ia sebenarnya berdarah campuran Indonesia-Singapura. Karena sang ibu berasal dari Indonesia.


Nama Mila sudah cukup terkenal dikalangan rekan seprofesinya. Kemampuannya sudah tidak diragukan lagi, meski usianya baru saja menginjak kepala tiga. Dan dia, jelas masih lajang.


Mila segera menoleh pada Ardi yang sudah melenggang lebih dulu menuju kamarnya.


"Di! Kok sepi?" Tanya Mila sedikit berteriak.


"Mama, papa dan Kenzo sedang ke panti. Sebentar lagi mungkin pulang." Sahut Ardi sambil terus berjalan.


"Tunggu, Di!" Rengek Mila, seraya berlari mengejar Ardi.


Aini menatap dua orang itu dengan perasaan yang tak karuan pastinya. Ia menatap tanpa berkedip pada punggung Ardi yang berjalan melewatinya begitu saja tadi, tanpa melihatnya sedikit pun.


"Apa lagi ini, Mas? Apa ini maksud dari pertanyaanmu minggu lalu sebelum kamu berangkat ke Bandung?" Batin Aini sedih.


Aini akhirnya memilih untuk kembali ke dapur dan menyelesaikan acara memasaknya. Meski kini dengan perasaan yang tidak karuan.


"Siapa yang datang, Bunda? Apa Kenzo sudah pulang?" Tanya Umar, yang baru saja dari taman belakang.


"Belum, Nak. Tadi om Ardi dan tante Mila." Jawab Aini getir, sembari mengingat ucapan Mila tadi.


"Tante Mila? Siapa dia, Bunda?"


"Calon istri om Ardi sepertinya." Jawab Aini senatural mungkin, dengan tangan yang sibuk memotong bahan masakan.


Meski usia Umar masih terbilang kecil, tapi ia sudah cukup paham apa itu suami-istri. Dan setelah mendengar ucapan Aini, ekspresi wajahnya yang tadi cukup gembira, segera berubah muram. Dan Aini menyadari itu.


"Kamu kenapa, Nak?" Tanya Aini segera.


Umar hanya menggeleng.


"Kemari, Sayang!" Pinta Aini perhatian, sembari mengulurkan kedua tangannya.


Umar pun dengan segera menghambur ke tubuh Aini. Ia berusaha sekuat tenaga menahan airmatanya agar tidak mengalir membasahi wajahnya.


"Tenanglah! Semua akan baik-baik saja." Hibur Aini.


Umar mengangguk begitu saja. Sejenak, sepasang ibu dan anak itu menikmati pelukan mereka. Saling menyalurkan ketegaran satu sama lain.


"Sekarang, kembalilah ke kamar dan kemasi baju dan barang-barangmu!" Pinta Aini perlahan, setelah ia melepaskan pelukannya.


"Kita mau kemana, Bunda?"


"Pulang, Sayang."


"Pulang kemana?"


"Nanti kamu juga akan tahu." Jawab Aini sekenanya.


"Ya, Bunda."


Aini pun tersenyum hangat pada Umar. Umar pun segera ke atas dan menuruti permintaan Aini.


Firasat Aini sudah sangat tidak baik tentang hal ini. Jadi, ia memilih untuk mengambil keputusan itu dengan segera. Ia pun akan mengemasi barangnya setelah menyelesaikan tugas memasaknya nanti.


Tak lama, Ardi turun kembali bersama Mila. Sedang Umar, masih di kamarnya sedang berkemas.


"Mbok, tolong panggilkan Aini!" Pinta Ardi, saat berpapasan dengan Sri di ruang tamu.


"Iya, Mas."


Sri pun segera memanggil Aini, yang ternyata sedang berada di kamarnya untuk berkemas.


"Kamu mau kemana, Ni?" Tanya Sri bingung.


"Pulang, Mbok." Jujur Aini.


"Pulang kemana?"


Aini hanya tersenyum. Karena sejujurnya, ia juga belum tahu, akan pergi kemana ia nanti. Karena jika ia pergi ke Semarang, Ardi jelas akan segera menemukannya.


"Ada apa? Kenapa tiba-tiba kamu mau pulang, Ni?"


"Tugas saya sudah selesai di sini, Mbok." Jawab Aini santai.


Sri hanya mengerutkan keningnya penuh kebingungan.


"Mbok Sri ada apa kesini?" Tanya Aini.

__ADS_1


"Oh iya. Kamu dipanggil mas Ardi. Tumben nggak kesini langsung."


"Ya iya dong, Mbok. Kan ada mbak Mila." Jawab Aini santai.


"Ada mbak Mila? Mbak Mila dateng? Tapi, apa hubungannya?" Batin Sri bingung.


Aini segera berdiri dan keluar kamar. Ia segera menghampiri Ardi yang ada di ruang keluarga bersama Mila.


Aini berusaha keras menahan gejolak hatinya. Ia berusaha tetap tersenyum kala melihat Ardi sedang asik bercengkrama dengan Mila.


"Mas Ardi memanggil saya?" Tanya Aini sopan.


Ardi menoleh pada Aini dengan datar. Tapi, dibalik wajah datarnya itu, hatinya hancur menatap wanita tersayangnya itu.


"Iya." Jawab Ardi datar.


"Udah, cepet bilang!" Rengek Mila, sambil bergelayut manja di lengan Ardi.


"Karena sekarang sudah ada Mila, kamu bisa berhenti menjadi pengasuh Kenzo. Gaji dan pesangonmu sudah Dika kirimkan ke rekening pribadimu." Ucap Ardi begitu saja.


Deg. Tubuh Aini bagai disambar petir mendengar ucapan Ardi. Seluruh tubuhnya mendadak lemas tak bertenaga.


"Baik, Mas. Terima kasih." Jawab Aini sopan.


"Iya."


"Tapi Mas, apa itu sudah dipotong untuk biaya sekolah Umar dan yang lainnya?" Tanya Aini lagi.


"Sudah."


"Baik, Mas. Terima kasih."


"Kamu baik banget sih, Di?" Sahut Mila manja.


Ardi diam tak menjawab. Ia memilih untuk memainkan ponselnya demi menutupi gelisah hatinya karena menghadapi Aini.


"Dan, tidak usah menunggu mama dan papa! Aku yang akan menyampaikan pada mereka nanti." Imbuh Ardi.


"Baik, Mas." Patuh Aini.


Karena merasa sudah tidak ada yang Ardi sampaikan lagi, Aini akhirnya kembali ke kamarnya. Saat ia berbalik badan, ternyata ada Sri yang berdiri tidak jauh darinya. Dan Sri tidak sengaja mendengar percakapan antara Ardi dan Aini. Aini pun tersenyum getir pada Sri.


"Ni, dengerin Mbok dulu!" Pinta Sri cemas.


"Nggak papa, Mbok. Mas Ardi sudah memberi perintah." Sahut Aini sedatar mungkin.


"Tapi Ni, ini pasti ada salah paham."


"Tunggu ibu dan bapak saja kalau begitu!"


Aini diam tak menjawab. Ia lalu berjalan kembali ke kamarnya untuk melanjutkan berkemasnya. Sri pun masih berusaha mencegah Aini agar tidak pergi. Karena ia tahu pasti, ada salah paham di sini.


Saat sampai di kamar, Aini mengambil selembar kertas yang tadi sudah ia tulisi.


"Mbok, titip ini untuk Kenzo, ya!" Pinta Aini, seraya menyerahkan kertas tadi.


"Enggak! Mbok nggak mau." Jawan Sri tegas.


"Saya mohon, Mbok! Hanya sebuah surat." Pinta Aini sedih.


"Berikan sendiri padanya!" Jawab Sri tegas.


"Tapi Mbok,,"


"Dengarkan, Mbok! Mbak Mila itu,,"


Ucapan Sri tiba-tiba terpotong, karena seseorang datang ke kamar Aini.


"Bundaaa!" Panggil Umar.


"Iya, Sayang. Sebentar, Bunda hampir selesai!" Sahut Aini cepat.


Umar yang berada di ambang pintu, segera mengangguk paham.


"Mbak Mila itu, bukan tunangan mas Ardi, Ni." Tegas Sri.


"Mbok bicara apa?"


"Dia itu sepupu mas Ardi yang tinggal di Singapura."


Aini terdiam.


"Ibunya mbak Mila, adalah kakak perempuannya pak Rama, bu Arimbi."


Aini tertegun mendengar ucapan Sri. Ia paham, Sri tidak mungkin membohonginya untuk hal sebesar itu. Apalagi ia tahu, Sri sangat mendukung hubungannya dengan Ardi selama ini.


"Sepupu?" Batin Aini bingung.


"Tunggulah pak Rama dan bu Niken! Pasti ada yang salah di sini." Pinta Sri segera.

__ADS_1


Aini berusaha memahami setiap hal yang Sri ucapkan. Tapi ia segera teringat tentang ucapannya pada Ardi minggu lalu.


"Pasti mas Ardi memiliki alasan kuat untuk ini." Batin Aini sedih.


"Maaf, Mbok! Aku harus segera pergi. Aku tak akan bisa berpamitan pada Kenzo nanti, jika menunggu pak Rama dan bu Niken pulang." Jawab Aini getir.


"Tapi Ni,,"


Aini segera menyelesaikan berkemasnya. Dengan pikiran yang makin berkecamuk dan tak karuan. Ia mencoba menerka dan memahami semua yang baru saja ia alami.


Sri masih terus membujuk Aini agar tidak pergi. Tapi sayang, keputusan Aini sudah bulat. Ia pun tetap memilih untuk pergi bersama Umar.


Aini pun lalu berpamitan pada Ardi dan Mila. Ardi bersikap sangat datar pada Aini. Tapi tidak pada Umar.


"Tetap jadi anak yang baik untuk bunda, ya!" Pesan Ardi.


"Iya, Om. Terima kasih untuk semuanya." Ucap Umar sedih.


"Tentu. Kalau Umar butuh bantuan, segera kabari Om, ya! Om pasti akan berusaha membantumu." Jujur Ardi.


Umar hanya mengangguk. Ia tak tahu lagi, bagaimana harus menghadapi Ardi. Karena sungguh, ada sebersit rasa kecewa di hatinya saat mengetahui bahwa Ardi sudah memiliki tunangan.


"Aku percaya padamu, Mas." Batin Aini, setelah ia berpamitan pada Ardi.


Aini dan Umar lalu berpamitan pada Sri. Prapto sedang mengantar Rama dan Niken ke panti. Sedang Joko, sedang libur hari ini.


"Tunggulah bapak dan ibu, Ni!" Pinta Sri lagi.


"Tidak perlu, Mbok." Jawab Aini yakin.


"Tapi Ni,,"


"Saya titip semua ya, Mbok! Terima kasih karena Mbok Sri baik pada kami selama ini." Ucap Aini haru.


"Kamu wanita baik, Ni. Mbok nggak mungkin jahat sama kamu." Jawab Sri sedih.


"Kami pamit ya, Mbok!" Ucap Aini segera, dengan air mata yang sudah tak terbendung.


"Nii,,,"


"Saya harus segera pergi, Mbok."


"Kamu mau kemana?"


"Mungkin ke tempat mbak Ratna." Jawab Aini sambil terisak.


"Hati-hati, ya! Kabari Mbok jika kamu sudah sampai!" Pesan Sri tulus.


"In shaa Allah, Mbok." Jawab Aini sedih.


Aini segera menghambur ke tubuh Sri. Ia memeluk erat wanita yang selalu baik padanya selama beberapa minggu terakhir itu. Sri pun segera membalas Aini dengan tak kalah erat.


"Sabarlah, Ni!" Tulus Sri.


Aini hanya mengangguk dalam pelukan Sri. Tak lama, Aini lalu mengeluarkan motornya dan segera bersiap untuk pergi.


Di dalam rumah, Ardi diam-diam memandangi Aini dari balik jendela. Hatinya sebenarnya tak bisa melihat Aini melakukan itu semua. Tapi, ada hal yang membuatnya tega melakukan itu pada Aini.


"Maafkan aku, Sayang! Aku harap, kamu masih memegang janjimu padaku minggu lalu." Batin Ardi sedih.


"Ada apa sih, Di?" Tanya Mila tiba-tiba.


Mila lalu celingukan melihat keluar jendela. Ia cukup penasaran dengan apa yang sedang Ardi lihat, hingga ia sangat fokus.


"Kenapa sih Ardi?" Batin Mila bingung, saat melihat Aini dan Umar yang sedang mengobrol dengan Sri di dekat gerbang.


Ardi lalu berbalik badan dan meninggalkan Mila begitu saja. Ia memilih kembali ke kamarnya demi menutupi perasaannya dari Mila.


Mila akhirnya menatap Ardi dengan bingung.


"Tunanganku kenapa sih?" Gumam Mila sambil berkacak pinggang.


****************


Hai readers 🤗🤗


Terima kasih yaaa untuk semua jejak kalian di part sebelumnya 😁👍😍


Kalian semua hebat 😊👍


Kalau masih ada yang mau meninggalkan jejak, apapun itu 😁, boleh banget kok 😉


Kalau ada yang mau marah sama othor karena jahat sama Aini, juga boleh kok 😅


Othor hanya berusaha menyelesaikan cerita yang othor buat, sesuai jalan cerita yang memang sudah othor buat sejak awal 😊


Kalau ada yang tidak berkenan, othor minta maaf ya 😉😊


Okey, ditunggu lagi ya kejutan-kejutannya 😘

__ADS_1


See you next episode readers 🤗🤗


__ADS_2