
"Ini kan, mobilnya Dian? Apa dia kemari?" Batin Niken saat melihat sebuah mobil terparkir di depan rumah Ardi.
Niken yang baru saja mengunjungi tetangga lamanya, segera mempercepat langkahnya. Ia ingin memastikan, bahwa pemilik mobil yang terparkir itu, adalah wanita yang cukup ia rindukan beberapa waktu terakhir.
"Kamu di sini, Di?" Sapa Niken segera, saat melihat Dian duduk di kursi ruang tamu.
Dian yang sedang bermain ponsel sembari menunggu Ardi, segera mengalihkan perhatiannya. Ia pun tersenyum seraya berdiri.
"Iya, Ma. Mama habis keluar, ya?" Jawab Dian santai.
"Iya. Dari rumah cik Ling-Ling. Ada urusan sebentar." Jujur Niken.
Niken segera merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Dian yang melangkah ke arahnya. Dian pun tersenyum bahagia melihat Niken. Mereka pun lantas berpelukan untuk melepas rasa rindu yang sedikit tertahan.
"Gimana kabarmu? Kamu sendirian ke sini?" Tanya Niken, setelah duduk berdampingan dengan Niken.
"Alhamdulillah baik, Ma. Mama sama papa, apa kabar?" Jawab Dian ceria.
"Alhamdulillah baik. Beruntung ya Mama ke sini hari ini. Jadi bisa ketemu kamu."
"Emang, Mama sama papa nggak tinggal di sini?"
"Enggak. Mama sama papa tinggal di rumah baru. Agak jauh dari sini. Sedikit masuk kampung."
"Lha kenapa, Ma?"
"Ingin menikmati masa tua aja, Di. Rumah ini, biar ditempati oleh Ardi dan keluarga kecilnya saja. Mama sama papa juga udah nggak kuat kalau keseringan naik turun tangga. Faktor u, Di."
"Dian kapan-kapan boleh dong main ke rumah Mama yang baru?"
"Boleh, dong! Mintalah alamatnya ke Ardi. Atau, datanglah bersama Ardi dan Aini saat mereka ke sana."
"Siap, Ma."
"Kamu ke sini nggak sama ayah sama ibu?"
"Enggak, Ma. Dian cuma sama pak Yatno tadi. Dian nggak berani nyetir sendiri."
"Iya. Kamu harus jaga kondisi. Udah deket kan HPL-nya?"
"Iya, Ma. Makanya Dian kesini mau minta bantuan Ardi."
"Bilang aja sama Ardi yang kamu butuhkan. Dia pasti akan berusaha membantumu. Kalau nggak mau, bilang sama Mama! Biar Mama yang ngejewer telinganya." Santai Niken.
"Kasihan istrinya dong, Ma." Goda Dian.
"Oh iya, kamu udah ketemu Aini? Istrinya Ardi."
"Belum, Ma."
"Belum?" Bingung Niken.
Niken terdiam. "Tumben. Biasanya, Aini antusias kalau ada tamu yang datang. Dia biasanya selalu ingin berkenalan dengan orang yang datang ke rumah."
"Mama, nggak papa?" Tanya Dian karena Niken terlihat sedikit melamun.
"Enggak, Di."
Niken dan Dian lantas mengobrol bersama. Tak lama, Ardi pun turun dan ikut mengobrol bersama mereka. Niken pun segera menanyakan Aini pada Ardi.
"Aini sedikit pusing, Ma. Lain kali aja Ardi kenalin ke Dian. Nggak papa kan, Di?" Bohong Ardi.
"Nggak papa. Biar dia istirahat dulu kalau sedang pusing." Jawab Dian santai.
"Kayaknya, tadi Aini baik-baik aja." Batin Niken curiga.
Niken merasa sedikit aneh, ketika Inah mengantarkan minuman dan cemilan untuk mereka. Karena setahu dirinya, Inah itu cukup cekatan dalam bekerja. Ia selalu dengan cepat menghidangkan makanan dan minuman untuk tamu yang datang. Seperti ketika ia dan Rama berkunjung biasanya.
Selepas dzuhur, Dian akhirnya berpamitan pada Ardi dan Niken. Ia sebenarnya sangat ingin berkenalan dengan Aini. Tapi karena Aini yang masih belum mau keluar kamar, Dian akhirnya mengalah. Ia akan kembali lagi lain waktu untuk berkenalan dengan Aini.
__ADS_1
"Mama mau kemana?" Tanya Ardi cepat, saat melihat Niken mulai menaiki tangga.
"Lihat Aini." Jawab Niken tanpa menoleh pada Ardi.
Ardi yang tadi masih berjalan santai, segera berlari mengejar Niken. Ia tak ingin Niken melihat Aini sekarang. Karena ia sendiri belum tahu pasti, bagaimana keadaan Aini sekarang.
"Biar Aini istirahat dulu, Ma!" Cegah Ardi.
"Kalian ada masalah apa lagi?" Tembak Niken tanpa ragu.
"Masalah apa, Ma?" Santai Ardi.
"Aini bukan tipikal orang yang akan mengurung diri begitu saja saat ada tamu. Apalagi, tadi pagi saja kondisinya baik-baik saja. Kenapa mendadak pusing? Kamu udah bilang ke Aini kan, kalau Dian mau datang ke rumah?"
"Udah dong, Ma. Ardi udah bilang semalam."
"Kamu udah bilang kan, siapa Dian?"
"Ardi,,"
Kalimat Ardi terpotong ragu. Ia mencoba mengingat bagaimana ia mengatakan pada Aini, jika hari ini Dian akan datang.
"Kamu nggak bilang Dian itu siapa?" Terka Niken.
"Belum, Ma. Rencananya, Ardi mau ngenalin mereka hari ini."
"Kalau mau ngenalin, kamu kan bisa bilang dulu sama Aini, Dian itu siapamu. Ceritain juga, Dian itu seperti apa." Kesal Niken.
"Ardi,,"
"Kamu itu udah deket banget sama Dian. Kalau orang yang belum kenal dan tahu hubungan kalian, mereka pasti akan mengira jika kalian itu punya hubungan spesial. Kamu gimana sih, Di?" Marah Niken.
"Tapi kan Ma,,"
"Tapi apa? Aini punya hati yang seluas samudra?"
Ardi terdiam. Ia sebenarnya juga memikirkan hal itu sejak tadi. Karena sikap aneh Aini tadi, yang mendadak menangis dan tidak mau bicara apapun dengannya.
"Biar Ardi yang bicara dengan Aini, Ma."
"Ya harus, dong! Jelaskan pada Aini, siapa Dian. Mama yakin, Aini sempat salah paham tadi."
Ardi sedikit mengingat apa yang terjadi, sebelum Aini berlari ke kamar dan tiba-tiba mengangis.
"Aku tadi kan cuma ngobrol sama Dian." Batin Ardi bingung.
Ardi masih mencoba menerka, hal apa yang membuat Aini salah paham dengan Dian. Dan saat itu terjadi, Niken kembali berjalan menaiki tangga untuk melihat kondisi menantu kesayangannya itu.
"Ma, jangan! Biar Ardi bicara dulu sama Aini." Cegah Ardi segera.
"Yaudah, sana! Awas aja kalau sampai Aini kenapa-napa! Mama sunat lagi kamu." Ancam Niken kesal.
"Jangan dong, Ma! Kasihan Aini kalau Ardi sunat lagi." Sahut Ardi dengan wajah sedikit memelas.
"Aini kan masih cantik. Biar dia cari suami baru. Kalau enggak, biar nikah sama papa aja." Santai Niken.
"Mama!"
"Makanya, punya istri sebaik itu tuh, dijaga yang bener! Jangan dibikin sedih terus! Aini pergi lagi, baru tahu rasa kamu."
"Iya, Ma. Iya."
Niken akhirnya mengalah pada Ardi. Ia membiarkan Ardi menyelesaikan masalah yang terjadi dengan istri kesayangannya itu. Niken pun turun ke bawah untuk menunggu Rama dan dua cucunya pulang.
Ardi segera masuk ke kamar. Dan saat ia ingin berbicara dengan Aini, Aini ternyata sedang tertidur. Tapi terlihat jelas di wajahnya, bahwa ia habis menangis. Matanya sedikit bengkak. Dan hidungnya pun masih sedikit merah.
"Maaf, Sayang! Aku tidak menjelaskan tentang Dian terlebih dahulu padamu. Padahal, semalam kamu sudah menanyakan hal itu." Lirih Ardi, seraya mengusap lembut pipi Aini yang tidur miring ke sebelah kiri.
Ardi lalu menjalankan sholat terlebih dahulu. Baru setelah itu, ia mencoba membangunkan Aini. Dan meminta Aini untuk sholat dzuhur terlebih dahulu.
__ADS_1
Aini bangun dengan perasaan yang masih semrawut. Melihat Ardi ada di hadapannya, membuatnya teringat kejadian yang ia lihat dan percakapan Ardi dengan tamunya tadi. Hal itu kembali membuat hatinya terasa pedih. Hingga tanpa terasa, buliran air mata itu kembali menetes di pipinya.
"Kamu kenapa? Apa ada yang sakit? Aku panggilkan Gilang sebentar!" Cemas Ardi.
"Aku tidak apa-apa, Mas." Jawab Aini dengan suara yang sangat lirih, tapi masih terdengar oleh Ardi.
Ardi yang bersiap meraih ponselnya untuk menghubungi Gilang, akhirnya hanya menatap Aini yang turun dari ranjangnya dengan wajah yang kembali merah dan sedikit basah. Wajahnya juga tertunduk lesu dan sangat sedih.
"Sebentar! Duduklah dulu, aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Sayang!" Pinta Ardi, seraya mencegat langkah Aini.
"Aku mau sholat dulu, Mas." Tolak Aini cepat.
Ardi menghela nafas beratnya. Ia akhirnya mengalah dan membiarkan Aini untuk sholat lebih dulu. Ia pun setia menunggu Aini melaksanakan kewajibannya sebagai seorang hamba pada Tuhan-nya.
Selepas sholat, Aini ingin kembali tiduran di ranjangnya. Kepalanya terasa berat dan pusing sejak bangun tidur tadi. Pikirannya terlalu kalut, hingga membuat kepalanya sedikit sakit.
"Sayang,,"
"Kepalaku pusing, Mas. Aku ingin tidur lagi." Lirih Aini.
"Makan dulu, ya! Kita makan siang dulu."
Aini hanya menggeleng. Ia lalu kembali merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia benar-benar enggan meski hanya mengobrol dengan Aini. Hatinya belum siap mendengar apa yang akan Ardi katakan tentang tamunya tadi.
"Aku panggilkan Gilang, sebentar!"
"Jangan, Mas! Aku hanya ingin tidur, Mas."
"Tapi Sayang,,"
Aini segera membalik posisi tubuhnya membelakangi Ardi. Ia pun memejamkan matanya agar bisa kembali terlelap. Denyutan di kepalanya cukup mengganggunya.
Ardi menatap Aini dengan bingung. Aini tak pernah seperti itu sebelumnya. Jadi ia yakin, dugaan Niken pada Aini yang salah paham pada Dian benar adanya. Tapi karena Aini menolak bicara dengannya, ia pun membiarkan Aini beristirahat dulu. Tapi ia tetap menemani Aini di kamar.
Hingga malam tiba, Aini masih betah di kamarnya. Umar dan Kenzo pun juga menemui Aini di kamar. Mereka menjaga dan menemani Aini. Aini pun bersikap biasa pada dua putranya, meski sambil menahan sakit di kepalanya yang belum mereda.
Ardi sedikit lega, karena Aini mau bicara dengan putra mereka seperti biasa. Meski, Aini sangat irit bicara dengannya.
"Pa! Badan bunda panas." Lapor Kenzo setelahia dan Umar keluar dari kamar Aini dan akan beristirahat.
"Bunda demam?" Cemas Ardi.
"Sepertinya, Pa. Bunda tadi sempat melarang kami mengatakan itu pada Papa. Tapi, kami khawatir pada bunda." Imbuh Umar.
"Ya sudah, ini sudah malam. Kalian tidurlah! Papa akan menjaga bunda dan coba menghubungi om Gilang."
"Iya, Pa."
Umar dan Kenzo lalu pergi ke kamar mereka masing-masing. Sedang Ardi, segera ke kamarnya untuk memastikan kondisi Aini.
"Astaga! Kamu demam, Sayang. Kenapa nggak bilang?" Cemas Ardi.
Aini hanya menggeleng lemah. Tubuhnya benar-benar terasa tidak nyaman saat ini. Kepalanya yang sejak tadi siang berdenyut kencang, hingga saat ini masih berdenyut, meski tidak sekuat tadi. Apalagi, sejak petang tadi, tubuhnya pun mendadak demam.
"Aku panggilkan Gilang dulu."
Ardi segera meraih ponsel yang tadi sempat ia letakkan di atas nakas. Tapi, Aini mendadak memegang tangannya. Ardi pun menoleh.
Aini menggeleng lagi. "Tolong temani aku tidur saja, Mas!"
"Tapi tubuhmu demam, Sayang. Kamu harus diperiksa, Sayang." Lembut Ardi.
Aini hanya menggeleng lagi. "Aku hanya ingin kamu temani tidur, Mas."
Ardi tidak tega melihat ekspresi wajah Aini. Ia akhirnya mengalah dan segera merebahkan tubuhnya di samping Aini. Mendekap dan memeluk Aini dengan penuh kehangatan.
"Tidurlah! Aku di sini menemanimu." Tenang Ardi.
Aini mengangguk sembari menyamankan posisinya. Ia pun membalas pelukan Ardi dengan sangat erat. Seolah, tak ingin melepaskan Ardi sedikitpun.
__ADS_1
"Jangan madu aku, Mas." Batin Aini perih.